Hujan masih turun membasahi jalanan di Kota Beijing.
Shaiming membawa Li Mei bersamanya pergi menuju ke arah jalan pulang.
Pemandangan di depan tak terlihat jelas karena tertutup oleh turunnya air hujan yang sangat deras.
Samar-samar Shaiming berjalan di area jalan kecil menuju area rumahnya, disampingnya Li Mei turut serta bersamanya.
PLASH... ! PLASH... ! PLASH... !
Langkah suara kaki Shaiming terdengar beradu satu dengan air hujan yang turun.
Di depan Shaiming, terlihat seorang pria bertopi fedora hitam sedang berjalan di tengah-tengah air hujan yang turun derasnya.
Tatapan Shaiming langsung berubah cemas ketika melihat pria bertopi fedora hitam.
Perasaannya mulai tidak tenang ketika bertemu kembali dengan pria bertopi fedora hitam yang merupakan ciri-ciri dari utusan Niu, petunjuk yang sempat di utarakan oleh Leyu padanya setelah dia menyelidiki keberadaan utusan Niu di bar.
Genggaman tangan Shaiming semakin erat di tangan Li Mei yang berada di sampingnya. Mereka berdiri bersembunyi di balik tiang listrik dekat salah satu ruko makanan menuju jalan pulang.
"Li Mei...", panggil Shaiming.
"Ya..., ada apa, Shaiming ?", tanya Li Mei sembari mendongakkan wajahnya ke arah Shaiming.
"Apakah kamu masih ingat dengan gerakan tari Bian Lian ?", kata Shaiming yang mempererat pegangan tangannya.
"Tentu saja, aku selalu menghafal gerakan tarian Bian Lian. Tapi untuk apa kamu menanyakannya, Shaiming", ucap Li Mei.
"Aku hanya ingin tahu saja", kata Shaiming yang memandang lurus arah di hadapannya.
"Ada yang kamu cemaskan !?", tanya Li Mei.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan pada mu untuk segera mengubah wajah mu dengan topeng Bian Lian", kata Shaiming.
"Sekarang ?", tanya Li Mei.
"Yah, sekarang, ubahlah wajah mu dengan teknik menghembus dan lakukan lah dengan cepat !", kata Shaiming.
"Baik...", sahut Li Mei.
"Tunggu sampai kita berjalan di dekat tikungan jalan maka segeralah ubah wajahmu secepatnya", kata Shaiming.
"Ya, Shaiming", sahut Li Mei.
Shaiming menatap ke arah Li Mei kemudian tersenyum samar sembari mengusap lembut wajah Li Mei.
"Kita mulai sekarang, Li Mei !", kata Shaiming.
Shaiming lantas mengubah wajahnya tidak sampai dalam hitungan satu detik.
Wajah Shaiming langsung berubah cepat dengan berganti wajah berwarna hijau tua kemudian mengibaskan kipas merah di tangannya.
"Aku akan bergerak terlebih dahulu ke depan setelah aku sampai di tikungan jalan, cepatlah kamu menyusul ku dan ubahlah wajah mu, Li Mei", kata Shaiming.
"Baik, Shaiming", sahut Li Mei seraya mengangguk cepat.
"Aku pergi dahulu...", ucap Shaiming.
Shaiming segera menggerakkan tubuhnya seperti sedang menari, memperagakan tarian Bian Lian dengan iringan tabuh genderang.
Terus melangkah maju menuju jalan di tikungan.
...***...
DRANG... !
DRANG... !
DRANG... !
Shaiming menabuh genderang kecil di tangannya sembari terus berjalan sedangkan wajahnya tertutup oleh riasan topeng.
Bergerak dengan menolehkan kepalanya ke arah kanan lalu ke kiri secara bergantian.
DRANG... !
DRANG... !
DRANG... !
Tabuh genderang terus di pukul oleh Shaiming dari arah belakang Li Mei menyusul dengan menari tarian Bian Lian.
Mengibaskan kipas merah di tangannya sembari terus menari.
Pria bertopi fedora hitam langsung mengalihkan pandangannya ke arah Shaiming serta Li Mei yang menari penuh gerak irama riang.
Mengerutkan keningnya ke arah mereka berdua lalu bergumam pelan.
"Penari... !?", Di tengah gerimis hujan... !?", gumamnya.
Shaiming terus berjalan melewati tikungan jalan sedangkan Li Mei yang mengikuti langkah Shaiming mulai bersiap-siap menghilang di tikungan.
Terus mengibaskan kipas di tangannya, Li Mei mencoba mengalihkan perhatian pria bertopi fedora hitam.
SRET... ! SRET... ! SRET... !
Kipas berwarna merah terbuka serta berputar berulangkali di saat bersamaan.
Shaiming melewati pria bertopi fedora hitam yang sedari tadi memperhatikan dirinya dengan sorot mata tajam.
DRANG... !
DRANG... !
DRANG... !
Shaiming menambah tabuhan genderang di tangannya semakin keras sehingga pria bertopi fedora hitam tak kuat menahan gema suara keras dari genderang yang berbunyi.
Senyum menghias sudut bibir Shaiming ketika dia melihat reaksi dari pria bertopi fedora hitam yang mulai terusik. Dengan cepat utusan Niu pergi meninggalkan Shaiming, berjalan dengan langkah panjangnya sembari memegang payung hitam.
Tap... ! Tap... ! Tap... !
Pria bertopi fedora hitam yang diduga adalah utusan Niu mulai melangkah jauh, seiring itu pula Li Mei menghentikan gerakan tariannya.
...***...
"Dia telah pergi...", ucap Li Mei.
DRAAAAANG... !
Sekali lagi Shaiming menabuh genderang lalu berhenti.
"Ya..., dia telah pergi..., kita berhasil membuatnya terganggu", kata Shaiming.
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkan orang itu ?", tanya Li Mei.
"Tidak, aku tidak mengkhawatirkannya, hanya saja gerak-geriknya terlalu mencurigakan karena aku melihatnya terus mengamati jalan ini", sahut Shaiming.
"Apa kau pikir dia orang jahat ?", kata Li Mei.
"Mungkin tetapi kita tidak pernah tahu tujuan pria asing itu dan apa di balik niatnya kemari", sahut Shaiming.
"Bukan kah tidak semua orang akan berbuat jahat", kata Li Mei.
"Ya, memang benar yang kamu katakan, tidak semua orang datang kemari memiliki niat jahat, hanya saja dia terus memperhatikan jalan ini", ucap Shaiming.
"Apa yang dia cari sebenarnya ?", kata Li Mei.
"Entahlah, aku hanya menyarankan agar kita lebih berhati-hati", sambung Shaiming.
"Rumah mu sangat dekat dari sini, sebaiknya kita segera mempercepat langkah kita untuk pulang", kata Li Mei.
"Yah... Tapi tetap memakai topeng sampai kita masuk ke rumah, kamu mengerti, Li Mei !", ucap Shaiming.
"Baik, Shaiming", sahut Li Mei yang menuruti perintah Shaiming untuk terus menutupi wajahnya dengan topeng berwarna hijau tua.
"Pergilah dahulu, Li Mei !", ucap Shaiming.
"Lalu bagaimana dengan mu ?", tanya Li Mei seraya menoleh ke arah Shaiming.
"Aku akan menyelidiki pria itu dan kau segeralah pulang ke rumah. Apa kamu mengerti ucapan ku, Li Mei ?", sahut Shaiming.
"Ya, aku mengerti...", ucap Li Mei.
Li Mei berjalan mendahului Shaiming kemudian menolehkan kepalanya kembali ke arah Shaiming yang ada di belakangnya.
"Shaiming... Berhati-hatilah... !", ucap Li Mei.
Shaiming lalu tersenyum setelah mendengar pesan dari Li Mei yang mengingatkan dirinya untuk tetap berhati-hati.
"Ya, Li Mei...", sahutnya. ''Li Mei !", panggil Shaiming.
"Ya, Shaiming...", ucap Li Mei menjawab.
"Kau juga berhati-hatilah ! Segera kunci pintu rumah jika telah sampai nanti ! Kamu mengerti, Li Mei !", kata Shaiming mengingatkan kembali Li Mei.
"Baik, aku akan berhati-hati, Shaiming...", sahut Li Mei sambil menganggukkan kepalanya.
Tampak Shaiming tersenyum lega ketika dia menatap Li Mei yang berdiri di depannya.
"Aku pergi, Shaiming'', pamit Li Mei.
Li Mei segera berlari menuju jalan pulang ke rumah Shaiming yang tak jauh dari tempat dia tadi berdiri bersama Shaiming. Dia mempercepat lagkah kakinya saat berlari tanpa menghiraukan lagi sekelilingnya.
Terlihat Shaiming yang memandanginya dari arah kejauhan, memastikan Li Mei selamat sampai di depan rumah.
Setelah yakin keadaan aman di sekitar tempat ini, Shaiming segera pergi, berniat untuk mengejar pria bertopi fedora hitam yang di duga adalah utusan Niu.
SRET... !
Tubuh Shaiming langsung menghilang dalam sekejap saja. Sedangkan Li Mei telah berhasil sampai di rumah Shaiming.
Tergesa-gesa masuk lalu berlari cepat ke arah kamarnya.
BLAM !
Li Mei mengunci rapat pintu kamarnya dan bersembunyi di balik selimut, diam menunggu.
Tak lupa Li Mei mengubah kembali riasan wajahnya seperti wajah aslinya.
SRET... !
Li Mei menarik selimut tebal agar tubuhnya tertutup rapat, terdiam seraya terus memperhatikan arah pintu kamarnya.
Berjaga-jaga jika bahaya datang ke dalam rumah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments