Foto Test pack di pernikahan

Lili menarik Maxiliam ke arah Rosetta. Wanita itu meraih tangan Rosetta dan memeluknya. Sedangkan Emely memutar bola matanya dengan jengah.

"Kak aku senang kita sudah wisuda. Kakak ingin kerja dimana? Aku kebetulan kerja di perusahaan Maxiliam. Kalau Kakak mau, Kakak bisa ikut dengan ku." Lili menoleh ke arah Maxiliam meminta persetujuannya. "Benar kan Max?"

Maxiliam mengangguk. "Iya."

"Aku tidak tau kerja di mana. Ya sudah aku pulang dulu."

"Kakak tunggu, kenapa Kakak berubah? Kakak menjaga jarak dengan ku?"

"Tidak Lili, aku akan menemani mu kapan-kapan."

Emely menatap ke arah Lili. Ia muak pada wajahnya yang pura-pura polos. "Lili jauhi Rosetta. Semua orang di rumah mu menganggap Rosetta memiliki pengaruh buruk. Setiap ada Rosetta pasti akan terjadi sesuatu pada mu. Lili aku tau wajah mu yang pura-pura polos.

Emely menatap tajam ke arah Maxiliam dan kemudian menyusul Rosetta.

"Maxiliam kau lihat sendiri, dia menyalahkan ku. Padahal aku hanya merindukan Kakak ku."

Maxiliam merasa kasihan, Lili selalu ingin dekat dengan Rosetta namun wanita itu selalu membuatnya sedih. "Rosetta jauhi dia. Biarkan saja yang penting dia tidak mengganggu mu." Ia memeluk Lili dan menghapus air matanya. "Calon istri ku tidak boleh nangis."

"Rosetta apa kau sudah siap?" tanya Emely.

Kedua netra Rosetta sejenak menatap lekat ke arah Maxiliam. Untuk yang terakhir kalinya ia melihat senyuman di wajah pria itu meskipun bukan untuknya.

"Iya, ayo."

Rosetta masuk ke dalam mobil Emely, dia memandang lurus kedepan dan mencoba tersenyum untuk mereka yang terakhir kalinya.

Satu Bulan Kemudian.

"Kau mau kemana?" tanya seorang pria. Dia melihat istrinya sedang bersiap-siap. "Kau ingin menemui Rosetta?" tebaknya. Sudah satu bulan Rosetta tidak menghubungi istrinya.

Diane menghela nafas panjang. Sudah satu bulan Rosetta tidak menghubunginya bahkan nomornya pun tak bisa di hubungi. “Tentu saja aku ingin melihatnya.”

“Aku akan menemani mu.” Sebenarnya ia juga ingin melihat keadaan Rosetta.

“Dad, Mom, kalian mau kemana?” Tanya Lili. Dia memakai dress putih tulang. Rencananya hari ini ia dan Maxiliam akan makan siang di luar.

“Iya Dad, Mom, kalian mau kemana?” Tanya Maxiliam.

“Kita ingin menemui Rosetta,” ucap Diane.

“Kalau begitu kami ikut Mom,” ujar Lili. Ia penasaran bagaimana kabarnya Rosetta setelah satu bulan tidak ada kabarnya.

…..

Diane dan Agam memencet tombol beberapa kali namun sama sekali tidak ada tanda-tanda pintu terbuka.

“Kemana Rosetta?” Diane menebak pin pintu tersebut, ia memencet tombol ulang tahun Rosetta, dan ternyata dugaannya benar. Pintu tersebut terbuka.

Diane memandang suasana Apartemen tersebut, ia hanya melihat kegelapan. Ia menghidupkan lampu utama hingga seluruh ruangan Apartemen itu menyela dan terang.

“Sepertinya Apartement ini tidak berpenghuni,” ucap Maxiliam. Ia melihat gorden tertutup rapat dan bersih tanpa ada jejak orang yang tinggal.

“Rosetta!” Diane menuju ke lantai atas. Ia membuka pintu kamar Rosetta dan mengedarkan pandangannya. Gorden putih tertutup rapat. “Dimana Rosetta?” Ia merasa curiga, ia membuka pintu lemari dan sama sekali tidak ada satu pakaian apa pun.

“Rosetta!”

Diane berlari ke kamar sebelahnya dan melihat isi lemari, tidak ada satu pun pakaian. “Rosetta!” Mulut Diane menganga. Putrinya tidak mungkin meninggalkannya.

“Mommy! Daddy!” Teriak Lili.

Diane keluar begitupun Agam. Mereka berdua berlari menuju ke arah Lili.

“Ada apa Lili?”

“Mommy lihat!” Lili memperlihatkan sebuah alat kehamilan yang menunjukkan garis dua.

Diane menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, wajahnya begitu syok. Sedangkan Agam menggeram karena marah.

“Dia pergi sudah pasti karena hamil. Anak itu sama sekali tidak bisa menghargai kedua orang tuanya.”

Rahang Agam mengeras, ia sangat malu membesarkan Rosetta, tidak menghubungi keluarganya, kabur dan sekarang hamil.

“Daddy aku tidak menyangkan kak Rosetta berbuat sampai nekat.”

Sedangkan wajah Maxiliam menatap alat kehamilan di atas meja dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. “Rosetta hamil?”

“Entah siapa ayah dari anak kak Rosetta? Apa dia menyewa seorang pria?”

Rahang Agam tambah mengeras, berani-beraninya Rosetta bermain di luar hingga hamil. Ia tidak tau lagi harus berbuat apa.

“Tidak mungkin Rosetta seperti itu.” Diane tak percaya. Ia yakin Rosetta tidak memiliki hubungan dengan pria liar. Ia kenal Rosetta.

