"Pantas saja mereka mempercepat lamarannya. Ternyata ada niat lain untuk menghancurkan keluarga saya." Liand berbicara kepada beberapa pengacara kondang di kotanya
"Sampai anak saya jadi sasaran juga." Sahut Demi
"Kita sudah mengambil foto untuk bukti. Foto-foto ini bisa kita gunakan untuk penambahan pasal untuk Bryant. Sehingga, Bryan bisa dikenakan pasal berlapis." Jelas seorang pengacara
"Pasal penganiayaan, pasal penggelapan dan ada beberapa lagi." Ucap pengacara Zenitha. "Hebat sih, putri anda bisa menyelidiki hal ini. Jika tidak, kita tidak akan pernah tahu kejahatan Bryant dan keluarganya."
"Bersyukur mereka belum menikah. Jika tidak, saya akan sangat malu sekali." Ucap Liand
"Mitos di kota kita, jika gagal di hari lamaran. Maka akan gagal di hari pernikahan. Mudah-mudahan saja itu hanya mitos." Ucap yang lainnya
"Lain jika ada pengantin pengganti. Mudah-mudahan, Zenitha bisa menemukan sang Prince pengganti." Sahut Demi yang menepuk bahu Liand pelan
Mereka kembali membahas soal kejadian itu. Menyusun strategi untuk mengalahkan keluarga Sham. Karena mereka bisa bermain dalam hukum. Sangat mengerikan keluarga Sham ini.
...
"Lagi dan lagi, ini kesekian kalinya mereka melakukan kecurangan." Tegas Demi
"Bukti apa lagi yang harus kita serahkan?" Ucap pengacara Shein
"Pesan dan panggilan, apa bisa?" Tanya Shein
Demi dan pengacaranya menatap Shein dengan serius. "Bisa saja jika itu sebuah petunjuk." Jelasnya
"Saya ada pesan dari, Queen. Dan ada beberapa kali panggilan di handphone adik saya." Ucapnya
"Seperti apa?" Pengacara itu melihat pesan di handphone milik Shein
Shein menunjukkan pesan Zenitha sebelum dirinya pergi menyelematkan Zenitha. Ternyata, ada banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab.
"Hujan dan petir malam itu, jadi saya matikan data dan mode pesawat. Jadi tidak tahu jika dia menghubungi saya juga. Saya juga mendengar obrolan Queen dan adik saya. Sampai saya di paksa untuk mencari keberadaan Queen." Jelas Shein dengan sedetail-detailnya
"Motor saya juga licet, sempat terjatuh di aspal akibat di hadang oleh mereka. Apa tidak bisa dijadikan sebuah bukti kuat?" Tanya Shein dengan tatapan serius
"Akan kita coba. Ini juga termasuk bukti, dan semua ada waktunya. Sangat jelas sekali." Ucap pengacara itu
Mereka kembali mengumpulkan bukti. Walau pun Shein tidak ingin mendapatkan banyak masalah hanya karena Zenitha. Dan nyatanya, dia sendiri terlanjur terjebak dalam masalah ini. Niat menolong sejenak, malah menjadi kebablasan.
Mereka pergi kerumah Demi, mengecek keadaan motor matic milik Shein. Bersyukur Shein belum membawanya ke bengkel motor. Mereka juga memfoto beberapa bekas goresan aspal di body motornya.
"Saya akan menemui Liand lagi nanti. Kita juga bisa meminta bukti yang sama di handphone Queen." Jelas Demi
"Baik. Kita harus bergerak cepat, sebelum kelicikan mereka semakin bertambah. Saya tidak mau kalah dengan mereka lagi!" Tegas pengacara itu
"Bapak, harus istirahat. Biar saya dan pengacara saja yang kesana ya." Ucap Shein
"Baiklah." Demi memilih untuk tetap di rumahnya
Shein dan pengacaranya langsung membuat janji kepada keluarga Liand. Bersyukur keluarga Liand menyanggupi itu. Dan mereka dengan sigap melaju menuju kediamannya.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di kediaman Liand. Mereka akan membahas soal bukti yang baru. Karena bukti mereka sedang dipermainkan oleh keluarga Sham. Sekuat apa pun keluarga Liand, maka sekuat itu pula keluarga Sham dengan kelicikan dan kebohongan mereka.
