Acara berjalan lancar meski sempat ada insiden tidak menyenangkan. Raya dan Axel menyalami para tamu diatas pelaminan. Decak kagum terlontar dari bibir para tamu undangan. Bagaimana tidak, Axel yang tampan bersanding dengan Raya yang begitu cantik.
Raya memperhatikan raut wajah suaminya. Sejak keributan yang Haidar buat, Axel tidak mengatakan apa - apa sama sekali. Raya jadi bertanya - tanya, apakah Haidar mengatakan sesuatu yang membuat pikiran Axel terganggu? Entahlah, Raya tidak mau memikirkannya dulu. Masalah itu bisa diselesaikan nanti sebab tamu undangan masih banyak, ia masih harus terus tersenyum meski rasanya ia sudah sangat lelah.
Dari sekian banyak tamu undangan, Raya bisa melihat sosok mantan sahabatnya. Gadis itu terlihat sendirian. Kalaupun bersama Haidar, pria itu pasti akan dilarang masuk.
Raya bukan tidak tahu jika sejak tadi Sintia memperhatikannya. Wajahnya terlihat sendu. Jelas saja, harusnya Sintia menjadi pendamping pengantin di hari pernikahannya. Tapi nyatanya, dia malah jadi tamu undangan biasa.
Melihat Sintia yang berjalan ke arah pelaminan, bersamaan dengan itu, Raya mengeratkan pelukannya di lengan sang suami. Axel sempat melirik sang istri lalu mengikuti arah pandang Raya dan Axel langsung paham situasi yang terjadi. Tanpa diminta, Axel memeluk pinggang ramping Raya dengan mesra.
"Selamat, Ray. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan", ucap Sintia tulus
"Terima kasih"
Sintia menatap Axel, "Selamat atas pernikahan kalian berdua. Kamu pria beruntung karena bisa mendapatkan Raya. Jadi, tolong jaga dia dengan baik"
Axel tersenyum, "Tidak perlu khawatir. Tanpa kau minta, akupun akan menjaga istriku dengan sangat baik", Sintia mengangguk dia hendak turun dari pelaminan, "Satu lagi", ucapan Axel membuat Sintia menatap suami Raya itu, "Tolong kau jaga calon suamimu itu. Pastikan dia tidak mengganggu istriku lagi. Aku tidak suka, milikku diganggu orang lain. Jika hal itu sampai terjadi, maka aku tidak segan - segan memberinya pelajaran"
Deg
Sintia menatap nanar pengantin didepannya. Namun tak urung dia mengangguk kemudian turun dari pelaminan.
Setelah kepergian Sintia, Raya menatap suaminya, tanpa Raya duga Axel balik menatapnya dan mengecup bibirnya sekilas. Jelas saja Raya kaget bukan main. Dia melihat tamu undangan tampak senyum - senyum ke arah mereka. Astaga, sungguh ia malu sekali.
"Aku tidak main - main dengan ucapanku. Kamu adalah milikku. Dan siapapun yang mengganggumu, akan berhadapan langsung denganku!", bisiknya membuat Raya merinding
🌿🌿🌿
Tepat pukul delapan malam, resepsi resmi berakhir. Raya dan Axel langsung ke kamar untuk beristirahat. Team MUA baru saja selesai membantu Raya melepas gaun dan pernak - pernik kepala yang wanita itu kenakan. Sedangkan Axel kini sedang membersihkan diri.
Beberapa menit berlalu, Axel akhirnya keluar dengan tampilan yang lebih segar. Pria itu menggunakan kaos polo yang dipadukan dengan celana tiga perempat. Rambutnya yang setengah basah membuat Axel terlihat lebih tampan.
"Mandilah dulu. Badanmu pasti lengket semua kan?"
"Hm", sahut Raya kemudian berlalu ke kamar mandi
Axel memilih duduk di sofa sembari menunggu Raya. Beberapa piring makanan tersaji di atas meja. Sama seperti tadi siang, pasti Mama mertuanya yang menyiapkan semua itu. Saking banyaknya para tamu, dua sejoli yang resmi menikah tadi pagi itu tidak sempat makan apapun saat acara resepsi. Tentu saja saat ini ia merasa lapar.
Kecanggungan mendadak muncul ketika Raya keluar dari kamar mandi. Keduanya saling menatap dalam diam. Melihat Raya yang tidak bereaksi apa - apa, Axel segera memanggilnya
"Kemarilah, ayo kita makan dulu. Kamu juga lapar kan?"
Raya mengangguk seraya berjalan ke arah sofa dimana suaminya berada. Duduk berhadapan dengan status sah sebagai suami istri membuat Raya merasa gugup. Sesekali ia melirik Axel yang tampak lahap memakan makanannya. Dipandanginya wajah Axel. Pria itu memiliki Alis tebal, matanya tidak terlalu belo dengan tatapan mata elang, hidungnya juga mancung. Selain itu, suaminya itu memiliki bibir yang agak tebal serta rahang tegas yang membuatnya terlihat sempurna.
"Sudah puas memandangi suamimu, istriku?"
Raya gelagapan, "S-siapa yang memandangimu? Jangan ge er", elaknya malu
Axel hanya tersenyum, "Tidak perlu malu. Sekarang aku milikmu. Jangankan memandang, melakukan apapun kamu berhak" goda Axel
Melihat Raya salting, Axel tergelak. "Aku akan menemui Teo sebentar. Lanjutkan saja makanmu"
Raya berdehem sebagai jawaban, setelah Axel keluar dari balik pintu. Gadis itu menghela nafas. "Akhirnya bisa makan dengan tenang"
Raya kembali menyantap makanannya dengan lahap. Rasanya ia lapar sekali. Sejak sore dirinya belum makan apapun. Jika biasanya Raya tidak makan diatas jam tujuh malam, maka kali ini pengecualian. Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya makanan itu habis. Raya segera menghubungi pihak hotel untuk membereskan piring bekas makannya dan Axel.
Usai petugas hotel membawa piring kotor tersebut, Raya masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci kaki
"Setelah ini aku akan langsung tidur. Badanku rasanya remuk semua" gumamnya pelan
Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Begitu keluar dari kamar mandi, rupanya Axel sudah berada didalam kamar. Pria itu tengah bermain ponsel sambil bersandar di kepala ranjang. Melihat Raya yang diam mematung, Axel menepuk sisi kasur disebelahnya. Tentu saja Raya menurut, toh apalagi yang bisa dia lakukan. Perempuan itu segera mendekat pada sang suami.
"Ayo kita ngobrol sebentar"
Raya mengerjap, "Ngobrol?", beonya
Sebenarnya Axel gemas melihat ekspresi Raya, namun ia tahan tangannya untuk tidak mencubit pipi wanita itu. Bukan apa - apa, takutnya Raya merajuk dan gagal semuanya. "Bukankah kita harus saling mengenal? Kamu bisa menceritakan tentang dirimu begitupun sebaliknya denganku"
Raya melirik jam yang masih menunjukkan angka sembilan. Tidak ada salahnya memang mengobrol. Tapi dirinya benar - benar lelah dan mengantuk sekarang, "Mas nggak lelah? Nggak mau tidur dulu gitu?"
Axel tersenyum, "Kamu tidak lupa kan, malam ini malam apa?"
Raya mendadak nge blank, pikirannya mulai kemana - mana. "M-malam minggu", sahutnya gugup
Tawa Axel menguar, "Kamu paham betul apa maksudku, nyonya Bramasta? Kenapa mendadak blank begini hum? Kamu gugup berdekatan denganku?", bisik Axel tepat di telinga Raya. Raya merinding. Kali ini ia benar - benar dibuat salting oleh Axel.
Belum hilang debaran dijantungnya, pria itu malah merebahkan kepalanya di paha Raya. Lagi - lagi tindakan Axel membuat istrinya mati gaya.
"Kalau capek, istirahat saja", ucap Raya saat melihat Axel memejamkan mata.
"Izinkan aku seperti ini sebentar"
Raya membiarkan Axel tidur di pangkuannya. Dan tanpa sadar, Raya mengusap kepala sang suami. Merasakan usapan dikepala, Axel membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah bibir merona milik Raya.
"Kamu pernah berciuman sebelumnya?"
Raya menatap ke bawah, lebih tepatnya menatap pak suami yang kini juga menatapnya.
"Tidak"
Jawaban Raya membuat Axel mengulum senyum. Namun pria itu tak mau berpuas hati, ia kembali melontarkan pertanyaan pada sang istri.
"Benarkah? Bukankah sebelumnya kamu memiliki kekasih? Bahkan sepertinya, hubungan kalian belum berakhir dengan baik"
Raya tersenyum, "Hubungan kami sehat"
"Sepertinya kamu begitu mencintainya. Kenapa memutuskan menerima lamaranku?"
"Mas mau jawaban jujur atau tidak?"
Axel melingkarkan tangannya diperut Raya membuat wajahnya menghadap perut sang istri, "Jujur"
"Memangnya tidak takut sakit hati?"
Axel menggeleng, "Bukankah semua akan jadi masa lalu? Kedepannya hanya ada tentang kita"
Raya mengiyakan yang Axel katakan, setuju dengan apa yang suaminya ucapkan.
"Jadi, apa alasanmu menerima lamaranku?"
"Aku melihat keseriusan dalam diri Mas"
"Hanya itu?", tanya Axel tak percaya
"Keseriusan menunjukkan sebuah tanggung jawab. Seorang pria yang bertanggung jawab pasti mengerti bagaimana memperlakukan pasangan dengan baik. Tidak hanya memberi materi tapi juga cinta dan kasih sayang. Apakah jawabanku bisa diterima?"
Axel tersenyum, "Diterima"
Raya membalas senyuman sang suami, "Sekarang aku yang bertanya"
"Silahkan"
"Kenapa Mas memilih aku? Jika dilihat dari latar belakang dan fisik, Mas bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku"
Axel bangun dari rebahannya lalu menatap Raya dengan tatapan penuh cinta, tangannya mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Karena aku mencintaimu. Dan hanya kamu wanita yang aku mau"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Arifin Wiwik
so sweet❤
2024-03-17
0
Susanty
waaah jangan² Axel mencintai dalam diam🤭🤣
2024-03-12
0