Emely terkejut dengan kedatangan seseorang. Pagi-pagi sekali pria yang sangat ia benci mendatanginya dan malah menganggu suasana hatinya.
"Emely siapa?" tanya Cloudie. Wanita itu melihat seorang pria. "Dia siapa Emely."
"Masuklah." Emely mempersilahkan masuk. Cloudie pun bergegas pergi ia pikir pria itu teman putrinya.
"Aku ingin tau keberadaan Rosetta? Apa kau bisa mengatakannya?" Tanya Maxiliam.
Sebelah bibir Emely tertarik ke atas. Lama-lama ia narik darah meladeni pria di depannya. "Buat apa? kehidupan Rosetta tak ada hubungannya dengan mu."
Maxiliam menatap tajam, ia semakin yakin wanita di depannya mengetahui sesuatu. "Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
Emely mengalihkan kedua matanya. "Siapa yang menyembunyikan sesuatu? Untuk apa? Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu pada mu."
"Emely, Rosetta menghubungi mu!" teriak Cloudie.
Emely berdiri, waktunya berharga untuk meladeni Maxiliam. "Jika tidak ada lagi, silahkan anda pulang. Saya sedang sibuk."
Maxiliam masih tetap duduk hingga akhirnya Emely meninggalkannya. Ia menghela nafas entah bagaimana caranya ia bia mengetahui keberadaan Rosetta. Selain Emely, tak ada yang tau keberadaan Rosetta.
Maxiliam beranjak, bukannya pergi dia malah mengekori Emely. Ia penasaran dengan obrolan mereka.
“Rosetta ayah mu datang ke sini katanya ibu mu drop.” Tutur Emely.
Maxiliam semakin melebarkan telinganya untuk mendengarkan obrolan mereka. Dia bersembunyi di balik beton dan pot besar.
“Aku tidak bisa pulang Emely.”
Terdengar helaan nafas dan Emely pun paham hatinya belum siap untuk menemui keluarganya. “Aku akan mengatakannya pada ayah mu nanti.”
“O iya tadi Maxiliam datang mencari mu,” ucap Emely.
“Untuk apa?” Tanya Rosetta. Ia tidak mengerti pria itu tiba-tiba mendatanginya.
“Aku tidak tau, sepertinya ada sesuatu. Entahlah, mungkin hanya perasaan ku saja. Aku bisa merasakan lewat tatapannya tadi. Sebenarnya aku sih takut melihat tatapannya, tapi ya bagaimana.”
“Tidak mungkin dia mengetahuinya,” ucap Rosetta.
Emely mengangguk, pria itu tidak tau jika memiliki anak. “Bagaimana keadan Javer?”
“Dia baik-baik saja, ya sudah aku mau menyiapkan sarapan untuknya.” Rosetta memutuskan panggilannya.
Emely menatap ponselnya dan teringat dengan wajah Javer. Ia kasihan pada Javer, jika suatua saat nanti anak itu melihat Maxiliam memiliki anak lain entah bagaimana perasaannya. Ia tak tega melihatnya.
“Apa yang di katakan Rosetta?” Tanya Cloudie. Ia mendatangi putrinya karena ingin tahu obrolan putrinya dengan Rosetta. Walaupun tadi ia sempat mengobrol sekedar basa-basi dengan Rosetta.
“Dia tidak pulang Mom.” Emely duduk di kursi putih sambil menatap nanar ke arah depan. “Aku kasihan pada Javer Mom. Javer mungkin tidak tau siapa ayahnya, aku tidak bisa membayangkan jika Javer melihat Maxiliam bersama dengan Lili dan anaknya …” Emely mengusap air matanya. “Aku tidak tega seandainya dia tau semuanya. Aku lebih setuju Rosetta menjauh dari keluarganya. Jika Rosetta sudah bisa mengendalikan perasaan tapi tidak dengan Javer Mom.”
Cloudie menganggum ia pun membayangkannya tak tega rasanya. “Rosetta wanita yang baik, keadaanlah yang memaksanya. Tapi aku salut padanya, sekalipun dia mengandung anak dari suami adiknya yang sekarang tapi dia tidak berniat untuk meminta tanggung jawab padanya.”
“Aku tak tega ketika saat ulang tahunnya. Javer ingin hadiah dari ayahnya sedangkan ayahnya tidak tau keberadaannya. Aku dan Rosetta selalu berbohong bahwa hadiah itu berasal dari ayahnya. Dia pernah meminta foto ayahnya, tapi dengan alasan karena pindah rumah karena rumah kebakaran dan foto ayahnya terbakar baru Javer mengerti Mom.”
“Kasihan sekali anak itu. Aku berharap dia tidak tau siapa ayahnya dan Rosetta menemukan kebahagiannya dengan pria lain.”
