Selesai isya, mereka semua tertidur pulas. Membiarkan rumah mereka sedikit kebanjiran karena hujan yang terlalu deras sampai pagi. Dan itu membuat mereka kewalahan di kala subuh. Dapur mereka kebanjiran sedikit, membuat Shein harus menguras dan membersihkan dapur mereka.
Sarapan hanya menggunakan dua butir telur dan sebungkus mie instan. Membuat Zenitha merasa kaget dengan menunya. Terbiasa makan dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi.
"Beginilah makanan anak kos, Zent. Harap maklum ya." Ucap Aisyah terkekeh
Shein hanya makan dengan sedikit mie instan. Membiarkan sang adik yang memakan lebih banyak. Mereka memberikan dua butir telur untuk Zenitha. Zenitha menelan ludah melihat mereka yang makan dengan lahapnya.
"Aku cukup satu." Ucap Zenitha yang meletakkan satu butir telur untuk Aisyah
"Kamu, tidak makan nasi terlalu banyak. Makan aja keduanya. Nanti siang Abang mau belanja juga kok. Memang udah pada habis persediaan di dapur." Jelas Aisyah terkekeh
Zenitha memandang Shein di depan sana, dengan lahapnya pria tampan itu makan dengan apa adanya. Zenitha merasa jika dirinya terlalu berlebih-lebihan dalam kata kemewahan. Melupakan jika banyak orang yang terlalu bersyukur dengan hidup yang sederhana.
"Kenapa bengong? Ayo habiskan." Ucap Aisyah
"Iya." Sahutnya tersenyum
Selesai sarapan pagi, Zenitha membantu Aisyah membersihkan piring kotor dan rumah mereka. Walau pun Aisyah melarangnya, Zenitha tetap membantu walau pun hanya membuat rusuh.
"Ternyata seru ya, Ai." Ucapnya terkekeh
"Karena tidak terbiasa. Kalau sudah terbiasa, nanti bakal bosan sendiri." Sahutnya
"Handphone aku gak bisa hidup lagi." Ucapnya
"Abang, coba benerin deh." Aisyah memberikan handphone milik Zenitha
Shein mencoba memerhatikan handphone yang terkena hujan terlalu lama tadi malamnya. "Mungkin aja rusak, bawa ke konter aja." Ucap Shein
"Pasti Daddy aku nyariin aku deh, gimana mau menghubungi Daddy." Ucapnya lirih
"Ingat nomornya?" Tanya Aisyah
Zenitha menggelengkan kepalanya. "Gak ingat dan gak pernah menghapal pula." Sahutnya menggaruk kepala
"Sebentar." Ucap Shein yang meraih handphonenya di atas kasur tempat mereka bersantai
Shein mencoba menghubungi seseorang dari handphonenya. Mereka tidak bertanya siapa, namun menunggu Shein sampai selesai mengobrol dengan seseorang di handphonenya.
"Nanti mereka menjemputmu di sini." Ucap Shein yang meletakkan lagi handphone miliknya di atas kasur itu
"Abang, gak kerja hari ini?" Tanya Aisyah
"Mau nganterin bapak ke dokter." Sahutnya tanpa melihat Aisyah dan Zenitha
"Yaudah, jangan lupa ke market."
"Iya." Sahut Shein dengan santai
Zenitha tersenyum memandang Shein yang sedang asik menggambar di kertas. Mengingat sebulan yang lalu, disaat mereka membahas soal pekerjaan di rumahnya.
...
