siapa dia

****** SZ ****** 

"Abang Shein."

"Ya, Queen. Kenapa?" 

Shein menghentikan kerjaannya, barangkali ada keperluan yang di inginkan oleh Zenitha. Tanpa dia sadari, jika ada yang mencoba untuk mencari perhatian dirinya.

"Jangan panggil queen dong. Saya mau cerita sedikit." Zenitha duduk di salah satu kursi. Sesekali memerhatikan kerja para kuli itu

"Ada yang bisa saya bantu?" Shein ikut duduk di salah satu kursi lainnya

"Bang, tau gak kisah zaman dahulu. Seorang wanita yang mengatakan cinta. Bagaimana menurut, Abang? Kalau itu terjadi pada, Abang Shein. Maksudnya, ada seorang wanita yang mengatakan cinta. Apa mau di halalkan?"

Shein membelalakkan matanya, tidak pernah terpikirkan oleh Shein sendiri. Apakah memang ada wanita yang berani meminta untuk dinikahi lebih dulu? Sedangkan di zaman saat ini, sangat sulit mendapatkan pasangan tanpa jalur haram, seperti pacaran.

"Kok bengong sih, Bang." 

Shein menggaruk kepalanya. "Gimana ya, apa ya ada gitu. Saya tidak pernah mikir begitu soalnya. Kamu, kok bisa mikir gitu?" Tanyanya balik

"Mau tahu aja sih. Kalau ada apa, Abang, terima cinta wanita itu?" Zenitha masih saja penasaran dengan jawaban Shein

Shein terkekeh kecil, menurutnya ini adalah pertanyaan aneh. "Tergantung." Sahutnya

"Tergantung apa?" Zenitha mulai merasa panik dengan jawaban Shein

"Kalau saya suka, langsung saya nikahi aja. Lagian umur saya juga sudah cukup." Sahutnya dengan santai

"Benarkah?" 

Shein mengangguk dengan yakin. "Insya Allah. Jodoh di tangan Allah, kita hanya usaha." 

"Saya cuman mikir, gimana nasib hidup ini. Bang, bisa bantuin gak?" Zenitha mencoba untuk memohon sesuatu kepada Shein

"Bantuin apa? Saya tidak punya apa-apa. Tidak seperti dirimu." Sahut Shein

"Yaudah deh, tidak jadi. Saya hanya ingin mengawasi calon yang akan dijodohkan ke saya. Sepertinya, harus mencari cara agar perjodohan tidak jadi." Jelasnya

"Bukannya keluarga mereka kaya? Bahkan terkenal seperti keluarga kalian. Kenapa menolak?" Kali ini Shein yang menjadi kepo dengan alasan Zenitha

"Masalahnya, saya sudah suka pria lain. Gimana dong?" Zenitha terlihat murung, memerhatikan para kuli yang fokus bekerja. Sampai tatapannya menjadi kosong

"Terus terang aja, apakah akan menjadi masalah?"

"Masalahnya, Pria itu orang biasa. Bukan keturunan seperti kami. Maksudnya, berbeda kasta begitu. Pasti akan berat sekali." Zenitha menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri

"Saya tidak bisa jawab kalau soal itu. Sepertinya, saya harus kerja." Shein bangkit dari duduknya. Memilih untuk menyudahi curhatan Zenitha

Baru beberapa hari, Zenitha sudah merasa nyaman untuk mengobrol dengan Shein. Dan Shein sendiri merasa canggung sebenarnya. Hanya saja, mencoba menghargai sang Queen. Tentu tidak mau mendapatkan sebuah masalah. Iy sebabnya Shein mencoba tenang dan menanggapi semua ucapan Zenitha.

...

Herry mendapatkan tugas dari Zenitha untuk mengawasi calon suaminya. Soal Shein, Zenitha sudah tidak ingin tahu lebih banyak lagi. Mereka juga bisa ngobrol lewat handphone. Dan setiap harinya Zenitha mengirim pesan kepada Shein.

Hari ini, Shein akan wisuda. Ditemani oleh orang tua dan juga Demi yang menjadi orang tua angkatnya di kota Chen. Mendapatkan gelar master, dengan nilai terbaik. Shein mendapat pujian dari semua orang yang mengenalnya.

"Kamu, sudah bisa menggantikan saya. Tidak perlu di pertimbangkan lagi." Demi tersenyum bahagia melihat pencapaian yang Shein dapatkan

"Saya masih perlu belajar, pak." 

"Belajar memang tidak ada habisnya, nak. Apakah, kamu, mau lanjut S3 lagi?" Ayah Shein menepuk pelan bahu Shein

"Mungkin nanti, ayah. Mengumpulkan dana dulu, sekarang yang penting harus kerja dulu." Jawab Shein

"Sudahlah, jangan memikirkan banyak hal. Kamu, sudah bisa menjalankan semuanya sendiri. Lakukan saja seterusnya." Ucap Demi

"Jadi tidak enak saya, Pak." Sahutnya

"Kamu, sudah cukup berpengalaman. Dunia kerja itu lebih butuh skil. Dan, kamu, sudah punya itu." Jelas Demi

"Apa tidak ada niat untuk menikah?" Kali ini ayah Shein terlihat lebih serius

Shein tersenyum nyengir. "Sabar ya, ayah. Shein cari calon dulu." Sahutnya tersenyum

"Apa perlu saya carikan?" Demi ikut terkekeh memandang bergantian Shein dan ayahnya

"Ayah sudah cukup tua, Shein."

"Sama, saya juga sudah mau end di dunia ini. Tidak kasihan sama kedua ayahmu ini?" Ucap Demi terkekeh 

"Baik-baik, akan saya pikirkan." Ucapnya nyengir

Mungkin, kali ini Shein tidak memiliki alasan lagi. Walau pun belum ada rasa keinginan dalam menikah. Apa lagi mengenal wanita untuk dijadikan calon istrinya. Walau pun banyak wanita yang suka mendekatinya tanpa merasa malu.

Sebuah kata kuli, mungkin tidak di hiraukan para wanita yang terpesona oleh dirinya. Kesibukan Shein juga bermaksud untuk menghindari hal-hal yang buruk. Takut jika dirinya melakukan kesalahan terhadap wanita yang selalu datang menggoda.

...

"Abang aku wisuda kemarin. Jadi terlalu banyak hadiah di kosan ini. Maklumlah, Abang aku terlalu tampan mungkin." Aisyah terkekeh menyusun beberapa hadiah buket dan lainnya itu

"Keren banget ya. Banyak loh ini." Zenitha ikut menyusun barang-barang milik abangnya Aisyah

Tertawa bersama, dan ikut membuka beberapa kado yang berisi surat. Ada beberapa surat cinta yang terdapat dari beberapa kado itu. Mereka membacanya dan tertawa 

"Mereka berani ya nyatakan cinta ke Abang, kamu. Ngasih coklat, boneka, bahkan sampai baju-baju mahal begini." Zenitha memerhatikan beberapa merek baju yang ada. Zenitha faham betul jika baju itu memiliki harga yang lumayan

"Aku malah tidak tahu, Zent." Sahut Aisyah

"Lumayan sih ini harganya. Aku jadi penasaran sama Abang, kamu." Ucap Zenitha

"Hem, salahnya sih dia gak balik ke kosan hari ini. Mungkin dia nganterin ayah aku pulang ke kampung Chuan." Jelas Aisyah

Zenitha mengangguk, memilih untuk meletakkan kembali barang yang dia pegang. Berbaring di kasur kecil di depan tv. Entah kenapa, Zenitha merasa nyaman dengan aroma kasur itu. Karena kasur itu tempat abangnya Aisyah tidur. Karena hanya ada satu kamar di kosan mereka. Apakah memang aroma orang tampan itu melezatkan?

"Kenapa, Zent?" Aisyah merasa heran dengan sikap aneh Zenitha

"Tidak apa-apa. Aku tunggu disini ya, Ai. Kamu, susun lagi aja barangnya."

"Yaudah, bentar ya. Biar terlihat rapi." Sahut Aisyah tersenyum

Aisyah menyusun rapi beberapa boneka dan buket di meja tv itu. Terlihat begitu indah, dan tidak terlihat seperti barang milik seorang pria.

"Kalau ibu tahu, ibu akan mengira ini semua barang aku." Aisyah terkekeh dan memotret beberapa gambar dari benda yang dia susun rapi itu. "Kirim ke ibu ah." 

Zenitha berbalik arah, memerhatikan Aisyah di depannya. "Apa tanggapan ibu, kamu, soal ini?" 

"Sudah biasa, Zent. Paling tertawa geli." Ucapnya terkekeh

"Benarkah? Wow. Seperti apa sih Abang, kamu, itu. Kenapa banyak wanita yang naksir sama dia. Apakah lebih tampan dari Abang Kuli?" Tanya Zenitha yang kembali telungkup di kasur itu

"Entahlah, Zent. Tapi Abang aku memang ampan sih, dia mirip kakek waktu muda dulu. Kata ibu aku sih gitu." Sahutnya

"Sekarang kerja dimana?" Tanyanya lagi. Entah kenapa Zenitha mendadak semakin penasaran sama abangnya Aisyah

"Aku juga gak tahu, gak pernah kepo sih aku. Paling juga dia sekedar pamit doang." Jelas Aisyah

Zenitha mengangguk, memainkan handphonenya untuk chatting-an dengan Shein. Hari ini hari terakhir pengerjaan di rumahnya.

"Zenith, sebentar ya. Aku gerah banget, harus mandi nih." Aisyah membuka hijabnya, menunjukkan keringat yang membasahi wajahnya itu

"Oke." Sahutnya tersenyum

Selagi Aisyah di kamar mandi. Zenitha masih asik dengan handphonenya. Sampai dia berinisiatif untuk membantu Aisyah. Menyapu ruang tamu yang kecil itu. Akibat membongkar kado-kado sang Abang, membuat lantainya terasa kotor.

Mencoba untuk menyapu dengan perlahan. Karena Zenitha tidak pernah menyapu rumah sekali pun. Mencoba membereskan kertas-kertas kado itu. Terbiasa akan kebersihan dan kerapian, membuat Zenitha risih jika harus menunggu Aisyah selesai.

"Tidak berkeringat. Ternyata simpel, walau pun sedikit kesulitan. Mungkin karena belum pernah." Ucap Zenitha yang kembali meletakkan sapu di tangannya

Penasaran dengan abangnya Aisyah, membuat Zenitha berkeliling di ruangan kecil itu. Mencoba mencari sebuah foto yang mungkin aja ada. Tapi, sepertinya memang tidak ada.

"Hey, ngapain?" 

"Lihat-lihat aja." Sahut Zenitha tanpa menoleh kearah Aisyah

Aisyah tidak memperdulikan Zenitha, memilih untuk kembali ke kamarnya. Menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah Zenitha. Karena Aisyah akan menginap untuk menemani Zenitha.

Zenitha melangkah mundur, memerhatikan surat cinta itu lagi. Beberapa barang yang cukup membuatnya terpikat dan juga  memakan sebungkus coklat yang merupakan hadiah juga.

Sakin asiknya mendengarkan musik dan memakan coklat. Tanpa dia sadari jika ada seseorang yang baru masuk kedalam rumah itu.

Zenitha memasang earphone di telinganya. Membuatnya tidak mendengar ada yang mengucap salam dari luar. Aisyah sendiri menjawab dengan suara pelan. Tahu jika sang Abang kembali, dan mempercepat kegiatannya.

Zenitha kembali mencari sesuatu, sakin penasaran dengan abangnya Aisyah. "Tidak ada." Ucapnya

Zenitha memilih untuk kembali keruang tamu, sampai tidak sadar jika ada yang ingin kearah dapur juga.

Brak!

"Huaaa!" Teriak histeris Zenitha

"Hey!" Tegas pria itu

Hampir saja Zenitha lari ngibrit. Menabrak Abang Aisyah yang tidak terlihat. Entah karena dirinya yang tidak memerhatikan atau memang salah kain pintu yang menjuntai panjang itu.

Zenitha mengibaskan tangannya, mencoba lepas dari kain pintu itu. 

"Siapa, kamu!" Tegas pria itu yang menarik tangannya yang hampir terjatuh

"Astaghfirullah." Ucap Zenitha kaget. Seperti horor saja pikirnya

"Ada apa sih?" Tanya Aisyah

Episodes
1 terpesona
2 Tentang Shein
3 memiliki teman baru
4 mencari Shein
5 kuli meresahkan
6 mengetahui sesuatu
7 Modus sang Queen
8 modus
9 siapa dia
10 rencana baru
11 di culik?
12 tenaga Kuli
13 Ulah Bryant
14 bukti kuat
15 Pesona Shein
16 terpuruk
17 Di paksa nikah terus
18 next
19 ketemuan
20 menikah
21 akhirnya sah
22 nten bayu
23 Shein pria belok
24 belajar masak
25 romantis
26 ldr
27 veltian
28 zenitha bocil
29 usaha penculikan
30 Ehemz
31 penculikan
32 Shein marah
33 Ke Desa Chuan
34 Jahilnya Abang Shein
35 Kejahilan Shein
36 ngambekan
37 Bucin
38 Liburan
39 honeymoon kacau
40 LDR
41 melepas rindu
42 kejutan untuk Zenitha
43 kembali pulang
44 Aisyah
45 Aldo tercengang
46 veera modus
47 Litha
48 ketemu Litha Lagi
49 jebakan Litha
50 lahiran
51 Bayi kembar
52 Aisyah dan Lulu
53 niat lamaran Lulu
54 mengurus bayi kembar
55 pernikahan Aisyah dan Lulu
56 Kado aneh dari Shein dan Zenitha
57 pesona
58 suami idaman
59 Alfa dan Alfi
60 Alfi di bully
61 Adik manja
62 ada Zidan
63 keberanian Alfi
64 ikatan batin si kembar
65 skakmat pedas!
66 terpesona oleh Juna
67 Belajar bareng Juna
68 selalu sigap
69 Gendongan pertama
70 tragedi Alfi
71 Alaska?
72 Alfi menghilang
73 di hutan
74 di gendong Juna lagi
75 belanja bareng
76 Alfa hampir diculik
77 Nikah
78 Dikira cupu ternyata?
79 Alfa keren
80 Nyaris diculik
81 Dikejar mafia lagi
82 Juna tertembak
83 Zeezi dan Qaseem
84 Sekolah baru
85 bukan pistol biasa
86 guru Oppa BTS
87 kesabaran Alfi sudah habis
88 Alfi jatuh cinta
89 Perkara sambal di wajah Alfa
90 keraguan Juna
91 ternyata Alfa
92 melepas rindu
93 ketahuan
94 Alfa cemburu dengan Juna
95 cemburu
96 keributan di sekolah
97 Austine
98 markas Austine
99 kegilaan Juna
100 aksi
101 tertembak lagi
102 Draft
103 ketemu kembali
104 kebingungan Alfi
105 ultah
106 Kuli
107 alfa
108 gombalan alfa
109 kembalinya Juna
110 skip
111 karena Afifah
112 Alfa
113 magister
114 ketahuan
115 kecelakaan Afifah
116 melamarnya
117 melamarnya 2
118 perkenalan
119 lamaran di desa
120 pernikahan alfa
121 honeymoon
122 pengantin baru
Episodes

Updated 122 Episodes

1
terpesona
2
Tentang Shein
3
memiliki teman baru
4
mencari Shein
5
kuli meresahkan
6
mengetahui sesuatu
7
Modus sang Queen
8
modus
9
siapa dia
10
rencana baru
11
di culik?
12
tenaga Kuli
13
Ulah Bryant
14
bukti kuat
15
Pesona Shein
16
terpuruk
17
Di paksa nikah terus
18
next
19
ketemuan
20
menikah
21
akhirnya sah
22
nten bayu
23
Shein pria belok
24
belajar masak
25
romantis
26
ldr
27
veltian
28
zenitha bocil
29
usaha penculikan
30
Ehemz
31
penculikan
32
Shein marah
33
Ke Desa Chuan
34
Jahilnya Abang Shein
35
Kejahilan Shein
36
ngambekan
37
Bucin
38
Liburan
39
honeymoon kacau
40
LDR
41
melepas rindu
42
kejutan untuk Zenitha
43
kembali pulang
44
Aisyah
45
Aldo tercengang
46
veera modus
47
Litha
48
ketemu Litha Lagi
49
jebakan Litha
50
lahiran
51
Bayi kembar
52
Aisyah dan Lulu
53
niat lamaran Lulu
54
mengurus bayi kembar
55
pernikahan Aisyah dan Lulu
56
Kado aneh dari Shein dan Zenitha
57
pesona
58
suami idaman
59
Alfa dan Alfi
60
Alfi di bully
61
Adik manja
62
ada Zidan
63
keberanian Alfi
64
ikatan batin si kembar
65
skakmat pedas!
66
terpesona oleh Juna
67
Belajar bareng Juna
68
selalu sigap
69
Gendongan pertama
70
tragedi Alfi
71
Alaska?
72
Alfi menghilang
73
di hutan
74
di gendong Juna lagi
75
belanja bareng
76
Alfa hampir diculik
77
Nikah
78
Dikira cupu ternyata?
79
Alfa keren
80
Nyaris diculik
81
Dikejar mafia lagi
82
Juna tertembak
83
Zeezi dan Qaseem
84
Sekolah baru
85
bukan pistol biasa
86
guru Oppa BTS
87
kesabaran Alfi sudah habis
88
Alfi jatuh cinta
89
Perkara sambal di wajah Alfa
90
keraguan Juna
91
ternyata Alfa
92
melepas rindu
93
ketahuan
94
Alfa cemburu dengan Juna
95
cemburu
96
keributan di sekolah
97
Austine
98
markas Austine
99
kegilaan Juna
100
aksi
101
tertembak lagi
102
Draft
103
ketemu kembali
104
kebingungan Alfi
105
ultah
106
Kuli
107
alfa
108
gombalan alfa
109
kembalinya Juna
110
skip
111
karena Afifah
112
Alfa
113
magister
114
ketahuan
115
kecelakaan Afifah
116
melamarnya
117
melamarnya 2
118
perkenalan
119
lamaran di desa
120
pernikahan alfa
121
honeymoon
122
pengantin baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!