“Aku juga berharap begitu Mom. Maxiliam tidak akan mengakui Javer atau dia bisa mengambil Javer dari Rosetta lebih baik Maxiliam tidak tau dan Javer tidak tau.” ucap Emely.
Drt
Sebuah ponsel berdering, Emely mengerutkan keningnya. Bunyi tersebut bukan berasal dari ponselnya. “Ponsel siapa yang berbunyi.”
Maxiliam langsung mematikan ponselnya dan bergegas pergi sebelum kedua Emely dan Cloudie mengetahui keberadananya. Ia menuju ke arah mobilnya dan menutup pintu dengan rapat.
Kedua tangannya mengepal kuat, ternyata benar ia memiliki anak dengan Rosetta dan anak itu adalah anaknya. “Rosetta.”
Buk
Maxiliam memukul stir mobilnya, perasannya kecewa dan sakit hati karena telah di bohongi. “Aku harus mengetahui keberadaan Rosetta.”
Tok
Tok
Tok
Maxiliam menoleh dan melihat seorang wanita yang mengetuk pintu kaca mobilnya. Ia menurunkan kaca mobilnya.
“Kenapa anda masih di sini?” Tanya Emely. Setelah mencari asal ponsel yang berbunyi tadi, siapa sangka ia sampai di halaman depan karena ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang menguping pembicaraannya tadi dan ternyata ia malah melihat mobil asing yang masih berada di depan rumahnya.
“Aku akan segera pergi,” ucap Maxiliam dengan nada dingin dan kemudian menutup kaca mobilnya.
Emely berkacak pinggang. “Idih, kenapa bisa Rosetta jatuh cinta pada patung es itu.”
Emely bernafas lega ternyata tak ada siapa pun, mungkin pendengarannya yang salah.
….
“Apa kau sudah menemukan Rosetta?” Tanya Maxiliam. Ia menyuruh beberapa bawahannya untuk mencari kepergian Rosetta di bandara atau di kereta api.
“Tidak Tuan, kami tidak menemukan atas nama nona Rosetta melakukan penerbangan atau perjalanan jauh.” Tuturnya.
“Sial!”
“Kau terus selidiki keberadaan Rosetta dan awasi teman Rosetta, Emely.”
Maxiliam memutuskan panggilannya, ia bingung entah harus mencari tau keberadaannya dari mana lagi.
Drt
“Iya Lili.”
“Aku pulang sekarang,” ucap Lili.
……
Di rumah sakit.
Maxiliam melihat dokter yang keluar dari sebuah ruangan. Melihat kedatangannya, Lili pun berhambur memeluknya. Maxiliam memeluk Lili dengan wajah khawatir.
Agam terlihat sangat cemas, tiba-tiba istrinya mengeluh sakit jantungnya. Ia mengekori dokter yang memeriksa istrinya.
Penjelasan sang Dokter membuat Agam sangat ketakutan. Ia memejamkan kedua matanya.
“Daddy.” Lili bersandar di bahu ayahnya. “Dimana kakak Dad? Apa dia tidak tau semuanya gara-gara dia Mommy seperti ini.” Marahnya.
“Seharunya dia pulang kalau dia memang menyayangi Mommy.”
“Lili janga memperkeruh suasana.” Rasanya hatinya tak terima ketika Lili menjelekkan Rosetta.
Rosetta terdiam, ia memilih menangis di sandaran ayahnya.
Drt
“Dimana Rosetta? Suruh dia secepatnya pulang. Ibunya drop dan sekarang berada di rumah sakit.” Agam mematikan ponselnya. Ia merasa frustasi.
Agam beranjak ia memilih masuk sedangkan Lili berada di kursi tunggu sendirian.
“Lili jangan membahas Rosetta. Kasihan Mommy dan Daddy.” Maxiliam menegunya dengan lembut.
Lili mendengus kesal, memang semuanya salah kakaknya. Coba saja kakaknya tidak kabur tidak akan jadi seperti ini.
Dua hari kemudian.
Rosetta sudah berada di kota Milan. Wanita itu turun dari mobilnya dan melihat rumah sakit di depannya. Ia pun menanyakan ruangan ibunya pada resepsionis. Ia bergegas berlari menuju lift di ekori Emely.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
dori
sudahlah max. kamu sdh memilih lili. biarkan rose bahagia, semoga rose bs dpt cowo lain yg lbh baik dr max. buat apa max tahu, lagian max sdh me ikah dna punya anak. nasi udh jd bubur gak mgkin max cerai ataupun rose mana mau dimadu berdua sm adiknya.. wkwkw lucu
2024-11-25
0
mecca
semoga tidak ketemu dgn maxiliam dan lili jika hanya untuk d sakiti thor,ketemunya nanti aja thor klw Rosetta udah sukaes salam sehat untuk author tetap semangatttt💪💪💪💪
2024-02-05
1
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2024-02-05
0