"Bagaimana? Dua anak itu belum mengangkat teleponnya?", tanya Papa Danu
Mama Raisa menggeleng,
"Biarkan saja. Mereka pasti kelelahan setelah berjuang membuat cucu untuk kita. Bukankah bagus kalau mereka lembur?", sahut Papa Brama disertai gelak tawa
"Masak iya mereka langsung ninu ninu?"
Papa Brama menatap besannya heran, "Loh memangnya kenapa harus ditunda? Raya datang bulan?"
"Bukan, bukan. Raya malah baru selesai datang bulan tiga hari yang lalu", sahut Mama Raisa
"Bukankah itu bagus? Raya sedang masa subur. Dan Axel, jangan diragukan lagi stamina putra kesayanganku itu. Semoga saja cucu kita segera launching", Papa Brama heboh sendiri
"Kamu menduda belasan tahun, tapi otakmu nggak jauh - jauh dari sana", cibir Papa Danu
"Loh, jangan salah. Meski aku duda tapi ingatanku tentang begituan masih segar sekali. Masa mudaku sama mendiang istriku itu selalu indah"
"Ck, kenapa malah kalian yang ribut! Yakin sekali kalau anak - anak kita sudah melalui malam pengantin"
"Kenapa besan punya pikiran begitu? Mereka baru saja menikah, jelas lah sudah melalui malam pengantin. Masak iya ditunda - tunda"
Mama Raisa memutar matanya malas, "Ya bukannya apa - apa, Mas. Masalahnya, anak kita menikahnya itu dalam waktu singkat. Siapa tahu saja mereka masih butuh pengenalan sebelum memutuskan jadi suami istri sesungguhnya"
"Ini nih, kalau kebanyakan baca novel!", cibir Papa Danu pada istrinya, "Mereka menikah memang dalam waktu yang singkat. Tapi Mama harus ingat, baik Raya maupun Axel keduanya sama - sama dewasa. Sudah tahu seperti apa membangun rumah tangga. Sudah paham tugas suami dan istri. Sudah mengerti kalau pernikahan itu hal yang sakral dan tidak boleh di permainkan. Jadi buang jauh - jauh pikiran novelmu itu!"
"Ya kan Mama cuma khawatir, Pa. Apalagi-"
"Teruskan drama kalian dirumah saja. Sekarang kita cek saja dikamar mereka. Kalau tidak dibuka, minta kunci cadangan pada pihak hotel" putus Papa Brama
"Jangan gila!", teriak Papa Danu dan Mama Raisa kompak
"Ya terus harus bagaimana? Daripada kita menerka - nerka begini. Bukankah sebaiknya di buktikan saja"
Papa Danu menggeleng, ide sahabatnya itu terdengar gila. Iya kalau tidak terjadi apa - apa di antara mereka. Kalau keduanya sedang kuda - kudaan saat mereka memaksa masuk, bukankah akan sangat memalukan? Kok kesannya kayak orang tua nggak ada akhlak.
"Sudah! Sebaiknya kita pulang! Mereka sudah dewasa. Entah apa yang terjadi pada mereka dan apapun yang mereka lakukan itu urusan mereka! Bukan urusan kita!" putus Papa Danu
"Loh Dan, mana bisa begitu?", protes Papa Brama
"Pulang Bram!!"
"Ck, iya - iya. Dasar nggak asyik!"
Para tetua itu memutuskan pulang lebih dulu. Biarkan saja pengantin baru itu menikmati masa - masa indah berdua.
Sementara didalam kamar pengantin, Axel tak henti tersenyum memandangi wajah sang istri yang masih tertidur pulas sambil memeluknya. Pria itu bahagia. Bagaimana tidak, malam pengantin baru yang menjadi perdebatan orang tuanya itu nyatanya berhasil mereka lalu dengan begitu indah.
Meski Haidar sempat membisikkan kalimat tidak menyenangkan, nyatanya keyakinan Axel terbukti benar. Dialah pria pertama untuk Raya. Ah ... Membayangkan hal itu, pikiran Axel jadi traveling pada kejadian semalam.
"Sudah siang ya?", tanya Raya dengan suara serak
Axel mengecup pipi Raya sekilas, "Sudah jam setengah sepuluh"
"Hah! Sudah sesiang itu? Kok Mas nggak bangunin aku?"
"Kamu tidurnya pules banget. Mana tega Mas bangunin kamu"
Raya mengambil ponselnya dan banyak sekali panggilan dari Mamanya. "Kok nggak diangkat pas Mama telpon?"
"Nggak kedengaran Sayang. Coba deh di cek, kayaknya ponsel kamu mode silent"
Dan benar. Ternyata ponsel Raya memang model diam. "Mau pulang sekarang?", tanya Raya sembari turun dari ranjang.
Rambut acak - acakan yang Raya gulung asal ke atas, langsung memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Hal itu membuat Axel bisa melihat dengan jelas hasil kerjanya semalam.
"Emang nggak capek, hm?"
"Capek sih. Tapi lebih enak kalau dirumah kan?", sahut Raya
Perempuan itu mengambil pakaian gantinya di tas. Tak lupa juga menyiapkan pakaian milik suaminya.
"Mas masih betah disini?"
Axel menggeleng, "Pulang aja deh"
Pria itu beranjak menuju meja rias dimana Raya berada. Tanpa aba - aba memeluk istrinya dari belakang, "Wangi banget sih kamu Sayang"
Raya tak heran lagi dengan sikap Axel yang spontanitas seperti memeluk dan mengecupnya tiba - tiba. Dia mulai membiasakan diri dengan sifat suaminya itu.
"Kok ditutupin sih. Bagus loh", protes Axel saat Raya menutup hasil karyanya dengan foundation
Raya menatap suaminya dari cermin, "Hal privasi nggak perlu di umbar - umbar"
"Padahal biar orang - orang tahu kalau kamu sudah ada pawangnya"
Raya tergelak, "Tanpa diberi tahu, orang - orang juga sudah tahu. Melihat wajah galak Mas saja, mereka pasti takut. Ayo cepat ah, katanya mau pulang"
"Nggak mau makan dulu? Sudah siang loh ini"
"Makan dijalan aja nggak papa kan?"
"Boleh lah"
Raya merasa gemas karena Axel belum beranjak dari kasur, "Kalo lama aku tinggal loh"
Axel beranjak dengan malas, ia segera mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah Raya siapkan.
🌿🌿🌿
Tak lama mereka keluar dari kamar hotel. Axel meminta Raya menunggu di lobi saat dirinya mengambil mobil.
"Mampir cari makan dimana?", tanya Axel begitu istrinya itu sudah masuk ke dalam mobil.
"Mas punya rekomendasi tempat makan yang enak nggak?"
"Ada. Mau mampir kesana?"
"Boleh deh"
Axel memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ternyata, tempat yang Axel maksud tidak terlalu jauh dari hotel. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh lima menit perjalanan. Begitu tiba disana, Axel segera membawa Raya masuk.
"Mau duduk di lesehan atau di kursi?"
"Lesehan sepertinya enak", putus Raya
Tempat makan pilihan Axel menyediakan berbagai menu lalapan. Mulai dari ayam, bebek dan berbagai macam ikan. Dan juga menu nusantara lainnya. Sangat cocok jika makan sambil lesehan. Apalagi dibawahnya ada kolam ikan sebagai pemandangan.
"Silahkan, mau pesan apa?"
"Loh, Mas Teo? Kok bisa disini?", tanya Raya pada sahabat suaminya itu
Teo tersenyum, "Tuan Axel belum cerita ya kalau tempat makan ini milik ibunya Mas Teo?", goda pria itu
"Nggak usah genit sama istri orang!", seru Axel dengan model macan
"Ck. Udah jadi hak milik kan? Gue juga milih - milih kalau mau nikung! Apalagi yang pawangnya modelan macan kayak Loe! Ogah! Jadi nggak usah khawatir! Lagian Raya juga nggak bakalan mau saja Gue!"
Raya tersenyum melihat perdebatan dua pria itu, menurutnya mereka persis seperti Tom dan Jerry
"Jadi mau pesan apa Nyonya Axel?"
"Menu andalannya apa, Mas?"
"Pesen ayam bakar dua, tumis kangkung, gurami asam manis, dadar jagung, sambelnya pedas sedang sama lemon waternya 2!", sahut Axel cepat
Raya dan Teo kompak menoleh pada Axel, "Kenapa?", tanya Axel heran
"No problem!", sahut Teo
"Kamu mau pesan menu lain?", tanya Axel saat Raya masih menatapnya
Raya menggeleng, "Semua menunya kesukaan aku loh. Mas nggak pesan menu lain?"
"Mas suka apa yang kamu suka"
"Bucin!!", cibir Teo kemudian pergi
Sambil menunggu pesanan mereka, Raya menghubungi Mamanya untuk memberi kabar. Ia belum sempat menghubungi Mamanya sejak tadi.
Hari ini, Raya akan langsung pulang kerumah Papa Brama. Setelah menikah, Raya memutuskan ikut tinggal dirumah mertuanya itu. Bukan karena paksaan siapapun. Tapi semua murni keinginan Raya sendiri. Sebenarnya, Papa Brama akan memberikan hadiah rumah sebagai kado pernikahan mereka. Namun Raya tolak. Papa Brama tinggal sendirian. Rumahnya juga besar. Ia tak tega jika harus meninggalkan mertuanya itu seorang diri. Pria itu sempat mengeluh kesepian saat Axel bekerja. Setidaknya jika ada dirinya, mertunya itu tidak kesepian lagi. Keputusan itu juga didukung Papa Danu dan Mama Raisa, mereka sama sekali tidak keberatan. Lagipula, jarak rumah Papa Danu dan Papa Brama hanya memakan waktu empat puluh lima menit saja.
"Silahkan dinikmati Tuan dan Nyonya Axel. Semoga kalian suka"
"Terima kasih, Mas Teo"
"Sama - sama Nyonya Axel. Selamat dinikmati", ucap Teo, "Oh ya, kali ini nggak usah bayar. Anggap saja hadiah buat pengantin baru"
"Eh, jangan Mas. Kita bayar saja", ucap Raya tak enak hati
"Teo nggak akan bangkrut kalau cuma ngasih kita menu ini gratis"
Raya tersenyum tak enak pada Teo,
"Udah, nggak usah bayar. Beneran ini hadiah dari aku. Jangan sungkan, suamimu aja nggak ada malu", ucapnya tergelak
"Makasih Praseteo", ucap Axel tersenyum manis
"Hm"
"Terima kasih loh, Mas", ucap Raya tulus
"Sama - sama. Ya udah, selamat makan. Kamu butuh tenaga ekstra buat ngadepin manusia modelan Axel", ucap Teo berlalu sambil melambaikan tangan
"Kalian persis Tom Jerry"
Axel tergelak, ". Itulah keseruan kami. Kamu belum tahu saja, Teo juga selalu nyusahin aku. Udah, makan dulu nanti keburu dingin", ucap pria itu sambil menaruh gurami yang sudah ia pisahkan dari tulangnya ke piring Raya
"Wah! Kebetulan kita bertemu disini. Boleh kan aku gabung?"
"Haidar?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Susanty
waaah orang yang gak di harapkan kehadirannya,muncul tiba², untung Axel gak kemakan omongannya Haidar🤭🤣 salut sih sama raya dan Axel belum ada cinta tapi bisa malam pertama, biasanya kalo Kya gitu nunggu beberapa Minggu apa bulan🤭😂
2024-03-12
1