Zenitha memandang wajah tampan dihadapannya. Walau pun Shein tidak membalas tatapannya. Melainkan hanya fokus memainkan sedotan di minumannya.
Pulang dari kampus, Shein terpaksa harus menerima pertemuan ini. Pertemuan yang berulang kali diinginkan oleh Zenitha. Namun, baru kali ini Shein menurutinya. Padahal, mereka sering bertemu di rumah Shein. Sangat aneh pikirnya.
"Saya gak ganggu kan, bang?" Tanya Zenitha
"Sedikit." Sahut Shein tersenyum nyengir
"Saya mau mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Sebentar lagi saya menikah. Tidak ada yang tahu soal ini sebelumnya."
"Jadi untuk apa, kamu, kasih tahu saya." Sahut Shein dengan tatapan heran
Zenitha menghela nafasnya sejenak. "Sebenarnya, saya memiliki perasaan sama, Abang Shein."
Shein mengerutkan dahinya, menatap serius wajah sendu wanita cantik dihadapannya itu. Ternyata benar dugaannya selama ini. Ada hati yang tersimpan oleh sang Queen Liand.
"Saya cuman ingin mengatakan ini. Biar hati tenang dan lega. Gak mendam perasaan terus. Walau pun saya tahu, Abang, gak bakal perduli soal saya. Makasih, bang Shein, saya sudah merasa lega saat ini." Ucap Zenitha
Shein masih terdiam, mencoba menatap minuman dihadapannya. Tanpa menjawab semua ucapan Zenitha, yang sebenarnya membutuhkan sebuah jawaban.
"Abang, jangan mikirin hal ini. Saya cuman meluapkan semuanya aja kok, gak lebih. Biar hati lebih adem nantinya." Zenitha tersenyum nyengir memerhatikan Shein yang hanya terdiam
"Sukses selalu ya, bang. Di tunggu gelar profesor-nya, semangat!" Ucap Zenitha tersenyum nyengir
Shein memerhatikan wajah yang pura-pura oke itu. Zenitha langsung berpamitan untuk pergi. Begitu sulit buat Shein meluangkan waktu. Dan tahunya, Zenitha hanya ingin mengatakan sebuah perasaan cinta yang sulit dikatakan.
"Aneh wanita itu memang." Ucap Shein
Shein mengabaikan Zenitha yang pergi dalam perasaan kecewa kepada diri sendiri. Sebenarnya Shein merasa kasihan dengan wanita itu. Tetapi, Shein sendiri tidak bisa merasakan sebuah perasaan berbeda kepada wanita. Itu yang membuatnya sulit mendapatkan pasangan sampai saat ini.
Tanpa dia sadari, jika Zenitha menutup wajahnya dengan pasmina. Mencoba mengeluarkan rasa sesak yang selalu dia pendam. Kali ini, Zenitha bisa menangis untuk melupakan semua perasaan yang tidak mungkin terjadi itu.
”Sadarlah wahai diri, aku hanya wanita manja yang tidak bisa dimiliki oleh pria hebat dan setegar dia. Yang ada, aku akan mengusahakan hidupnya.“
Zenitha menangis di dalam mobilnya, membuat bodyguard itu merasa heran. Ingin mengatakan sesuatu, tapi mereka juga takut di marahi oleh Zenitha sendiri. Karena mereka tahu, jika mereka di anggap selayaknya patung oleh Zenitha.
...
Pernikahan seperti apa yang Zenitha inginkan? Mereka bertanya seolah-olah menginginkan apa yang menjadi pilihan sang putri. Tanpa mereka sadari, itu semua tidak mungkin terjadi.
"Lakukan seperti apa yang direncanakan, saya tidak menginginkan seperti apa dan harus apa." Ucapnya dengan cuek
"Pilih yang mana, Sayang?"
Mommy-nya menunjukkan beberapa lembar album dekorasi. Bukannya melihat lebih dulu, Zenitha malah asal tunjuk. Tanpa dia sadari jika pilihannya sangat luar biasa.
"Waw, selera yang bagus bagi seorang Queen."
Selesai memilih, Zenitha tidak perduli lagi dengan semuanya. Merasa itu sangat tidak penting untuknya. Dia hanya ingin kebebasan, tanpa paksaan dengan alasan ini dan itu. Zenitha ingin ketenangan dalam setiap kata pilihannya. Tapi tidak pernah bisa.
"Dia tidak ingin memilih yang lain." Mommy-nya memberikan lembaran album itu
"Kita berikan yang terbaik saja. Mungkin dia masih syok dengan ini semua. Salah kita yang selalu menganggapnya anak kecil. Sampai akhirnya dia belum bisa bersikap dewasa seperti umurnya." Jelas Liand
"Dua puluh dua tahun apa belum cukup?"
"Sayang, dia putri kita satu-satunya. Wajar bukan, jika ini terjadi? Kekhawatiran kita bahkan tidak di anggap olehnya." Sahut Liand
"Aku hanya khawatir soal isu yang ada. Takut jika kita salah memilih lagi." Jelas Mommy-nya Zenitha
"Jangan memikirkan soal itu. Jodoh di tangan Allah ... Manusia hanya berjuang untuk jodohnya." Sahut Liand
...
Aisyah memberikan sebotol air mineral kepada Zenitha. Akhir-akhir ini mereka harus membuat tugas lebih sering. Waktu untuk bermain sudah tidak ada lagi untuk mereka berdua.
"Aku mulai sulit berpikir beberapa hari ini." Ucap Zenitha
"Karena, kamu, memikirkan hal lain. Aku sudah bilang, jangan memikirkan yang belum terjadi. Fokus satu-satu biar gak pusing." Sahut Aisyah
"Ai, aku takut sebenarnya."
Aisyah menghentikan kegiatannya, memerhatikan wajah khawatir Zenitha. "Apa yang, kamu, pikirkan lagi, Zent?"
"Takut jika ini kegagalan lagi buat aku. Aku tidak takut jika di tinggalkan, tapi takut jika berulang kali gagal dalam pernikahan. Malu sekali rasanya kalau gagal terus, Ai." Jelasnya
"Semua ada nasibnya masing-masing, Zent. Banyakin doa aja deh, dari pada mikir yang aneh-aneh kan."
Zenitha tertunduk lesu, meraih kembaran kertas yang sudah tertulis banyak kata diatasnya. "Aku coba menerima takdir ini, ai." Ucapnya
"Memang harus begitu kalau hidup di dunia ini, Zent." Sahut Aisyah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments