Apa aku anak yang tidak di inginkan Daddy?

Rosetta menarik sebelah sudut bibirnya, ia pikir Lili tidak akan berpikiran pendek. "Kau terlalu khawatir Lili. Apa kau tidak percaya bisa membahagiakan Maxiliam?"

Mendengarkan ucapan Rosetta membuat Lili tersulut emosi, bagaimana mungkin wanita yang dulu dengan senangnya mengejar Maxiliam bisa membuatnya merasa panas.

"“Kau jangan mengatakan sembarang. Aku hanya kasihan pada anak mu. Dia akan berharap lebih pada Maxiliam, padahal Maxiliam suatu saat nanti akan memiliki anak.” 

"Anak ku tidak perlu di kasihani, dia tidak butuh kasihani dari ayahnya. Bahkan ayahnya sendiri yang akan mendekatinya."

"Apa kau takut anak ku Javer mengambil perhatian suami mu? Mommy dan Daddy tak perhatian lagi pada mu."

Rosetta menghela nafas dengan kasar. Dia merasa lelah untuk berdebat dengan Lili.  Seperti dugaannya, adiknya menganggapnya sebagai pesaing.

“Rosetta kau sama sekali tidak akan masuk kedalam rumah tangga ku.” 

Lili beranjak dan bergegas pergi dengan wajah merah padam. Ia tidak akan berpura-pura lagi untuk menahan kekesalannya pada Rosetta. Ia muak padanya, ia sangat membencinya hingga ke urat-uratnya. "Rosetta aku akan membuat mu kembali di depak dari rumah ini."

“Mommy.” Javer menghampiri Rosetta. Dengan tangan mungilnya dan kotor, ia memeluk Rosetta dan tertawa lebar.

“Tangan Javel kotol.” Javer memperlihatkan lima jarinya yang kotor karena main tanah.

Agam, Maxiliam dan Diane menghampiri Javer dan Rosetta. Ketiga orang itu lelah, tapi merasa senang bermain dengan Javer.

“Javer suka di sini?” Tanya Agam.

“Iya Kakek, Javel suka di sini.”

“Berarti Javer mau tinggal di sini?” Tanya Agam dengan rasa penuh harap.

“Javel tidak mau jika tidak ada Mommy,” ucapnya. Ibunya adalah dunianya. Ia tidak mau berpisah dengan ibunya apapun itu.

Agam menghela nafas, Javer sangat sulit dan tidak mudah di bujuk.

“Sayang nanti kita pulang ke Apartement.” Rosetta tak ingin berlama-lama di kediaman kedua orang tuanya. Rasa malas berdebat dengan Lili membuatnya ingin menjauh dari kedua orang tuanya.

Agam merasa tak terima. Ia baru saja bersama dengan cucunya. "Rosetta kau bisa tinggal di sini, untuk apa tinggal di luar."

"Aku ingin tinggal di Apartemen."

"Rosetta apa kamu mau memisahkan Mommy dan Javer?" tanya Diane. Ia sama sekali tidak ingin berpisah dengan Javer.

"Mommy bisa datang ke Apartemen. Sudahlah Mom, aku tidak ingin berlama-lama di sini."

Agam menggelengkan kepalanya ke arah Diane seakan menyuruhnya diam dan jangan memaksa Rosetta.

"Kenapa Rosetta? Kenapa kau ingin tinggal di Apartement. Javer juga butuh kehangatan keluarga." Maxiliam ingin bersama dengan Javer tanpa harus sembunyi-sembunyi. Jika berada di rumah mertuanya dengan mudahnya ia bisa bermain dengan Javer.

"Sudah, sebaiknya kita jalan-jalan. Javer katanya ingin jalan-jalan?"

Javer mengangguk, Diane menggenggam tangan kecil. "Ayo ikut nenek bersiap-siap dulu."

Agam menatap tajam ke arah Rosetta. "Rosetta! Apa kau ingin pergi lagi meninggalkan ibu mu? Kau anggap apa dia Rosetta?"

"Aku tidak merasa nyaman tinggal di sini. Daddy jangan lupa, saat aku keluar dari rumah ini Daddy memutuskan hubungan dengan ku. Oh iya, seharusnya aku tidak memanggil Daddy."

Rosetta bangkit, dia menyusul Diane dan Javer. Tanpa sengaja ia melihat Lili menjatuhkan jus di pakaian Javer.

"Lili!" bentak Rosetta.

"Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Rosetta.

"Ah Rosetta, maaf Javer tante tidak sengaja," ucapnya dengan santai. Ia memang sengaja menumpahkan sebuah jus di pakain Javer.

Rosetta tau Lili sengaja melakukannya. Dengan kedua matanya sendiri ia melihat tangan Lili menumpahkan segelas jus di pakaian Javer. "Kau sengaja melakukannya?"

"Rosetta aku tidak sengaja, buat apa aku melakukannya."

"Ada apa ini?" tanya Agam.

Lili memasang wajah sedihnya. Ia bergelanyut di lengan Agam. "Daddy Rosetta menuduh ku menjatuhkan jus di pakaian Javer. Buat apa aku melakukannya?"

"Mommy ayo kita pulang, aku tidak suka di sini." Hidung Javer kembang kempis, ia sangat yakin telah terjadi sesuatu.

"Ya sudah ayo kita pulang." Rosetta menatap dingin ke arah Lili. Ia menggendong Javer ke lantai atas untuk mengambil tas selempangnya dan beberapa pakaian Javer.

"Rosetta kau mau kemana?" tanya Diane. Dia sudah selesai bersiap-siap.

"Kita kembali ke apartemen Mom." Rosetta menuruni anak tangga dengan di ekori oleh Diane.

"Rosetta, Mommy dan Javer ingin keluar. Javer ingin beli boneka beruang?" Diane membujuk Javer, berharap cucunya mau.

Lili menyeringai, ternyata sangat mudah membuat semua orang berpihak padanya.

"Agam ada apa ini?"

"Rosetta hanya melebih-lebihkan saja," ucap Agam.

Rosetta tak terima, ia bukan membual tapi kenyataannya Lili memang tidak menyukai. "Membual? Aku melihatnya jika Lili dengan sengaja menumpahkan jusnya."

Lili memasang wajah sedih, air matanya mengalir deras. "Kak, kenapa Kakak menuduh ku? Aku tidak melakukannya dengan sengaja."

"Javer pasti mengatakan yang sejujurnya."

Javer masih diam, ia terngiang-ngiang dengan ucapan Lili. Rasanya sangat sakit dan membuat air matanya menggenang.

"Lili tidak sengaja, tapi Rosetta berlebihan."

"Dari dulu, sejak dulu Daddy tidak pernah mempercayai ku. Apa Daddy menunggu Javer di racuni oleh Lili baru Daddy percaya? Suda aku sangka, di rumah ini tidak ada yang mempercayai ku dan Javer. Mommy aku pulang."

"Rosetta, tunggu kau mau kemana? Jangan membawa Javer. Di sini keluarganya."

"Lepaskan!" bentak Rosetta. "Jangan pernah mengatakan keluarga, keluarga berbagi kehangatan bukan membuat tangisan. Jika memang keluarga seharusnya bertindak adil."

Rosetta menarik paksa lengannya. Maxiliam belum menyerah, ia terus meminta Rosetta berhenti.

Diane hanya diam, ia memilih ke lantai atas dan mengunci pintu.

....

"Rosetta kau tidak bisa membawa Javer pergi."

Siapa sangka Maxiliam malah membuntutinya sampai di Apartemennya. Ia tidak berhasil lolos dari Maxiliam.

Javer yang tadinya menahan tangis langsung menangis.

"Sekarang keluarlah Max, kita ingin sendiri." Rosetta ingin tau apa yang telah terjadi. Mungkin Javer bisa mengatakan yang sejujurnya padanya jika berdua. "Aku mohon Max."

Maxiliam mengangguk, dengan rasa berat ia meninggalkan Javer menangis, padahal ia ingin menenangkannya. Namun ia justru memilih bersembunyi di balik dinding dapur dekat pintu.

"Javer sayang sekarang sudah tidak ada siapa pun. Apa Javer ingin mengatakannya pada Mommy?"

Javer menatap lekat ke arah Rosetta. "Mommy apa aku tidak punya ayah? Tante Lili bilang aku bukan anak yang diinginkan ayah. Katanya ayah tidak tau aku."

Deg

Kedua mata Rosetta menggenang hingga satu matanya menjatuhkan tetasan air bening. Ia memeluk Javer dengan bibir gemetar. "Ti-tidak sayang, Javer diinginkan Mommy dan Daddy."

"Tapi kenapa Javer tidak bertemu dengan Daddy? Berarti benar, Javer bukan anak yang di inginkan Daddy."

"Tidak sayang, apa Javer ingat? Setiap ulang tahun Javer pasti di kirimkan kado oleh Daddy."

Maxiliam mengepalkan kedua tangannya, beraninya Lili mengatakan hal seperti itu pada Javer. Dengan wajah kesal bercampur geram, ia berlalu pergi.

"Lili!" bentak Maxiliam. Kebetulan istrinya sedang berada di ruang keluarga bersama dengan kedua mertuanya. "Apa yang kau katakan pada Javer?" Tanya Maxiliam dengan nada menekan dan menatap tajam.

Terpopuler

Comments

mecca

mecca

jauhkan saja thor Rosetta dan javer dr keluarga dan adek yg luknut biar tenang thor, kasihan thor jd ikutan mewek thor huaaaa😭😭😭😭

2024-02-12

1

IndraAsya

IndraAsya

lanjut

2024-02-12

0

Putri Chaniago

Putri Chaniago

kenapa g d buat Rosetta n javer pergi jauh aja Thor, biar g tersakiti lg n g ada yg ganggu lg. kapan kehancuran Lili thor

2024-02-12

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!