Menjauh

Setelah melihat sang ibu tidur pulas, Rosetta mencium kening ibunya. Sekalipun ia kecewa namun ia begitu menyayangi ibunya. "Terima kasih karena sudah melahirkan ku, Mom."

Rosetta keluar dan menutup pelan pintunya. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Agam yang hendak menuju ke kamarnya.

"Rosetta Daddy ingin berbicara dengan mu." Tanpa menunggu jawaban Rosetta, agam berbelok menuju ke ruang kerjanya.

Agam memandang Rosetta, sebenarnya ia tidak ingin berpisah, namun demi kebaikan semuanya. "Rosetta apa kau masih berharap pada Max?"

"Tidak Dad," jawabnya dengan nada datar.

Agam tersenyum, untunglah Rosetta tidak mengharapkan lagi. "Mengalahlah untuk Lili, semenjak kecil dia sakit-sakitan."

Rosetta tersenyum getir, pada ia harus mati dulu agar tidak bisa mengalah. "Daddy, apakah aku harus mati dulu baru Daddy menyuruh ku untuk tidak mengalah? Daddy aku juga tidak ingin Lili sakit-sakitan."

"Daddy aku tidak akan lagi mengganggu hubungan mereka. Daddy jangan khawatir." Rosetta mengakhiri pertemuannya. Ia meninggalkan Agam yang tercengang dengan perkataan Rosetta.

....

Rosetta menghapus air matanya, rasanya sangat sakit di perlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Ternyata ia tidak lebih penting dari pada adiknya.

"Kakak."

Baru saja ia menghindari ayahnya, namun kini ia sudah berpapasan dengan adiknya.

"Kakak menangis?"

"Tidak! Apa kau ingin bertemu dengan Daddy?" tanya Rosetta bermaksud ingin menghindar.

Lili menggeleng, ia tidak berniat untuk mencari ayahnya, tapi ia berniat mencari Rosetta. "Aku ingin berbicara dengan Kakak. Bisakah kita berbicara berdua."

Rosetta mengangguk, ia mengekori Lili hingga ke kolam renang. Lili memandang kolam renang yang begitu tenang airnya itu. Ia menoleh pada Rosetta yang berdiri menjauh darinya.

"Kakak aku cemburu pada Kakak," ucap Lili. Ia kembali melihat ke arah air yang tenang.

"Cemburu?" Rosetta menarik sebelah alisnya. Seharusnya ia yang cemburu bukan Lili.

Lili teringat sewaktu kecil saat berada di rumah neneknya. Ia melihat seorang anak laki-laki yang lebih senang bermain dengan Rosetta dari pada dirinya.

"Kakak bisa mendapatkan segalanya."

"Apa yang kamu cemburui dari ku Lili? Kau memiliki semuanya termasuk cinta Maxiliam."

Lili tersenyum, ia belum memiliki sepenuhnya, namun ia bertekad akan memiliki sepenuhnya.

Lili memutar tubuhnya menghadap ke arah Rosetta. "Kakak aku ingin membenci mu, tapi aku tau kau masih kakak ku." Salah satu kakinya mundur namun kakinya kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya jatuh ke dalam air.

Byur

"Lili!" teriak Rosetta. Dia ingin menolong namun ia trauma. Bayangan sewaktu kecil ketika ia hampir tenggelam membuat tubuhnya gemetar.

"Tolong kak!"

"Kak Rosetta."

"Lili!" teriak Maxiliam. Pria itu langsung menceburkan tubuhnya ke dalam air. Dia mengangkat tubuh Lili ke lantai.

Rosetta gemetar, tubuhnya keluar keringat dingin melihat Lili.

"Apa yang terjadi?" tanya Agam panik. "Lili kamu kenapa?" tanya Agam. Pria itu menoleh ke arah Rosetta yang ketakutan. "Apa kau yang melakukannya Rosetta?!"

Maxiliam hanya menoleh. Ia tak memperdulikan ketakutan di wajah Rosetta, bergegas ia mengangkat tubuh Lili ke kamarnya dan menyuruh dua pelayan untuk mengganti pakaiannya sedangkan ia menghubungi dokter pribadinya.

....

Masih di landa kepanikan, Agam mondar-mandir ia belum mengeluarkan suara apa pun. Sedangkan Rosetta ia masih diam dalam keterkejutannya.

"Bagaimana keadaan Lili Dokter?" tanya Agam melihat sang Dokter yang baru saja keluar dari kamar Lili.

"Keadaan nona Lili baik-baik saja, dia hanya syok."

"Syukurlah." Agam bernafas lega. Dia menoleh dan menatap tajam pada Rosetta. "Apa kau puas Rosetta!" Todongnya. "Selama Lili bersama mu, kau pasti membahayakannya."

Air mata Rosetta mengalir, entah berapa kali dalam hidupnya ia selalu di tuduh.

"Agam katanya Lili ..."

"Dia sudah baik-baik saja Diane. Kau tanyakan saja pada anak mu ini." Tunjuk Agam ke wajah Rosetta.

Rosetta memandang ibunya, ternyata sang ibu juga menginginkan pengakuannya. Terlihat jelas di wajahnya yang menunggu pengakuannya.

"Maxiliam bagaimana keadaan Lili?" tanya Diane melihat Maxiliam yang baru saja keluar dari kamar Lili.

"Lili sudah tidur tante," jawab Maxiliam. Kedua netra Maxiliam mengarah pada Rosetta. "Apa kau bisa menjelaskan semua yang terjadi Rosetta?"

Agam menatap nyalang, ia ingin pengakuan Rosetta. "Kenapa diam saja Rosetta?!"

Rosetta mengepalkan kedua tangannya. Beginilah hidupnya selalu di salahkan. Padahal ia tidak mendorong Lili. "Daddy selalu menyalahkan aku. Daddy seakan mengatakan bahwa aku yang mendorong Lili. Apa Daddy pikir aku cemburu pada Maxiliam? Daddy aku selalu berpikir bahwa Daddy lebih menyayangi Lili daripada aku."

"Aku selalu memanjakan mu Rosetta."

Rosetta tertawa, ia geli dengan ucapan ayahnya. "Memanjakan? Apa Daddy pernah merayakan ulang tahun ku? Seakan kelahiran ku sudah mati."

"Rosetta!"

"Cukup Mom! Aku tidak mengharapkan kasih sayang dari keluarga ini. Justru aku berharap aku di kelurkan dari daftar keluarga ini." Sudah cukup baginya tuduhannya. Ia muak dengan sikap ayahnya yang acuh dan selalu memarahinya.

"Rosetta! Tunggu Rosetta! Kau mau kemana? Ini sudah larut malam."

"Rosetta kalau kau pergi selangkah dari rumah ini. Daddy akan benar-benar mengeluarkan nama mu."

Rosetta menghapus air matanya. Ia terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.

Diane menangis tersedu-sedu. Ia ingin menghentikan Rosetta namun kedua kakinya lemah dan tak bisa melangkah.

....

Beberapa hari kemudian.

Emely menggenggam tangan Rosetta, ia menatap wajah Rosetta yang begitu cantik tanpa riasan tebal. Kini mereka sudah wisuda, rasanya sudah lega tidak perlu lagi pusing masalah skipsi.

Rosetta pun tersenyum, selama wisuda ia hanya memiliki sahabatnya. Sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan wisuda Lili. Mereka memang menghadirinya, tapi terasa jauh darinya.

"Rosetta." Diane menghampiri Rosetta. "Selamat sayang, kau menjadi mahasiswa yang terbaik." Ia bangga pada Rosetta yang menjadi bintang utama di acara wisudanya.

"Terima kasih Mom."

Rosetta melihat agam dan Maxiliam yang begitu senang berbicara dengan Lili. Ternyata ia masih cemburu dengan kehangatan mereka.

Rosetta memeluk ibunya, mungkin ini terakhir kalinya ia berbicara pada ibunya. "Mommy terima kasih karena telah melahirkan ku. Maafkan aku yang selalu mengecewakan Mommy."

Diane mengelus punggung Rosetta. "Mommy berterima kasih karena Rosetta menjadi anak Mommy dan sudah terlahir ke dunia."

Dari jauh Maxiliam melihat Rosetta yang berbicara hangat dengan Diane. Ia tersenyum melihat Rosetta yang tersenyum dengan wajah cantiknya.

Agam yang melihatnya berniat menghampiri putrinya, namun ia menghentikan langkahnya sejenak tatapannya bertemu dengan Rosetta.

"Rose ..."

"Mommy aku pergi bertemu teman-teman dulu." Ia lebih memilih menghindar dari pada bertemu dengan Agam. Ia belum nyaman bersama dengan ayahnya.

Diane menoleh, sejujurnya ia sangat kecewa pada suaminya itu. "Kenapa kau datang? Seharusnya kau tidak mendatangi kami." Ia belum puas berbicara berdua dengan putrinya.

Agam menghela napas, ada rasa penyesalan di hatinya. Ternyata ia telah menjadikan jarak untuk mereka.

Terpopuler

Comments

Siti solikah

Siti solikah

udah pergi aja yang jauh rose

2025-03-20

1

Indah Zhie

Indah Zhie

lanjuttt thorrr

2024-02-01

0

mel

mel

akhirnya si author satu ini bikin cerita lg

2024-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!