DANG... !
Li Mei terjaga dari lamunannya.
Pedang emas Ratu Caihong terlepas dari tangannya.
Tersentak kaget lalu jatuh terduduk di atas lantai kamar.
Tubuh Li Mei gemetaran, berkeringat dingin serta terasa lemas saat dia kembali tersadar dari pikirannya.
Gambaran tentang Istana Merah yang terbakar habis oleh api masih terngiang-ngiang di benak Li Mei saat dia tersadar penuh.
Pandangan Li Mei tertuju pada pedang emas Ratu Caihong yang tergeletak di atas lantai.
Asap mengepul keluar dari permukaan pedang emas Ratu Caihong, berbau sangit hingga mengeluarkan aura magis yang sangat menyeramkan.
Kedua tangan Li Mei bergetar hebat, tepat berada di atas kepalanya, mencengkeram kuat.
"Apa... Apa ini !? Sebenarnya apa yang terjadi !?", ucap Li Mei.
Bibir Li Mei bergetar kencang sedangkan kedua matanya terbelalak lebar, seperti orang yang sedang ketakutan.
Li Mei hampir seperti orang yang sedang frustasi ketika melihat gambaran istana terbakar dan tampak jelas di hadapannya nyata.
"Si--siapa mereka !? Dan dimana aku tadi ???", ucapnya kaku.
Ekspresi Li Mei terlihat ketakutan bahkan dia masih merasakan efek saat dia mengembara tadi ke dunia lain.
"Apakah aku tadi bertranformasi ke masa lalu ???", ucap Li Mei.
Ekspresi serta emosi di wajahnya berubah keterkejutan dan menjadi kepucatan.
Samar-samar gambaran tentang Istana Merah yang terbakar kembali datang ke dalam ingatannya.
Namun, tetap Li Mei masih tidak mengingat apa-apa meski dia melihat semua gambaran tentang masa lalunya kembali datang dalam benak Li Mei.
"Tidak... Tidak mungkin aku ada hubungannya dengan semua itu... Karena aku tidak mengenal mereka...", kata Li Mei.
Li Mei langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Berusaha untuk mengenyahkan segala pikiran buruk yang datang silih berganti dalam ingatannya.
Hantaman rasa sakit semakin terasa kuat di kepala Li Mei saat dia teringat pada gambaran kejadian Istana Merah yang terbakar serta munculnya dua orang aneh berwajah menyeramkan di hadapannya tadi.
Li Mei mendekap erat tubuhnya yang terasa kedinginan serta bergetar hebat.
Menahan setiap kengerian yang tiba-tiba mendesak masuk ke dalam pikirannya tanpa dia sadari merusak pikiran Li Mei.
Tiba-tiba Li Mei beranjak berdiri lalu berlari kian kemari dengan rasa keterputusasaan yang sangat besar.
"Tidak... Ini semua pasti hanya mimpi...'', ucap Li Mei.
Pandangan Li Mei teralihkan pada pedang emas Ratu Caihong yang masih tergeletak di atas lantai kamar.
"Pedang emas itu apakah milikku !?", kata Li Mei.
Li Mei berdiri dengan mendekap erat tubuhnya, terlihat dirinya sedang melamun seraya memandangi ke arah pedang emas Ratu Caihong.
"Tapi kenapa pedang emas itu berada bersama ku jika bukan milikku ?", kata Li Mei.
Perlahan-lahan Li Mei melangkahkan kakinya, mendekati pedang emas Ratu Caihong yang berada di bawah.
"Jika memang benar pedang emas ini punyaku pasti Shaiming tidak mungkin sengaja memberikannya pada ku", kata Li Mei.
Li Mei merunduk pelan, mencoba meraih pedang emas Ratu Caihong.
"Tunggu !?", ucapnya.
Li Mei menghentikan gerakan tangannya untuk meraih pedang emas Ratu Caihong dari atas lantai.
"Kalau aku memegangnya kembali... Gambaran itu akan kembali muncul dalam pikiran ku bahkan aku akan masuk tersedot ke dalam dunia lain tanpa batas...", kata Li Mei bimbang.
Li Mei terlihat ragu-ragu untuk mengambil kembali pedang emas Ratu Caihong.
Pandangannya kabur lalu dia jatuh terduduk lemas.
"Aku tidak mungkin mengalami halusinasi tapi gambaran kejadian terbakarnya istana berwarna merah tampak sangat nyata bagi ku", kata Li Mei.
Li Mei menundukkan pandangannya seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menggeleng pelan.
"Anggap saja jika semua itu hanyalah halusinasi belaka", ucap Li Mei.
Li Mei mulai berpikir keras tentang gambaran yang dilihatnya saat dia menyentuh pedang emas Ratu Caihong, tentang sebuah Istana Merah yang sedang terbakar hangus.
"Apa sebaiknya aku bertanya pada Shaiming !?", kata Li Mei.
Kesadaran Li Mei langsung terjaga sepenuhnya saat dia mengingat Shaiming, dia beranjak bangun lalu menghampiri ranjang tidurnya.
Diambilnya kain pembungkus pedang emas Ratu Caihong kemudian berlari kembali ke arah pedang emas.
Li Mei cepat-cepat membungkus pedang emas Ratu Caihong dengan kain terbuat dari sutra berwarna emas dengan benang merah berujung giok yang melilit.
SRET !!!
Li Mei berhasil mengikatkan dua simpul ujung benang merah dengan hiasan giok di kedua simpulnya.
Tidak terjadi lagi hentakan hebat saat Li Mei menggenggam erat pedang emas Ratu Caihong, dia masih tersadar penuh dan tidak mengalami halusinasi tentang istana yang terbakar.
"Aku tidak mengalami reaksi apa-apa lagi setelah kain pembungkus ini aku gunakan pada pedang emas ini", kata Li Mei.
Li Mei mengerutkan keningnya sambil memperhatikan ke arah pedang emas Ratu Caihong yang telah terbungkus rapi dengan ikatan lilitan benang merah berhias giok.
"Apakah tadi itu merupakan sebuah petunjuk bagi ku ???", kata Li Mei.
Sorot mata Li Mei berubah teduh saat memperhatikan bungkusan besar di atas tempat tidur.
Li Mei menghela nafas panjang berulangkali hingga dia merasa dirinya dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
"Sebaiknya aku akan menanyakan hal ini pada Shaiming..., mungkin saja dia mengetahui sesuatu... Tapi bukankah kami baru mengenal satu sama lainnya...", kata Li Mei.
Li Mei lalu menghentikan gerakan tubuhnya untuk pergi.
"Kami baru bertemu setelah aku mengalami kecelakaan sehingga aku amnesia", kata Li Mei. "Tidak mungkin bagi Shaiming untuk mengetahui tentang Istana berwarna merah", sambungnya.
Li Mei kembali terduduk di atas tempat tidurnya dengan tertunduk kemudian dia melirik kembali ke arah bungkusan besar yang berisi pedang emas Ratu Caihong yang berada di sampingnya.
"Mungkinkah aku memiliki hubungan dengan semua itu... Dengan Istana terbakar serta dua orang asing dalam pikiran ku...", kata Li Mei.
Tampak Li Mei duduk termenung, mengingat semua kejadian aneh yang baru saja dia alami tadi ketika dia menggenggam erat pedang emas Ratu Caihong.
"Jika iya, aku pasti mengingat salah satu orang yang ada dalam gambaran Istana yang terbakar...", ucap Li Mei dengan wajah sedih.
Li Mei mendesah pelan sambil mengangkat wajahnya ke arah depan.
"Apakah nama ku memang Li Mei !?", kata Li Mei.
Pandangan Li Mei lalu teralihkan pada kalung emas yang melingkar di lehernya, diraihnya kalung emas itu dengan ujung jari tangannya lalu dipandanginya dengan lamat-lamat.
Kalung cantik dari emas dengan liontin bertuliskan nama Li Mei menghias lehernya.
Tanpa dia tahu kebenaran akan kalung itu, benarkah kalung itu memang miliknya atau seseorang sengaja memakaikannya pada dirinya. Seakan-akan kalung itu bekerja bagaikan tanda dari sebuah petunjuk tentang jati dirinya jika dia bernama Li Mei.
Li Mei benar-benar tidak mengingat apapun bahkan tentang pedang emas itu, dia tidak tahu pasti, apakah pedang emas tersebut memang miliknya.
Semua ingatan Li Mei benar-benar kosong bahkan tak satupun kenangan tertinggal dalam ingatannya.
Li Mei hidup bagaikan orang asing yang tidak memiliki kenangan masa lalu ataupun kenangan akan dirinya bahkan dia tidak mengenal siapa dirinya, tentang asal-usulnya, tentang rumahnya dia tinggal, dari mana dia datang bahkan siapa nama dia yang sebenarnya, Li Mei tidak mengingat semuanya.
Hanya bergerak bagaikan orang aneh dengan pandangan kosong lalu termenung seperti sedang melamun setiap Li Mei terjaga dari tidurnya.
Bangun di pagi hari seperti orang linglung yang tidak tahu menahu hal apa yang harus dia lakukan saat membuka kedua matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments