****** Shein Zenitha *******
Shein memerhatikan Zenitha dari kejauhan. Terlihat jika Zenitha sendiri sedang memerhatikan dirinya. Entah apa maksudnya, yang jelas itu cukup membuat Shein merasa risih.
Di perhatikan oleh seorang Queen dari keluarga Liand. Bukannya senang, Shein malah merasa aneh. Antara rasa minder dan khawatir. Khawatir jika dirinya dalam bahaya, dan akan mendapatkan banyak masalah.
“Entah apa maksud mereka, mengawasi aku setiap saat.“
Shein bergumam dan memilih untuk pindah ketempat yang lebih tertutup. Tidak ingin jika dirinya menjadi perhatian khusus sang Queen.
Zenitha yang merasa kesal karena tidak bisa melihat Shein lagi. Kini, malah melangkah lebih dekat. Mungkin Zenitha akan nekad untuk saat ini. Tidak perduli jika dikatakan dirinya tidak tahu malu sama sekali.
"Kalian jangan ikut, pantau aja." Tegas Zenitha
Bodyguard itu kembali diam, menuruti apa yang diinginkan oleh Queen mereka.
Melangkah lebih dekat, hingga melihat jelas Shein yang hanya fokus memerhatikan cara kerja tukang yang lainnya.
"Assalamu'alaikum."
Shein menoleh kebelakang, melihat Zenitha yang sudah tersenyum memandang dirinya. "Wa'alaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Queen?" Tanyanya
"Jangan panggil saya Queen. Sangat memalukan sekali." Ucapnya. "Saya ingin mengobrol dengan, kamu."
"Apakah penting? Maksudnya, saya sedang sibuk saat ini." Jelas Shein
"Penting." Sahut Zenitha
Dengan terpaksa, Shein mengikuti kemauan Zenitha. Mereka sedikit menjauh dari para pekerja. Mencari tempat yang aman untuk mengobrol.
"Ada yang bisa saya bantu?" Shein mencoba bersikap baik dan menghormati wanita
"Saya ingin merombak beberapa tempat di rumah. Mungkin, kamu, bisa membantu saya? Hem ... Cukup bosan melihat ruangan yang sama setiap hari."
"Bosan?" Shein mengerutkan dahinya. "Mungkin, saya akan mencari cara untuk mengubah tampilannya. Atau memang mau di ubah keseluruhannya?" Tanya Shein
"Emmm, gimana bagusnya sih." Sahut Zenitha
"Baik, mungkin saya bisa membantu sedikit. Kita bisa membahas ini lagi nanti, saya akan membuat beberapa pola yang, kamu, inginkan." Jelasnya
"Oke. Kita bisa ketemu di suatu tempat esok hari. Bisa pindai kode WhatsApp, Kamu."
"Oh, iya." Shein mengambil handphonenya, memberikan kepada Zenitha.
"Oke, selesai. Saya akan hubungi, kamu, nanti." Ucap Zenitha tersenyum ramah
Shein mengangguk dan membalas senyuman itu. "Silahkan, Queen." Sahutnya
"Permisi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Zenitha pergi meninggalkan Shein dengan senyum sumringah. ”Jebakan, Abang Shein.” gumamnya tersenyum nyengir
Shein sendiri mulai mengabaikan Zenitha. Baginya, pekerjaan itu sangat penting. Tidak bisa bermain-main dalam waktu bekerja. Memilih untuk kembali fokus dalam pekerjaannya.
Zenitha memandang handphone miliknya. ”Dapat nomornya juga, akhirnya ... Semudah itu ternyata. Abang Shein, semoga kita jodoh. Ya Allah aku maksa." Ucapnya lirih
"Ada apa, Queen?" Tanya bodyguard yang mendengar sedikit ucapan Zenitha
"Apa?" Sahutnya dengan wajah tidak suka. "Jangan perdulikan saya. Anggap saja saya sedang latihan drama." Jelasnya lagi
...
Zenitha mencoba mengirim pesan lewat WhatsApp. Mengatakan sesuatu mengenai rencana pembangunan dirumahnya. Sebuah alasan dan keterpaksaan agar bisa dekat dengan Shein.
Bersyukur Zenitha bisa melakukan apa pun yang dia suka. Tentu Daddy dan Mommy-nya tidak akan pernah menolak keinginannya itu. Sangat mudah bagi seorang Queen Zenitha.
"Aku cukup cantik dan dia tampan. Apakah tidak pantas kalau bersanding? Ya Allah ... Segila ini aku gara-gara kuli satu itu."
Zenitha memerhatikan penampilannya, dia faham jika Shein tidak suka dengan wanita yang terbuka. Mencoba pakaian yang lebih longgar, mungkin Shein tidak akan risih jika dekat dengannya.
"Oke, kata Aisyah tidak boleh pacaran. Mungkin, suatu hari aku meminta dia buat nikahi aku. Kalau gak mau, aku paksa aja. Gampangkan." Ucapnya terkekeh
Zenitha pun pergi ke suatu tempat, bertemu dengan Shein dan membahas pekerjaan baru untuk Shein. Walau pun semua hanya kata modus. Karena, menunggu Shein untuk menyukainya itu tidak akan mungkin.
Apa lagi perbedaan kasta yang membuat itu akan sulit terjadi. Terutama, soal kehidupan Zenitha yang serba hati-hati dan tidak bisa sembarangan orang untuk bisa menyentuhnya sedikit pun.
"Queen, apa perlu saya pantau?" Tanya Herry
"Biarkan saja, dia pasti datang."
Zenitha memainkan handphonenya, duduk santai menikmati secangkir jus alpukat kesukaannya. Menunggu kedatangan sang rapi tampan yang merusak pikiran dan hatinya. Sungguh pesona Shein menghancurkan segalanya bagi Zenitha
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Sahut Zenitha tersenyum
"Maaf lama, Quee. Apa sudah menunggu lama disini?" Tanya Shein dengan ramah
"Tidak, baru saja." Sahut Zenitha tersenyum nyengir
Shein mulai mengeluarkan lembaran kosong dan lembaran yang sudah terlihat gambar pola. Zenitha mengerutkan dahinya, merasa sebuah gambar itu membuat kepalanya sakit.
"Kebetulan, tadi malam saya menggambar ini. Apakah, kamu, suka? Atau mau saya merancang yang lain juga bisa."
Zenitha memerhatikan kertas itu. Apa yang dikatakan bagus? Zenitha tidak faham sebuah garis-garis yang tersusun rapi di atas kertas itu. "Saya tidak mengerti." Ucapnya menggaruk tengkuk
"Ah, iya. Saya bisa gambarkan di laptop." Shein mengeluarkan laptopnya.
Bertanya seperti apa yang diinginkan Zenitha. Ruangan yang indah dan juga mengganti bentuk kamar dan taman didepannya.
"Wah, lebih bagus begini." Ucap Zenitha yang memerhatikan layar laptop itu. "Saya ingin, kamar terlihat lebih nyaman aja. Jangan terlalu terbuka seperti itu. Terlalu bosan setiap saat memandang tumbuhan hijau didepannya. Dan, kalau malam itu sangat menyeramkan." Jelasnya
"Menyeramkan? Bukankah indah bisa memandang bulan dan bintang langsung dari kamar tidur?" Tanya Shein
"Eh, memang benar sih. Tapi, jika hujan turun dan ada petir menyambar. Kamu, bisa bayangin gak kalau ada sosok yang mengintip lewat kaca. Kalau manusia sih gak akan bisa, karena itu privasi." Ucap Zenitha yang memerhatikan wajah Shein. Terlalu tampan pikirnya.
