Bram!
Cipratan air seketika mengenai mereka, mobil yang begitu kencang dan langsung berhenti di depan mereka. Dengan cepat Shein menghentikan laju motornya. Hampir saja ketabrak.
"Buruan, bang. Itu mereka." Ucap Zenitha yang memukul punggung Shein
Shein kembali melajukan motornya, dan dengan sigapnya beberapa dari mereka langsung menghadang. Membuat Shein kesulitan untuk mengatur laju motornya
"Hey!" Teriak Shein yang melihat kedua orang itu sudah memegangi motor maticnya
"Turun kalian!" Tegas mereka
"Siapa kalian?" Tanya Shein
"Bacot!"
"Eh, lepas!"
Zenitha menarik kaos Shein, mencoba untuk memberontak dari tarikan seorang pria itu. Lantas, Shein ikut menahan tangannya. Menatap dengan marah perbuatan kasar pria itu.
"Apa mau kalian!" Tegasnya
Shein ikut menarik Zenitha, sampai motornya terjatuh ke aspal. Dan terjadilah tarik menarik memperebutkan Zenitha.
"Jangan ikut campur!" Teriak pria itu
Buk!
Shein hampir tersungkur, menerima satu pukulan dari seorang pria lainnya. Dengan sigap Shein membalas, sampai mereka adu kekuatan di jalanan dengan hujan deras itu.
"Lepas!" Teriak Zenitha yang dipaksa untuk ikut mereka. Zenitha berusaha untuk tidak dibawa oleh mereka. Memberontak dan menggigit tangan pria itu
"Aaa! Sial!" Teriaknya
Zenitha berlari mendekati Sein yang masih adu pukulan dengan pria lainnya.
Buk!
Satu pukulan lagi, membuat pria itu tersungkur. Dengan cepat Shein menarik Zenitha untuk naik ke motornya lagi. Pria yang lain mengejar mereka, sehingga terjadi pertarungan sengit lagi.
Buk!
Buk!
Buk!
"Abang. Ya Allah ...." Zenitha menarik Shein yang ikut tersungkur
"Jangan melawan!" Teriak pria itu
Shein tidak diam saja, kini dia ikut marah akibat serangan kedua pria itu. Menghajar mereka juga sampai babak belur. "Jangan meremehkan tenaga kuli ya!" Tegasnya
Buk!
Shein memberikan satu pukulan di wajah pria itu. Membuat pria itu merasa pusing dan terhuyung jatuh di aspal.
"Ayo, cepat!" Ucap Shein
Shein menyalakan motornya, dengan cepat Zenitha ikut dengannya. Memandang beberapa mobil yang sudah terlihat. "Ayo, bang. Itu teman mereka." Ucapnya
Shein melajukan motornya dengan cepat, melaju dengan arah berbeda dari kosannya. Mencoba mengelabui beberapa orang yang mengejar mereka.
Shein melewati jalan yang sempit, berbelok kesembarang arah. Mencoba mencari keramaian. Sampai akhirnya mereka sampai di jalur ramai. Dan seketika itu lampu merah menyala.
"Halah!" Shein menepuk setang motornya. Mencoba menyalip beberapa kendaraan lainnya untuk bersembunyi
Zenitha mengintip lewat kaca spion motor Shein. Sepertinya mereka aman saat ini. "Tidak terlihat, bang." Ucapnya
"Alhamdulillah." Sahut Shein
Beberapa menit kemudian, lampu hijau menyala. Shein kembali melajukan motornya. Melewati jalur lain untuk menuju kosannya. Sampai mereka menjadi sangat lama karena mutar-mutar di kota itu.
Saking paniknya, mereka sampai lupa dengan rasa dingin yang membuat mereka menggigil.
"Ada tidak?" Shein bertanya lagi
Zenitha kembali melihat kearah belakang, terlihat aman. Bahkan tidak ada kendaraan lain selain mereka. "Aman, bang." Sahutnya
Dengan cepat Shein masuk kedalam jalur sempit. Melewati rumah-rumah yang terlalu rapat. Shein sangat berhati-hati, sampai mereka masuk ke jalur yang lebih luas. Dan Zenitha bisa bernafas dengan lega.
Mengelilingi rumah-rumah yang terlalu rapat, sampai akhirnya mereka sampai di kosannya. "Akhirnya." Ucap Shein yang merasa lega
Shein langsung mengehentikan motornya di depan kosannya. Aisyah membuka pintu itu, mebiarkan Shein untuk mengamankan motornya.
"Zenitha." Ucapnya yang langsung menarik Zenitha untuk masuk.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai kerumah kalian, Ai." Sahut Zenitha
Aisyah membantu Zenitha untuk melepaskan jaket abangnya. Kembali mengunci pintu setelah motor mereka aman. Takut jika motor itu terlihat dan berhasil di temukan oleh beberapa orang tadi.
"Abang?" Aisyah merasa heran dengan wajah abangnya terluka sedikit
"Suruh ganti dulu temannya. Kamar mandi cuman ada satu." Sahut Shein yang mulai terlihat menggigil itu
Aisyah langsung mengajak Zenitha untuk membersihkan tubuhnya. "Mandi dulu, nanti aku antarkan pakaian." Ucapnya
Zenitha mengangguk dan langsung masuk ke kamar mandi itu. Walau pun dia merasa kasihan dengan Shein yang menahan dingin karena ulahnya. Dan ada perasaan senang, karena Shein perduli juga dengannya.
"Kenapa jadi begini, bang? Sampai pucat begini lukanya." Ucap Aisyah
"Gak apa-apa." Sahut Shein yang menyiapkan baju gantinya
Tidak lama, Zenitha selesai. Menggunakan baju dan kerudung miliknya Aisyah. Tubuhnya masih terasa menggigil karena hujan-hujanan terlalu lama.
"Ini, minum dulu." Ucap Aisyah yang memberikan teh hangat kepada Zenitha
Zenitha duduk di atas kasur Shein, menyesap pelan teh hangat buatan Aisyah. "Terimakasih, ai. Rasanya nyaman sekali."
"Kenapa kok Abang sampai terluka?" Tanya Aisyah
"Aku mau di culik, gak tahu sama siapa. Yang jelas, waktu Herry mau ngasih bukti ke aku. Soal kejahatan Bryant, yang tidak di ketahui Daddy aku." Jelasnya
"Lalu, Herry?"
"Gak tahu deh. Mereka menghadang mobil aku, saat Herry mau melawan, tiba-tiba mereka keluar semua. Dan ternyata, mereka keroyokan. Aku langsung turun dari mobil dan kabur." Jelas Zenitha
Shein yang selesai mandi itu mendengar ucapan dari Zenitha. Menggosok rambutnya dengan handuk, mungkin dia terlalu kepo dengan masalah yang baru dia hadapi tadi.
"Hampir aku di bawa mereka, ada bapak-bapak yang nolongin juga. Dan aku-" Zenitha menghentikan ucapannya memerhatikan Shein yang berdiri dan bersender di dinding. Mengerikan rambutnya dengan handuk seraya mendengarkan penjelasan dari Zenitha
Aisyah memerhatikan tatapan Zenitha ke abangnya. Dengan cepat Aisyah mencubit pipi Zenitha untuk berhenti memandang abangnya. Shein sendiri langsung masuk ke kamar adiknya. Mungkin tidak baik juga jika membiarkan Zenitha terus memandang dia.
"Bisa-bisanya terpesona. Jelasin dulu ah!" Tegas Aisyah
"Ih." Zenitha mengusap pipinya yang di tarik Aisyah
"Daddy, kamu, udah tahu?"
"Gimana mau tahu? Aku juga baru pergi dari rumah. Padahal, lusa udah mau lamaran aku. Handphone aku kehabisan daya. Daddy gak bisa dihubungi, makanya aku hubungi, kamu." Jelasnya lagi
"Ya Allah." Aisyah mengelus lembut kepala Zenitha. "Apa kalian cuman berdua tadinya?"
Zenitha mengangguk. "Rencana gak lama juga keluar dari rumah. Tau-tau langsung di hadang mereka. Takut banget aku, Ai." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca
"Ya Allah ... Sukur gak apa-apa ya." Ucapnya lirih. "Oh iya Abang." Ucap Aisyah yang baru mengingat jika abangnya terluka
"Abang." Teriaknya
"Ya." Sahut Shein di dalam kamar
"Obati dulu lukanya." Ucap Aisyah yang menyiapkan obat
Shein keluar dari kamar meminta obat kepada Aisyah. "Mana?"
"Sini dulu." Aisyah menariknya untuk duduk di kasur. Membersihkan luka itu terlebih dulu. Mengompres memar yang ada di bawah matanya
"Sini Abang aja." Ucap Shein
"Bentar dulu!" Aisyah menolak dan memberikan obat merah itu. "Serem banget sih, bang. Sampai pecah begini bibirnya." Ucap Aisyah bergidik
Zenitha memerhatikan meraka berdua, merasa kasihan dengan Shein. Apa lagi luka itu ada karena menolong dirinya. "Terimakasih ya, bang, udah nolongin saya." Ucapnya lirih
"Hem." Shein hanya berdehem, menerima tindakan dari sang adik di wajahnya
"Udah. Mau istirahat?" Tanya Aisyah
Aisyah mengajak Zenitha untuk ke kamarnya. Membiarkan sang Abang istirahat di ruang tamu itu. Karena memang Shein tidur di kasur itu setiap harinya.
"Ayo, Zent."
"Kita di kamar, dan Abang di luar?" Tanya Zenitha yang merasa kasihan itu
Aisyah mengangguk. "Memang disana kan dia tidur. Masa iya kami sekamar, walau pun Abang adik. Gak baik lah." Sahut Aisyah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments