Bisma terlihat berpikir, karena Bisma tidak mungkin menutupi semuanya lagi dari Zahra, apalagi cepat atau lambat Zahra harus mengetahuinya, karena Raja iblis pasti akan terus mencari keberadaan Bisma.
"Zahra, sebenarnya menurut hukum di alam ku, kita telah sah menjadi Suami istri setelah berciuman."
"A_apa? Kenapa bisa seperti itu?" tanya Zahra yang begitu terkejut.
"Maaf kalau aku baru mengatakannya sekarang, tadinya aku akan mengatakannya kalau kamu sudah jatuh cinta kepada ku, walau pun aku tau semua itu tidak mungkin terjadi karena kita berasal dari dunia yang berbeda, apalagi ciuman pertama yang kita lakukan karena aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan nyawa kamu," ujar Bisma.
"Aku masih heran saja kenapa di alam kamu cara menikahnya gampang sekali, gak harus pake wali, saksi sama penghulu. Bagaimana kalau waktu itu yang kamu selamatkan adalah Nenek ku, berarti sekarang kamu juga sudah menjadi Suaminya?" ujar Zahra dengan terkekeh.
"Kalau itu lain lagi, karena semua itu hanya berlaku bagi yang masih lajang, kecuali ada ijin dari Suami atau Istri pertamanya untuk poligami atau poliandri," ujar Bisma.
"Ternyata poligami bukan hanya di alam manusia saja. Kalau aku sampai kapan pun gak bakalan mau di poligami," gumam Zahra.
Zahra terlihat berpikir, meski pun saat ini dirinya merasa terkejut setelah mengetahui fakta jika dia sudah menjadi Istri Bisma, tapi dalam hati kecilnya Zahra merasa bahagia karena telah menikah dengan lelaki yang dicintainya.
"Zahra, selamanya aku tidak akan pernah menduakan kamu, tapi aku tidak akan memaksa kamu menjadi Istriku, kalau memang kamu ingin bercerai, aku akan mengabulkannya_" perkataan Bisma terhenti karena Zahra tiba-tiba menempelkan telunjuknya pada bibir Bisma.
"Tolong jangan berkata tentang perceraian, kita baru beberapa hari menikah, apa kamu pikir setelah aku menjadi janda dari Pangeran iblis, akan ada lagi lelaki yang mau menikah dengan ku?" ujar Zahra dengan pura-pura sedih.
"Zahra, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih. Aku belum ngapa-ngapain kamu, jadi kamu masih bisa menikah dengan lelaki dari bangsa manusia, dan aku akan pergi supaya tidak mengganggu hidup kamu lagi," ujar Bisma dengan menahan sesak dalam dadanya karena merasa berat jika harus berpisah dari Zahra.
Ketika Bisma hendak melangkahkan kaki nya untuk pergi, Zahra tiba-tiba mencekal pergelangan tangan Bisma.
"Tuan iblis, apa kamu tidak mencintaiku? Kenapa kamu tega sekali ingin meninggalkan Istrimu?" tanya Zahra sehingga membuat Bisma terkejut.
"Ke_kenapa kamu bertanya seperti itu? Meski pun aku mencintai kamu, kita tidak mungkin bisa bersama karena kamu tidak mencintaku. Apalagi aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalah ku, karena Ayahanda pasti akan terus berusaha mencari keberadaan ku," ujar Bisma.
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku tidak mencintai kamu?" ujar Zahra, sehingga membuat Bisma semakin terkejut.
"Apa maksudnya kamu juga mencintaiku?" tanya Bisma dengan mata yang berbinar.
Zahra tersenyum malu, kemudian dia menganggukkan kepalanya, dan Bisma yang merasa bahagia langsung memeluk tubuh Zahra.
"Ma_maaf Zahra, saking bahagianya aku jadi lancang memeluk kamu," ucap Bisma dengan melepaskan pelukannya terhadap Zahra.
"Bukannya kita sudah menjadi Suami istri? Jadi wajar saja kalau kita berpelukan," ucap Zahra dengan pipi yang merah merona.
"Siapa yang sudah menjadi Suami istri?" tanya Bu Maesaroh yang merasa terkejut mendengar perkataan Zahra.
Bu Maesaroh yang merasa khawatir karena Zahra tidak kunjung turun juga, memutuskan kembali ke kamar Zahra untuk melihatnya.
"Ne_nek mungkin salah dengar. Nenek juga kenapa kembali ke sini?" tanya Zahra dengan tergagap.
Bu Maesaroh tidak bisa melihat keberadaan Bisma yang tengah memeluk Zahra, tapi indera penciuman Bu Maesaroh yang tajam kembali mencium aroma lelaki di dalam kamar Zahra.
"Seharusnya Nenek yang bertanya kepada kamu, dimana kamu menyembunyikan lelaki tampan?" tanya Bu Maesaroh.
"A_apa maksud Nenek? Zahra tidak menyembunyikan siapa siapa."
"Kamu tidak bisa membohongi Nenek, karena Nenek bisa mencium aroma lelaki tampan yang berada di dalam kamar mu. Kalau kamu tidak mau berkata jujur, Nenek akan menggeledah kamar kamu," ujar Bu Maesaroh.
Bu Maesaroh mencoba memeriksa kamar Zahra dengan membuka lemari serta melihat ke kolong ranjang, tapi Bu Maesaroh merasa heran karena tidak menemukan keberadaan siapa pun di kamar Zahra.
"Kamu tenang saja sayang, Nenek tidak akan bisa melihat aku," ucap Bisma dengan mencium tengkuk leher Zahra sehingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Sssh Tuan iblis, jangan seperti ini," bisik Zahra dengan mendesah pelan, tapi Bu Maesaroh masih bisa mendengarnya sehingga membuatnya semakin merasa curiga.
Sepertinya ada yang Zahra sembunyikan dariku. Aku harus memberitahu Aisyah dan Nak Yusuf, ucap Bu Maesaroh dalam hati.
Zahra dan Bisma yang bisa mendengar isi hati seseorang sampai tidak mendengar isi hati Bu Maesaroh, karena keduanya saat ini tengah dimabuk cinta.
"Zahra, sebaiknya sekarang juga kamu ikut Nenek ke dapur, kamu itu Anak gadis, tidak baik Anak gadis bermalas-malasan," ujar Bu Maesaroh dengan menarik tangan Zahra, tapi Bu Maesaroh merasa heran karena Zahra tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
"Eh, kenapa tubuh kamu berat sekali? Apa kamu habis makan besi sama beton?" tanya Bu Maesaroh.
"Sekalian saja makan rumput sama kaca biar kayak kuda lumping," ujar Zahra.
Zahra menatap wajah Bisma sebagai isyarat supaya melepaskan pelukannya, tapi Bisma terlihat enggan sehingga Bisma mengikuti Zahra berjalan dengan terus memeluknya.
"Zahra, kenapa sih kamu jalannya pelan sekali, kayak pengantin saja. Ya sudah Nenek duluan," gerutu Bu Maesaroh dengan berjalan lebih dulu.
"Gimana bisa cepat kalau ada yang nemplok terus," gumam Zahra, dan Bisma hanya tersenyum mendengar perkataan perempuan yang dicintainya tersebut.
"Aku tidak ingin jauh-jauh sama Istriku," ucap Bisma dengan terus menghujani Zahra dengan ciuman.
"Tapi Tuan iblis, aku takut kalau Keluargaku sampai mengetahui tentang pernikahan kita, apalagi kamu tau sendiri dari sejak Kakek ku masih menjadi Raja Genderewo, beliau merupakan musuh bebuyutan dengan Raja iblis," ujar Zahra yang terlihat sedih.
"Zahra, aku tau kalau semua ini berat untuk kita, tapi aku tidak mau berpisah dengan kamu, karena aku sangat mencintai kamu," ucap Bisma dengan menangkup kedua pipi Zahra.
"Aku juga sangat mencintai kamu," ucap Zahra dengan memeluk tubuh Bisma.
Bu Maesaroh dan Pak Rojak diam diam mengintip Zahra, dan keduanya terlihat heran ketika melihat Zahra memeluk tembok, apalagi keduanya merasa khawatir karena Zahra sering terlihat berbicara sendiri.
"Tuh Bapak lihat sendiri, sepertinya Cucu kita bermasalah. Kita harus bagaimana Pak? Apa mungkin Zahra sudah tidak waras karena merasa tertekan? Kasihan Zahra, dia sampai memeluk tembok dan bilang kalau dia mencintai tembok, padahal Ibu bisa mengenalkan cogan cogan berondong yang sering lewat rumah kita," ujar Bu Maesaroh.
"Apa? Jadi selama ini kebiasaan Ibu cuci mata sama cowok tampan masih belum sembuh?"
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Lee
Nah ketahuan kan bu Maesaroh suka cuci mata sma cogan🤣🤣
2024-04-03
1
Lee
Hebat bener indra penciuman nnek Maesaroh..
2024-04-03
1
Lee
Bner kata Zahra...🤣🤣
2024-04-03
1