Sebelumnya Bisma sudah pamit kepada Zahra untuk kembali berkelana, tapi entah kenapa Bisma tidak ingin berpisah dengan Zahra, jadi dia memutuskan akan selalu berada di samping Zahra supaya bisa selalu melindunginya.
"Tuan iblis, ngapain kamu di kamar ku? Bukannya tadi kamu sudah berpamitan ingin kembali melanjutkan perjalanan? Sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini. Bagaimana kalau nanti Kakek sama Nenek ku melihat kamu?" ujar Zahra yang terlihat panik.
"Kamu tenang saja, mereka tidak memiliki kelebihan, jadi mereka tidak akan bisa melihat aku. Zahra, aku sudah memutuskan akan selalu berada di samping kamu," ujar Bisma.
"Apa?" teriak Zahra yang begitu terkejut ketika mendengar perkataan Bisma.
Tok tok tok
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Zahra, karena Bu Maesaroh sempat mendengar Zahra berteriak.
"Zahra sayang, buka pintunya, ini Nenek Nak," ucap Bu Maesaroh dari depan pintu kamar Zahra.
"Ada apa Nek?" tanya Zahra pada saat membuka pintu kamarnya.
"Kenapa barusan Zahra berteriak? Nenek kan jadi cemas," tanya Bu Maesaroh.
"Gak ada apa-apa kok Nek, barusan Zahra hanya terkejut ketika melihat kecoa nakal," jawab Zahra sehingga membuat mata Bisma melotot ke arahnya.
Bu Maesaroh terlihat mengendus-endus di dalam kamar Zahra, karena Bu Maesaroh kembali mencium aroma parfum laki-laki.
"Nenek kenapa sih kayak Anjing pelacak saja?" celetuk Zahra ketika melihat Bu Maesaroh memeriksa kamarnya dengan hidungnya yang terus mencoba mencium sesuatu.
"Nenek mencium aroma Cowok tampan," jawab Bu Maesaroh dengan cekikikan sehingga membuat Zahra menepuk jidatnya.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Nenek kamu," bisik Bisma pada Zahra, dan Zahra langsung menyenggol lengan Bisma.
"Nek, di sini tidak ada siapa pun selain kita, mungkin yang Nenek cium aroma parfum Zahra, soalnya Zahra suka pakai parfum cowok."
Bu Maesaroh sebenarnya ingin sekali Zahra berubah menjadi perempuan anggun dan saleha seperti Aisyah, tapi Bu Maesaroh tidak mau kalau Zahra sampai tersinggung bahkan sampai kabur apabila beliau menyampaikan keinginannya.
"Ya sudah, kalau begitu Nenek ke luar dulu, Zahra sebaiknya istirahat saja," ujar Bu Maesaroh kemudian ke luar dari dalam kamar Zahra.
Zahra menghela nafas panjang, karena sebelumnya Zahra sudah takut jika Bu Maesaroh dapat melihat Bisma.
"Tuan iblis, sebaiknya kamu mencari tempat tinggal yang lain gih, sebentar lagi kedua orangtuaku akan datang, dan aku tidak mau kalau Ayah sampai melihat kamu, karena Ayah dan kembaran ku memiliki kelebihan bisa melihat makhluk halus juga," ujar Zahra.
"Aku tidak mau pergi dari sini, kalau Ayah kamu datang, aku bakalan sembunyi dulu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Bagaimana kalau sekarang kita tidur? Aku mengantuk sekali karena semalaman harus begadang," ujar Bisma.
Zahra langsung menimpuk tubuh Bisma dengan bantal.
"Dasar mesum. Sana kamu tidur di luar, atau di pohon beringin yang ada di halaman belakang."
"Apa kamu tega melihat cowok tampan seperti aku tidur seperti gembel?" tanya Bisma dengan wajah memelas supaya Zahra merasa kasihan.
"Bodo amat, kalau begitu kamu tidur di bawah saja," ujar Zahra dengan melemparkan bantal kepada Bisma.
......................
Di tempat lain, Sandi dan Bintang menemui Ketua RT untuk memberitahukan tentang kematian Bu Narsih dan Bang Deni, dan Ketua RT terlihat mengembuskan nafas berat ketika mendengar permintaan Sandi dan Bintang supaya mengumumkan kematian Bu Narsih dan Bang Deni serta membantu mereka mengurus jenazahnya.
"Nak Sandi, Nak Bintang, saya akan mencoba mengumumkan tentang kematian Bu narsih dan Bang Deni di speaker Mesjid, tapi saya tidak bisa menjanjikan akan ada warga sekitar yang datang untuk membantu mengurus jenazah bahkan untuk sekedar melayat. Kalian pasti tau sendiri bagaimana mendiang Bu Narsih dan Bang Deni semasa hidup mereka," ujar Pak RT.
"Iya Pak, kami sangat mengerti tentang semua itu, yang penting kami sudah melaporkan kalau Bu Narsih dan Bang Deni telah meninggal dunia. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Bintang, kemudian Bintang dan Sandi mengucap salam sebelum keduanya ke luar dari rumah Pak RT.
Beberapa saat kemudian, Bintang dan Sandi mendengar pengumuman Pak RT dari Mesjid tentang meninggalnya Bu Narsih dan Bang Deni, karena kebetulan rumah Pak RT berada di samping Masjid, tapi keduanya terkejut ketika mendengar banyak orang yang tertawa setelah mendengar pengumuman.
"Akhirnya orang-orang yang sudah menduakan Tuhan seperti si Narsih dan Deni mati juga," ucap salah satu tetangga Bu Narsih.
"Iya, sekarang kampung kita sudah aman karena terbebas dari gangguan manusia laknat yang sudah sering mengorbankan orang-orang tidak berdosa seperti mereka," ujar salah satu tetangga lainnya.
Suasana menjadi ramai karena banyak orang yang terdengar bersyukur atas meninggalnya Bu Narsih dan Bang Deni.
Sandi dan Bintang sampai geleng geleng kepala mendengar perkataan para tetangga Bu Narsih yang malah bersuka cita tanpa terlihat berduka sedikit pun.
"Astagfirullah Bu, tidak seharusnya Ibu ibu sekalian membicarakan tentang keburukan seseorang, apalagi orang tersebut sudah meninggal dunia," ujar Sandi.
"Eh Pak, kalau gak tau apa-apa gak usah ikut campur. Mereka itu sudah meresahkan kampung kami, jadi wajar saja kami bergembira setelah mendengar mereka meninggal dunia," ujar tetangga Bu Narsih.
Bintang yang tidak mau Sandi berdebat dengan para tetangga Bu Narsih, menarik tangan Sandi supaya menjauh dari kerumunan tetangga Bu Narsih yang semakin banyak bermunculan.
"Bintang, kamu kenapa sih pake narik-narik Kakak segala? Kak Sandi belum selesai bicara sama mereka," ujar Sandi dengan cemberut.
"Memangnya Kak Sandi gak takut diserang sama gerombolan tetangga Bu Narsih?"
"Tapi aku gak rela mereka manggil aku Bapak, memangnya aku sudah terlihat tua?" ujar Sandi.
"Emang Kak Sandi udah tua, gak sadar kalau Cucunya sudah banyak? Bahkan harusnya mereka manggil Kak Sandi Kakek," ujar Bintang dengan terkekeh.
"Dasar Adik ipar gak ada akhlak. Aduh, ternyata perkataan kamu benar juga, heaters Bu Narsih semakin banyak. Yuk kabur sebelum mereka bertingkah anarkis," ujar Sandi dengan menarik tangan Bintang menuju rumah Bu Narsih.
Baru juga Bintang dan Sandi sampai di halaman rumah Bu Narsih, keduanya tiba-tiba mencium aroma bau busuk yang begitu menusuk indera penciuman mereka.
"Hoek, hoek, aku gak kuat sama baunya," ucap Sandi yang langsung muntah.
"Sepertinya bau busuknya dari dalam rumah. Apa Kak Sandi mau pake masker juga?" tanya Bintang dengan memberikan sebuah masker kepada Sandi.
"Kenapa gak dari tadi? Tapi kalau dari tadi Kak Sandi pake masker, sayang juga gak akan ada yang bisa melihat ketampanan Sandi somplak yang mirip Song Jong Ki ini," ujar Sandi dengan cengengesan sehingga membuat Bintang memutar malas bola matanya.
Bintang dan Sandi terkejut ketika masuk ke dalam rumah mendiang Bu Narsih, karena sekarang Bulan sedang terlihat muntah-muntah juga.
"Bintang, kenapa Bulan sampai muntah? Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?" tanya Sandi dengan tatapan mata tajam.
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Lee
Bu Narsih kayaknya selegram deh mkanya bnyak hater san..🤣
2024-03-17
1
Sunshine
Sandi, Sandi, kamu juga tadi muntah", apa kamu hamil juga 🤣🤣🤣
2024-02-06
1
Sunshine
iya Sandi, kamu gak sadar udah banyak cucu
2024-02-06
1