***** Queen Zenitha Aureliand *****
"Kamu, bisa ikut aku. Aku akan tunjukkan siapa Abang Kuli yang aku sukai itu."
Zenitha membawa Aisyah untuk ikut melihat bangunan yang dia miliki itu. Mencoba mencari keberadaan Shein, dan menunjukkan betapa tampannya pria yang memikat hatinya.
"Kamu, sungguh tergila-gila dengannya, Zenith."
"Sepertinya begitu, aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya." Jelasnya
Mereka melangkah mendekati area pembangunan. Di temani oleh beberapa bodyguard yang selalu setia menjaga Zenitha. Hanya saja, mereka sudah terbiasa dan tidak perduli jika bodyguard itu mendengar ucapan mereka. Mereka hanya menganggap para bodyguard itu seperti patung yang tidak bisa mendengar.
"Diamana?" Aisyah mulai bosan, mereka berkeliling tapi belum bertemu dengan pria kuli itu
"Aku juga tidak tahu."
"Namanya siapa sih? Kan bisa bertanya kepada mereka." Ucap Aisyah
"Tidak tahu."
"Ha?" Aisyah melongo memandang Zenitha. "Bisa-bisanya suka sama orang, tapi gak tahu siapa namanya. Sangat aneh sekali, Zenith." Sahutnya
"Hemm, mungkin lain kali. Dan aku, merasa takut jika tidak bertemu lagi dengannya."
"Emang kenapa? Bukannya banyak pria tampan yang mungkin saja bisa menjadi suamimu nanti." Ucap Aisyah
"Tidak, Ai. Aku tidak suka mereka, aku hanya di jadikan bahan pekerjaan doang. Sebagai tali pengikat, faham tidak?" Jelasnya
"Emm, faham sih. Tapi ... Dari pada sama kuli, kayaknya bakal berat juga, zent." Sahut Aisyah
Zenitha mulai merengut seperti anak kecil. "Apakah aku merindukan dia, Ai? Baru sekali aku bertemu dengannya."
Aisyah kembali merasa heran. "Baru sekali? Emang, kamu, ingat wajahnya?"
Zenitha mengangguk penuh keyakinan. "Tentu, dia pria tampan yang pertama kali aku temui. Bagaimana aku bisa lupa?" Jelasnya
"Ya Allah, hamba-mu ini semakin jauh." Sahut Aisyah terkekeh
"Setidaknya aku bisa pacaran sama dia kan, Ai?"
"Gak boleh pacaran, Zent. Jangan mencintai lewat jalur haram deh. Gak ada berkahnya, yang ada hanya mudharatnya." Jelas Aisyah
"Iya, ustadzah." Sahut Zenitha terkekeh
"Sholat dulu yuk, kamu, muslim kan?" Tanya Aisyah dengan cengiran
"Aku masih keturunan Melayu, mana mungkin gak muslim. Yah ... Walau pun Daddy aku keturunan barat. Lagian, mommy aku pakai kerudung." Jelasnya
"Lagian, kamu, gak mau pakai kerudung sih. Setahu aku ya, keturunan Melayu itu taat sama agama loh." Ucap Aisyah yang menahan tawanya
"Ih, kamu, ngejek aku ya, Ai. Makanya, kamu, yang ajarin aku dong. Biar Daddy dan mommy aku kaget." Sahutnya
"Boleh juga. Asalkan niat dalam hati, karena ini kewajiban muslimah." Jelasnya
"Siap ustadzah." Sahut Zenitha dengan semangat. "Kalau aku pakai kerudung kayak, kamu. Apakah aku secantik, kamu, juga?"
Aisyah terkekeh sampai berhenti melangkah. Memandang Zenitha dengan lucu. "Yang namanya wanita itu ya cantik, Zent. Kamu, ini aneh-aneh aja sih."
Mereka berdua menyebrang jalan, sholat Zuhur di masjid depan gedung yang masih tahap pembangunan itu. Mereka berdua pergi ke kamar mandi wanita. Dan seketika Zenitha melihat Shein yang baru keluar dari masjid.
Zenitha terlihat kebingungan, ingin memanggil Aisyah tetapi Asiyah lagi berwudhu. Ingin mengejar, tapi Zenitha juga faham betul. Tidak mungkin mengejar pria yang tidak dia kenal.
"Eh, kenapa bengong. Buruan wudhu, udah lewat waktu nih." Tegas Aisyah
Zenitha langsung berlari, dan Aisyah lebih dulu masuk ke masjid. Menunaikan sholat Zuhur, tanpa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Zenitha.
Selesai wudhu, Zenitha langsung menyusul Aisyah. Sampai selesai, mereka memilih untuk pergi ke kosan Aisyah. Zenitha sangat penasaran seperti apa kosan Aisyah. Dan kenapa Aisyah selalu menolak hanya karena takut Zenitha tidak nyaman di kosan itu.
"Dia gak ada, karena sholat di masjid, Ai."
"Lalu?"
"Tidak mungkin kan aku panggil dan kejar dia. Malu, Ai, apa lagi ada mereka nih. Sebel aku!" Ketusnya
Aisyah terkekeh menepuk punggung Zenitha. "Kamu, ada-ada aja sih."
"Sebel banget, kenapa gak bisa ngobrol gitu sama dia. Minimal tanya namanya siapa, jadi aku bisa berdoa kan. Benar tidak?"
Aisyah terkekeh melihat wajah imut Zenitha. Zenitha seperti wanita polos, sama seperti anak kecil yang mulai pubertas. Merasakan cinta monyet di masa SMP.
"iya, Zent. Doakan dan sebut namanya, semoga berjodoh." sahut Aisyah terkekeh geli
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments