Tidak Bisakah kau pura-pura tidak tau?

"Tuan anda sudah pulang?" Seorang maid menyambutnya. Maxiliam memberikan jas pada maid tersebut.

"Tuan ingin saya menyiapkan air hangat?"

"Iya. Dimana Nyonya?" tanya Maxiliam.

"Nyonya berada di kamarnya tuan," ucap maid tersebut.

Maxiliam mengangguk di ekori dua maid. Pria itu membuka pintu kamarnya dan melihat tirai balkon yang terbuka. Dua maid itu pun bergegas mengisi bak mandi sedangkan Maxiliam membuka jam tangan mahalnya, dasi dan kemeja di layani oleh salah satu maid tadi.

Tak butuh waktu lama Maxiliam membersihkan tubuhnya, pria itu masih melihat ke arah balkon dan melangkah ke sana. Ia melihat dua botol anggur di atas meja dan dua gelas.

"Lili kenapa kau minum anggur?" tanya Maxiliam.

Wanita yang menunduk itu mendongak dan tersenyum. Ia melihat dua wajah Maxiliam. "Kau sudah pulang ya?"

"Lili kau mabuk," ucap Maxiliam.

Lili menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak mabuk. "Aku hanya minum sedikit Max." Ia terkekeh dan tersenyum. Tiba-tiba ia teringat dengan kakaknya. "Maxiliam aku membenci seseorang," ujarnya.

"Dia mengambil semuanya Max, aku merasa akan kalah darinya." Rancaunya. Ia merasa kedua tangan yang menggenggam erat itu bakal terlepas.

"Lili sebaiknya kau istirhat." Maxiliam memapah tubuh Lili ke ranjangnya dan menaruhnya dengan pelan.

Lili tiba-tiba menangis dan kemudian menatap dengan aura benci. "Aku membencinya Max."

"Kau membenci siapa?" tanya Maxiliam dengan wajah penasaran. "Apa ada orang yang mengganggu mu?"

"Rosetta, dia kakak ku. Aku membencinya Max, dia mengambil semuanya dari ku. Sewaktu kecil ada seorang anak laki-laki yang ingin bermain dengan Kak Rosetta dari pada aku. Aku sakit hati Max, aku membencinya. Aku akan merebut apa pun yang dia miliki," ucapnya.

Maxiliam mengerutkan dahinya. Entah karena mabuk ucapan Lili merancau atau memang ucapannya berasal dari hatinya. "Lili."

Maxiliam kembali ke balkon, ia melihat satu botol anggur masih tinggal setengah sedangkan setengahnya sudah habis. "Apa Lili merasa kalau Rosetta akan mengambil semuanya?"

Ia tidak mengerti pikiran istrinya, ia terus mengingat semua ucapan Lili sedikit demi sedikit. Ia teringat pada waktu di mana Lili selalu menangis dan mengatakan jika Rosetta tega menyakitinya. "Apa semua ucapannya bohong?" hal itulah yang membutnya sangat tidak menyukai Rosetta yang selalu mengusik Lili. Karena ia melihat Lili begitu polos.

Di tempat lain.

Rosetta sedang menemani Javer tidur, sebelah tangannya memeluk Javer yang sudah tertidur pulas. Mungkin karena menangis terlalu lama membuat anak itu kelelahan. Ia teringat dengan wajah Maxiliam, hatinya resah dan perasaannya tak nyaman. Ia ingin secepatnya meninggalkan kota ini dan kembali ke rumahnya. "Aku harus menemui Mommy besok pagi. Aku berharap Mommy secepatnya sembuh."

Rosetta mencium kening Javer, ia menuruni ranjangnya dengan pelan agar tak mengganggu putranya yang lagi tidur. Rasa haus membuat tenggorokannya terasa kering membuatnya tak bisa menahannya lagi. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin.

Ia duduk menyendiri sambil menerawang jauh. Rosetta menoleh ke arah pintu, ia mendengarkan bel berbunyi. Ia pun melihat di cctv pintu seorang pria yang ia kenal.

"Max? Untuk apa dia datang kesini?" tanya Rosetta. Dia mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah jam dinding yang menunjuk jam 01.30 dini hari.

Ia pun membuka pintunya dan melihat pria tersebut menatapnya. "Maxiliam?"

"Aku ingin berbicara dengan mu." Maxiliam masuk tanpa di suruh. Dia langsung duduk di sofa dan menunggu Rosetta untuk duduk.

"Kau ingin minum?"

"Air putih saja."

Rosetta memberikan segelas air putih dan duduk di hadapan Maxiliam. Ia tidak perlu takut karena Maxiliam tidak tau kebohongannya.

"Kau pasti bisa menebak kedatangan ku kesini?" tanya Maxiliam. Kepala terus di isi dengan wajah Rosetta dan Javer hingga ia bertekad untuk mendatangi Rosetta di Apartemennya. Ia yakin Rosetta pasti pulang ke Apartemennya.

Rosetta menebak, pria itu pasti datang untuk Lili. "Aku tau kedatangan mu pasti memperingati ku untuk menjauhi Lili kan? kau jangan khawatir aku akan menjauhi Lili."

"Bukan."

"Masalah Mommy? Aku akan sering mendatanginya. Aku tidak akan berlama-lama di sini."

Maxiliam mulai muak dengan pembicaraannya. Rosetta sama sekali tidak ingin mengatakan kebenarannya. "Siapa ayah dari anak mu Rosetta?"

Rosetta terdiam, kedua netranya menatap lurus ke arah Maxiliam. Jantungnya berdetak lebih kencang. "Ap-apa maksud mu? Kau tidak perlu tau siapa anak ku Max, aku tidak ingin membahasnya. Kalau kau membahasnya silahkan pergi."

Rosetta berdiri namun Maxiliam mencegahnya.

"Sampai kapan kau akan berbohong?" Ia tidak tahan lagi dengan kebohongan Rosetta.

"Apa mau mu? Siapa yang berbohong?!" Rosetta membentak.

Maxiliam memegang kedua lengan Rosetta dan menatap tajam ke arahnya. "Javer adalah putra ku."

Rosetta menganga, tidak mungkin pria di depannya tau semuanya. Padahal ia tidak mngungkit kehamilannya. Di masa lalu ialah yang mengungkitnya tapi sekarang entah tau dari mana pria di hadapannya.

"Kau masih ingin mengelak? Javer putra ku, sampai kapan kau akan membohongi ku Rosetta?"

Rosetta menepis kedua tangan Maxiliam. "Dia bukan anak mu, tapi anak ku Maxiliam. Kau tidak memiliki bukti apa pun. Sebaiknya kau pergi sekarang!"

"Aku tidak akan pergi." Maxiliam memberikan sebuah vidio di hotel dan kemudian vidio percakapan Emely dengan Cloudie. "Setelah bukti ini kau masih mengelak."

"Jika pun Javer putra mu, memangnya kau mau apa Maxiliam? Kau sudah memiliki keluarga. Kita sudah menjalani kehidupan masing-masing."

"Itu kau dan hanya kau yang merasa begitu. Javer putra ku yang telah kau sembunyikan. Aku ingin mengakuinya."

Plak

Darah Rosetta mendidih, ia tidak pernah menampar seorang pria bahkan ia tak pernah membayangkan akan menampar pria yang dulunya sangat ia cintai. "Kau ingin merebut Javer dari ku dan memberikannya pada Lili. Apa kau pikir aku akan tinggal diam saja? Aku sudah melepaskan mu untuk Lili, aku sudah melakukan semuanya apa yang kamu katakan Maxiliam." Kedua matanya berkaca-kaca. "Apa kau sekarang juga ingin mengambil Javer dari ku? Dia kekuatan ku selama ini Maxiliam." Nada suaranya dingin dan menekan. Sampai mati pun ia tidak akan menyerahkan Javer pada Maxiliam dan Lili. "Tidak bisakah kau pura-pura tidak tau, kau pura-pura tuli? Tidak bisakah kau menutup mata."

Maxiliam mengepalkan kedua tangannya. Ia langsung memeluk Rosetta. Hatinya tak berniat untuk memisahkan Javer darinya.

"Lepaskan aku Maxiliam! Lepaskan aku!" Rosetta meronta dan sekuatnya mendorong tubuh Maxiliam namun Maxiliam begitu enggan untuk melepaskannya. Ia tidak ingin melepaskan pelukannya.

"Aku tidak akan merebut Javer dari mu, tapi aku ingin bersama dengan Javer"

"Tidak! Semua orang akan tau Max. Aku tidak mau, Mommy dan Daddy pasti menuntut Javer untuk bernagi dengan Lili. Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak ingin berbagi."

Maxiliam mengusap punggung Rosetta. "Aku tidak akan membagi Javer jika itu mau mu. Aku hanya tidak ingin di jauhkan dari Javer. Kita bisa merahasiakannya dari siapa pun. Aku mohon jangan membawa Javer pergi jauh dari ku."

Terpopuler

Comments

Nana Niez

Nana Niez

rumit sekali

2025-03-28

1

mecca

mecca

kasihan Rosetta thor kehidupanya begitu rumit dan adik yg luknut yg selalu iri sama Rosetta jauhkan Rosetta dr keluarganya thor biar hidupnya damai sampe tiba saatnya nanti kebahagiaan yg menjemputnya sehat selalu ya thor biar lancar upnya 💪💪💪💪

2024-02-06

8

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2024-02-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!