"Kenapa wajahmu memar begini, Shein?" Demi memerhatikan wajah itu dengan mata sipitnya
"Karena nolongin anak pak Liand, pak. Gak tau kalau kami di ikutin, jadi ya ... Begitulah." Jelasnya
"Jadi, sampai adu skil?" Tanya Demi lagi
Shein terkekeh kecil. "Gimana lagi, kalau tidak Queen bakal di culik mereka." Jelasnya
"Kamu, cukup berjas antuk ini. Mungkin, mereka akan memberikan suatu imbalan untuk, kamu." Ucap Demi
Shein menggandeng pria tua itu untuk masuk kedalam mobil mewahnya. "Saya tidak suka begitu, pak." Sahut Shein
"Lihat aja nanti." Ucap demi penuh keyakinan
Shein hanya tersenyum, melajukan mobil mewah milik Demi. Sebenarnya bulan jadwal pemeriksaan, hanya saja Demi sedang merasakan sakit di tubuhnya.
Demi menonton lewat handphonenya, mencoba melupakan rasa sakit yang luar biasa itu. Shein pun faham dengan kondisi dan tingkah ayah angkatnya. Bercerita dan mencoba menghiburnya pun percuma. Shein sudah memahami watak dan sifat ayah angkatnya itu.
"Mengerikan sekali, perang dinegara vilestiene belum selesai juga. Menurut, kamu, apakah doa saya di terima? Lantaran saya selalu mendoakan mereka di setiap sujud." Ucap demi
"Insya Allah, pak. Doa yang baik, akan di balas kebaikan pula. Mudah-mudahan perang akan berkahir, sudah terlalu banyak korban." Shein menjawab dengan pandangan tetap fokus di kemudinya.
"Kamu, masih boikot?" Tanya Demi dengan serius
"Insya Allah, pak. Cuman itu yang bisa saya lakukan selain berdoa sama Allah." Sahutnya
"Bagus, pertahankan sampai mereka jera mengusik negara lain." Ucap Demi dengan semangat
Demi kembali menonton video lainnya. Terlihat keluarga Sham di layar handphonenya.
"Oweh. Kenapa pula mereka ini." Demi berucap sendiri melihat video itu. "Apa-apaan, mereka punya kasus." Ucapnya lagi
"Ya Allah ... Bryant biang keroknya. Berarti ide penculikan itu juga dari Bryant." Tegasnya
Shein menoleh sejenak, memperhatikan Demi yang serius menonton di handphonenya. "Kenapa, pak?"
"Kasus percobaan untuk menculik sang Queen keluarga Liand. Wah, jadi mereka penyebab ini semua. Sampai, kamu, babak belur begini. Tidak bisa dibiarkan." Tegasnya
"Loh? Bukannya mereka mau tunangan? Kenapa harus menculik sekarang, tidak sabar atau bagaimana?" Sahut Shein yang merasa aneh dengan kasus baru di kota mereka
"Tidak-tidak, bukan seperti itu, nak." Sahut Demi yang terlihat geram itu
"Hallo." Demi menelpon seseorang yang Shein sendiri tidak tahu siapa
"Jam satu siang kita ketemu, kamu, harus menjadi kuasa hukum anak saya." Tegasnya
Shein masih mendengarkan obrolan pria tua yang merupakan ayah angkatnya. Terlihat Demi sangat geram, sesekali memandang wajah Shein yang masih terlihat luka dan memar itu.
"Anak saya babak belur di hajar orang suruhan Bryant."
" .... "
"Tidak bisa di biarkan! Anak saya yang menyelamatkan Queen Liand. Mereka bisa menuntut, saya juga bisa. Kenakan sanksi pidana kepada Bryan. Saya tidak terima anak saya jadi begini." Tegasnya lagi
" .... "
"Jangan biarkan saya menunggu!" Tegasnya lagi
Shein terbengong mendengar suara Demi, terlihat cukup mengancam dan mengerikan pikirnya. "Saya tidak apa-apa, pak." Sahut Shein
"Biarkan saja, sejak awal saya memang tidak suka dengan keluarga Sham. Kakek, kamu, pernah berseteru dengan mereka. Dan saat ini baru terlihat belangnya." Jelas demi
Sehein tidak bisa mengatakan hal lain, sebab dirinya tidak mengerti hukum. Shein pasrah jika orang-orang yang menghajarnya di hukum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments