Bab 4

Hari yang ditunggu - tunggu akhirnya tiba. Hari dimana Raya dan Axel akan melangsungkan pernikahan. Suasana di ballroom hotel sudah mulai dipadati sanak saudara dan tamu undangan yang akan menyaksikan ijab kabul keduanya. Raya tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, lengkap dengan suntiang sebagai hiasan kepalanya. Begitupun dengan Axel yang terlihat begitu gagah dengan setelah baju putihnya. Prosesi temu manten baru selesai dilakukan. Kini kedua mempelai sudah duduk didepan penghulu. Papa Danu dan Papa Brama serta beberapa orang saudara yang akan menjadi saksi juga duduk disana.

"Sudah siap?"

"Siap"

Penghulu membimbing Papa Danu yang akan menikahkan putrinya secara langsung,

"Saudara Axelio Indra Bramasta bin Irawan Bramasta, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Raya Queenza Danuarta binti Ari Danuarta dengan mas kawin perhiasan seberat seratus gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Queenza Danuarta binti Ari Danuarta dengan mas kawin tersebut, tunai!!"

"Bagaimana saksi?"

"Sah!!"

"Alhamdulillah"

Suasana yang tadinya cukup tegang, kini mencair sudah. Wajah Axel terlihat lega, hal itu bisa dilihat dari senyum tipis yang terbit dari bibirnya. Sama hal nya dengan Raya, wanita itu terlihat lebih santai dibanding sebelum akad tadi. Sementara para orang tua tak mampu menahan haru. Mama Raisa tampak mengusap sudut matanya, begitupun dengan suami dan besannya. Walau terlihat sedikit sangar, rupanya bapak - bapak itu melow juga. Jelas saja, baik Raya maupun Axel, keduanya sama - sama anak tunggal.

"Silahkan di tanda tangani buku nikahnya", ucap penghulu. "Lalu cincinnya dipasangkan pada jari manis pasangan masing - masing"

Axel menatap Raya dengan senyuman manis, ia memasangkan cincing di jari Raya dengan perlahan. Kemudian gantian Raya yang memasangkan cincin dijari manis suaminya. Tak lupa, pria itu memberikan kecupan hangat di dahi Raya. Dan dibalas dengan Raya yang mencium tangan suaminya dengan takzim.

"Selamat, Sayang. Kalian sudah resmi menjadi suami istri", ucap Papa Danu.

Dua sejoli yang baru sah menjadi suami istri itu kini duduk bersimpuh didepan orang tua Raya,

"Putri kesayangan Papa sudah menjadi seorang istri. Sekarang, kamu bukan tanggung jawab Papa lagi. Kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Lakukanlah kewajibanmu dengan baik. Taat dan berbaktilah pada suamimu. Temani dia dalam keadaan suka maupun duka. Jadikanlah dia tempatmu berbagi, tempatmu berkeluh kesah dan tempatmu pulang. Ingat, surga istri ada pada suaminya", Raya memeluk cinta pertamanya itu, tangis pun tak dapat dibendung. Siapa yang menyangka bahwa ia sekarang sudah menjadi seorang istri. Sebelumnya, tidak pernah terbersit akan menikah secepat ini apalagi dengan pria yang baru Raya kenal.

Papa Danu beralih menatap Axel, pria paruh baya itu memegang tangan menantunya sembari tersenyum dengan mata berkaca - kaca. "Tanggung jawab Papa terhadap Raya telah beralih padamu, Nak. Papa percayakan putri kesayangan Papa. Jaga dan sayangi dia seperti Papa menyayanginya. Cintai dia seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Jika suatu saat kamu sudah bosan dan tidak mencintainya lagi, kembalikan dia pada Papa sama seperti saat kamu memintanya"

Axel menatap mertuanya, "Aku pastikan, apapun keadaannya, aku tidak akan pernah mengembalikan Raya pada Papa. Aku akan berusaha untuk selalu menjaga dan membahagiakannya"

"Papa percaya padamu"