"Maksudnya, ingin hanya sedikit kaca dari ruangan itu?" Tanya Shein lagi
Zenitha mengangguk menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja. "Sepertinya, saya butuh ruangan khusus yang bisa melihat taman. Tapi tidak langsung dari kamar. Untuk bersemedi misalnya." Jelasnya yang diakhiri gelak tawa
Shein ikut terkekeh mendengar ucapan Zenitha. "Bersemedi ya. Kenapa gak di hutan aja , Queen." Sahutnya tersenyum dan menggelengkan kepala
"Jangan terlalu besar, sekiranya cukup untuk berdua. Seperti tempat romantis, untuk saya dan suami nanti." Ucapnya tersenyum dalam hayalan itu
"Oh, oke. Mau menikah ternyata, selamat." Sahut Shein
"Iya sama, kamu." Ucapnya lirih
"Ha?" Shein mengerutkan dahi memerhatikan Zenitha
Zenitha langsung terbengong. "Ha? Kenapa?" Ucapnya yang mencoba mengalihkan pembicaraan. "Saya belum mau menikah. Belum selesai kuliah." Jelasnya
"Oh." Shein ber oh ria, kembali fokus di lembaran kertas dan laptopnya. Sangat mengejutkan batinnya.
Lama mereka berdiskusi, apa lagi soal Zenitha yang seperti sengaja mengulur waktu. Seingin itu Zenitha bersama Shein, sampai melupakan nasehat Aisyah.
"Cukup begini, Queen?" Tanya Shein
"Cukup sepertinya. Emm ... Butuh berapa waktu untuk menyelesaikan pekerjaan itu?" Tanyanya balik
"Kami bisa mengerjakannya lebih cepat, tergantung request pekerjaannya seperti apa." Jelasnya
"Oh, iya." Zenitha tersenyum nyengir. Mungkin dia bisa tidur dengan nyenyak dan bermimpi indah setelah bertemu dengan Shein.
...
Lembur, mungkin itu hal bisa yang dikerjakan oleh Shein. Menunggu waktu pekerjaan di rumah Queen, setelah urusannya selesai.
"Pembangunan sudah mau selesai. Mungkin, bisa di percepat pembangunan baru di rumah pak Liand." Demi memberikan lembaran kertas yang terdapat gambar didalamnya.
"Iya, pak. Gimana menurut, bapak. Bagus tidak?" Shein menunjukkan hasil pekerjaannya setelah diskusi dengan Zenitha kemarin.
Demi tersenyum dan mengangguk. "Cukup indah, mungkin sang Queen sedang memimpikan sesuatu yang nyaman. Cukup unik seleranya." Sahut Demi
"Bapak harus ke dokter. Saya antar sekarang ya." Ucap Shein
"Baiklah, anakku." Demi tersenyum dan menurut
Mereka berdua pergi ke rumah sakit, memeriksakan kesehatan Demi. Semakin hari tubuh tua itu semakin lemah dan sering sakit. Nyeri yang dia rasakan di jantung dan bagian lainnya. Tidak sekali dua kali Shein merawatnya dikala sakit.
Di salah satu rumah sakit ternama di kota Chen. Shein menuntun Demi untuk berjalan. Menemui dokter khusus yang merawat dirinya.
"Ayo, pak." Shein membantunya untuk rebahan di kasur. Menunggu sang dokter untuk memeriksa keseluruhan tubuh Demi
Shein menunggu sampai pemeriksaan selesai. Sebulan sekali, Shein rutin membawanya untuk periksa. Untuk menjaga kestabilan tubuh tua itu.
"Cukup baik. Harus lebih sering periksa ya, untuk kontrol." Jelas dokter
"Oke."
Shein kembali membantu Demi untuk bangun. Memerhatikan pria tua itu selayaknya ayahnya sendiri. Karena di perantauan ini Demi menjadi orang tua pengganti untuk dirinya.
"Demi." Ucap Liand yang melihat dirinya
"Pak Liand. Apa kabar?" Tanya Demi tersenyum
"Beginilah. Sedang kontrol?" Tanya Liand yang terlihat ramah dengannya
"Tentu, kalau tidak. Entahlah ...." Sahutnya terkekeh
Mereka berbincang-bincang sejenak, sedangkan Zenitha mencoba memerhatikan kedua pria dihadapannya itu. Siapa lagi yang menarik perhatiannya selain Shein?
"Jadi, anak angkat ya." Ucap Liand yang tersenyum melihat Shein. "Apa perkerjaanmu anak muda?" Tanya Liand dengan serius
"Saya arsitek, pak. Dan masih membantu bapak, demi. Belum bekerja sendiri." Jelasnya
"Arsitek? Sama seperti Demi ternyata." Sahut Liand tersenyum ramah
"Dia seorang master, lebih hebat dari saya." Ucap Demi
"Menarik. Mungkin akan jauh lebih sukses dari ayah angkatmu ini." Ucap Liand terkekeh
"Sudahlah, jangan membahas itu. Sangat membosankan menjadi orang sukses." Sahut Demi
Shein tersenyum mendengar obrolan para pria tua di hadapannya. Namun, tanpa sadar jika dirinya menjadi perhatian khusus sang Queen dari tadi.
...
Hari pertama untuk kerja di rumah keluarga Liand. Shein sangat canggung melihat kemegahan rumah orang terkaya di kotanya itu. Memerhatikan kondisi kamar yang sudah kosong itu. Shein mulai memainkan keahliannya dalam bidang ini.
"Kita akan memulai dari sudut ini. Tidak perlu menghancurkan bangunannya. Ini sudah sangat kokoh." Ucapnya
Shein memberikan arahan kepada temannya yang lain. Di perhatikan juga oleh Zenitha. Mereka akan mengubah tampilan kamar Zenitha. Terutama mengubah ruangan itu dan menambah ruangan lain yang lebih indah.
"Kita bisa menambahkan kolam kecil disini. Sesuai permintaan, Queen." Jelasnya
"Oke. Kita bisa mulai merombak sekarang?"
Shein mengangguk, mengeluarkan alat-alat kerja mereka. Dan langsung mengerjakannya secara bertahap.
"Cukup mudah untuk kalian bukan?" Ucap Zenitha
"Lumayan sulit." Sahut Shein
"Maafkan saya yang terlalu banyak maunya ini, bang." Ucapnya
"Memanggil seperti itu akan membuat saya canggung, Queen." Sahut Shein
"Tidak perlu memanggil saya Queen, saya tidak nyaman. Kita impas." Zenitha terkekeh memerhatikan Shein
"Oke." Shein ikut terkekeh tanpa memerhatikan Zenitha di belakangnya
Cukup menyenangkan seorang Shein ini dimata Zenitha. Orang yang ramah dan suka bercanda. Dan juga tidak terlihat suka mencari perhatian. Apa lagi Zenitha termasuk wanita yang diimpikan banyak pria di kotanya.
"Queen. Di panggil Daddy di ruang tamu." Ucap suster yang mengurus segala kebutuhan Zenitha
"Saya tinggal ya, Abang Shein." Ucapnya
"Oke." Sahut Shein yang mempersilahkan
Zenitha menemui daddy-nya di ruang tamu. Entah apa lagi yang diinginkan sang Daddy. Sangat merusak kesenangan dirinya saat ini. Tidak ada ketenangan dan ketentraman di rumah sendiri.
Zenitha memandang beberapa orang di ruang tamu itu. Termasuk sosok pria tampan yang selalu dikatakan akan menikah dengannya.
"Ada apa, Daddy?" Zenitha duduk disebelah Mommy-nya
Sang Daddy menjelaskan jika Zenitha sudah bisa berhubungan dengan pria itu. Berkenalan lebih dekat untuk pernikahan mereka nantinya.
Zenitha terlihat pasrah untuk saat ini, menerima permintaan sang Daddy. Bersyukur pernikahan itu masih lama, jadi Zenitha bisa melakukan banyak hal. Tentu mempersiapkan diri untuk menolak dan menentang keinginan kedua keluarga ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments