Yusuf mengajak Aisyah dan Abimana untuk pulang ke Pesantren, karena Yusuf sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Zahra yang keras kepala, sedangkan Zahra memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya, apalagi situasi saat ini semakin tegang.
"Pak, Bu, maaf kalau Yusuf sudah terbawa emosi saat menghadapi Zahra. Sepertinya Zahra memang lebih memilih tinggal di sini."
"Nak Yusuf jangan terlalu banyak pikiran, kami pasti akan menjaga Zahra dengan baik," ucap Pak Rojak.
"Maaf ya Pak, kalau kami sudah merepotkan Ibu dan Bapak. Kalau begitu kami titip Zahra, insyaAllah kami akan mengirim uang untuk kebutuhan Zahra sehari-hari," ucap Yusuf yang merasa tidak enak kepada Mertuanya.
"Nak Yusuf jangan merasa sungkan seperti itu, insyaAllah kalau untuk mencukupi keburuhan Zahra sehari-hari kami masih sanggup. Justru kami senang karena rumah menjadi ramai kalau Zahra tinggal di sini. Aisyah, sebaiknya kamu ajak Nak Yusuf dan Abi makan dulu," ujar Bu Maesaroh.
"Tidak perlu Bu, terimakasih. Yusuf masih kenyang, Yusuf juga masih harus menghadiri acara pengajian di beberapa tempat, jadi Yusuf tidak bisa berlama-lama di sini."
Sebelum pulang, Abimana meminta ijin untuk berbicara dengan Zahra, karena ada yang ingin Abimana bicarakan dengan saudara kembarnya tersebut.
Tok tok tok
Abimana mengetuk pintu kamar Zahra, kemudian Abimana masuk setelah Zahra memperbolehkannya.
"Mau apa kamu ke sini? Apa kamu mau menertawakan ku?" tanya Zahra yang saat ini tengah menangis.
"Zahra, aku tidak mungkin menertawakan saudaraku sendiri. Kamu harus tau kalau selama ini aku sangat menyayangi kamu," ujar Abimana dengan mengelus lembut kepala Zahra.
Zahra hanya diam mendengar perkataan Abimana, karena selama ini Zahra selalu merasa kesal ketika semua orang membanding-bandingkan dirinya dengan saudara kembarnya tersebut.
"Zahra, kenapa kamu diam saja? Apa kamu marah kepada ku?" tanya Abimana.
"Aku tidak berhak marah kepada kamu, tapi aku hanya kecewa dengan diriku sendiri yang tidak pernah memiliki kemampuan apa pun. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya dikucilkan oleh semua orang, kamu tidak tau bagaimana rasanya dipandang sebelah mata oleh orang lain, apalagi sampai dibanding-bandingkan dengan saudara kembar sendiri," ujar Zahra dengan berderai air mata.
"Zahra, aku minta maaf jika secara tidak langsung aku sudah menyakiti hati kamu. Aku tau kamu pasti kecewa, tapi tolong jangan pernah marah sama Ayah dan Ibu, karena mereka sangat menyayangi kita."
"Sudahlah Abi, sebaiknya sekarang kamu pulang, mungkin seharusnya dari dulu aku tinggal di sini supaya tidak terus terusan mempermalukan nama baik Keluarga di Pesantren."
Ketika Abimana memegang bahu Zahra, sekilas dia melihat gambaran tentang kebersamaan Zahra dan Bisma.
"Zahra, apa kamu berteman dengan Pangeran iblis?" tanya Abimana.
"Ma_mana mungkin seperti itu," ujar Zahra dengan tergagap.
"Zahra, kita adalah saudara kembar, dari kecil kita memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin kamu bisa membohongi orang lain, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongiku," ujar Abimana.
"Abi, tolong jangan pernah ikut campur urusan ku, biarkan aku memilih jalan ku sendiri. Memangnya kenapa kalau aku berteman dengan Pangeran iblis? Lagian dia juga baik, hanya dia yang mengerti aku, tidak seperti kalian yang bisanya hanya menasehatiku tanpa memperdulikan bagaimana perasaan ku."
"Zahra, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? Dari jaman dahulu ketika Kakek Bara masih menjadi Raja Genderewo, bahkan sampai sekarang setelah turun kepada Om Alex, mereka sudah bermusuhan dengan Raja iblis, karena Iblis sudah banyak menyesatkan umat manusia. Jadi, aku harap kamu tidak termakan oleh tipu muslihat iblis," ujar Abimana yang merasa khawatir terhadap Zahra.
"Tidak semua iblis memiliki hati yang jahat, karena Bisma berbeda dengan Ayahnya. Sudahlah Abi, aku mau menikah dengan Pangeran iblis juga itu bukan urusan kamu," ujar Zahra.
Jeder
Suara petir tiba-tiba terdengar menggelegar, langit yang tadinya cerah mendadak menjadi gelap disertai angin kencang dan hujan lebat.
"Astagfirullah, Zahra, ucapan adalah do'a, jadi kamu jangan bicara sembarangan," ujar Abimana yang merasa kecewa juga terhadap Zahra.
Beberapa saat kemudian, Aisyah datang ke kamar Zahra untuk mengajak Abimana pulang, karena Yusuf masih harus menghadiri beberapa acara pengajian.
"Abi, Ayah sudah mengajak kita pulang Nak," ujar Aisyah kemudian duduk di antara Zahra dan Abi.
"Zahra sayang, apa Zahra yakin tidak ingin ikut pulang?" tanya Aisyah dengan memeluk tubuh Zahra.
"Maaf Bunda, tapi lebih baik Zahra tinggal di sini saja."
Aisyah sebenarnya merasa berat meninggalkan Zahra, tapi Aisyah tidak mungkin memaksa puterinya tersebut, apalagi Zahra memiliki watak yang begitu keras kepala.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya Nak, kalau ada apa-apa, Zahra telpon Bunda saja. Jaga diri baik-baik, jangan pernah tinggalkan Shalat lima waktu, Zahra juga harus belajar membantu pekerjaan Kakek dan Nenek. Kami sayang Zahra," ucap Aisyah dengan memeluk kedua Anaknya.
"Zahra, kamu harus ingat, kamu jangan terlalu dekat dengan Pangeran iblis," bisik Abimana pada telinga Zahra sebelum ke luar dari dalam kamar kembarannya tersebut, tapi Zahra hanya diam tanpa mau menjawab perkataan Abi.
Zahra diam-diam melihat kepergian Orangtua dan saudara kembarnya dari jendela kamarnya yang berada di lantai atas, dan Zahra kembali menangis ketika melihat mobil Yusuf semakin menjauh.
"Ayah, Bunda, maafin Zahra."
......................
Di tempat lain, Bulan yang merasa gelisah dengan cinta segitiga antara Ali, Andini dan Risma, memutuskan untuk ke kamar kos san nya dengan alasan ingin membersihkan diri, padahal sebenarnya Bulan ingin menenangkan diri.
"Aku harus bagaimana?" gumam Bulan dengan menghela nafas berat.
Beberapa saat kemudian, Bintang menghampiri Bulan yang tengah melamun di dekat pintu kamarnya. Bintang memutuskan menyusul Bulan, karena Bintang merasa khawatir terhadap Kekasihnya tersebut.
"Sayang, kamu kenapa melamun terus?" tanya Bintang dengan duduk di samping Bulan.
"Bintang, sebenarnya tadi aku mendapatkan penglihatan tentang masalalu Ali dan Kak Risma, dan ternyata mereka pernah menjalin hubungan," jawab Bulan.
"Kenapa bisa kebetulan seperti itu?" tanya Bintang yang merasa bingung juga.
"Iya, aku juga sama sekali tidak menyangka dengan semua ini. Aku sebenarnya merasa bersalah karena tadi sudah memotong perkataan Kak Risma saat dia ingin mengatakan kepada Andini jika Ali adalah kekasihnya. Sebenarnya Ali dan Kak Risma belum putus, tapi Kak Risma dikurung oleh mendiang Bu Narsih untuk menjadi budak nafsu Raja iblis, makanya mereka putus komunikasi. Bintang, apa aku salah kalau aku tidak ingin Ali kembali menjalin hubungan dengan Kak Risma? Kamu tau sendiri kalau Kak Risma_" Bulan menggantung perkataannya, karena sebagai sesama perempuan Bulan tidak kuasa untuk mengatakan semua itu.
"Sayang, aku tau bagaimana perasaan kamu, tapi semua itu tergantung kepada Ali. Dia yang menjalani semuanya, jadi Ali berhak menentukan pendamping hidupnya," ujar Bintang dengan mengelus lembut kepala Bulan.
"Tapi jika Ali memilih salah satu di antara mereka, pasti akan ada hati yang tersakiti," ujar Bulan.
Beberapa saat kemudian, Nyai Sekar Kemuning ke luar dari tempat persembunyiannya untuk menyampaikan pendapatnya.
"Kalian jangan biarkan Ali kembali berhubungan dengan Risma."
"Kenapa?" tanya Bulan dan Bintang secara bersamaan.
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Lee
Risma jadi bdak nfsu iblis, mengerikan..😱😱
2024-03-20
1
Mamah Kekey
Risma JD budak nafsu iblis
2024-02-23
1
Sunshine
kenapa Ali tidak boleh kembali kepada Risma? aku jadi penasaran, 🙄
2024-02-09
1