Lili melirik ke arah ibunya. “Tapi buktinya sudah ada Mom, lihatlah ini.”

“Cukup Lili! Kamu jangan menyulutkan api di saat seperti ini.” Bentak Diane. Ia begitu panas mendengarkan tuduhan yang di lontarkan putri bungsunya tersebut.

“Kau jangan marah pada Lili, sudah pasti ini kebenarannya.”

Diane memandang tajam pada suaminya. Ia sudah menikah bertahun-tahun tapi Agam selalu seenaknya mengambil kesimpulan. “Kau juga Agam, seharusnya sebagai keluarga kau bisa melindungi keluarga mu.”

Diane mengambil tasnya yang berada di sofa dan meninggalkan ruangan tersebut. Dia memanggil taksi dan butuh menenangkan diri.

Pada malam harinya.

Seorang pria berkacak pinggang menunggu kepulangan istrinya. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Entah sudah beberapa kali ia melihatnya. Ia kembali menghubungi istrinya tapi nomornya tidak aktif. “Kemana kamu Diane?”

“Haih.”

“Diane!” Teriak Agam. “Kau kemana saja? Jantung Lili kambuh.”

“Apa?” Diane terkejut, ia langsung lari menuju ke kamar Lili dan sampai di sana ia melihat Lili yang di temani oleh Maxiliam.

“Lili sayang.”

“Mommy.” Lili memeluk erat ibunya. Ia menangis tersedu-sedu. “Mommy jangan pergi, tolong jangan tinggalkan Lili.”

Diane merasa bersalah, tidak seharusnya ia meluapkan emosinya. “Maafkan Mommy sayang.”

Lili melerai pelukannya. “Mommy, Daddy, bisakah kalian tidak bertengkar lagi. Lili tidak ingin melihat pertengkaran di rumah kita. Bisakah kita melupakan semuanya, aku ingin seperti dulu,” ucap Lili sambil menangis tersedu-sedu.

Diane merasa bersalah, akhir-akhir ini hubungan mereka merenggang. “Iya sayang. Kita akan seperti dulu.” Diane memejamkan kedua matanya. Ia sangat merindukan Rosetta entah bagaimana keadananya? Ia berharap Rosetta dan anaknya sehat dan suatu saat ia bisa bertemu dengannya.

Dua bulan kemudian.

Di sebuah hotel, terlihat seorang wanita tengah memakai gaun pengantin berwarna putih dan elegan, di atas rambutnya terpasang mahkota mutiara putih yang indah. Kini ia mengakhiri masa lajangnya. Dia akan menikah dengan pria yang sangat ia cintai.

“Lili kau sangat cantik,” ucap Calista. Wanita itu merasa senang dengan pernikahan sahabatnya.

“Terima kasih Calista. Aku sangat senang.”

Calista mengurai pelukannya. “Apa kakak mu akan datang?”

“Aku tidak tau, terserah dia mau datang apa tidak yang penting aku sudah menikah dengan Max. Jadi aku tidak akan merasa terganggu jika dia datang,” ucapnya dengan santai.

“Benar, kakak mu tidak akan mengganggu mu.”

Sedangkan di tempat lain.

Maxiliam menatap tubuhnya di cermin, ia memakai sebuah jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Entah kenapa perasaannya merasa tak nyaman. Ia seolah merasa ada yang kurang.

“Apa Rosetta akan datang?” Entah mengapa ia teringat dengan Rosetta. Semenjak kecil ia dekat sekali dengan Rosetta. Bermain dengannya dan tertawa bersama, tapi semua itu seakan hancur, tapi ia tidak tau kehancuran kebersamaannya berada di mana.

Drt

Kening Maxiliam mengkerut melihat pesan dengan nomor asing. Ia membuka pesan tersebut dan melihat dirinya yang keluar dari kamar hotel. Sontak kedua matanya terkejut dan membulat sempurna. Ia menghubungi nomor tersebut namun tak di angkat.

Beberapa menit kemudian, pesan asing kembali masuk dan ia melihat sebuah garis dua.

“Hah!” Ia menutup mulutnya. Ia kembali menghubungi nomor ponselnya. “Siapa kamu?”

“Selamat tuan Maxiliam anda berhasil menelantarkan wanita yang tengah mengandung anak anda dan semoga pernikahan mu bahagia.”

Satu ucapannya membuat Maxiliam membeku. Saat hendak mengangkat suaranya, wanita di seberang sana memutuskan panggilannya.

Maxiliam terus menghubungi ponsel tersebut. Namun sama sekali tak tersambung. Dengan dada yang panas ia menghubungi Asistennya.

“Kamu lacak keberadaan nomor ini.” Maxiliam mengirim nomor ponsel tersebut ke Asistennya.

“Anak? Apa malam itu aku membuat wanita itu hamil?”

Ia sangat terkejut, tanpa di sangka-sangka ia telah memiliki seorang anak. Maxiliam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak menyangka dirinya harus menghamili seorang wanita.

“Max kau sudah siapa? Acaranya hampir di mulai?” Tanya Agam. “Kau kenapa?” Tanya Agam melihat wajah Maxiliam yang kebingungan. “Kau sakit?”

“Tidak apa-apa Dad.”

Agam mengangguk, ia membawa Maxiliam ke ruangan yang telah di siapkan untuk pernikahan mereka.

Agam tersenyum melihat Lili, namun hatinya merasa tak nyaman. Ia terus terbayang-bayang dengan foto garis dua tersebut.

Terpopuler

Comments

Siti solikah

Siti solikah

lily kayaknya bermuka dua

2025-03-20

0

Indah Zhie

Indah Zhie

lanjuttt thorrr

2024-02-01

1

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2024-02-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!