Pengacara Shein mengatakan semua bukti yang sedang mereka cari. Menjelaskan dan menunjukkan apa yang sudah mereka kumpulkan.
"Bukti kita cukup kuat, tapi mereka masih bisa berdusta. Saya menjadi ragu dengan hakim. Apakah mereka membayar hakim itu?" Tanya Pengacara Shein
"Kita akan usut itu juga. Tidak bisa dibiarkan manusia seperti itu. Hanya merusak kenyamanan masyarakat." Sahut Liand
"Queen, bisa tunjukkan handphone-mu?"
"Tentu." Zenitha memberikan handphone miliknya
Mereka langsung mengecek dan mencocokkan bukti lainnya.
"Berdoa saja. Semoga kebohongan mereka bisa kita kalahkan."
...
Shein menikmati sebungkus mie instan dengan lahap. Menatap layar handphone-nya yang tertera nama Queen Zenitha disana. Shein menerima panggilan itu.
”Assalamu'alaikum.” Ucapnya
”Wa'alaikumsalam, Abang.”
”Ada yang bisa saya bantu, Queen?”
”Maaf sebelumnya ya, bang. Gara-gara nolongin saya, Abang, sampai terkena masalah ini.”
”Bukan salah, kamu. Pak Demi yang bersikeras buat ikut menuntut. Mencoba membongkar kejahatan mereka lewat luka kecil di wajah saya. Santai aja.”
”Gak bisa santai, bang. Kepikiran terus saya, apa lagi sampai begitu. Apa lagi, kita hampir kalah loh.”
”Insya Allah, kali ini menang.”
Shein kembali menikmati mie instan miliknya. Terjerat sesaat karena obrolan itu.
”Abang, ngapain sih?”
”Sebentar, saya sedang makan.”
”Yah, saya ganggu ya, bang. Yaudah deh, lanjutin makannya.” Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumsalam.” Sahutnya dengan singkat
Shein mengabaikan apa yang sedang terjadi barusan. Menikmati mie instan itu sampai habis. Tanpa dia sadari jika sang Adik menggelengkan kepala memerhatikan tingkahnya
"Pantes aja melajang sampai tua. Biar kata tampan juga, kagak ada yang mau dah sama pria model begini." Ucap Aisyah menggerutu
Shein melangkah mendekati Aisyah, niat hati ingin membawa mangkuk kotor itu ke dapur. "Bawel!" Ketusnya tanpa perduli sama sekali
"His!" Aisyah mengikuti langkah abangnya itu. "Cobalah buat perhatian dikit ke seorang wanita, bang. Contohnya, jangan ngobrol sesimpel itu. Minimal kan bisa bilang begini, maaf ya saya sedang makan. Lain kali kita bisa mengobrol." Jelas Aisyah dengan gaya alay
"Mau ngajarin Abang? Emang, kamu, sudah faham?" Sahut Shein yang meletakkan mangkok kotor itu. "Jaga Marwah sebagai wanita. Tidak harus melakukan banyak hal demi menarik simpati seorang pria." Jelasnya
"Iya, pak ustadz!" Sahut Aisyah
"Apa, kamu, gak ngasih tau ke Zenitha?"
"Adek kasih tahu ya, bang. Itu sebabnya Zenith gak mau nempelin, abang, kayak veera dan yang lainnya. Dia aja geli tuh, melihat cewek lain main nyosor aja ke-Abang." Jelas Aisyah
"Nyosor apaan? Kamu, ngomongnya ngasal aja."
"Ya memang gitu kan?"
"Terserah deh. Abang, gak suka ya ada wanita lain yang caperan begitu. Lelah, dek, jadi orang tampan begini. Ujian terberat termasuk memiliki paras rupawan." Sahutnya
"Heleh, yang merasa tampan. Yelatuh!" Ucap Aisyah mengejek
Shein melempar boneka yang tersusun di depan tv ke arah Aisyah. Aisyah menangkapnya dengan wajah kesal, dan kembali menggerutu memarahi abangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments