Javer menatap Rosetta dengan wajah sedih. Rosetta pun paham, dia akan secepatnya membawa Javer pergi.
"Ehem, Maxiliam sepertinya kau sibuk. Lebih baik kau lanjutkan bersama dengannya." Kedua tatapan Rosetta mengarah pada pria setengah baya tersebut.
"Ah tidak, kami hanya kebetulan bertemu. Silahkan di nikmati, maafkan saya yang datang tiba-tiba."
Pria setengah baya itu pun pergi dan menuju ke meja yang ia pesan untuk makan siang bersama keluarganya.
Maxiliam duduk kembali. "Javer makanlah yang banyak."
Javer menunduk dengan wajah sedih. "Paman kenapa tidak menjadikan ku sebagai anak Paman?" tanya Javer. Dia tak berani mengangkat wajahnya.
Maxiliam merasakan dadanya terasa sesak. Ingin sekali ia mengakuinya, tapi rasanya tak mungkin. Ia masih memikirkan Lili dan kedua mertuanya. Tentunya akan banyak yang kecewa. "Paman akan menganggap Javer sebagai putra Paman."
Javer mengerucutkan bibirnya, rasanya tidak mungkin. Karena anak sendiri dan anak orang lain pasti berbeda. "Mommy aku mau pulang?"
"Ya sudah."
"Javer kau belum menghabisi makan mu." Maxiliam membujuk, ia merasa tak nyaman melihat Javer yang tak melihat ke arahnya.
"Dia butuh waktu Max." Rosetta menggenggam tangan Javer dan membawanya pergi.
Emely menatap sengit pria di hadapannya. "Apa kau puas tuan Maxiliam?"
Maxiliam tak merasa salah karena ia lakukan demi kebaikan Javer dan semuanya. "Apa kau menyalahkan aku?"
Emely berdecak kesal. "Ck, kau tidak akan mengerti perasaan Javer. Dia kecewa pada mu. Maxiliam kau tidak pernah tau bagaimana dia menunggu mu? Sebaiknya kau menjauhi Javer."
"Apa?"
Maxiliam duduk dengan wajah lesu. Bagaimana caranya ia bisa dekat dengan Javer? Ia sudah membuat anak itu kecewa padanya.
"Maxiliam kau benar-benar bodoh." Ia pun menyelesaikan pembayarannya dan kembali ke apartemen.
Sedangkan Javer menoleh ke arah pintu, ia tidak mau masuk. Padahal ia sudah memanggil taxi. "Javer ayo pulang sayang."
Javer menunduk, ia hendak masuk namun suara Maxiliam menahannya. Di belakang Emely terlihat seorang pria yang berlarian menyusulnya.
"Javer!"
"Javer sayang, kau mau pulang biar paman yang antar." Dia melihat wajah Javer yang seakan tak berniat untuk melihatnya. "Sayang pulang dengan Paman ya?"
Javer mengangguk dan Rosetta menyerah.
Javer duduk di pangkuan Rosetta sambil memainkan jari-jarinya.
"Javer kau boleh memanggil paman dengan panggilan Daddy." Seru Maxiliam. Ia ingin Javer memanggilnya dengan Daddy. Ia tidak bisa menahannya dan tidak ingin membuat Javer kecewa.
Javer menatap Maxiliam dengan tatapan berbinar. "Bolehkah?"
Maxiliam mengangguk, ia mengusap pucuk kepala Javer. "Mulai saat ini kau adalah putra Daddy Jhonatan Maxiliam."
Rosetta tak terima, Maxiliam dengan mudahnya memberikan harapan palsu pada Javer. Putranya pasti kecewa jika suatu saat Maxiliam punya anak dan mengabaikan Javer. Entah bagaimana ia akan menghadapi kekecewaan Javer. Sebagai seorang ibu ia tidak sanggup melihat raut wajah kecewa anaknya. “Maxiliam kau jangan bercanda.”
Sudah pasti Javer menganggap perkataan Maxiliam serius.
“Aku serius Rosetta, siapa yang bercanda.”
“Kita akan berbicara nanti.” Rosetta membuang wajahnya ke arah jendela. Ia kecewa pada Maxiliam yang seenaknya saja mengatakan tanpa berbicara dengannya lebih dulu.
Javer melihat ke kanan dan ke kiri, pria di sampingnya sering melihat ke arah Rosetta namun ibunya mengabaikannya.
Maxiliam tersenyum dan mencubit pelan pipi Javer yang melihatnya sambil mengkorinya.
"Javer kamu main dengan tante Emely saja dulu, Mommy mau bicara dengan Paman Max."
Emely membawa Javer meninggilkan mereka dan menuju ke kemar Rosetta.
Rosetta menyilangkan kedua tangannya. "Maxiliam aku tidak ingin kamu memberikan harapan palsu pada Javer. Kau harus tau Maxiliam, semuanya tak harus berjalan sesuai dengan ucapan mu."
"Aku ingin memberikan status pada Javer." Tegasnya.
Rosetta memutar bola matanya dengan jengah. "Aku tidak mau tau, kau harus menjaga jarak dengan Javer."
"Tidak Rosetta!" teriak Maxiliam.
Kedua tatapan Rosetta tertuju ke arah pintu. Ia melihat Maxiliam dengan curiga. Sepertinya ada orang lain yang mendatanginya.
"Maxiliam sebaiknya kau bersembunyi. Bersembunyilah di ruang perabotan di dapur."
Dengan gerakan cepat Maxiliam membuka sebuah ruangan sebagai penyimpanan perabotan dapur. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Lili?"
Wanita yang di sapa Lili masuk begitu saja. Dia melihat sekelilingnya. "Aku ingin berbicara dengan mu."
"Aku akan membuatkan jus dulu untuk mu." Rosetta menuju ke arah dapur. Ia membuat sebuah minuman Crodino yang terbuat dari jeruk yang terbuat dari ekstrak herbal dan gula.
Lili merasa jenuh berada di apartemen ini, ia tidak ingin berlama-lama. "Rosetta aku ingin kamu secepatnya membawa Javer dan pergi dari sini."
"Kenapa? Apa salahnya jika aku tinggal di sini? Aku tidak mengganggu hubungan mu dan Maxiliam."
"Menurut mu tak mengganggu, tapi menurut ku mengganggu pemandangan mata ku. Kau jelas tau, semenjak tidak ada dirimu Mommy dan Daddy biasa saja."
"Lili aku tidak mengerti kenapa kau begitu membenci ku, seolah aku adalah penghalang mu." Ia sangat tau jika Lili selalu mengadu yang tidak-tidak pada kedua orang tuanya. "Apa kau ingat pensil gambar ku? kau mengambilnya dan Daddy memarahi ku katanya aku yang menghilangkan krayon mu. Padahal dirimu sendiri yang menghilangkannya."
"Semua itu sudah berlalu, aku tidak tau kenapa aku membenci mu."
"Apa kau juga mengadu yang tidak-tidak tentang diriku pada Maxiliam?"
Lili tersenyum licik, ia memang melakukannya agar Maxiliam membenci kakaknya. "Aku memang melakukannya Kak, aku membuat Maxiliam membenci mu."
"Kau ingat saat aku terjatuh di kolam renang, aku melakukannya."
Kedua mata Rosetta menggenang. "Kenapa? Aku menyayangi mu."
"Tapi aku membenci mu, kau ingat saat kita liburan di rumah nenek. Semua orang mengatakan kamu cantik, kamu baik, bahkan teman-teman ku menganggu mu dan aku membencinya. Kau merebut semuanya, jadi aku ingin merebut semuanya dari mu sampai kau merasa orang yang kamu cintai telah pergi."
"Apa hanya itu yang ingin kamu katakan? Aku akan pergi dari sini bersama Javer."
"Bagus itu yang aku mau." Lili mengambil gelas yang berisi minuman untuknya dan menjatuhkannya ke lantai.
Prang
"Maaf kak Rosetta tangan ku licin."
"Tante jahat!" teriak Javer. Wanita di depannya berani menyerang ibunya.
"Oh anak yang tak punya ayah."
"Lili!" bentak Rosetta. "Tutup mulut mu Lili, jika kau tau siapa ayahnya. Kau ...."
"Kau kenapa Kak? Yang jelas dia memang tidak memiliki ayah. Anak yang di buang ayahnya."
Plak
Rosetta langsung melayangkan tamparannya dengan keras. Ia sangat sakit hati dengan ucapan Lili. "Jangan pernah mengatakan dia tidak memiliki ayah."
Sedangkan di dalam ruangan, Maxiliam mengepalkan kedua tangannya. Ia tak pernah menyangka jika Lili mulut dan sikapnya selama ini begitu kejam. Kini ia tau seperti apa wajah asli istrinya.
"Kau menampar ku?" tanya Lili dengan wajah merah menahan amarah. "Awas kau, lihat saja apa yang akan aku lakukan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Sulati Cus
udah bener menjauh dr keluarga toxic eh pk kembali Ros2 jd sakit sendiri kan
2024-02-13
0
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2024-02-13
0
Wahyu
nah ...nahhh....ngadu sana ngadu..... udah tua bisanya cuma ngadu.... udah nikah bertahun-tahun masih cengeng
2024-02-13
2