Aku Sudah Tidak Mencintainya

Rosetta  duduk sambil menekuk kedua lututnya, ia memandang sebuah tes kehamilan di depannya yang bergaris dua terang. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. 

Ceklek

“Rosetta!” Hana duduk di kursi dekat Rosetta. “Apa ini?” Hana mengambil tes kehamilan itu dan kedua matanya membulat sempurna. “Kau hamil? Hamil? Anak siapa Rosetta? Apa kau bermalam dengan kakak tirimu?”

Rosetta masih diam membeku, ia sungguh tak tau harus bagaimana lagi. “Apa yang harus aku lakukan? Aku pernah mati Hana.” 

Hana mengerutkan keningnya. “Apa maksud mu Rosetta?”

“Dengar! Aku kembali ke masa lalu.” Rosetta mulai menceritakan semuanya.

“Waw kau kembali ke masa lalu?” Hana tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu. “Lalu apa yang kau ketahui di masa lalu walau sebenarnya.”

“Kau mungkin masih belum percaya Hana, tapi inilah kejadiannya. Aku pun belum percaya sepenuhnya,” ujar Rosetta. “Aku ingin merahasiakan kehamilan ku. Tolong bantu aku Hana.”

“Apa kau ingin pergi dari sini?” Tanya Hana.

Rosetta mengangguk, ia malas untuk berdebat dengan keluarganya dan di tambah lagi harus bertemu dengan mereka. 

“Pernikahan mereka tinggal dua bulan. Aku akan menghadiri pernikahan mereka.”

Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju. Ia takut Rosetta merasa terbebani dan malah membahayakan janin di dalam kandungannya.

“Aku yakin Hana, kalau aku tidak datang. Mereka akan menganggap ku, kalau aku belum bisa melupakan Max.”

Hana mengangguk, ia memeluk Rosetta dan menyandarkan kepalanya ke bahu Rosetta. “Aku mendukung mu Rosetta. Aku akan tinggal di sini menemani mu sampai anak mu lahir. Aku akan ikut dengan mu.”

“Terima kasih Hana.” Rosetta merasa bersyukur, di saat keluarganya tak mendukungnya, justru Hanalah yang selalu ada untuknya. Ternyata dalam hidup, kita tidak boleh menggantungkan hidup ku pada keluarga atau manusia, kita harus menggantungnya pada Tuhan.

Di tempat lain.

Seorang wanita memandang lurus ke depan. Wanita itu merasa rindu pada Rosetta. Sudah beberapa bulan Rosetta tidak pernah datang ke rumahnya. Bahkan ia tidak tau bagaimana keadaan Rosetta. 

“Kau masih memikirkan Rosetta?” Tanya Agam sambil mengikat dasinya. Dia melirik istrinya yang duduk di sisi ranjang.

“Tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan putrinya.”

“Semua ini pelajaran untuk Rosetta. Dia harus sadar.”

“Selama ini kita selalu menuruti Lili. Apa kita tidak keterlaluan pada Rosetta?” Diane merasa ia menjadi ibu yang buruk. Entah bagaimana keadaan Rosetta. Entah anak itu makan dengan benar atau tidak.

“Kita harus mementingkan Lili, kasihan Lili selama ini dia harus sakit-sakitan. Nanti aku akan menemui Rosetta di Apartemennya.” Agam menghampiri istrinya dan mencium keningnya.

Diane tersenyum, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Rosetta, namun sama sekali ponselnya tak tersambung. “Rosetta semoga kau baik-baik saja.”

“Apa Mommy baik-baik saja? Apa Mommy merindukan kak Rose?” Tanya Lili dengan wajah sendu. “Maafkan aku, gara-gara aku kak Rose pergi.”

Agam melirik tajam pada Diane, ia tidak ingin Lili sedih. “Sayang, Mommy hanya tidak enak badan bukan karena Rosetta. Kau harus menjaga kesehatan mu. Sebentar lagi kau menikah.”

“Iya Dad. Di kampus aku tidak pernah bertemu dengan kak Rosetta. Sebenarnya kak Rosetta kemana? Apa dia sedang bersama dengan teman-temannya.”

“Anak itu selalu tidak berubah, sampai kapan dia akan menjadi anak liar.” Kecam Agam. Ia tidak tau lagi harus menyadarkan Rosetta seperti apa.

“Daddy jangan marah, kak Rosetta butuh hiburan.” 

“Sudahlah kau selalu membela Rosetta. Ayo Daddy akan mengantar mu ke kampus.”

Pada siang harinya.

Rosetta dan Hana makan di luar. Keduanya sedang menikmati makan siang. Rosetta tak memperhatikan sekelilingnya tanpa sadar seorang wanita menghampirinya.

“Kak Rosetta.” Sapa Lili.

Rosetta menoleh dan melihat Lili bersama Maxiliam. “Lili.” 

“Kak, kakak kemana saja? Mommy sangat merindukan kakak,” ujar Lili. “Kak ayo pulang,” tambahnya. 

“Aku pasti pulang.” 

“Janji ya Kak?” Tanya Lili dengan senyum mengembang.

Rosetta mengangguk dan tersenyum. 

“Sayang kita makan bersama dengan Kak Rosetta saja,” ucap Lili. Ia ingin makan bersama dengan mereka dan ingin tau apakah Rosetta masih berharap pada calon suaminya itu.

“Baiklah.” Maxiliam menurut, ia tidak ingin berdebat dengan Lili. Ia harus menahan ketidaksukaannya pada Rosetta.

Hana merasa tak nyaman, sahabatnya pasti tertekan. Entah apa yang harus ia lakukan. “Rosetta aku sudah kenyang, katanya kau ingin menemani ku.”

“Kakak harus menunggu ku selesai makan.” Lili menyela. Ia ingin Rosetta duduk bersama mereka.

“Maaf Li, Rosetta sudah janji pada ku. Lagian, kami tidak ingin mengganggu kalian. Iya kan Rosetta?” Hana menunggu jawaban Rosetta.

“Iya Li, kapan-kapan aku akan makan bersama kalian.”

Hana menarik lengan Rosetta, ia jengah duduk bersama mereka. Ia memang tidak suka pada Lili, wajahnya dan sikapnya seolah di buat-buat.

Sesampainya di dalam mobil.

Rosetta merasa lega, dadanya yang terasa terhimpit perlahan merasa lega. “Terima kasih Hana.”

“Aku tau kau tidak suka, aku pun begitu. Rosetta sebaiknya kau berhati-hati pada adik mu. Aku yakin dia merencanakan sesuatu. Dia seperti rubah, pura-pura polos tapi kejam.”

“Tubuhnya lemah.”

“Rosetta tubuh lemah dan sifat itu berbeda, gak ada hubungannya. Aku tidak suka sama adik mu. Menjauh darinya. Aku yakin tadi itu dia ingin memanasi mu.”

“Iya Hana, aku akan berhati-hati.”

Hana mengelus perut rata Rosetta, ia bersyukur Rosetta tidak mual dan justru makannya bertambah. "Apa kita harus berbalanja perlangkapan bayi?"

"Tidak Hana, ini masih terlalu dini."

Hana memasang wajah cemburut, ia tidak sabar membeli perlengkapan bayi dan tidak sabar melihat wajah anak Rosetta. Ia berharap anaknya Rosetta mirip dengan wajahnya, bukan dengan wajah Maxilima, pria paling brengsek itu.

….

“Sayang kenapa kak Rosetta selalu menjauh dari ku,” ucap Lili dengan nada sedih. “Padahal aku ingin dekat dengannya.”

Inilah yang tidak di sukai oleh Maxiliam.  Lili selalu menyalahkan dirinya. "Sayang jangan memikirkan Rosetta, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ya sudah sebaiknya kita makan saja." Jika bertemu dengan Rosetta ia ingin menegurnya.

Pada malam harinya.

Rosetta manutup pintu mobilnya, ia sangat ragu untuk berbalik dan menatap rumah berlantai dua di depannya. Siap tidak siap, ia harus siap melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu. Sebenarnya ia tak ingin kembali namun tadi mendapatkan kabar bahwa ibunya sakit, ia harus mendatanginya walaupun ia sering di kecewakan.

Ia menarik dalam napasnya dan mulai melangkah masuk. Ia menuju lantai atas ke kamar kedua orang tuanya.

"Mommy."

Semua orang menoleh, Agam merasa tenang karena Rosetta mau datang. Tadi istrinya merengek ingin bertemu dengan Rosetta.

"Rosetta."

Agam, Lili dan Maxiliam mundur, ia memberi jalan pada Rosetta untuk menghampiri Diane.

"Rosetta Mommy merindukan mu," ucap Diane sambil memeluk Rosetta. "Kau kemana saja? Bagaimana? Apa kau makan dengan baik?"

"Mom aku baik-baik saja. Mommy kenapa harus sakit?"

"Maafkan Mommy, maafkan Mommy." Diane merasa bersalah karena sudah menjaga jarak dengan Rosetta.

Rosetta tersenyum, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Mommy tidak salah, Rosetta yang salah."

...

Rosetta duduk di samping ibunya sambil menggenggam tangan Diane. Kini mereka berdua, Diane meminta untuk berbicara dengan Rosetta berdua saja.

"Rosetta apa kau masih berharap pada Maxiliam? Sayang, Maxi tidak mencintai mu. Cinta tidak bisa di paksa. Mommy tidak ingin kamu menderita."

"Rosetta sadar Mom, Rosetta tidak menyukai Maxiliam. Rosetta sudah melupakannya."

"Kalau begitu, tinggalah di sini Rosetta. Kita bisa bersama lagi."

Deg

Rosetta terharu saat ibunya memintanya untuk tinggal, tapi ia trauma. Ia takut semuanya tidak akan berubah, ia tidak ingin makan hati, apa lagi ia harus menyembunyikan anak di dalam perutnya.

"Rosetta tidak bisa Mom. Rosetta akan tetap tinggal di Apartemen, tapi Rosetta akan sering kesini. Rosetta ingin menyendiri Mom." Tolaknya.

Diane merasa kecewa, ia tidak ingin berpisah dengan Rosetta namun ia harus menghargai Rosetta.

Terpopuler

Comments

Siti solikah

Siti solikah

bagus

2025-03-20

0

Indah Zhie

Indah Zhie

lanjuttt thorrr

2024-01-31

1

mecca

mecca

lanjut thor...semangat💪💪💪💪

2024-01-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!