Lili menyilangkan kedua tangannya di dadanya sambil menyandarkan tubuhnya di sisi pintu. Ia merasa jengah melihat ayahnya dan suaminya malah bermain dengan anak yang tak jelas asal usul identitasnya tersebut.
"Sayang aku ingin berbicara dengan mu."
Maxiliam menoleh dan menghela nafas. "Apa tidak bisa nanti saja?"
Lili merasa kesal, ia merasa di duakan. "Ini penting aku ingin sekarang."
Maxiliam menyerah, ia mengikuti Lili sampai di kamarnya. "Ada apa?"
"Aku ingin kita periksa ke dokter. Aku ingin mengandung anak mu." Tutur Lili.
Maxiliam terkesiap, ia mau memiliki anak. Tetapi ia ingin fokus pada Javer. Putranya butuh kasih sayang darinya. "Baiklah, hanya itu? Aku ingin menemani Javer."
Lili mengerutkan keningnya. "Sayang aku ingin kita meluangkan waktu. Biarkan saja Javer sama Daddy dan Mommy, lagi pula ada ibunya. Dia tidak butuh dirimu."
Maxiliam merasa tak terima. “Apa salahnya Lili? Javer juga putra ku.”
“Putra mu?” Lili tak terima. Ia tak rela jika Maxiliam menyayangi anak tak tau siapa identitasnya. “Dia memiliki ayah. Dia tidak membutuhkan sosok dirimu. Lagi pula salahnya Rosetta yang tidur dengan sembarangan pria.”
Maxiliam menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka Lili berpikir jauh hanya karena anak kecil. “Jadi kau tidak suka pada Javer?”
Lili memejamkan kedua matanya. Ia tak ingin tersulut dan membuat namanya jelek di pikiran Maxiliam. “Bukan begitu sayang, aku tidak ingin Javer menganggap mu sebagai ayahnya. Bagaimana kalau nantinya ayah kandung Javer tidak terima kalau Javer bersama mu?”
“Sudahlah Lili, aku ingin keluar. Nanti kita bicarakan lagi. Seharusnya sebagai tantenya kau menyayanginya bukan malah cemburu.”
Maxiliam merasa kecewa, seandainya Lili tau entah apa yang akan terjadi. Ia kembali ke ruang keluarga dan melihat wajah Agam yang memiliki banyak lukisan spidol. “Sayang boleh paman ikut bergabung lagi? Paman ingin di lukis juga.”
Dengan semangat Javer melukis wajah Maxiliam. Kedua pipinya di lukis dengan coretan kumis kucing, Agam pun terkekeh, ia tidak pernah merasakan sebahagia ini. Rasanya sangat menyenangkan bersama dengan cucunya.
Pada malam harinya.
Lili merasa seharian ini udara di sekelilingnya terasa panas, seharian penuh ia melihat anak dari kakaknya merebut perhatian Maxiliam. Pria itu seakan menganggap Javer putranya sendiri.
“Aku sudah kenyang.” Lili menaruh garpu dan sendoknya di atas piringnya yang tersisa separuh.
“Lili kau belum menghabiskan makanan mu,” ujar Diane sambil menatap Lili yang berlalu pergi.
“Aku sudah kenyang Mom.”
Diane dan yang lainnya kembali memperhatikan Javer. Kedua netra Rosetta menatap sendu ke arah Javer, ia tidak akan bisa memberikan keluarga yang utuh.
…
“Mommy di sini enak.” Seru Javer. Seharian ini ia memakan banyak sekali kue.
Rosetta mengelus pucuk kepala Javer dan mencium keningnya. “Tapi kita boleh tinggal di sini sayang. Kita akan mengunjungi nenek dan kakek di lain waktu.”
Javer mengerti, ia hanya mengikuti kemauan sang ibu. “Iya Mom.”
“Sekarang Javer tidur, ibu akan bacakan dongeng.”
Selang beberapa saat terdengar ketukan pintu. Rosetta menutup buku dongeng tersebut. Tadi Diane membelikan beberapa buku dongeng untuk Javer. Diane bertanya padanya apakah Javer suka di dongengkan apa tidak sebelum tidur, ia pun mengatakan sejujurnya, Javer selalu meminta di dongengkan dan Diane pun membeli sendiri beberapa buku dongeng.
Tok
Tok
Ceklek
“Iya.”
Maxiliam menggaruk pipinya yang tak gatal. Kedatangannya untuk melihat Javer. “Apa Javer sudah tidur?”
“Dia sudah tidur. Kau ingin melihatnya, masuklah.” Sebisa mungkin selama masih tinggal di sini ia ingin memberikan kasih sayang seorang ayah pada putranya.
“Terima kasih.”
Rosetta meminggirkan tubuhnya, Maxiliam pun melewatinya.
“Selamat tidur.” Maxiliam mrncium kening Javer dan menarik selimut sampai di dadanya.
“Rosetta kau tidur di sini?”
“Iya.”
Maxiliam tersenyum, ia ingin mengobrol dengan Rosetta. “Bisakah kita berbicara sebentar saja?” Tanya Maxiliam. “Aku ingin bertanya tentang Javer.”
“Javer, dia menyukai cokelat dan beberapa kue. Dia tidak pernah menolak kue apa pun asalkan manis menurutnya. Ia paling menyukai spageti. Mainan yang ia sukai boneka beruang. Dia tidak terlalu menyukai robot atau yang lainnya.”
“Dia pernah melihat boneka beruang yang sebesar dan mengatakan bahwa ayahnya seperti beruang yang besar bahkan dia memberi julukan daddy beruang,” ucap Rosetta sambil mengingat saat javer mengatakan beruang yang terpajang di toko itu seperti ayahnya. “Ada yang mau kau tanyakan lagi?”
Maxiliam menatap lekat wajah Rosetta. "Bagaimana kabar mu selama ini Rosetta? Pasti kau kesulitan menjaga Javer sendirian. Kenapa kau tidak mengatakannya pada ku? Aku berhak mengetahuinya Rosetta."
"Aku tidak ingin mengganggu hubungan mu dengan Lili. Aku yakin suatu saat nanti kau akan memiliki anak dengannya."
Maxiliam memejamkan kedua matanya, entah kenapa ia merasa tak semangat untuk memiliki anak dengan Lili.
"Aku yakin suatu saat nanti kau akan lebih memperhatikan anak Lili dari pada Javer, jadi buat apa aku mengatakannya."
Maxiliam tak menyangka jika Rosetta berpikir jauh tentang dirinya. "Sekalipun aku memiliki anak dengan Lili, aku akan tetap menyayanginya Rosetta. Kau tidak bisa membuat ku berpisah dengan Javer begitu lama."
Maxiliam bangkit, ia menahan kedua langkahnya tepat di samping Rosetta. "Jangan membawa Javer jauh dari ku. Aku bisa merebut Javer dari mu. Tapi aku tidak akan melakukannya asalkan kau tidak menjauhkan diriku darinya. Aku akan mengatakan sejujurnya bahwa aku adalah ayahnya."
Ia tidak peduli jika Lili mau menerima Javer atau tidak. Ia tetap akan melakukannya jika Rosetta membuatnya menjauh.
Keesokan harinya.
Rosetta memandikan Javer, setelah selesai ia mengusap minyak bayi dan bedak bayi ke tubuhnya hingga membuat Javer harum khas anak bayi.
"Ayo sarapan nenek dan kakek pasti menunggu." Ajaknya.
Rosetta menggendong Javer seperti anak koala. Tanpa ia sadari, ia berpapasan dengan Maxiliam yang sepertinya ingin ke ruang makan.
"Wah Javer, pasti harum ya." Maxiliam mencium pipi Javer. "Mau gendong Paman?"
"Javer ingin di gendong paman?" tanya Rosetta menawarkan.
"Apa boleh?" tanya Javer.
"Iya sayang."
Javer merentangkan kedua tangannya dan Maxiliam pun meraihnya hingga tubuhnya berpindah ke tubuh Maxiliam.
"Javer harum, emmuah." Tidak ada bosan-bosannya ia memcium pipi Javer. Rasanya Javer adalah dunia. Ia menoleh ke arah Rosetta dan tersenyum, membayangkan bersama dengan Rosetta dan Javer yang berada di dalam gendongannya tidak terlalu buruk. Ia pun menggelengkan kepalanya, rasanya aneh jika ia harus menginginkannya.
Lili mengigit bibir bawahnya, rasanya ia sangat muak melihat kebersamaan Javer dan Maxiliam. Nanti ia akan membicarakannya dengan Rosetta agar wanita itu tau batasannya.
"Max kau tidak ke kantor?" tanya Lili.
"Tidak! Hari ini aku ambil libur. Aku ingin menemai Javer."
"Javer sudah ada Daddy dan Mommy." Lili menegaskan jika Javer tak butuh dirinya. "Hanya karena dia kau ambil cuti kerja?" Lili tak pernah habis pikir, entah apa yang berada di dalam pikiran Maxiliam.
"Biarka saja Lili apa salah?" Diane menyela.
"Benar, seharusnya kau juga harus dekat dengan Javer." Agam menimpali membuat Lili menyerah dan memilih diam.
.....
Lili langsung menghampiri Rosetta begitu ada waktu berdua. "Rosetta."
"Iya." sahutnya.
"Aku tau kau membawa Javer bukan niat yang lain."
"Apa maksud mu?" tanya Rosetta. Kedatangannya hanya untuk menjenguk dan menemani ibunya.
"Jangan memanfaatkan Javer karena kau ingin mendekati Maxiliam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Siti Masitah
maxi kyak binatang ..niduri kk adek...cih
2024-10-05
1
Noorjamilah Sulaiman
bgs carikn CEO utk rose aja
2024-08-26
0
Indah Zhie
lanjuttt thorrr
2024-02-11
0