Sepanjang malam Maxiliam tak bisa memejamkan kedua matanya. Ada yang panas, tapi ia tidak mengeluarkan keringat. Ternyata hatinya, dadanya terasa panas. Jika memang benar Rosetta menikah, apa yang harus ia lakukan?
"Hah." Lelah mondar-mandir ia duduk di tepi ranjang. Sejenak ia menoleh ke arah Javer.
Seharusnya ia merasa senang jika Rosetta menikah lagi, itu artinya Javer memiliki status.
Tanpa sadar, waktu terus berjalan dan sudah memasuki waktu pagi. Maxiliam masih berada di tepi ranjang dengan menopang dagu dengan sebelah tangannya.
Ceklek
Rosetta masuk dan melihat Maxiliam yang mengusap bibirnya, pria itu seakan menggumamkan sesuatu dan tidak menydari kedatangannya. "Max."
Tidak menanggapi ucapannya. Rosetta memegang bahu Maxiliam. "Maxi kau kenapa?"
"Ah, Rosetta." Maxiliam berdiri dan tersenyum. "Kau sedang apa?"
"Aku berniat memabangunkan mu. Aku takutnya kau terlambat kerja."
Rosetta melihat lingkaran mata yang menghitam, sepertinya Maxiliam tadi malam tidak bisa tidur. "Apa kau merasa tak nyaman tidur dengan Javer?"
"Tidak! Bukan begitu, aku hanya merasa lelah saja."
"Aku sudah menyiapkan sarapan, sebaiknya kau turun. Biar aku yang membangunkan Javer."
Maxiliam mengangguk, ia keluar dan di meja makan telah tersedia sandwich dan ia melihat Emely yang menyantap sarapannya.
"Kau sudah bangun? Kapan aku pulang?"
Maxiliam mengambil sandwich di atas piring yang di sediakan oleh Rosetta. "Apa hak mu mengurusi ku? Aku bisa pulang kapan saja."
"Ya aku memang tidak memiliki hak, tapi setidaknya aku memiliki urat malu." Emely menarik sebelah sudut bibirnya. "Jika Rosetta menikah, kau yang pertama kali akan aku undang."
Maxiliam menghentikan kunyahan di mulutnya. Ia menatap tajam ke arah Emely. Wanita di depannya selalu saja megusilinya. "Aku akan menerima undangannya."
Maxiliam pun bangkit, ia memilih menuju ke kamar Javer dan melihat Rosetta telah selesai memandikan Javer. "Rose aku pinjam kamar mandi mu."
"Iya." Sahut Rosetta. Dia melanjutkan memakai pakaian Javer dan mengantarkannya ke ruang makan.
Kedua mata Rosetta melihat sandwich yang belum habis tersebut. "Maxiliam tidak menghabiskan sandwichnya?"
"Biarkan saja." Emely tak ingin membahas Maxiliam, bisa-bisa ia naik darah di deoan Javer.
Rosetta pun memakan sandwichnya hingga tandas. Entah beberapa menit sudah berlalu ia tidak melihat kemunculan Maxiliam.
"Aku ke atas dulu melihat Maxiliam."
"Tanpa kau melihatnya dia tidak akan mati Rose."
"Aku tau itu, tapi dia lama gak keluar."
Emely kembali fokus pada Javer, biarkan saja, terserah apa yang mau di lakukan mereka berdua.
Ceklek
Rosetta melihat Maxiliam yang berdiri di depan cermin. Pria itu sedang mengikat dasinya. Ia menghampirinya dan melihat kedua tangan kekar Maxiliam terasa asing mengikat dasinya. "Mau ku bantu?"
Maxiliam menoleh, sejak tadi ia tidak bisa mengikatnya. Ia berbalik menghadap ke Rosetta. "Lakukanlah, aku sudah dari tadi tidak bisa memakaikannya."
Rosetta mulai mengikat dasi Maxiliam dengan rapi dan hati-hati. Maxiliam jelas merasakan harum aroma shampo milik Rosetta, bahkan ia merasakan hembusan hangat nafas milik Rosetta dan wajahnya yang begitu cantik untuk di pandang. Baru kali ini ia begitu dekat melihat wajah Rosetta.
"Sudah." Rosetta mendongak, kedua netranya membalas tatapan hangat Maxiliam.
"Mommy, Daddy."
Rosetta memalingkan wajahnya, begitu pun Maxiliam, keduanya langsung tersadar dan merasa gugup.
"A-aku berangkat dulu." Maxiliam mengambil tas kerjanya dan bergegas pergi. Di pertengahan anak tangga, ia sejenak berhenti dan menghembuskan nafas kasarnya. Jantungnya seakan meledak saat ia merasakan hembusan nafas Rosetta.
Emely melirik Maxiliam dengan tatapan aneh. Kemudian ia melanjutkan langkahnya dan ingin mengatakan sesuatu.
"Rosetta aku sudah menemukannya, malam ini kau harus dandan yang cantik." Emely begitu senang, ada seseorang yang menerima niat baiknya. Nanti malam Rosetta akan mengadakan pertemuan dengan seorang pria.
"Siapa?" tanya Rosetta. Entah bagaimana caranya Emely bisa mendapatkan kencan laki-laki dengan mudahnya.
"Sudahlah nanti aku akan mempertemukan mu."
"Siapa Tante Emel?" tanya Javer. Dia mendongak karena tingginya sampai di pinggang Emely.
"Nanti Javer tau sendiri. Ayo kita ke butik." Emely menggenggam tangan Javer.
Sesampainya di butik, berbagai macam pakaian Emely menyuruh Rosetta mencobanya dan semuanya sesuai dengan tubuh Rosetta. Tidak ada pakaian yang tidak cocok untuk Rosetta pakai nanti malam. "Rosetta kau harus tampil cantik malam ini dan biar aku yang menjaga Javer."
Drt
Rosetta mengambil ponselnya di tas yang berada di atas meja, tepat ruang tunggu. Ia melihat nama ibunya menghubunginya. "Iya Mom."
"Rosetta kau ada dimana? Aku berada di apartemen mu tapi tak bisa masuk."
"Aku ada di luar Mom, aku secepatnya pulang Mom."
"Tidak usah, biar aku yang menghampiri mu."
"Aku berada di butik xxx Mom."
"Ya sudah Mommy kesana."
Rosetta memutuskan panggilannya dan kembali beralih pada Emely. Entah apa yang di pikirkan Emely, wanita itu tiba-tiba membawa gaun pengantin untuk Rosetta.
"Rosetta kau cobalah pakai gaun ini." Dengan kedua mata berbinar, Emely menyodorkan gaun pengantin berwarna putih tersebut.
Rosetta menggelengkan kepalanya. "Tidak Emely, aku tidak mau. Lagian siapa yang ingin menikah ini hanya pertemuan biasa."
"Sudahlah Rosetta."
Rosetta menyerah, ia tak tega melihat kedua mata Emely yang berbinar-binar dan menyilaukan. "Baiklah akan aku coba."
Sebenarnya ia lelah, namun demi membuat sahabatnya senang ia harus lakukan.
Emely membuka kameranya, ia bersiap-siap memotret Rosetta. Ia yakin sahabatnya pastilah sangat cantik.
"Rosetta." Emely menganga, Rosetta begitu cantik dengan kedua bahu yang terbuka dan di atas kepalanya ada mahkota bunga. Ia pun memotret Rosetta dan mengirimkannya pada seseorang.
"Kau sangat cantik Rosetta."
"Rosetta." Panggil Diane. Ia terkejut melihat Rosetta yang begitu cantik tapi anehnya kenapa putrinya memakai gaun pengantin. "Sayang kau ingin menikah?"
"Tidak Mom, ini salah paham. Emely yang menyuruh ku mencobanya, jadi aku hanya menurutinya."
"Tante Rosetta cantik kan?"
"Iya sangat cantik." Diane merasa senang jika Rosetta akhirnya menikah.
"Iya sudah aku ganti dulu."
Diane mengangguk dia menuju ke arah sofa menghampiri Javer. "Javer kamu mau ikut dengan nenek."
"Tidak!" Javer membalas ucapan Diane dengan tegas. "Aku tidak mau, di sana ada tante jahat."
"Siapa?" tanya Diane penasaran. "Apa ada yang jahatin Javer?"
Javer mengangguk dan mengurucutkan bibirnya. "Tante jahat kemarin juga datang, dia mengganggu Momny dan mengatakan Javer tidak punya ayah."
"Siapa?" Diane menebak-nebak siapa orangnya. "Apa tante Lili?"
Javer mengangguk, ia tidak betah berada di sana karena ada Lili. "Iya dia jahat, aku tidak mau ke rumah nenek lagi. Dia selalu mengatakan aku anak yang tidak di inginkan.
Diane menganga dengan lebar, ucapan Lili sudah kelewat batas. "Maafkan Nenek, nanti Nenek akan memarahinya. Javer punya ayah."
"Iya, Paman itu menyuruh Javer memanggilnya Daddy."
"Paman? Paman siapa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
kesel aku SM si ross BKN nya menjauh mlh mndekt gmn GK mrh si lili udh ktebak ujung2 nya bkl blik bilk LG ma si mak
2024-06-12
1
Desi Forever
bongkar terus semuanya biar kapok
2024-02-18
0
Wahyu
jangan sampai javer keceplosan kalau max nginep di apartemennya rose
2024-02-17
2