"Daddy, kenapa harus sekarang? Zenith setahun lagi wisuda loh. Daddy, tidak pernah menempati janji." Tegas Zenitha
"Tidak ada pilihan lain, sayang. Isu semakin meluas sampai saat ini. Sebisanya kita membuang isu itu." Jelas Liand
"Terserah, Daddy, saja!"
Zenitha merasa bosan dengan kata pernikahan. Setiap saat hanya kata itu yang selalu muncul di kehidupannya. Sekali gagal, dan ini kedua kalinya untuk mencoba. Sangat memalukan menurutnya.
Zenitha berpikir, apakah memang ini saatnya untuk mengatakan semua perasaannya? Setelah itu, harus berkata jujur kepada sang Daddy. Menghentikan segala percobaan dalam hal perjodohan itu.
”Bosan sekali aku, Ai. Selalu di jodohkan sama orang yang aku tidak suka.”
”Lalu gimana lagi?” sahut Aisyah di sebrang sana
”Aku mau bertemu dengan abang-mu.”
”Terserah deh, Zent. Aku juga gak tahu harus apa. Tapi Abang aku ada di desa Pede. Mereka ada tugas dari kampus, kamu, tahu kan soal itu?” jelas Aisyah
”Aku akan pergi.” sahut Zenitha
Cukup nekad Zenitha ini, tanpa bertanya dan menyiapkan diri. Dia langsung pergi begitu saja, walau pun di temani bodyguardnya.
Tanpa meminta ijin dan berpamitan, Zenitha pergi begitu saja. Tidak ada yang tahu kepergiannya kecuali sang bodyguard. Tanpa dia sadari, jika Mommy-nya hanya mengira jika Zenitha pergi menemui Aisyah.
"Ke Desa Pede." Ucapnya
Sang sopir langsung membawa mereka ke desa Pede. Perjalanan yang cukup jauh tentu memakan waktu lama. Apakah akan sempat untuk menemui Shein dan langsung kembali ke kota lagi?
"Berapa lama sampai ke sana?"
"Enam jam, Queen. Yakin mau ke sana?" Sahut bodyguard itu
"Yakin." Sahutnya
Bodyguard Zenitha sedikit khawatir dengan perjalanan jauh itu. Mengingat kejadian yang pernah menimpa mereka. Apakah itu tidak cukup untuk dijadikan pelajaran?
Tidak di turuti Zenitha akan mengamuk, dan jika mereka nurut maka banyak resiko. Serba salah dalam menghadapi sang Queen. Sifatnya yang terlalu kekanak-kanakan membuat mereka kewalahan di setiap saat.
Sejam ... Dua jam ... Zenitha mulai kelelahan, memilih untuk tertidur di mobil mewahnya.
"Sebaiknya kita balik, ini tidak bisa dibiarkan. Kita tidak tahu tujuan Queen mau kemana." Ucap bodyguard itu kepada sopir
"Apakah dia mau kabur?"
"Entahlah, saya khawatir dia akan kabur lagi. Sangat sulit menghadapi gadis manja seperti dia. Segala keinginan yang tidak di gapai akan membuat semua orang repot."
"Kita balik ke kota."
Bodyguard itu menutup tirai kaca, membuat Zenitha akan lebih pulas dalam tidurnya. Tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti dulu. Menuruti kemauan sang Queen yang ternyata ingin kabur dari rumahnya.
Sampai beberapa jam berlalu, Zenitha kembali tersadar dari tidurnya. Membuka tirai yang menjuntai menutup kaca mobilnya. Waktu yang masih terang membuatnya bingung. Mengecek handphonenya yang ternyata masih pukul tiga belas siang.
"Woy!" Teriaknya
"Ya, Queen."
"Kalian bawa saya kemana hah! Saya menyuruh kalian membawa saya ke desa Pede." Tegasnya
"Tidak bisa, Queen. Kami tidak bisa menerima resiko berat lagi. Ini mengenai keselamatan anda. Anda mau menikah sebentar lagi." Bodyguard itu mencoba membalas ucapan Zenitha
"Haduh! Saya mau bertemu seseorang disana. Kalian ini gimana sih!" Ketusnya
Zenitha terus mengomel di dalam mobilnya itu. Merasa semuanya sia-sia. Waktu enam jam mereka pakai untuk mondar mandir di kota Chend.
...
Zenitha masih merasa frustasi, lantaran dia gagal bertemu Shein. Berkirim pesan pun tak ada balasan, bahkan tidak di lihat sama sekali. Sampai akhirnya Zenitha harus menerima lamaran yang akan berlangsung beberapa detik lagi.
"Veltian, CEO di Magaraya Group. Dia cukup luar biasa, bisa membangun perusahaan di kota Chend. Salah satu produk yang mereka keluarkan ada di rumah kita bahkan."
Liand mencoba mengenalkan sebuah pria tampan berkulit putih itu. Pria blasteran itu tersenyum manis, walau pun tidak bisa membuat hatinya bergejolak. Apakah memang harus diterima?
"Queen Zenitha Aureliand. Putri semata wayang saya, setahun lagi akan lulus di fakultas trimakmur." Jelas Liand
Perkenalan berjalan dengan lancar, termasuk lancarnya Zenitha membentuk senyum palsu. Dan akhirnya, kali ini dia menjadi tunangan putra keluarga Magara.
"Semoga gak ada kendala lain." Ucapnya lirih
"Jangan begitu, tidak baik." Bisik Mommy-nya
"Lima bulan lagi pernikahan mereka, kita akan membuat pesta megah di kota Chend. Mungkin, ini akan menjadi pesta termegah yang pernah terjadi di kota kita."
"Semoga aja tidak ada kendala lain. Seperti mitos yang beredar di masyarakat." Ucap keluarga mereka
"Wah, itu tidak benar. Namanya saja sudah mitos, tidak mungkin terjadi." Sahut Liand tersenyum
Walau pun ada rasa takut untuk gagal yang kedua kalinya. Maka mitos itu akan menjadi nyata seperti kepercayaan mereka. Namun, Zenitha tidak perduli dengan itu semua. Toh, dia saja tidak menginginkan pernikahan itu. Baginya, gagal karena memang bukan berjodoh saja.
Acara yang berlangsung hanya dari kedua pihak saja. Tidak ada tamu dan dekorasi indah seperti rencana yang lalu. Mereka mendapatkan pelajaran, mewanti-wanti jika ada hal buruk terjadi, maka tidak menyebabkan kekacauan seperti yang lalu.
"Belum ada setahun kasus viral itu. Dan sekarang kita akan menjadi besan."
"Iya benar sekali, pak Maga. Kita hanya bisa berdoa saja." Sahut Liand dengan ramah
"Jangan ada yang mempublikasikan hal ini. Media hanya perlu tahu di saat hari pernikahan saja. Biar ini menjadi sebuah kabar mengejutkan di kota Chend." Maga memutuskan untuk menyembunyikan hal ini
"Iya, biar mereka fokus berkenalan saja." Sahut Liand terkekeh
Berkenalan? Apakah Zenitha akan menerima sebuah perkenalan dalam hal paksaan itu?
...
Mengabaikan segala pesan yang tidak penting dari pria yang merupakan tunangannya. Zenitha lebih memilih untuk menunggu kedatangan Shein di rumah itu. Rumah baru yang tidak terlalu besar, pemberian dari demi atas keberhasilan Shein melanjutkan proyeknya.
"Jam berapa Abang pulang, Ai?"
"Tidak tahu. Dia sangat sibuk menuju gelar profesor-nya ini." Sahut Aisyah
"Pak Demi masih sering sakit, mungkin dia repot mengurus banyak hal."
"Hem, begitulah. Abang sangat bertanggung jawab orangnya. Jadi, kamu, jangan terlalu mengganggunya dulu. Lagian, kamu, udah punya tunangan saat ini. Gak baik juga kalau mengharap Abang aku." Jelas Aisyah
"Aku tidak mengharap siapa pun saat ini, ai. Sakit rasanya terlalu berharap kepada makhluk. Berulang kali aku kecewa, walau pun kepada orang tuaku sendiri." Sahutnya
"Sudahlah, fokus kuliah aja dulu. Kita punya beberapa bulan lagi untuk wisuda." Ucap Aisyah yang asik menyusun skripsi-nya
"Selesai wisuda, kamu, mau kemana?"
Aisyah menghentikan sejenak kegiatannya. "Udah di suruh kerja di kantor pak Demi. Ada tempat khusus katanya buat aku. Tapi ... Aku tidak berharap lebih juga sih, toh Abang aku yang jadi anak angkatnya. Bukannya aku." Jelas Aisyah yang diakhiri gelak tawa
"Tapi pak Demi itu orang baik."
"Benar sekali."
"Seandainya dia yang sibuk menawarkan untuk menjodohkan abang-mu untuk aku." Ucapnya lirih
Aisyah mengerutkan dahi. "Masalah itu ada di tangan Abang sih kayaknya. Soalnya ayah aja menawarkan banyak gadis tapi di tolak Abang." Jelasnya
Zenitha menatap serius Aisyah. "Benarkah?" Tanyanya
Aisyah mengangguk dengan yakin. "Gak tahu deh, dia bisa nolak gitu. Cakep-cakep loh padahal."
"Sebenernya, wanita seperti apa yang abang-mu inginkan sih?"
Aisyah mengedikkan bahu. "Entahlah, aku aja heran. Mau jadi perjaka tua sepertinya."
"Ehem!"
"Allahu Akbar." Mereka berdua tersentak kaget, mendengar deheman yang begitu keras
"Assalamu'alaikum." Ucap Shein yang melewati mereka
"Wa'alaikumsalam." Sahut mereka dengan lirih
Aisyah menutup mulutnya, mencoba menahan tawa atas ucapannya barusan. Ternyata, ada Shein yang sudah mendengar ucapannya itu.
"Kamu, ih!" Zenitha melempar kertas ke Aisyah
Aisyah terkekeh mengingat ucapannya yang mengatai sang Abang. Seandainya tidak ada Zenitha, pasti Aisyah kena ceramah sama Shein. Mengatai hal yang tidak baik kepada abangnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments