Usai lamaran diterima, kedua pihak keluarga mulai sibuk mempersiapkan acara pernikahan. Ya, atas kesepakatan bersama, pernikahan Raya dan Axel akan dilaksanakan bulan depan.
Raya sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Haidar dan Sintia. Sebagai orang tua, tentu Danu dan Raisa ikut merasakan kesedihan putrinya. Namun, disisi lain mereka merasa amat bahagia. Bagaimana tidak, dibalik semua peristiwa yang Raya alami, ternyata Allah maha baik pada mereka. Takdir membawa Axel sebagai obat untuk patah hati Raya. Siapa sangka pertemuannya dengan sahabat lama akan berujung menjadi besan. Mama Raisa sendiri malah bersyukur karena Raya tidak melanjutkan hubungannya dengan Haidar. Entah kenapa, Mama Raisa memang tidak terlalu suka pada pemuda itu. Mungkin, inilah yang dinamakan feeling seorang ibu.
Menjelang hari pernikahan yang semakin dekat, Raya mulai membatasi kegiatannya. Mengingat waktu persiapan yang cukup singkat, ia juga ikut dibuat sibuk karenanya. Mulai dari memilih cincin pernikahan, fitting gaun pengantin, memilih dekorasi hingga undangan. Untuk catering dan WO, semua adalah pilihan Mama Raisa. Perempuan itu terlihat lincah mengurus semuanya sendiri. Karena Axel sudah tidak memiliki Ibu, jadi dirinyalah yang mengurus semuanya. Beruntung Axel dan Raya sama - sama bisa bekerja sama dengan baik. Jadi semua proses berjalan dengan lancar.
🌿🌿🌿
Tidak terasa, hari pernikahan tinggal seminggu lagi. Semua persiapan sudah rampung seratus persen. Tentu saja. Zaman sekarang, ada uang semua gampang. Koneksi Danu dan Brama jangan diragukan lagi.
Calon mempelai sudah dilarang pergi kemanapun. Istilahnya di pingit, untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan. Kegiatan Raya hanya dirumah, namun tidak menganggur karena Mama Raisa mendatangkan beberapa orang yang membantu Raya melakukan perawatan. Mulai dari perawatan wajah, badan hingga perawatan khusus pengantin baru.
"Ray, ada Sintia dibawah", seru Mama Raisa memasuki kamar putrinya.
Tiga minggu ini Raya tidak berhubungan lagi dengan Haidar dan Sintia. Raya juga sengaja memblokir nomor keduanya. Selain karena ingin fokus mengurus pernikahan, alasan lain adalah Raya masih enggan bertemu dua pengkhianat itu. Sintia sendiri sudah beberapa kali datang kerumahnya, namun selalu berakhir dengan kekecewaan karena Raya terus meminta Mamanya mengatakan jika dirinya tengah keluar kota.
"Aku masih enggan menemuinya, Ma"
Mama Raisa menghela nafas, "Apa nggak sebaiknya ditemui dulu? Kasihan loh, dia bolak - balik kemari beberapa hari ini. Sekalian saja diundang ke pernikahanmu"
Raya berdecak, namun tak urung menyambar sisa undangan diatas nakas kemudian turun ke lantai bawah. Jujur, Raya sebenarnya malas. Sakit hatinya masih terasa hingga sekarang. Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya.
"Ray, akhirnya kamu mau menemui aku", Sintia terlihat senang, sementara Raya terlihat biasa saja
"Ada perlu apa kamu datang kemari?"
Wajah senang Sintia berubah sendu, tiga minggu dirinya berusaha menemui sang sahabat. Menghubungi serta mencari keberadaan Raya lewat sosial media yang berakhir nihil. Kini setelah bertemu, kenapa respon Raya malah acuh padanya. Apa dia telah melakukan kesalahan?
"Ray, apa aku telah melakukan kesalahan yang nggak aku sengaja sama kamu? Tiga minggu ini kamu susah dihubungi. Bahkan kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku dan Haidar seperti orang gila mencarimu"
Raya memberikan kan undangan pada Sintia "Inilah alasan, kenapa aku menghilang tiga minggu ini"
Sintia mengambil undangan yang Raya lemparkan, matanya membeliak. "K-kamu akan menikah?", tanyanya terkejut
"Iya. Datanglah dan jangan lupa mengajak Haidar juga"
"T-tapi bagaimana mungkin? Kamu akan menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana dengan Haidar? Dia terus mengkhawatirkanmu tiga minggu ini. Dia bahkan terlihat begitu frustasi karena tidak bisa menghubungimu. Tapi kamu malah mengkhianatinya?"
Tawa Raya menguar, sebenarnya Raya enggan ribut. Tapi Sintia lah yang memancing amarahnya, "Kamu bilang aku mengkhianatinya? Oh ayolah Sin, jangan berpura - pura bodoh! Bukankah kalian yang mengkhianati aku?"
"A-apa maksudmu?", tanya Sintia gugup
"Kamu yakin tidak tahu maksudku?", Sintia mengangguk ragu, "Bukankah kalian juga akan menikah? Kalau aku tidak salah hitung, pernikahan kalian tinggal sebulan lagi. Aku benar kan?"
Wajah Sintia berubah pias, mungkinkah ini alasan Raya menghilang selama ini? Apa dia mendengar percakapannya dengan Haidar waktu itu?
"I-ini tidak seperti yang kamu pikirkan Ray. Aku dan Haidar, kami-"
"Bukankah bagus kalau aku menikah lebih dulu! Setidaknya kalian bisa mengurangi sedikit rasa bersalah kalian padaku! Tapi maaf, setelah ini aku tidak bisa menganggapmu sebagai sahabatku lagi! Aku mengundangmu karena aku masih menghargaimu. Tapi selanjutnya, anggap kita tidak saling kenal!"
Mata Sintia berkaca - kaca, "Ray, kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu duga. Haidar sangat mencintai kamu"
"Sudahlah Sin, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku tidak mau lagi mendengar apapun darimu! Semuanya sudah jelas! Jadi pergilah!", Raya mulai beranjak,
"Tega kamu, Ray! Tega kamu mempermainkan Haidar seperti ini!"
Raya berbalik, dia menatap sintia sengit, "Kamu bilang aku tega? Lalu bagaimana dengan kalian yang diam - diam merencanakan pernikahan di belakangku!!", sentak Raya membuat Sintia menunduk, "Kamu tahu? Aku merasa seperti orang bodoh yang kalian permainkan!! Kamu dan Haidar adalah orang yang paling aku percaya. Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian diam- diam akan menikah! Empat tahu, Sin! Empat tahun yang kami lewati tidak berarti apa - apa karena pengkhianatan kalian!! Kalau saja hari itu aku tidak mendengar semuanya, aku akan tetap menjadi orang bodoh! Sekarang kamu bilang aku tega!! DIMANA OTAKMU, HAH!!!"
Luruh sudah tangis Sintia, gadis itu tergugu, "A-aku minta maaf. Tolong maafkan aku, Ray. Aku bersalah karena menyembunyikan hal ini. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud merebut Haidar dan mengkhianati kamu. Kami dijodohkan. Aku dan Haidar tidak bisa menolak keinginan orang tua kami. Aku mohon, jangan sakiti Haidar dengan cara seperti ini. Dia sangat mencintai kamu. Aku rela mundur demi kebahagiaan kalian. Tapi aku mohon jangan menikah dengan orang lain",
Jika dulu melihat sahabatnya menangis, Raya akan segera menenangkannya, maka sekarang tidak lagi. "Turuti saja keinginan orang tua kalian. Lagipula apapun yang kamu katakan sekarang, tidak akan mengubah keputusanku untuk menikah. Sekarang pergilah", Raya kembali melangkah meninggalkan Sintia
"BAGAIMANA MUNGKIN KAMU AKAN MENIKAH DENGAN PRIA LAIN SEMENTARA KAMU MENCINTAI HAIDAR!"
Langkah Raya kembali terhenti, tanpa menatap Sintia, ia berkata "Aku sudah menghapus rasa itu untuk Haidar. Dan sekarang, aku mulai belajar mencintai calon suamiku!", ucapnya benar - benar pergi.
"Ray! Raya!!"
Raya mengabaikan teriakan mantan sahabatnya. Dia berlalu menaiki tangga menuju ke kamarnya. Disudut lain, dua orang saling menatap dengan senyum, "Hatinya sedang tidak baik - baik saja sekarang. Tapi kamu dengar sendiri kan? Dia mulai belajar mencintai kamu. Artinya, dia siap membuka hati untukmu. Dan dia telah menjatuhkan pilihannya padamu. Raya itu akan bucin kalau sudah mencintai. Tugasmu hanya satu, buat Raya jatuh cinta padamu"
"Aku akan membuat Raya jatuh cinta padaku"
"Dan tentu saja juga membuatnya bergantung padaku"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Nur Hayati
semoga yang terbaik untuk raya dan axel
2024-04-16
0
Arifin Wiwik
ayo kk lanjuuuutkan👍
2024-03-17
0
Jade Meamoure
waduh...apa pernikahan Axel n Raya hanya sandiwara si Bram ya buat ngeruk kekayaan Raya
2024-03-14
1