"Lili kali ini Daddy setuju dengan Mommy. Jangan pernah mengatakan jika Javer tidak memiliki ayah, bagaimana pun juga, Javer Daddy."
"Malam ini Mommy mau ke apartemen Rosetta, Mommy mau makan malam di sana." Diane membuka majalan di tangannya dan membacanya.
"Aku mau ikut Mom," ucap Lili.
"Tidak!" tegas Diane tanpa melihat ke arah Lili. Ia lebih fokus pada majalah di depannya. "Kau akan membuat masalah lagi. Mommy saja yang akan kesana."
Agam merasa tak puas, sebelah alisnya terangkat. Ternyata istrinya ingin mendatangi Rosetta sendirian tanpa dirinya. Rasanya tidak adil jika istrinya bertemu dengan istrinya tanpa mereka.
"Aku ingin ikut."
"Sudah aku bilang, aku yang akan datang sendirian. Aku tidak mengajak siapa pun karena aku yakin kalian akan membuat masalah." Tegas Diane. Ia menutup majalah dengan kasar dan berlalu pergi.
Agam menoleh ke arah Lili dan melenggang pergi mengikuti istrinya. Jika istrinya mengatakan tidak, maka sudah jelas bahwa keputusannya tidak bisa di ganggu gugat, hanya satu caranya, ia harus memiliki cara sendiri.
....
Pada malam harinya, suasana di dapur begitu ramai, Javer membantu Mario yang sedang membuat makan malam. Sedangkan Rosetta membuka pintu apartemenya, ia meyakini bahwa ibunya sudah datang
Rencananya malam ini ia makan malam bersama Mario, Javer dan Emely, namun ibunya menghububginya mengajaknya makan malam bersama di rumahnya, ia pun menolak dan malah mengajak sang ibu makan malam di apartemennya.
"Mommy masuklah."
Diane masuk dan menaruh sebuah kue di atas meja dapur. Ia melihat seorang pria memakai celemek dan Javer yang membantunya berceloteh.
"Sayang nenek sudah datang."
Javer memiringkan kepalanya ke asal suara Rosetta, ia terhalang oleh tubuh Mario. "Nenek." Javer turun dari kursinya dan memeluk kedua kaki Diane.
"Javer ikutan masak?"
"Iya Nenek, ada Om Malio yang bantu Javel." Tunjuk Javer.
Mario tersenyum dan memperkenalkan dirinya. "Mario Tante."
Diane teringat jika Rosetta memang memiliki sebuah teman pria, tapi siapa sangka saat ini ia bertatap langsung dengan jelas. "Jadi kau Mario temannya Rosetta ya?"
"Tante senang bisa bertemu dengan mu."
"Iya, saya juga senang bertemu dengan Tante."
"Mommy duduklah, Javer temani Nenek ya sayang. Mommy bantu Mario dulu."
"Iya Mom." Javer menarik lengan Rosetta ke arah ruang tamu.
"Eh Tante." Sapa Emely. Ia sangat fokus pada game di tangannya.
Selang beberapa saat, Mario dan Rosetta menaruh beberapa hidangan yang telah siap untuk makan malam. Rosetta memanggil Diane, Emely dan Javer untuk ke meja makan.
Diane tersenyum dan merasa kagum melihat beberapa hidangan yang terlihat menggugah selera. Selain tampan Mario juga pandai memasak. Ia yakin Rosetta akan bahagia bersama dengan Mario.
"Sepertinya enak."
Diane mengambil beberapa sayuran dan mencicipinya, ternyata sangatlah enak. "Ini enak sekali, Mario kau pintar memasak."
"Terima kasih Tante." Mario berpindah ke arah Javer. "Javer ingin apa?"
"Ayam goleng."
Mario mengambil ayam goreng untuk Javer dan menaruhnya di atas piringnya. "
"Mario kau ingin makan apa?" Tanya Rosetta.
"Aku ingin udang saja, tapi kau bisa mengupaskan untuk ku kan?" Goda Mario sambil tersenyum.
"Tentu."
Sebagai seorang ibu, hatinya saat ini merasa tenang saat Rosetta tersenyum pada Mario. Kini ia tak perlu mengkhawatirkan masa depan Rosetta. Ia sangatlah yakin Mario bisa membahagiakan Rosetta. "Ehem, Rosetta, Mario kapan kalian akan menjalin hubungan dengan serius, maksudnya ke tahap pernikahan."
"Mommy." Rosetta merasa tak nyaman pada Mario.
"Kalau aku terserah Rosetta Tante, dia mau bulan depan, minggu depan aku hanya menurut padanya."
"Mario." Rosetta merasa malu.
"Cie yang mau pengantin baru, apa katanya Javer?" Goda Emely sambil menatap Javer untuk mendukungnya.
"Jadi Daddy ku."
Gelak tawa pun muncul di meja makan. Suasana hangat dan harmonis itu terasa begitu indah di malam ini seakan semua kejadian di masa lalu telah hilang sepenuhnya.
....
Sementara di depan pintu, Agam merasa malu untuk memencet tombol. Ia ragu karena kedatangannya tak di undang, padahal ia ingin makan malam bersama mereka. Tanpa ia sadari dari arah lift seorang pria muncul dan melihatnya terkejut, dia membawa sebuah mainan robot di tangan kirinya.
"Daddy." Sapa Maxiliam.
"Kau kenapa di sini?" tanya Agam heran.
"Aku datang ke sini ingin menemui Javer, kebetulan aku membawa mainan karena ingat pada Javer," ucap Maxiliam menjelaskan, walaupun separuhnya ia berbohong.
Agam hanya mengangguk, ia kemudian memencet bel dan selang beberapa saat pintu pun terbuka.
"Daddy, Max, ayo masuk." Ajaknya dengan ramah.
Rosetta meminggirkan tubuhnya untuk memberi jalan, Agam dan Maxiliam pun masuk.
"Agam kamu ngapain di sini?" semprot Diane ketika melihat Agam.
“Memangnya kenapa? Aku tidak mengikuti mu.” Tegas Agam. Tanpa di suruh duduk ia pun duduk.
“Om.” Sapa Mario dengan ramah.
“Siapa dia?” Tanya Agam berbisik pada Diane.
“Dia calon menantu ku,” ucap Diane sambil melirik Rosetta. “Kita akan punya mantu lagi.”
Tidak ada angin panas, namun hatinya merasa panas, tangannya mengepal kuat.
“Paman duduklah,” ucap Javer sambil tersenyum. Dia kembali fokus pada Mario di sampingnya.
Semua perilaku Javer menambah hawa panas di dalam tubuh Maxiliam. Pria itu seakan terbakar. Entah semenjak kapan, panggilan yang awal Daddy itu menghilang dari mulut Javer. Kini dia memanggilnya dengan sebutan Paman bukan Daddy lagi.
Rosetta melihat paper bagh di tangan Maxiliam. “Max Paper bagh itu buat siapa?”
Maxiliam menghela nafas kasar. “Buat Javer.”
“Javer, Daddy mu memberikan hadiah.”
Javer menoleh dan menuruni anak tangga. Maxiliam berjongkok dan memberikannya.
“Terima kasih Paman,” ucap Javer dengan tulus.
Tenggorokan Maxiliam terasa tercekat, hatinya seperti tertusuk oleh ribuan jarum. “Kenapa memanggil Paman lagi? Bukannya Daddy.”
Javer menggelengkan kepalanya. “Aku sudah punya Daddy baru,” ucap Javer menunduk. “Javel pengen punya Daddy yang benar Daddynya Javel, bukan Daddynya olang.”
Kedua mata Maxiliam berkaca-kaca. Rasanya sangat menyesakkan di dadanya. Ia memang ayah Javer, ingin sekali ia mengatakan kebenarannya. “Javer kamu boleh memanggil ku Daddy.”
Javer tetap menggelengkan kepalanya. “Paman bukan Daddy Javer.”
Rosetta merasa tak nyaman dengan ucapan Javer pada Maxiliam, terlihat jelas di wajahnya yang terlihat kecewa.
“Maxiliam suatu saat nanti Javer akan mengerti, dia pasti akan memanggil mu Daddy lagi.”
Maxiliam berpikir jika suatu saat nanti Javer mengetahui kebenarannya, ia yakin Javer pasti memanggilnya dengan sebutan Daddy. “Iya Mom.”
“Javer duduk sayang.” Rosetta mengambil hadiah di tangan Javer dan menaruhnya di atas sofa.
Maxiliam pun duduk di samping Agam, dia berhadapan dengan Emely.
Emely melirik Javer, ia ingin Maxiliam mendengarkan langsung dari mulut cadel Javer. “Javer kenapa kamu tidak mau Paman ini jadi Daddy mu?”
“Dia Daddnya olang, Javel ingin Daddy yang benal-benal Daddy Javel.”
“Padahal Paman baik pada mu.”
“Paman Malio juga baik sama Javel dan mau menjadi Daddy Javel dan mau bersama Javel dan Mommy.”
Emely mengusap pucuk kepala Javer. “Anak pinter.” Tidak sia-sia ia menghasut Javer.
Rasakan batin Emely.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Nana Niez
Emily memang bestie yg top markotop
2025-03-28
0
Neni Suhandi
aku pada mu emely /Drool/
2025-03-29
0
muli Yana
astoge emely biang kerok😄🫰
2024-03-20
7