Berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan lamanya. Mereka berperang lewat hukum. Berkali-kali keluarga Sham mencoba mengalahkan mereka. Dan mereka juga tetap berjuang, sampai Aisyah sendiri menjadi saksi. Begitu pun dengan Shein.
Sangat melelahkan sekali, sampai kasus itu terus muncul di semua media. Berita besar yang cukup mengguncang berita di kota Chend.
"Akhirnya ... Bryant di pidana juga." Ucap Demi yang melihat siaran langsung itu
"Bapak, sudah tenang sekarang? Mereka sudah mendapat hukuman yang setimpal." Sahut Shein
"Iya, tapi kasihan dengan keluarga Liand. Mereka cukup merasa malu dengan kasus ini. Apa lagi ada banyak rumor dan berita simpang siur mengenai putri semata wayangnya itu."
"Nanti akan ada titik pencerahannya, pak. Bapak, jangan berpikir aneh-aneh. Kesehatan, bapak, lebih penting." Jelas Shein
"Shein, ambil berkas di dalam laci itu." Demi menunjuk kearah laci yang dia maksud
Shein langsung nurut dan mengambil berkas yang sudah tersusun rapi itu. "Ini, pak?" Tanyanya
Demi mengangguk. "Bisa berikan kepada Liand? Itu salah satu proyek yang pernah kami kerjakan, tapi gagal karena suatu masalah. Kamu, bisa melanjutkannya bukan?" Ucap Demi dengan tatapan penuh harap
Shein takut menolak, tapi dia pun tidak mengerti dengan pekerjaan seperti itu. "Ini apa, pak? Saya tidak akan mengerti selain ilmu arsitektur." Jelasnya
Demi terkekeh menepuk pelan bahu Shein. "Sebuah rancangan untuk pembangunan rumah sakit. Kami berdua merancang itu semua untuk masa depan. Rumah sakit berkualitas yang bisa di terima dari kalangan bawah sekali pun. Meringankan beban mereka yang sulit untuk berobat." Jelasnya
"Oh, oke." Sahut Shein
"Kamu, kerjakan proyek lainnya, nak. Saya, sudah tidak bisa melakukan banyak hal lain. Kalau ingin lanjut S3, saya bisa urus sampai selesai. Sebelum saya minggat dari dunia manusia." Ucpanya terkekeh
"Ya Allah, bapak. Kenapa bicara begitu."
"Jangan di pikirkan, cepat pergi sana. Itu butuh waktu lama, ada beberapa proyek yang harus diselesaikan. Semua dana sudah saya urus. Amanah jadi anak, Shein. Kamu, satu-satunya harapan saya."
"Insya Allah, pak." Sahut Shein lirih
Shein mencium takjim tangan Demi, berpamitan untuk pergi menemui Liand dan yang lainnya. Mencoba meneruskan semua impian Demi yang masih belum terlaksana.
...
Pertemuan antara banyaknya orang-orang sukses membuat Shein menjadi canggung. Belum pernah bertemu dalam keadaan formal. Bertemu langsung dengan orang sosialita yang begitu berpengaruh di kota Chend.
"Kenapa tidak belanja baju, nak. Kita juga harus bisa menyesuaikan diri bukan?" Demi menjejalkan beberapa jas yang sudah tidak bisa dia gunakan lagi
"Ini hadiah pertama kakek-mu dulu. Waktu saya selesai kuliah dan langsung bekerja sama dengan mereka. Cukup keren, coba pakai dengan benar." Ucapnya lagi
"Bukankah ini terlalu berlebihan, pak? Saya merasa sedikit canggung." Sahut Shein
"Tidak apa-apa, nak. Cobalah, ini pantas untukmu."
"Baiklah." Shein mencoba kemeja dengan paduan jas berwarna gelap
"Sangat mendominasi." Demi bertepuk tangan melihat penampilan Shein. "Kamu, sudah siap sekarang. Rapikan sedikit rambutmu." Ucapnya
Shein menyisir seusai arahan Demi, cukup tampan pikirnya. Tidak pernah memperdulikan penampilan selama ini, membuat Shein sedikit aneh jika berdandan. Sesuai arahan Demi, cukup pintar ayah angkatnya ini.
"Selera, bapak, luar biasa ya." Ucapnya terkekeh
"Saya pernah muda, tentu pernah berpenampilan menarik untuk memikat kaum wanita. Sekarang sudah menua, harusnya, kam,u yang mewarisi ini." Sahutnya ikut terkekeh pula
"Shein pergi dulu, pak."
"Jangan lupakan semua berkas itu, nak. Saya cukup lelah merancang semuanya." Tegas Demi
Shein tersenyum dan menunjukkan berkas penting yang dia pegang itu. "Assalamu'alaikum, pak."
"Wa'alaikumsalam. Semoga sukses!" Tegasnya menyemangati
Shein melangkah dengan gagahnya, auranya terlihat sangat berbeda dalam penampilan yang baru. Akibat style pilihan Demi semasa mudanya.
Shein menggunakan salah satu mobil milik Demi. Tentu karena sebuah perintah dari Demi sendiri. Jika tidak, Shein akan menolak dan tidak berinisiatif untuk meminjam mobilnya itu. Mungkin, Demi tidak ingin mempermalukan anaknya ini.
Shein mampir sejenak di kampus adiknya, menjemputnya untuk pulang ke kosan mereka. Aisyah sendiri tidak pernah di ijinkan oleh Shein, untuk membawa motor sendiri. Shein terlalu takut membebaskan sang adik. Apa lagi pergaulan di kota sangat berpengaruh untuk masa depan sang adik.
Ting!
Sebuah pesan notifikasi dari sang adik
”Abang, lama banget. Adek udah nunggu nih, banyak tugas loh.”
Sebuah pesan suara yang terdengar jelas olehnya.
Shein tidak membalas pesan itu, kampus sang adik semakin terlihat jelas olehnya. Memiliki adik yang cukup bawel, sangat membuat Shein pusing. Omelannya bahkan lebih parah dari sang ibu yang lemah lembut dengannya.
Shein melihat sang adik yang berdiri di gerbang kampus. Menghentikan laju mobil itu di sebelah sang adik.
Aisyah celingukan, merasa heran dengan mobil mewah yang menghampiri dirinya
"Buruan." Tegas Shein
"Waduh, kirain siapa." Aisyah langsung berlari dan duduk di sebelah kemudi Shein. "Abang, ada kerja hari ini?" Tanyanya dengan tatapan serius
"Mau menggantikan pak Demi. Kamu, jangan keluar jika tidak terlalu penting. Kemungkinan abang pulang sedikit lama." Jelas Shein
"Abang, keren banget deh. Hati-hati, entar di culik tante-tante loh." Kekehnya
"Heh!" Shein melotot mendengar ucapan sang adik
Aisyah terkekeh menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Kalau ketemu Zenitha, bisa pingsan dia ngeliat ketampanan, Abang."
"Kenapa selalu Zenitha? Tidak ada wanita lain?"
"Banyak sih, tapi berbeda dari dia. Dia sedikit pemalu, polos, dan yah ... Udah pasti manja. Tapi, sejauh ini sih ... Dia lumayan, cukup mudah untuk di bimbing." Jelas Aisyah
"Kenapa di kaitkan dengan Abang?"
"Karena dia sukanya, Abang." Sahut Aisyah terkekeh
"Gak mutu obrolan, kamu." Ketusnya
Aisyah terkekeh melihat wajah kesal sang Abang. Pasalnya, Shein sangat tidak suka jika di kaitkan dengan Zenitha. Wanita manja yang cukup merepotkan baginya. Semua yang dia lakukan hanya untuk menjaga dirinya dari keluarga Liand sendiri.
Sesampainya di kosan, Shein meninggalkan sang adik. Pergi bertemu dengan beberapa orang penting untuk tugas dari Demi. Menjalankan kembali proyek yang belum sempat mereka kerjakan.
Meneruskan apa yang diimpikan oleh Demi. Dan apakah Shein mampu mengerjakan semua proyek bangunan itu? Belum lagi ada proyek yang dia jalankan sendiri. Perlahan Shein memulai karirnya sebagai seorang arsitek.
Kemampuannya membuat orang lain tidak segan untuk menunjuknya menjadi arsitek pilihan mereka. Sebuah usaha yang luar biasa bagi Shein. Perjuangan yang tidak mudah, dari membiayai semua ilmu yang dia gapai. Dan juga pengalaman kerja yang mampu menyulitkan dirinya untuk membagi waktu.
Sebuah perjuangan tidak akan mengecewakan, sesuai kadar kemampuan dan usaha yang di ciptakan. Shein menghargai dirinya sendiri, merasa bangga atas apa yang dia capai. Demi menaikan derajat orang tuanya yang sering terpuruk dalam segi ekonomi.
Sesekali, bahkan Shein mulai mengirimi uang kepada ayah dan ibunya. Menjadi petani disawah, di usia yang semakin menua. Membuatnya merasa kasihan, namun tidak bisa membantu terlalu berlebihan. Tanpa dia sadari, jika ada Demi yang sering membantu ayahnya juga.
Shein turun dari mobil milik sang ayah angkat. Semua mata tertuju padanya, penampilan yang berbeda membuat orang lain terkesima. Bahkan cukup mengganggu fokus para wanita yang di hadapannya.
Sekilas membalas senyuman para waiters wanita. Melangkah lebih cepat menemui teman Demi di restauran itu. Ujian paling sulit baginya adalah, bersembunyi agar tidak menjadi konsumsi mata kaum wanita. Meresahkan sekali Shein!
"Shein." Ucap Liand yang mulai akrab dengan dirinya
"Apa kabar semua."
"Baik."
"Wah, sangat menawan putra Demi." Ucap seorang pria dewasa
"Bukankah dia tidak memiliki anak?" Tanyanya yang lainnya
Liand tersenyum, merangkul Shein untuk duduk bersama mereka kaum bapak-bapak sosialita. "Ah, begini ... Ini anak angkat Demi." Jelas Liand
"Oh, anak angkat." Sahut mereka
"Sangat pintar memilih. Apakah seorang arsitek juga?" Tanya mereka
Shein mengangguk dan tersenyum. "Lulusan S2, pak." Sahutnya
"Wah, Master Arsitek. Mungkin saya bisa mengajaknya keluar negeri. Mengejar karir yang menjanjikan." Ucap seorang pria yang berwajah asing itu
Shein ikut tertawa seperti mereka. "Sepertinya saya belum bisa untuk saat ini. Saya bahkan belum memulai pendidikan lagi." Sahutnya
"Benar mau lanjut S3?" Tanya Liand dengan tatapan serius
Shein mengangguk dan tersenyum. "Insya Allah, pak."
"Auramu berbeda sekali, nak. Sepertinya akan banyak wanita yang tertarik denganmu." Ucap pria asing itu lagi
Shein tersenyum nyengir, bukan hanya akan saja. Nyatanya memang sudah menjadi pusat perhatian para wanita. Shein menyadari betapa sulitnya menjauhi wanita hanya bisa terkekeh.
”Jangan tambah lagi wanita ya Allah ... Gak kuat ujian ini.” batinnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments