Zahra yang takut terjatuh dari atas permadani terbang, berpegangan pada pinggang Bisma sehingga membuat jantung Bisma berdetak kencang.
Deg deg deg
Kenapa jantung ku berdetak kencang saat berada di dekat Zahra? Perasaan apa ini? Batin Bisma kini bertanya-tanya, karena baru kali ini dirinya merasakan perasaan seperti itu.
"Tuan iblis baik-baik saja kan? Jangan bilang kalau Tuan iblis takut ketinggian juga," ujar Zahra yang sekilas mendengar suara hati Bisma.
"Ma_mana mungkin seperti itu, justru sekarang aku sedang bingung mencari rumah Kakek sama Nenek kamu, makanya aku mau tanya sama mbah google," jawab Bisma dengan menetralkan debaran jantungnya.
"Zaman memang semakin canggih, bahkan makhluk halus juga punya handphone bagus, sedangkan aku yang manusia saja tidak memiliki handphone," ujar Zahra, karena Zahra tidak diperbolehkan memegang handphone oleh Yusuf.
"Kenapa kamu tidak punya handphone?" tanya Bisma yang merasa heran, padahal jaman sekarang Anak kecil saja sudah memiliki handpone.
"Aku tinggal di lingkungan Pesantren, jadi Ayah tidak memperbolehkan ku memegang handphone, paling kalau ada tugas dari Sekolah saja."
"Zahra, aku tau apa yang kamu rasakan, karena aku juga pernah berada pada posisi kamu, tapi aku sadar, jika semua orangtua ingin yang terbaik untuk Anaknya, begitu juga dengan kedua orangtua kamu," ujar Bisma.
"Sudahlah kamu tidak usah menceramahiku, kamu tidak ada bedanya dengan mereka," ujar Zahra yang terlihat kesal.
Bisma menghela nafas panjang, karena ternyata ada orang yang lebih keras kepala dibandingkan dengan dirinya.
"Sudahlah terserah kamu, kalau begitu aku tidak akan berbicara lagi," ujar Bisma yang akhirnya memilih diam.
Keduanya saat ini telah sampai di kediaman Bu Maesaroh dan Pak Rojak, yaitu kedua orangtua dari Aisyah.
Bu Maesaroh yang sedang menyapu di dalam rumahnya, merasa heran ketika melihat sepasang Anak muda yang tengah mengobrol di halaman rumahnya, karena saat ini posisi Zahra membelakangi tubuh Bu Maesaroh.
"Dasar Anak muda, masih subuh subuh begini sudah pacaran di depan rumah orang, tapi bau bau nya aku mencium pria tampan nih," gumam Bu Maesaroh dengan mata yang berbinar.
Bu Maesaroh yang ingin melihat wajah tampan Bisma, memutuskan untuk menyapu di halaman supaya bisa melihat dengan jelas wajah tampan Bisma dari dekat.
"Cuci mata dulu ah, lumayan bisa membuat mataku segar, sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Babang tampan Lee Min Hoo sama Song Jong Ki," gumam Bu Maesaroh yang sebelumnya memberikan sebutan nama artis korea kepada Bara dan Sandi.
Pada saat Bu Maesaroh ke luar dari rumahnya, Bu Maesaroh celingukan karena sudah tidak ada siapa pun di halaman rumahnya.
"Eh kemana mereka? Kok cepet banget ngilangnya? Aku jadi gagal cuci mata deh," gumam Bu Maesaroh.
"Dor," ujar Zahra dengan menepuk bahu Bu Maesaroh sehingga membuat nya terlonjak kaget.
"Anak setan, anak setan, anak setan," ucap Bu Maesaroh yang latah.
"Kalau Zahra Anak setan, berarti Nenek adalah Neneknya setan dong," ujar Zahra dengan cekikikan.
"Ternyata yang datang Zahrana Cucu Nenek yang paling cantik. Sayang, maaf Nenek tadi latah, mana mungkin Nenek manggil Zahra yang cantik ini Anak setan," ucap Bu Maesaroh dengan memeluk tubuh Zahra.
Bu Maesaroh nampak mengendus-endus tubuh Zahra, karena Bu Maesaroh mencium aroma parfum laki-laki.
"Nenek kenapa sih?"
"Nenek sepertinya mencium aroma parfum laki laki pada tubuh Zahra. Tadi juga Nenek melihat sepasang Anak muda yang sedang mengobrol di halaman, makanya Nenek ke luar karena mencium bau bau ketampanan yang hakiki."
"Hadeuh Nek, nyebut, nyebut. Ingat umur, kalau Kakek mendengarnya auto ngamuk tuh," ujar Zahra.
"Nenek itu normal sayang, sesekali kita harus cuci mata biar mata tetap segar. Kalau setiap hari lihat Kakek kamu yang sudah peyot dan bau tanah, lama-lama mata Nenek sakit juga."
Zahra memberikan kode kepada Bu Maesaroh, karena saat ini Pak Rojak sudah berada di belakangnya.
"Jadi ceritanya Ibu sudah bosan sama Bapak ya?" ujar Pak Rojak sehingga membuat Bu Maesaroh terlonjak kaget.
"Aduh ketahuan. Kenapa kamu gak ngasih tempe Nenek kalau ada Kakek kamu di belakang," bisik Bu Maesaroh kepada Zahra.
"Tadi Zahra udah kasih kode, Neneknya aja yang gak ngerti," bisik Zahra.
"Ngapain kalian bisik-bisik? Zahra, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah ada di sini? Mana Ayah sama Bunda kamu? Jangan bilang kalau kamu kabur dari rumah?" tanya Pak Rojak yang sudah mengetahui sifat Zahra.
"Kakek tau saja," jawab Zahra dengan nyengir kuda.
Pak Rojak menggelengkan kepalanya, karena Pak Rojak merasa heran dengan sikap Zahra yang sangat berbeda dengan kembarannya, apalagi saat ini penampilan Zahra terlihat seperti berandalan.
"Apa Ayah sama Bunda kamu tau kalau kamu ada di sini?" tanya Pak Rojak.
"Namanya juga bukan kabur kalau mereka tau Zahra ada di sini, Kakek aneh-aneh aja. Nek, yuk sekarang kita masuk, Zahra sudah lapar nih," ujar Zahra dengan menggandeng Bu Maesaroh masuk ke dalam rumah, karena Zahra malas diceramahi oleh Pak Rojak.
"Zahrana, Maesaroh, apa kalian ingin membuat aku darah tinggi?" teriak Pak Rojak dari luar rumah, tapi Zahra dan Bu Maesaroh pura-pura tidak mendengarnya.
Pak Rojak yang teringat dengan Aisyah dan Yusuf, bergegas menelpon Anak dan Menantunya tersebut untuk memberitahukan jika saat ini Zahra berada di rumahnya supaya mereka tidak merasa khawatir.
"Zahra, barusan Kakek sudah telpon kedua orangtua kamu. Mereka sudah mencari kamu kemana-mana, kenapa kamu selalu membuat mereka khawatir?"
"Kek, kalau Kakek ingin ikut-ikutan ceramah seperti mereka, lebih baik Zahra pergi juga dari rumah ini. Kenapa kalian tidak ada yang pernah mengerti Zahra?"
Zahra yang sedang makan hendak berdiri untuk pergi dari rumah Pak Rojak dan Bu Maesaroh, tapi Bu Maesaroh memegang tangan Zahra untuk mencegahnya.
"Sayang, Nenek tidak akan membiarkan Zahra pergi kemana-mana, tidak baik Anak gadis berkeliaran sendirian. Mulai sekarang Zahra harus tinggal di sini menemani Kakek dan Nenek supaya kami tidak merasa kesepian."
Pak Rojak tidak setuju dengan perkataan Bu Maesaroh yang terkesan terlalu memanjakan Zahra, apalagi Yusuf dan Aisyah bilang kalau mereka akan menjemput Zahra, karena mereka ingin Zahra masuk SMA.
"Bu, bukannya Bapak tidak mau Zahra tinggal di sini, tapi Nak Yusuf dan Aisyah bilang akan menjemput Zahra, karena mereka ingin Zahra meneruskan sekolah ke jenjang SMA."
"Zahra tidak mau meneruskan Sekolah, karena Zahra sadar diri kalau Zahra tidak sepintar Abimana, jadi uangnya sayang kalau dipakai untuk biaya Sekolah Zahra yang sudah sering tinggal kelas. Zahra juga tidak mau terus-terusan mempermalukan nama baik keluarg, jadi Zahra lebih memilih untuk mencari kerja."
Bu Maesaroh yang tidak ingin Zahra pergi dari rumahnya, mencoba berbicara dengan Zahra dengan lemah lembut.
"Zahra sayang tenang saja, nanti Nenek yang akan berbicara kepada Ayah sama Bunda supaya Zahra diijinkan tinggal di sini. Sebaiknya sekarang Zahra istirahat saja ke kamar."
Saat Zahra membuka pintu kamarnya, Zahra terkejut ketika melihat Bisma yang tengah tiduran di atas ranjangnya.
"Kenapa kamu masih ada di sini?"
*
*
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Lee
Iblis kok nyeramahi manusia..🤣
mampir lg y kak
2024-03-17
1
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Latah
2024-02-15
1
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Hahaha🤣🤣🤣
Tahu mbah Google jg
2024-02-15
3