****** SZ ******
"Abang."
Aisyah menatap abangnya yang asik dengan handphone dan teh di depannya. "Hem." Dehemnya
"Menurut, Abang, Zenitha itu gimana sih? Udah kenal juga kan kalian." Tanyanya
"Gimana apanya?" Shein menghentikan kegiatannya, memerhatikan adiknya yang sudah nyengir kuda. "Jangan terlalu ikut campur dengan mereka. Kit aorang susah, tidak akan bisa mengimbangi mereka. Jangan mencari masalah, Aisyah." Tegasnya
Aisyah mengemban kempiskan kedua pipinya. "Masalahnya, dia tertarik sama. Gimana?"
"Tidak mungkin, dek. Gak akan bisa bersatu juga, kasta kita beda sama mereka." Jelas Shein yang terlihat malas membahas tentang Zenitha
"Tapi kasihan loh, bang. Dia mau di jodohkan beberapa hari lag. Tiba-tiba aja Daddy-nya malah mau menerima lamaran itu. Padahal janjinya setahun lagi loh. Malah Zenitha gak suka lagi." Jelasnya
"Bukan urusan kita." Sahut shein
"Emang, Abang, udah punya calon?" Tanyanya lagi
"Sudah." Sahut Shein dengan santainya
"Yah, kasiannya Zenitha. Yaudah deh kalau begitu." Aisyah melangkah ke kamarnya, meninggalkan sang Abang yang duduk santai di ruang tamu kecil itu
Drrrt!
Aisyah memandang nama yang tertera di layar handphonenya itu. Terdapat nam Zenitha yang sedang menelpon.
”Assalamu'alaikum, Zent.” Ucapnya menerima panggilan dari Zenitha
”Wa'alaikumsalam.” Sahutnya dengan suara serak
”Lah, kenapa. Kok suaranya aneh gitu.” Aisyah merasa ada yang aneh dengan suara serak dari Zenitha
”Tolong aku dong. Aku lagi dijalan mau ke rumah, kamu.”
”Eh, ngapain. Lagi hujan loh ini.”
Tut!
”Hallo ... Hallo ... Zenith.”
Aisyah memandang handphone itu, ternyata Zenitha sudah memutuskan panggilannya. Seketika Aisyah menjadi khawatir dengannya. Tidak pernah Zenitha menelpon sambil menangis begitu. Apa lagi dia hujan-hujanan pergi ke rumahnya.
Aisyah berlari menemui abangnya, mungkin akan membuatnya sedikit merasa tenang.
"Abang." Ucapnya
Shein hanya melihat adiknya itu, meletakan handphonenya di atas kasur. "Kenapa lagi?"
"Zenitha mau kemari, bang. Lagi di jalan." Ucapnya
"Loh? Mau ngapain, ini gerimis loh. Malah mau deras lagi, kosan pun sedikit bocor." Jelas Shein
Aisyah duduk di sebelah abangnya. Menyentuh tangan sang Abang dengan tatapan khawatir. "Dia nelpon sambil nangis loh, bang. Adek khawatir banget nih." Ucapnya
"Lagian, kamu, ngapain sih bisa akrab sama dia. Abang, takut kita dapat masalah dari keluarga Liand. Kamu, tahu sendiri kan kalau mereka itu sangat berpengaruh di kota ini." Jelas Shein yang ikutan khawatir
Drrtt!
"Handphone." Ucap Shein
Aisyah memandang layar handphonenya lagi, dan Zenitha kembali menerima panggilan itu.
"Hallo, Zenith." Ucapnya dengan nada khawatir
"Ai, aku tersesat. Aku di warung kosong nih." Ucapnya
"Ha? Emang, kamu, sendirian?" Tanyanya Aisyah yang semakin panik
"Ai, jemput aku dong. Herry di bawa mereka, tolong please. Aku kedinginan." Ucapnya dengan suara gemetar
"Zenitha."
Panggilan kembali terputus, membuat Aisyah menjadi semakin panik.
"Yah, malah mati lagi." Ketusnya
"Apa lagi sih!" Sahut Shein yang merasa bosan dengan tingkah adiknya itu
"Bang, jemput Zenitha cepat. Dia di warung kosong katanya, mungkin di warung yang tidak di pakai lagi itu. Bodyguardnya di culik. Mungkin mereka di begal atau apa gitu, bang. Zenitha ketakutan banget, bang. Buruan." Aisyah mendorong tangan abangnya dengan wajah khawatir
"Ya Allah ... Bodyguardnya itu bukan orang sembarangan, masa kalah sama begal sih." Sahut Shein yang merasa tidak masuk akal. Atau Zenitha akal-akalan agar bisa bertemu dengannya pikir Shein
"Jangan terlalu positif deh, bang. Dia udah menggigil loh, lagi sembunyi di warung itu. Cepat, bang!"
"Iya-iya!" Sahutnya yang langsung bangkit dari kasurnya itu
Aisyah memberikan jaket anti air milik sang Abang. Dengan cepat Shein pun menyalakan mesin motor matic miliknya. Sangat menyusahkan pikir Shein.
"Hati-hati, bang." Ucap Aisyah yang memerhatikan kepergian abangnya
Kali ini, Shein akan berkeliling mencari warung kosong yang dikatakan oleh Zenitha. Walau pun ada beberapa warung kosong di daerah itu. Bukankah itu cukup menyulitkan Shein? Apa lagi dalam keadaan hujan yang semakin deras.
Shein mulai berkeliling, memeriksa beberapa warung kosong yang dia temui. Namun, Zenitha tidak ada disana. Kembali Shein melajukan motornya, mendatangi lagi warung kosong yang lain.
Warung kosong ke tiga, Shein tidak melihat ada Zenitha juga. Shein semakin kebingungan, dimana Zenitha sebenarnya. Shein hanya tahu ada tiga warung kosong ini.
"Dimana lagi aku cari wanita manja itu." Ucapnya
Shein mengusap kasar wajahnya yang terkena air hujan. Memakai kembali helmnya, membenarkan jaketnya dan kembali mencari.
"Menyusahkan!" Ketusnya
Hari semakin malam, bahkan Shein sampai melewatkan waktu isya saat ini. Ingin kembali, tapi Zenitha masih belum ditemukan olehnya.
Sampai akhirnya Shein menemukan satu warung yang terlihat kosong. Menghentikan motor maticnya di depan warung itu. Celingukan untuk mencari Zenitha, Shein langsung turun memilih untuk melihat lebih dekat.
Shein membuka helmnya, mengintip disela-sela warung yang sudah hampir rubuh itu. Mungkin memang sudah lama di tinggalkan pemiliknya. Mencoba membuka pintu yang bahkan tidak terpasang dengan benar itu.
Brak!
"Allah!"
Shein mengelus dadanya, hampir saja papan dari dinding warung itu menimpa dirinya. Menggelengkan kepalanya, dan melangkah masuk. Dan akhirnya, Shein menemukan wanita yang sedang memeluk lutut disudut bangunan yang telah usang itu.
"Apa dia, Queen?"
Shein mencoba mendekat. "Assalamu'alaikum." Ucapnya yang tidak ada balasan sama sekali.
Shein mencoba menyentuh bahu wanita itu, dan seketika wanita itu terjatuh ke lantai yang kotor karena debu yang tebal.
"Eh."
Shein memerhatikan wanita yang menggunakan pashmina itu. Ternyata benar, dia adalah Zenitha yang sudah pingsan.
"Queen. Hey!" Shein mencoba membangunkannya, menepuk pelan kedua pipinya. "Zenitha, bangun." Ucapnya dengan suara tegas
Shein mencoba menarik tangannya, membuat Zenitha sedikit terduduk. Mencoba lagi untuk membangunkan, karena jika pingsan akan menyulitkan dirinya untuk membawa pulang.
"Zenitha, Hey."
Perlahan Zenitha membuka matanya, dengan tubuh lemas dan berusaha untuk tersadar. Samar-samar Zenitha melihat Shein yang menahan tangannya.
"Huaa .... Jangan!" Teriaknya yang mencoba melepaskan tangan Shein
"Hey, apaan! Ini saya." Tegas Shein
Zenitha meringkuk tanpa melihat siapa yang ada di depannya saat ini. "Jangan culik saya, Please. Saya akan kasih apa yang kalian mau." Ucapnya lirih
"Zenitha, ini saya Shein." Ucap Shein yang mencoba menenangkan Zenitha
"Shein?" Zenitha mencoba mengintip dari celah tangannya. "Abang Shein?" Ucapnya
"Iya, ini saya." Tegas Shein
"Ya Allah ... Syukurlah." Ucapnya lirih. Zenitha merasa lega saat ini, akhirnya dia selamat.
"Ayo, Aisyah sudah menunggu." Ucapnya
Zenitha mencoba bangkit, mengikuti langkah Shein keluar dari persembunyiannya di warung kosong itu.
Shein menyingkirkan beberapa papan dan kayu yang menghalangi mereka. "Hati-hati." Ucapnya yang memberikan jalan untuk Zenitha
Zenitha menunduk, melangkah dengan hati-hati untuk keluar dari warung itu.
Brak!
Shein membuang asal papan itu, menyusul Zenitha yang menunggunya di luar. "Bahaya, kamu, kalau terlalu lama di dalam sini. Bisa aja tertimpa kayu-kayu." Ucap Shein yang melepas jaketnya itu
"Pakek aja." Ucapnya yang memberikan jaket itu
Zenitha memandang pemberian Shein. Menerimanya dan langsung memakainya. "Terimakasih, Bang." Ucapnya dengan suara lirih
"Jaga jarak." Ucap Shein yang sudah menaiki motor maticnya
Zenitha menggaruk kepalanya, ikut naik di boncengan. Harus berjaga jarak pikirnya. Sampai Zenitha benar-benar melakukan itu. Menghargai apa yang di ucapkan Shein.
"Mungkin mereka masih mencari saya, bang. Bisa lebih cepat sedikit?" Ucap Zenitha yang masih merasa khawatir
"Jalanan licin." Sahut Shein
Zenitha memerhatikan jalanan yang mulai sepi karena hujan. Entah kenapa dia merasa ada yang mengikuti mereka. "Perasaan saya gak enak, bang." Ucapnya lagi
Ada apa ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments