Raya menatap suaminya dengan tatapan ragu, menyadari hal itu Axel menggenggam lembut tangan istrinya itu, "Aku tahu, kamu belum percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi itulah kenyataannya, Ray. Aku mencintai kamu"
"Apakah semudah itu bagi laki - laki untuk mengatakan cinta? Kita baru mengenal sebulan, dan kamu sudah mencintaiku?"
Jarak yang begitu dekat dan waktu yang begitu cepat membuat Raya tak sempat mengelak saat Axel tiba - tiba mengulum lembut bibirnya. Terlalu kaget, Raya reflek menahan dada Axel membuat suaminya itu menghentikan ciumannya.
Tatapan Axel pada Raya seolah bertanya, kamu tidak mau berciuman denganku? Dan Raya langsung menggeleng cepat, "A-aku hanya kaget"
"Tidak butuh waktu sebentar atau lama untuk mencintai seseorang. Dan itulah yang aku rasakan padamu", Axel menarik pinggang Raya, membuat perempuan itu semakin dekat dengannya, "Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama"
"Secepat itu?", tanya Raya tak percaya
"Jika kamu berpikir aku mencintai sebulan yang lalu, makan kamu salah, Ray. Aku mencintai jauh sebelum itu. Aku jatuh cinta padamu sejak delapan tahun lalu",
Raya begitu terkejut mendengar pengakuan sang suami, "Delapan tahun lalu? Bagaimana bisa?"
Axel tersenyum, "Waktu itu aku tidak sengaja melihatmu di Cafe Melodi. Keramaian yang kamu dan teman - temanmu ciptakan membuat atensi orang - orang berpusat pada kalian. Begitupun denganku saat itu. Kamu tahu, apa yang membuatku jatuh cinta padamu?", Raya menggeleng "Senyumanmu. senyum ini yang membuatku terpana", Axel mengusap bibir Raya pelan, "Untuk pertama kalinya aku melihat senyuman yang begitu cantik. Senyuman yang membuat jantungku berdebar - debar. Dan senyuman yang membuatku bahagia. Ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan kala itu. Tapi satu hal yang aku yakini, aku tertarik padamu. Padahal sebelumnya, tidak ada gadis manapun yang mampu menarik perhatianku. Tapi kamu, hanya dengan sebuah senyuman kamu berhasil membawa semua perasaanku"
Raya merasa speechless, ditatapnya mata Axel yang menyiratkan sebuah kejujuran.
"Kenapa tidak datang padaku kala itu?"
"Itulah yang aku sesalkan. Karena tidak memiliki keberanian menghampirimu, aku harus menahan perasaanku sendiri selama bertahun - tahun. Aku pikir, kita bisa bertemu lagi lain waktu. Ternyata Papa memintaku kuliah diluar negeri dan aku tidak punya pilihan selain menerima keputusan Papa", ucap Axel
"Awalnya aku pikir, aku hanya sekedar tertarik padamu. Namun tanpa bisa ku cegah, perasaan itu tumbuh dari hari ke hari. Aku tidak pernah bisa melupakan senyumanmu. Dan pada akhirnya, aku menyadari jika aku telah jatuh cinta padamu", Axel kembali menatap Raya dengan lekat, "Aku tidak tahu namamu, dan aku juga tidak ingat kalau kamu adalah anak Papa Danu. Hanya doa yang terus aku panjatkan dalam setiap sujudku. Setiap mengingat senyummu, aku selalu meminta pada Allah, jika kamu adalah yang terbaik, maka persatukanlah kami"
Raya tak bisa berkata - kata. Sekarang ia percaya, kalau jodoh lewat jalur langit itu benar - benar ada. Doa yang selalu Axel panjatkan di kabulkan langsung oleh Allah. Lantas, jika ada pria sesempurna Axel yang mencintai begitu tulus, bukankah sangat bodoh jika Raya menyia - nyiakannya?
Cup
Entah keberanian darimana, Raya mengecup sekilas bibir suaminya. Axel tertegun, lebih tepatnya tidak menyangka Raya berani melakukan hal itu. Menatap lembut sang istri, Axel berujar, "Mari mulai semuanya dari awal, Ray. Hanya kita berdua. Dan ... Anak - anak kita nantinya"
🌿🌿🌿
Ditempat lain, Sintia tengah menatap nanar Haidar. Sudah berjam - jam ia menemani pria itu, namun Haidar sama sekali tak menganggap keberadaannya. Ia di acuhkan oleh calon suaminya sendiri. Dan rasanya itu sakit sekali.
Usai pulang dari resepsi pernikahan Raya dan suaminya, Sintia langsung mencari keberadaan Haidar. Ia bukan tidak tahu jika Haidar sudah membuat keributan di hotel tempat Raya melaksanakan pernikahan. Dan Sintia tahu pasti, saat ini Haidar sedang tidak baik - baik saja.
Benar saja, saat ditemukan wajah dan penampilan Haidar tampak berantakan. Matanya agak sembab. Terlihat jelas jika pria itu baru saja menangis.
"Ayo pulang, Dar. Sampai kapan kamu akan disini terus? Ini sudah malam"
"Pulanglah Sin, aku masih mau disini"
Sintia menghela nafas, jujur dia juga sedih dengan keadaan yang terjadi. Apalagi melihat Haidar yang tampak begitu frustasi seperti sekarang. Semua bukan sepenuhnya salah Raya. Kalau dipikir - pikir, semua terjadi karena ketidakjujuran mereka sendiri. Raya memutuskan menikah setelah mengetahui jika dirinya dan Haidar dijodohkan. Secara tidak langsung, merekalah yang bersalah bukan Raya. Andai waktu bisa diulang, Sintia tidak akan membahas pernikahan saat mereka janji bertemu dengan Raya saat itu. Siapa sangka jika Raya mendengar semuanya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, mau menyesal seperti apapun kenyataannya Raya sudah menikah dengan orang lain.
"Bunda menelponku, dia menanyakan keadaanmu. Pulang ya. Kasihan Bunda", bujuk Sintia sekali lagi
Haidar tersenyum miris, "Andai kita jujur pada Raya lebih awal. Semua ini tidak akan terjadi"
Deg
Hati Sintia seperti teriris, perkataan Haidar seolah menguatkan bahwa semua kesalahan ada pada mereka.
"Semua sudah terjadi, Dar. Raya sudah menikah dengan orang lain"
Pria itu tergelak, "Meskipun mereka menikah, kamu pikir Raya mencintai suaminya? Apa semudah itu Raya berpaling dariku? Tidak Sin, tidak! Raya hanya menjadikan pria itu sebagai pelarian! Dia tidak mencintai pria itu! Dia masih mencintaiku!"
Sintia menggeleng, dibanding dengan Haidar yang notabene kekasih Raya, Sintia lebih paham sifat sahabatnya itu. Jika dia sudah memutuskan sesuatu, Raya akan bertanggung jawab penuh pada pilihannya. Apalagi soal pernikahan yang notabene sekali seumur hidup.
"Dar, sadarlah. Raya sudah menjatuhkan pilihannya pada Axel. Dia sudah memilih pria itu"
"Lalu kenapa? Yang dipilih belum tentu dicintai! Aku yakin, Raya masih mencintaiku"
"Lalu kamu mau apa? Menjadi perebut istri orang? Ingat Dar, kalau kamu melakukan hal nekat, Raya akan membencimu"
Haidar tersenyum, "Pria itu yang lebih dulu merebut Raya dariku! Apakah salah jika aku merebut kembali milikku?!"
Sintia kembali menggeleng, "Salah! Sangat salah. Kamu hanya mantan kekasihnya sedangkan Axel adalah suaminya!"
"KENAPA KAMU TERUS MEMBELA PRIA ITU!! oh ... Jelas saja. Kamu pasti senang karena Raya tidak lagi jadi sainganmu kan?"
"A-apa maksudmu?"
"Kamu jangan pura - pura bodoh, Sin. Aku bukan tidak tahu kalau diam - diam kamu menyukaiku!"
Sintia membeku, apakah perasaannya begitu kentara hingga Haidar dengan mudah mengetahui? Jujur saja, apa yang dikatakan pria itu memang benar. Tapi bukan berarti dia mau menjadi penghalang hubungan orang lain. Selama ini, Sintia terus meyakinkan orang tuanya untuk membatalkan perjodohan mereka. Tentu saja karena ia tahu jika Haidar dan Raya saling mencintai. Tapi karena alasan balas budi, pihak keluarga Haidar menolaknya.
"Selama ini, apakah aku pernah keberatan dengan hubunganmu dan Raya? Tidak kan? Aku mendukung kalian karena aku tahu kalian saling mencintai. Keputusan Raya menikah dengan orang lain, mungkin benar karena kesalahan kita. Tapi aku sudah berusaha membujuknya! Aku memohon padanya untuk tetap bersamamu! Tapi pada kenyataannya dia tetap menikah dengan Axel. Lalu apa semua ada hubungannya dengan perasaanku?", lirih Sintia
Haidar menatap wanita itu sekilas, "Dengarkan ini, Sin. Sampai kapanpun, perasaanku pada Raya tidak akan pernah berubah. Maaf jika ini menyakitimu. Aku tidak bisa membuka hatiku untukmu. Meski kita menikah nanti, perasaanku pada Raya akan tetap sama!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
kalea rizuky
sahabat apaan menusuk dr belakang najis
2024-04-16
0
Anita Jenius
Lanjut. masih menyimak ceritanya
2024-04-14
0
Sintia Dewi
tuh tetep ajakan kalian nikah klok sampai waktuni atau setelah nikah km mau apain itu raya km mau dia dicap pelakor...ada gila2nya si manusia 2 ini.jujur ajalah to syukur tanpa kalian jujur raya udh tau dgn sendirinya jd dia gk sakit hati bgt karna dpt suami yg cinta mati sama dia
2024-04-07
1