***** Queen Zenitha Aureliand *****
Zenitha melangkah menuju kelasnya, tentu dengan para bodyguard yang selalu menemaninya. Sesampainya di kelas, Zenitha mengusir bodyguard itu.
"Kalian bisa pergi, tidak perlu menunggu di depan pintu." Tegasnya
"Tapi, Queen."
"Saya tidak perduli!" Tegasnya lagi
Zenitha memilih untuk masuk, mengabaikan para bodyguardnya. Mencoba tenang tanpa pengawasan, tetapi tidak bisa. Orang-orang menatap Zenitha dengan aneh, bahkan enggan untuk menyapa dirinya.
Mungkin mereka takut jika di katakan cari perhatian, atau malah di anggap suatu masalah. Dan mereka memilih untuk diam dan mengabaikan Zenitha. Menganggap dirinya tidak ada, walau pun Zenitha sendiri termasuk orang yang ramah.
"Permisi, boleh saya duduk di sebelah, kamu?" Ucap gadis cantik yang menggunakan hijab
Untuk pertama kalinya, Zenitha membalas senyum manis seorang wanita yang menyapa dirinya. "Tentu, silahkan." Sahutnya
Zenitha ingin mengajak gadis itu berkenalan. Tetapi Zenitha takut di abaikan. "Nama, kamu, siapa?" Zenitha mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya lebih dulu
Gadis itu tersenyum manis. "Aisyah. Dan, kamu?"
"Kenalkan, saya Zenitha. Boleh kita berteman?"
Gadis cantik bernama Aisyah itu tersenyum setelah mengerutkan dahinya sejenak. "Kita memang teman, kenapa?" Sahutnya yang merasa heran
Mungkin Aisyah tidak terbiasa dengan sikap Zenitha yang terlihat seperti anak kecil. "Emm, oke. Kita sahabatan aja gimana?" Sambungnya
"Sahabat?" Zenitha mengerutkan dahi. "Saya belum pernah memiliki teman, apa lagi sahabat. Emang, kamu, tidak keberatan kalau ada bodyguard saya?" Tanyanya dengan serius
"Emang, apa masalahnya dengan mereka? Apakah akan mengganggu setiap kali kita bercerita? Setahu aku sih. Eh, boleh bilang aku kan?" Tanya Aisyah yang merasa canggung. Sebab Zenitha adalah Queen dari keluarganya. Aisyah takut, jika bahasanya di anggap tidak sopan oleh Zenitha
"Tidak masalah, mungkin aku juga begitu." Sahutnya terkekeh
"Oh, oke."
Mereka bercerita sejenak, menunggu dosen datang ke kelas mereka. Sepertinya, Zenitha mendapatkan teman yang bisa mengajaknya mengobrol di setiap saat. Tentunya di saat waktu luang.
"Kamu, mau main kerumah aku gak?"
"Lain kali ya, kita bisa ngobrol lewat WhatsApp kan? Lagian ada tugas yang harus di selesaikan. Abang aku juga bakal pulang kuliah, kasihan tidak ada makanan di rumah." Jelasnya
"Oh, oke. Lain kali aku mau main kerumah, kamu. Apa boleh?"
"Aku ngekos sama Abang. Kalau, kamu, gak risih sama rumah yang kumel dan berantakan seperti itu ya gak masalah." Kekehnya
Zenitha terkekeh, mungkin berteman dengan Aisyah membuatnya mengerti banyak hal. Mungkin, Zenitha tidak akan merasa kesepian lagi. Kali ini sudah memiliki teman, bukan hanya seorang sus dan bodyguard.
***** Queen Zenitha Aureliand *****
Berteman dengan Aisyah, membuat Zenitha lebih sumringah dari biasanya. Zenitha juga bercerita soal Abang Kuli yang pernah bertemu dengannya. Bertanya apakah itu cinta?
"Setampan apa sih, kok bisa membuat seorang Queen jatuh cinta." Ucap Aisyah yang ikut rebahan di kasur king size-nya itu
"Tampan banget, Ai. Kaget banget aku, bisa lihat kuli setampan dia. Belum pernah loh aku seperti ini kalau melihat pria lain." Jelasnya
"Hem, aku jadi penasaran sama Abang Kuli yang, kamu, ceritain ini. Apakah sama tampannya seperti Abang aku? Soalnya Abang aku juga kuli sih, dan tampan banget malah. Jadi kembang di desa loh." Sahut Aisyah terkekeh
"Wah, keren. Sepertinya memang banyak ya Abang Kuli yang tampan." Ucapnya
"Menurut aku sih, sejauh ini masih Abang aku pemenangnya."
Aisyah terkekeh, mengingat abangnya yang seorang kuli bangunan juga. Apakah mereka orang yang sama, atau memang kebetulan profesinya yang sama.
"Queen, waktunya makan."
"Bawain makanan juga buat teman saya." Sahut Zenitha
"Disuruh mommy gabung di meja makan, Queen." Ucap seorang suster yang merawatnya.
"His, selalu saja merusak ketenangan." Ketusnya
"Eh, tidak baik seperti itu. Sama orang tua harus bersikap sopan." Sahut Aisyah
"Hem, baiklah." Ucapnya lirih
Dengan rasa malas Zenitha menggandeng Aisyah untuk ikut bergabung. Walau pun Aisyah sendiri menolak, dan beralasan sudah kenyang. Tetapi Zenitha terus memaksa sampai mereka semua berkumpul di meja makan keluarga Liand itu.
"Teman baru? Daddy belum pernah melihatmu membawa seorang teman di rumah ini."
"Gimana mau punya teman, mereka cukup mengganggu. Hanya Aisyah yang tidak takut dengan mereka." Sahut Zenitha yang menunjuk para bodyguard di belakangnya
"Em?" Mommy Zenitha menutup mulutnya, menahan tawa akibat ucapan sang putri. "Apa mereka cukup menyeramkan, sayang? Bagaimana, Aisyah, apa mereka menyeramkan?" Tanyanya
"Hehe ... Sepertinya tidak, Tante." Sahut Aisyah
"Aisyah, saya mempercayai, kamu, berteman dengan putri saya. Kalau, kamu, bersikap baik dan tidak menyakiti dia, saya bersedia membayar, kamu. Asal putri saya nyaman." Ucap Liand dengan tatapan serius
"Daddy!"
Aisyah menyentuh lembut tangan Zenitha, mencoba menenangkannya lewat sentuhan itu. "Saya akan bersikap baik kepada yang baik, pak. Mungkin, kami akan menjadi teman yang baik. Apa lagi, sejauh ini Queen sangat kesepian." Jelas Aisyah
"Jangan panggil aku Queen." Zenitha menatap ke Aisyah
"Baiklah, sepertinya memang putri kami suka dengan, kamu. Jaga pertemanan kalian, jangan sampai saling terluka. Dengar Zenith, jangan arogan kepada temanmu!" Tegas sang Daddy
"Iya, Daddy." Sahutnya lirih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
ENDAH_SULIS
bagus ..
tp LBH enak..." nyonya meminta untuk makan bersama di meja makan Queen"
2024-06-20
0