Hujan mulai turun perlahan-lahan, membasahi jalan setapak yang di lalui oleh Shaiming saat dia mengejar Li Mei.
Gerimis hujan terasa menyelimuti suasana saat itu, berbaur menjadi satu ketika hari mulai mendung.
Shaiming terus saja berlari mengejar Li Mei yang telah berada di depan sana. Sembari terus berteriak memanggil nama gadis itu tanpa henti.
"Li Mei !!!", panggil Shaiming.
Namun, panggilan Shaiming tak dihiraukan oleh Li Mei yang terus berlari pergi, berusaha menjauh darinya.
PLASH... !
Suara langkah Shaiming terdengar beradu dengan suara gerimis air hujan.
Samar-samar sosok Li Mei mulai semakin jelas terlihat oleh Shaiming yang berhasil mengejarnya.
"Li Mei... !!!", panggil Shaiming.
BLESHHH... !!!
Muncul seseorang dari arah depan dengan melangkah pelan ke arah mereka berdua.
Seorang pria mengenakan topi fedora hitam serta membawa sebuah payung berjalan mendekati Li Mei yang terus berlarian.
Shaiming merasakan tanda bahaya besar sedang mengancam mereka.
"Siapa pria itu ?", pikir Shaiming.
Ketika dia melihat ke arah pria bertopi fedora hitam di arah depan, sedang berjalan ke arah mereka berdua.
"Aku secepatnya membawa Li Mei pergi dari sini", ucap Shaiming was-was.
Jarak diantara Li Mei dengan pria bertopi fedora hitam cukup jauh tetapi beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan.
Shaiming yang mulai merasa khawatir akan keselamatan Li Mei berpikir cepat untuk kabur.
"Tidak cukup waktu untuk menghindar tetapi sebaiknya aku menggunakan kekuatan jam saku untuk berteleportasi...", ucap Shaiming.
Tergesa-gesa Shaiming mengeluarkan jam saku miliknya kemudian dia mulai berkonsentrasi penuh untuk mengaktifkan jam tersebut.
Bibir Shaiming mulai bergerak-gerak seperti sedang membaca mantra khusus.
Semenit kemudian, jam saku miliknya bereaksi cepat serta memancarkan sinar cahaya terang dari arah jam itu.
WUSH... ! WUSH... ! WUSH... !
Sinar cahaya terang berwarna keemasan mulai berputar-putar bagaikan angin berbentuk topan kecil.
SRET... !
"Li Mei... !", panggil Shaiming.
Shaiming meraih tangan Li Mei dengan sangat cepat ketika jam saku miliknya mulai bereaksi terhadap perintahnya.
Tampak Li Mei terkejut sembari menoleh ke arah belakang tepat bersamaan tubuh mereka menghilang oleh sinar cahaya terang yang bergerak bagaikan pusaran angin topan kecil.
BLAM !
Suasana di jalan setapak yang dilalui oleh Shaiming serta Li Mei terlihat sepi.
Tak terlihat lagi keberadaan mereka berdua disana, hanya ada jejak air gerimis yang membasahi area permukaan jalan.
SRET... !
Pria bertopi fedora hitam tersentak pelan sembari meraih ujung topi miliknya kemudian menatap tajam ke arah depan.
"Hmmm... !?", gumamnya pelan.
Di bukanya payung hitam miliknya lebar-lebar sembari terus melangkah cepat, melewati jalan setapak yang tadi dilalui oleh Li Mei dan Shaiming.
"Sepertinya aku melihat seorang gadis yang wajahnya amat aku kenal tetapi... penampilannya sedikit berbeda darinya...", ucapnya.
Pria bertopi fedora warna hitam dengan payung hitam di tangannya terlihat terus berjalan.
"Apa mungkin penglihatan ku ini salah !?", ucapnya bergumam pelan.
Gerimis masih terlihat turun membasahi jalan di area jalan setapak yang sepi.
Dua tembok besar yang membatasi area jalan tampak menjulang tinggi di samping kanan dan kiri.
Pria bertopi fedora hitam terus melangkahkan kedua kakinya kemudian lamat-lamat tubuhnya yang gagah menembus hilang di balik gerimisnya air hujan.
PLASH... !
PLASH... !
PLASH... !
Suara air dari gerimisnya hujan terus terdengar membasahi area jalan setapak yang sangat sepi.
...***...
Di suatu tempat lain yang sepi...
Terlihat dua sosok orang tengah berdiri di bawah gerimisnya hujan yang turun.
Seorang laki-laki sedang berdiri dengan sorot mata tajam, terlihat bahwa dirinya saat ini sangat cemas.
"Li Mei... !!!", panggil Shaiming yang masih menggenggam erat tangan Li Mei.
Li Mei menundukkan pandangannya, seakan-akan berusaha menyembunyikan wajahnya dari Shaiming.
"Tolong dengarkan aku dulu, Li Mei !", ucap Shaiming.
Shaiming menatap tajam ke arah Li Mei yang berdiri disampingnya tanpa menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau pergi ?", kata Shaiming.
Li Mei masih terdiam, dan sikap Li Mei membuat Shaiming jengah.
"Li Mei...", panggil Shaiming.
Tampak Shaiming berusaha keras menarik perhatian Li Mei kepadanya seraya mencoba memaksa Li Mei menghadap kepadanya.
"Li Mei !!!", panggil Shaiming.
Li Mei berusaha menahan dirinya dari Shaiming supaya dia tidak melihat ke arah laki-laki pemilik opera itu.
"Li Mei !", panggil Shaiming sekali lagi.
Tiba-tiba Li Mei menjerit keras.
"Cukup, Shaiming !!!", ucapnya dengan wajah penuh air hujan.
"Li Mei... Dengarkan penjelasan ku...", bujuk Shaiming.
"Aku tidak ingin mendengar apapun sekarang ini !!! Biarkan aku pergi !!!", jerit Li Mei.
"Tidak, Li Mei !", sahut Shaiming yang masih mencengkeram kuat tangan Li Mei. "Aku mohon kembalilah bersama ku !", sambungnya.
"Aku bukan lah siapa-siapa bagimu yang pantas kamu cintai...", sahut Li Mei.
"Li Mei..., aku benar-benar mencintai mu...", ucap Shaiming.
"Tapi aku hanyalah perempuan yang tidak waras, perempuan yang ingatannya hilang...", sahut Li Mei.
Kedua mata Li Mei mulai berkaca-kaca menahan kesedihannya.
"Bagaimana mungkin kamu bisa hidup dengan ku yang seperti ini... Shaiming... !?", ucap Li Mei.
"Tidak, Li Mei !", sahut Shaiming.
"Aku tidak sempurna untuk mu...", kata Li Mei.
Li Mei mulai kehilangan kendali dirinya, dan dia mulai menangis tersedu-sedu.
Sikap Li Mei membuat Shaiming terhenyak keras ketika dia melihat Li Mei yang tampak menangis sedih.
"Jangan ucapkan itu !", sahut Shaiming.
"Aku hanyalah gadis yang menderita amnesia, tidak mungkin aku bersama mu bagaikan orang normal", kata Li Mei.
Tampak Li Mei berurai air mata saat menjawab ucapan Shaiming kepadanya.
"Ku mohon... Biarkan aku pergi, Shaiming...", ucap Li Mei gemetaran.
Shaiming dengan tiba-tiba menarik wajah Li Mei dengan kedua tangannya kemudian mencium bibir Li Mei.
Lama ciuman Shaiming terasa hangat dirasakan oleh bibir Li Mei yang merekah merah. Dan ciuman Shaiming sangat dalam dan terasa penuh cinta.
Ciuman Shaiming menyentakkan Li Mei saat dia melihatnya.
Berusaha menarik dirinya agar menjauh dari dekapan Shaiming tetapi laki-laki itu terlalu kuat memeluk erat Li Mei.
"Li Mei...'', bisik Shaiming di sela-sela ciuman mesranya kepada Li Mei.
"Ke--kenapa kamu mencium ku !?", kata Li Mei hampir tak percaya.
"Karena aku mencintai mu... Li Mei...", sahut Shaiming.
"Shaiming...", gumam Li Mei tersipu malu.
"Aku berjanji padamu, tidak akan pernah meninggalkan mu dan akan selalu bersamamu, Li Mei...", kata Shaiming.
Air mata Li Mei bercucuran semakin derasnya dari kedua matanya yang berubah meredup terharu.
Tangisnya mulai pecah ketika Shaiming mengungkapkan isi hatinya kepada Li Mei dengan sangat serius serta sungguh-sungguh.
"Shaiming...", bisik Li Mei yang terus menangis.
"Ku mohon padamu, tolong, jangan menangis sesedih ini, Li Mei... !", ucap Shaiming memohon.
"Shaiming !!!", panggil Li Mei kemudian memeluk Shaiming.
"Li Mei...", gumam Shaiming.
Shaiming akhirnya dapat bernafas lega ketika Li Mei mulai dapat menerimanya meski gadis cantik itu masih tidak mengingat apa-apa dengan semua kenangan masa lalu mereka berdua.
Namun, sikap yang ditunjukkan oleh Li Mei yang mulai luluh pada perhatian Shaiming telah membuat laki-laki tampan itu dapat tersenyum bahagia. Karena Li Mei mau menerima dirinya meski gadis iti tidak dapat mengingat Shaiming.
Shaiming mempererat pelukannya di tubuh Li Mei, keduanya terlihat berpelukan erat di bawah gerimisnya air hujan yang turun di sekitar area mereka saat ini.
Suasana tegang yang tadinya terjadi diantara mereka berdua mulai berganti dengan suasana yang romantis di penuhi dekapan hangat oleh keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments