"Darimana saja, kamu Dar? Kenapa baru pulang? Semalam kamu tidur dimana?", tanya Ida, Bunda Haidar
"Di rumah teman!"
"Teman yang mana? Jangan bohong sama Bunda!"
Haidar melangkah kedalam rumah tak menghiraukan seruan Mamanya
"Lupakan Raya, Dar! Dia sudah menikah. Kamu pun akan segera menikah dengan Sintia"
Haidar menghentikan langkahnya, "Sejak awal Bunda tahu kalau aku hanya mencintai Raya!"
"Dan kamupun tahu, kalau kamu tidak punya pilihan lain selain menikah dengan Sintia. Ingat. Keluarga kita berhutang budi pada keluarga Sintia! Pernikahan kalian akan di gelar sebulan lagi. Jangan melakukan hal yang bisa membuat keluarga kita malu "
"Bukan aku yang berhutang kan? Lalu kenapa harus aku yang membayar hutang budi kalian!"
"Jika bukan kamu, lalu siapa? Kamu satu - satunya putra Bunda! Bunda mohon kamu jangan egois.", lirih Ida
Haidar menghela nafas berat, "Kalaupun pada akhirnya aku tetap menikah dengan Sintia, aku tidak bisa menjamin pernikahan kami akan berakhir bahagia. Bisa saja kami berpisah suatu saat nanti"
"Haidar! Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu sudah punya niat bermain - main dengan pernikahan, Nak! Menikah itu bukan untuk main - main! Pernikahan itu suci!"
"Kalau Bunda tidak ingin aku main - main, kenapa memaksaku menikahi Sintia yang jelas - jelas tidak aku cintai!"
Ida menatap nanar putranya, "Kamupun tahu apa alasannya. Tolong jangan memperumit keadaan. Dengan setulus hati, Bunda minta buka hati kamu untuk Sintia. Dia juga sama baiknya dengan Raya"
"Tapi aku hanya mencintai Raya!"
"Tapi Raya sudah menikah dengan orang lain! Dia lebih memilih pria lain dibanding kamu!"
"Itu karena dia mengetahui hubunganku dengan Sintia! Jika bukan karena Sintia yang membahas perjodohan itu, Raya masih bersamaku!!"
"Itu karena kamu sendiri! Jangan menyalahkan Sintia! Sejak awal kamu sudah tahu jika kamu dijodohkan dengan Sintia. Kenapa masih menjalin hubungan dengan Raya?! Tidak ada wanita manapun yang mau di sakiti, Haidar! Termasuk Raya dan Sintia! Raya sudah mengambil keputusan tepat dengan menikahi pria lain! Dan kamu, akan tetap menikah dengan Sintia!"
"Meski hidupku tidak akan bahagia?"
Ida menatap putranya dengan sendu, "Sejak kecil, apapun yang kamu mau, Bunda pasti akan mengabulkannya. Itu semua karena Bunda menyayangi kamu. Hanya kamu satu - satunya yang Bunda punya. Sekarang, satu permintaan dari Bunda, kamu tidak mau melakukannya? Apa Bunda harus berlutut dulu agar kamu mau mengabulkannya?"
Haidar mengusap kasar rambutnya. Satu hal yang tak pernah bisa ia tolak adalah permintaan Bunda. Wajah sendu wanita itu membuat Haidar tak berdaya. Sejak kematian Ayahnya, hanya Bunda yang Haidar miliki. Sebagai anak, ia tak mau dianggap anak durhaka. Tapi disisi lain, Haidar tak mampu membuang perasaannya pada Raya.
"Karena kedua orang tua Sintia lah kita bisa seperti sekarang. Mendiang Ayahmu selalu berpesan agar kamu menikahi Sintia sebagai bentuk balas budi. Apa kamu tega membuat Ayah sedih?"
Haidar menghela nafas, "Aku akan menikahi Sintia"
Ida tersenyum, "Terima kasih, Nak. Bunda tahu, sebenarnya kamu memang anak yang baik. Kalau boleh Bunda meminta satu hal lagi, pesan Bunda, tolong jangan mempermainkan pernikahan ya, Nak. Belajarlah mencintai Sintia"
"Bukankah yang penting aku sudah menuruti kemauan Bunda? Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Karena Sintia bukanlah wanita yang aku inginkan", ucap Haidar lalu pergi
Ida hanya mampu menghela nafas. Sifat keras kepala Haidar sungguh semakin menjadi.
"Harus dengan cara apalagi Bunda membujukmu, Dar? Rasanya Bunda sudah putus asa. Tapi Bunda harus tetap melaksanakan wasiat terakhir Ayahmu"
"Bunda? Kenapa Bunda kelihatan begitu sedih? Apa terjadi sesuatu?", tanya Sintia yang baru saja datang
Ida menggeleng, "Tidak, Nak. Bunda tidak apa - apa?"
Sintia duduk disamping Ida, menatap lekat wajah calon mertuanya. Ada gurat kesedihan di mata wanita itu.
"Apa ini tentang Haidar?"
Ida tidak menjawab, hal itu membuat Sintia yakin jika dugaannya benar.
"Bunda", Sintia memegang tangan Ida, "Demi kebahagiaan Haidar, tolong Bunda setuju untuk membatalkan pernikahan kami, ya?"
Ida menggeleng, "Menikahkan Haidar denganmu adalah amanat terakhir Ayahnya Haidar. Bagaimana mungkin Bunda membatalkan perjodohan kalian"
"Tapi Sintia bukanlah wanita yang Haidar cintai, Bunda. Bunda pasti paham, pernikahan tanpa cinta tidak akan bahagia"
"Bunda tahu Bunda egois. Tapi Bunda mohon, berjuanglah sekali lagi. Kamu mencintai Haidar kan? Buat dia mencintaimu juga"
Sintia dilema, dia memang mencintai Haidar. Tapi Haidar mencintai orang lain.
"Bunda yakin, ketulusan dan kesabaran kamu pasti mampu meluluhkan hati Haidar suatu saat nanti"
Melihat wajah sendu Bunda, Sintia jadi tidak tega. ia mengangguk ragu, "Sintia akan berusaha sekali lagi demi Bunda"
"Terima kasih, Sayang"
🌿🌿🌿
Di dalam kamarnya, Haidar tak henti memikirkan Raya. Ucapan Axel tadi pagi mampu membuat moodnya semakin buruk.
"Tidak mungkin secepat itu kamu berpaling dariku kan, Sayang? Kita saling mencintai. Aku tahu, kamu hanya sedang membalasku. Kamu hanya sedang membuatku cemburu"
Pria itu mengambil foto Raya yang ada diatas nakas. Senyuman Raya terlihat begitu cantik.
"Aku mencintaimu", ucapnya memeluk figura yang berisikan foto Raya
🌿🌿🌿
Pagi - pagi sekali, Haidar sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari perdebatan dengan Bunda. Pernikahannya kurang dari sebulan. Bunda mulai sibuk menyiapkan ini dan itu. Dan tak jarang meminta Haidar melakukan banyak hal. Jika kebanyakan calon pengantin akan antusias menyiapkan pernikahan mereka, beda cerita dengan Haidar. Ia akan menikah dengan wanita yang tidak ia cintai. Apa mungkin dia akan bahagia? Maka jawabannya tidak.
"Dar, kamu sudah mau berangkat?"
"Iya. Ada rapat pagi ini. Jadi aku harus berangkat lebih awal" semua yang Haidar katakan hanyalah alasan.
"Sarapannya belum siap"
"Aku sarapan di kantor saja. Ya sudah Bunda, Haidar pamit dulu"
Pria itu bergegas pergi. Bukan untuk ke kantor, melainkan untuk ke rumah Raya. Ah, lebih tepatnya kerumah Axel, suami Raya.
Memacu mobilnya dengan cepat, Haidar mulai membelah jalanan. Tidak sulit mencari tahu dimana Axel tinggal, sebab suami Raya itu termasuk salah satu pengusaha muda yang sukses. Axel bahkan pernah masuk beberapa majalah bisnis. Haidar akui, saingannya kali ini lumayan berat. Namun tidak ada kata menyerah dalam hidupnya. Meski Raya dan Axel sudah menikah, Haidar yakin jika perempuan itu masih mencintainya.
Tiba didepan rumah Axel, Haidar memilih mengamati suasana dari dalam mobil. Katakanlah dia gila karena pagi - pagi sudah menguntit rumah orang. Tapi tidak ada kata gila demi cinta. Gerbang rumah Axel yang tertutup rapat membuatnya tak bisa melihat aktivitas apapun yang terjadi didalam rumah. Pria itu mengumpat, kesal karena usahanya tidak membuahkan hasil. Jika ditanya kenapa dia nekat kemari, jawabannya tentu untuk menemui Raya. Perempuan itu hobi sekali lari pagi, saat masih bersamanya, hampir setiap hari Raya lari pagi keliling kompleks. Tapi kenapa sekarang tidak lagi?
Saat kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya, satu pesan masuk ke nomor Haidar, nomor asing, pria segera membukanya
[Istriku masih tidur, pulanglah!]
Haidar meremat ponselnya, "Axel brengsek!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Aysana Shanim
Udah sii haidar move on ajaa..
Bakalan susah lawan axel 😢
2024-03-28
0
Susanty
ceritamu bener² menarik bgt Thor, aku ajah gak habis pikir,aku kira bakal banyak typo atau gak nyambung tapi the real cerita mu, membuat aku tercandu candu🤭🤣🤣
dari isi cerita, penulisannya semua sangat keren👍
2024-03-12
1