Bab 14 ( Teror arwah Bu Narsih )

Tiba-tiba Hembusan angin kencang menerpa tubuh Ali setelah Ali mengatakan jika dirinya akan melakukan apa pun untuk Risma, sontak saja semua itu membuat Bintang dan Sandi yabg berada di samping Ali merasa terkejut.

"Sepertinya mendiang Bu Narsih marah sama kamu Ali," celetuk Bintang.

"Wajar saja mendiang Bu Narsih marah, karena Ali akan menyakiti hati Anaknya jika dia lebih memilih Risma," ujar Sandi.

Sandi tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ali yang sudah berniat untuk mengorbankan dirinya demi Risma, tapi Sandi tidak akan pernah membiarkan Ali melakukan hal bodoh yang bisa mengancam keselamatannya.

"Ali, Papa tidak akan pernah membiarkan kamu berkorban demi Risma," tegas Sandi, padahal biasanya Sandi tidak pernah bisa serius.

"Tapi Pa_" perkataan Ali terputus karena Sandi langsung memotongnya.

"Ali, jika kamu lebih memilih Risma, akan banyak hati yang tersakiti oleh perbuatan kamu. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Keluarga kamu? Apa kamu ingin menyakiti hati Andini? Bukannya selama ini kamu selalu bilang kalau kamu terlahir dari rahim seorang peremuan, jadi kamu tidak akan pernah menyakiti perempuan? Sepertinya kamu sudah dibutakan oleh cinta kamu kepada Risma, sehingga kamu melupakan semuanya," ujar Sandi yang merasa kecewa terhadap Ali.

Ali tertegun mendengar perkataan Sandi, karena dirinya sudah bersikap egois tanpa memikirkan perasaan orang lain.

"Sebaiknya kamu renungkan semuanya. Bukan hanya direnungkan saja, kalau bisa kamu laksanakan Shalat istikharah supaya Allah SWT menunjukan jalan yang benar untuk kamu, jangan sampai kamu menyesali semuanya karena sudah mengikuti hawa napsu. Kamu juga harus tau, kalau Papa berkata seperti ini demi kebaikan kamu juga, karena setiap orangtua ingin yang terbaik untuk Anaknya," lanjut Sandi dengan mata berkaca-kaca.

"Tumben Kakak ipar bijak," ujar Bintang.

"Seumur hidup ku, aku tidak pernah berkata seserius ini Bintang. Sebaiknya sekarang kita tidur. Malam ini Kak Sandi tidur sama kamu saja," ujar Sandi yang masih merasa kesal terhadap Ali, kemudian Sandi masuk ke dalam kamar kos Bulan.

"Ali, kalau begitu aku juga duluan. Kamu harus ingat, cinta tidak harus saling memiliki," ujar Bintang dengan menepuk bahu Ali sebelum masuk ke dalam kamarnya menyusul Sandi.

Ali masih melamun di depan kamar kos nya, padahal biasanya Ali akan bergegas masuk ke dalam kamar, karena saat jam sepuluh malam, beberapa penghuni tujuh kamar kos lain yang berprofesi sebagai kupu-kupu malam sudah waktunya ke luar untuk mencari mangsa.

"Hai tampan, sendirian aja, mau aku temenin gak?" tanya salah satu kupu-kupu malam yang bernama Mona.

Ali hanya diam dan tidak memperdulikan pertanyaan Mona yang terus berusaha menggodanya.

"Tampan, kamu sombong banget sih, padahal aku sudah lama ingin berkenalan sama kamu. Perkenalkan nama ku Mona," ujar Mona dengan mengulurkan tangannya kepada Ali.

Ali hanya diam tanpa mau menjabat uluran tangan Mona, dan wajah Mona seketika berubah menjadi pucat pasi karena tiba-tiba ada tangan berlumuran darah yang menjabat uluran tangannya.

"Se_se setan," teriak Mona ketika mendongakkan kepalanya.

Mona melihat sosok menyeramkan tengah duduk di samping Ali, tapi anehnya Ali tidak melihat sosok tersebut, makanya Ali mengira jika Mona hanya mencari perhatiannya saja.

"Lepaskan tangan ku, tolong lepaskan," teriak Mona.

Mona terus berteriak meminta tolong serta berusaha melepaskan pegangan tangannya dari sosok perempuan bergaun putih dengan rambut yang terurai panjang. Sosok tersebut memiliki wajah hancur yang dipenuhi dengan darah, nanah, serta belatung sehingga membuat Mona rasanya ingin muntah karena mencium bau amis dari sosok tak kasat mata yang terus menggenggam erat tangannya.

"Jangan ganggu pacar Andini," ucap arwah Bu Narsih dengan senyum menyeringai sehingga membuat Mona semakin ketakutan.

"Ampun, tolong lepaskan saya, saya janji tidak akan mengganggu pacar Andini lagi," teriak Mona dengan menangis.

Ali mengernyitkan dahinya ketika mendengar Mona menyebut nama Andini, tapi anehnya Ali yang memiliki kelebihan bisa melihat makhluk halus, justru tidak bisa melihat keberadaan Bu Narsih yang saat ini tengah berada di sampingnya.

Sandi dan Bintang yang mendengar teriakan Mona, bergegas ke luar dari dalam kamar kos Bulan, dan Sandi langsung menangkap tubuh Mona yang hampir terjatuh.

"Kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Sandi yang sampai tidak berkedip ketika melihat perempuan cantik dan seksi yang saat ini tengah berada dalam pelukannya.

"Kak Lexa," ucap Bintang yang sengaja mengerjai Sandi, sontak saja Sandi langsung melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Mona sehingga membuat Mona terjatuh di atas tanah.

Brugh

"Aww sakit," pekik Mona, tapi Sandi tidak menghiraukannya karena dia tidak mau Alexa murka karena salah paham.

"Ma, Papa hanya menolong di_a," ucap Sandi yang sudah gemetar ketakutan.

Sandi celingukan karena tidak melihat keberadaan Alexa, dan Bintang yang melihat Sandi kebingungan langsung menertawakan Sandi.

"Dasar Susis," ledek Bintang.

"Bintang, bisa-bisanya kamu mengerjai aku," ujar Sandi yang terlihat geram.

Pada saat Sandi ingin menolong Mona yang masih duduk di atas tanah, Bintang kembali angkat suara.

"Ingat, bukan muhrim," sindir Bintang sehingga membuat Sandi mengurungkan niatnya.

"Aku khilaf," ujar Sandi dengan cengengesan serta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Mona yang ketakutan akhirnya berlari ke dalam kamar kos nya, apalagi arwah Bu Narsih terus menatap tajam ke arahnya.

"Eh, kenapa perempuan cantik barusan malah berlari? Apa dia begitu terpesona melihat ketampanan ku?" ujar Sandi.

"Kalau terpesona, dia tidak akan mungkin lari," ujar Bintang.

"Justru dia lari karena merasa gugup dekat dengan Song Jong Ki," ujar Sandi.

"Yo wes lah, bagaimana Kak Sandi saja, yang penting Kak Sandi bahagia," ujar Bintang.

Ali hanya diam dan tidak berkomentar apa pun, sampai akhirnya Ali masuk ke dalam kamarnya tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Sandi dan Bintang.

"Dasar Anak gak ada akhlak, main pergi begitu saja," gerutu Sandi.

"Sudah sudah, nanti tampannya hilang kalau marah-marah terus. Sebaiknya kita masuk juga Kak, jangan sampai arwah Bu Narsih mengganggu Kak Sandi," ujar Bintang yang sekilas melihat arwah Bu Narsih sebelum akhirnya menghilang.

"A_apa maksud kamu? Apa kamu sengaja menakut-nakuti aku?" tanya Sandi dengan tergagap.

"Mana mungkin seperti itu, justru perempuan tadi berteriak karena diganggu oleh arwah mendiang Bu Narsih," ujar Bintang.

Sandi yang penakut langsung berlari ke dalam kamar, dan Bintang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sandi.

......................

Arwah Bu Narsih gentayangan untuk meneror warga sekitar tempat tinggalnya, karena Bu Narsih ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang tidak mau datang melayat serta membantu mengurus jenazahnya.

Tok tok tok

Terdengar beberapa kali ketukan pada jendela kamar Pak RT.

"Pak RT, Pak RT," ucap arwah Bu Narsih sehingga membuat Pak RT dan Istrinya yang sedang tidur langsung terbangun.

"Siapa di sana?"

*

*

Bersambung

Terpopuler

Comments

Lee

Lee

Waduhh...bu narsih jdi hntu pnasaran

2024-03-26

1

Lee

Lee

Dasar papa ganjen sandi ya, bntr² ingat bntr² khilaf🤣

2024-03-26

1

🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻

🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻

Pasti itu Hantu
DinDut Itu Pacarku mampir

2024-02-20

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!