"Dalam rumah tangga tidak melulu soal tawa dan bahagia. Ada sedih dan tangis juga. Perdebatan bahkan pertengkaran pasti akan mewarnai perjalanan kalian. Tapi intinya, saling percaya, komunikasi dan kejujuran adalah pondasi yang akan membawa kalian pada kebahagiaan. Jika ada masalah, bicarakan dengan kepala dingin. Jangan mengedepankan ego dan emosi. Semua bisa di selesaikan dengan baik kalau kalian mau bersikap dewasa. Usahakan, apapun yang terjadi, jangan sampai mengumbar aib pasangan masing - masing pada orang lain. Karena aib istri adalah aib suami, begitupun sebaliknya", Ucap Mama Raisa memberi wejangan

"Kami akan selalu mengingat pesan Mama", sahut Axel mantap. Wanita paruh baya itu memberikan pelukan secara bergantian pada anak dan menantunya

"Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan"

"Amin. Terima kasih atas doanya, Ma"

Usai sungkem pada Papa Danu dan Mama Raisa, kini keduanya duduk didepan Papa Brama, Belum mengatakan apa - apa, pria itu sudah mengusap sudut matanya.

"Ray", panggilnya pada sang menantu

"Iya, Pa"

Papa Brama merengkuh tubuh Raya, tangisnya tak bisa dibendung lagi. Pria itu terisak. Selain merasa bahagia, dia juga merasa sedih secara bersamaan. Bagaimana tidak, dihari bahagia sang putra, tidak ada istrinya disana. Belahan jiwanya itu sudah bersama Allah di surga, "Papa titip Axel padamu ya, Sayang. Sayangi dan cintai dia sepenuh hati. Mungkin Axel bukanlah pria sempurna, Tapi Papa yakin dia pasti bisa membahagiakanmu. Dia itu sebenarnya manja. Jadi kamu harus banyak - banyak bersabar menghadapinya", Papa Brama terkekeh, "Papa tidak tahu harus berkata apa. Tapi yang jelas, Papa selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Semoga rumah tangga kalian selalu tentram dan damai. Walau badai akan selalu ada, tapi Papa yakin kalian pasti bisa melewatinya. Berjanjilah pada Papa untuk selalu ada untuknya apapun yang terjadi", Papa Brama mengurai pelukannya. Dia menatap Axel lalu terkekeh, "Dibalik sikapnya yang terlihat tegar, separuh hatinya telah lama kosong karena kepergian Mamanya. Dan tugas kamu, adalah mengisi kekosongan itu "

Raya mengangguk, tatapan tulus dari Papa Brama membuat hatinya bergetar. "Aku janji, Pa. Apapun yang terjadi, aku akan selalu menemaninya"

"Terima kasih, Sayang"

Papa Brama menatap Axel yang terlihat menahan tangis, "Selamat boy. Kamu sudah menjadi seorang suami. Tugas dan kewajibanmu kini bertambah. Kamu bukan seorang lajang lagi, jadi rubah pola kerja dan kegiatanmu. Sekarang ada Raya yang harus kamu jaga dan kamu perhatikan. Papa tahu, urusan materi kamu lebih dari cukup untuk membahagiakan istrimu. Tapi jangan lupa, berikan juga cinta dan kasih sayang yang berlimpah. Materi saja tidak cukup. Cinta saja juga tidak cukup. Jadi keduanya harus seimbang", Papa Brama menyentuh pundak Axel, "Ingat, kesuksesan seorang suami terletak pada kebahagiaan istrinya. Jangan pernah berpikir untuk menyakiti istrimu meski sekali saja. Karena kalau sampai itu terjadi, lawanmu adalah Papa"

"Aku janji, Pa. Dan Papa bisa pegang janjiku itu"

"Papa percaya padamu", Papa Brama memeluk putra semata wayangnya, "Jangan lupa, segera berikan pada cucu"

Axel tergelak, "Kalau itu, mintalah pada menantumu"

Papa Brama tersenyum, "Ray, kalau bisa jangan menunda ya. Segera berikan cucu yang lucu untuk kami "

"Kalau itu aku juga setuju", sahut Papa Danu

Raya tersipu, wajahnya memerah. Berbicara tentang anak, bukankah artinya ia dan Axel harus ... Ah ... Otak Raya teracuni. Ia menggeleng pelan. Tanpa Raya sadari, sejak tadi Axel memperhatikannya sembari tersenyum. Wajah malu Raya terlihat menggemaskan

"Karena acara sungkeman sudah selesai. Selanjutnya mari kita mengambil foto keluarga dulu", ucap team WO mengarahkan.

Acara berlanjut, secara bergantian para keluarga berfoto dengan pengantin. Setelah selesai berfoto dengan keluarga dan sanak saudara, tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disuguhkan. Sementara kini, fotografer tengah sibuk mengarahkan gaya untuk kedua mempelai. Mulai dari foto sendiri, hingga foto berdua dengan berbagai pose.

Tepat pukul sebelas siang, acara akad resmi selesai. Untuk resepsi, akan dilanjutkan pada pukul empat sore. Sanak saudara dan keluarga kembali ke kamar masing - masing untuk beristirahat. Begitupun dengan kedua mempelai. Raya dan Axel dibawa ke kamar pengantin untuk istirahat sebentar sebelum nanti akan di rias kembali untuk resepsi.

"Kamu makan dulu ya sama Raya, Mama sudah taruh makanannya didalam. Raya juga sudah selesai dilepas hiasan kepalanya", ucap Mama Raisa

"Terima kasih, Ma"

Axel masuk kedalam kamar, dia melihat Raya masih duduk di depan meja Rias. Riasan wajahnya masih sama, hanya pakaiannya saja yang diganti dengan piyama.

"Mau makan dulu?", tanya Axel

Raya mengangguk, dia berjalan ke arah suaminya yang lebih dulu duduk di sofa.

"Mas suka menunya? Kalau nggak suka, aku bisa minta Mama ambilkan menu lain"

Axel tidak langsung menjawab, jujur dia cukup terkejut karena Raya memanggilnya Mas. Namun tidak bisa dipungkiri jika dirinya merasa senang.

"Mas!"

"Eh ... suka kok. Makan ini saja nggak papa"

Keduanya mulai makan dengan tenang. Sesekali Axel menatap istrinya. Begitupun dengan Raya yang diam - diam mencuri pandang ke arah sang suami. Keheningan mendominasi, lebih tepatnya mereka berdua sama - sama gugup dan keduanya memilih diam. Namun keheningan itu tak bertahan lama, sebab terdengar keributan didepan kamar.

"Ada apa ya?", tanya Raya penasaran

"Entahlah, aku akan memeriksanya dulu", Axel beranjak untuk mengecek keadaan diluar kamar

"Ada apa?", tanyanya pada petugas keamanan yang tampak memegangi seorang pria

"Pria ini memaksa ingin bertemu Nona Raya, Tuan!"

"Aku mau bertemu dengan Raya!! Izinkan aku bertemu dengannya!!"

"Lepaskan dia", perintah Axel pada security, lalu Axel menatap pria itu, "Ada urusan apa kamu ingin menemui istriku?!"

"Hahaha. Istrimu? Raya itu kekasihku!!"

"Sebaiknya kamu pergi dari sini, Haidar. Raya sudah menikah dengan orang lain. Sudah menjadi suami orang. Lagipula, bukankah kamu juga akan menikah dengan Sintia?", seru Papa Danu yang baru datang bersama Papa Brama dan Mama Raisa

Wajah Haidar memucat, darimana mereka tahu rencana pernikahannya dengan Sintia?

"Semua salah paham, Om. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan", elaknya Haidar mencoba membela diri

"Salah paham atau tidak, Raya sudah menjadi istrinya Axel. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini. Kedatanganmu sangat mengganggu ketenangan kami", imbuh Mama Raisa

"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Raya. Aku ingin bertemu dengan Raya! Aku ingin bertemu dengan kekasihku!", kekeh Haidar

Raya sendiri bukannya tidak mendengar suara Haidar, dia sengaja tidak keluar atas perintah Papa Danu yang menghubunginya beberapa menit lalu.

"Pergilah! Raya bukan lagi kekasihmu. Sekarang dia adalah istriku. Dan aku tidak mengizinkanmu menemuinya!"

Haidar menatap semua orang"Ini belum berakhir. Dan aku akan terus menemui Raya karena dia berhutang penjelasan padaku", pria itu melangkah mendekati Axel, "Semoga kamu tidak kecewa pada Raya nanti malam!", bisiknya dengan senyum seringai

Deg

Terpopuler

Comments

Arifin Wiwik

Arifin Wiwik

jgn mudah terprovokasi xel

2024-03-17

1

Susanty

Susanty

Haidar mencoba mempengaruhi Axel, jangan percaya xel,,, aku Yaqin raya masih perawan ting ting

2024-03-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!