Sejenak Maxiliam menenangkan pikirannya. Dia tidak bisa berpikir jernih saat mengetahui Rosetta berkencan dengan orang lain.
"Apa Javer menerimanya?" tanya Maxiliam. Pendapat Javer sangat ia butuhkan. Jika putranya tak menerima Mario, itu artinya tidak akan ada orang yang bersaing dengannya.
Rosetta tersenyum, di lihat dari Sepertinya begitu, di lihat dari wajah Javer ia yakin putranya menerima Mario. “Mungkin.”
“Mungkin?” Maxiliam tidak mengerti dengan pemikiran Rosetta. “Apanya yang mungkin?”
“Sepertinya dia suka pada Mario.” Rosetta tersenyum. “O iya Javer sudah tidur. Kau tidak akan menginap di sini kan?’’
Maxiliam melangkah ke arah kasur dan duduk. Dia menyilangkan kedua kakinya. “Memang kenapa? Apa aku tidak boleh di sini.”
Rosetta tau jika Maxiliam ingin bersama dengan putranya, tapi waktunya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Ia sangat takut akan terjadi kesalah pahaman yang berkelanjutan. “Maxiliam sebaiknya kau tidak perlu menginap di sini lagi, aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi. Kau pasti mendengarkan ucapan Lili kan? Aku rasa Lili akan semakin membenci ku jika melihat mu di sini.”
“Terserah aku Rosetta, aku juga berhak di sini.” Tatapannya bagaikan anak panah yang siap menembus musuhnya.
Rosetta sangat kesal, keras kepala Maxiliam memang tidak ada obatnya. “Maxiliam aku ingin memberikan tempat yang aman untuk putra ku. Jika Maxiliam terus di ganggu oleh Lili, aku tidak segan membawa Javer dari kehidupan mu.”
Setelah mengucap kekesalan di hatinya, Rosetta pun pergi dan tanpa menoleh pada Maxiliam. Ia menutup pintu kamarnya dan melihat sebuah kemeja di sofa, ia mengambil kemeja tersebut dan teringat jika Maxiliam pernah menggunakan kamar mandinya. “Dia masih sama saja, baju kotornya selalu berada di mana-mana.”
Dulu pernah ia membereskan kamar Maxiliam dan mengambil pakaian kotornya lalu menaruhnya di keranjang.
“Maxiliam, Maxiliam.”
Keesokan harinya.
Rosetta membuka pintu kamarnya dan melihat ke lantai bawah. Suasana sepi dan hening sepertinya pria tadi malam mampu ia usir. “Apa dia sudah pergi?” Ia melangkah pelan dan melihat sekeliling apartemennya. Tak ada satu pun bayangan Maxiliam.
“Dia sudah pergi,” ucap Rosetta. Ia kembali ke lantai atas dan membuka pintu kamar Javer. Di sana ia melihat Javer yang sudah bangun dan mengucek kedua matanya. “Selamat pagi pria ku.”
Javer tersenyum dan sedikit mendongak, seperti biasa Rosetta akan mencium kedua pipinya. “Pagi Mom.”
“Mommy apa Daddy ada di sini?” Tanya Javer.
Rosetta mengusap pucuk kepala Javer. “Tidak sayang, Daddy berada di rumahnya bersama tante Lili. Javer jangan terlalu berharap pada Daddy. Mommy tidak ingin Javer terlalu berharap. Suatu saat nanti Daddy pasti bahagia bersama dengan keluarganya.”
“Mommy takut, tante Lili cemburu pada Javer.”
“Iya Mom, Mommy jangan khawatir.”
Rosetta menggendong Javer ke kamar mandi dan selang beberapa saat, Javer pun telah selesai mandi. Ia menyiapkan sarapan untuk Javer.
"Pasti itu Emely," ucap Rosetta saat mendengarkan bel berbunyi.
Rosetta membuka pintu apartementnya dan melihat Mario berdiri sambil memegang paper bagh. "Mario? Masuklah."
Dengan senyuman lebar melihat Rosetta, ia pun masuk. "Maaf aku datang pagi-pagi karena aku ingin bertemu dengan mu dan putra mu."
"Hallo Boy," sapa Mario melihat Javer yang menyantap roti di tangannya.
"Hallo Paman," balas Javer dengan senyuman mengembang.
"Duduklah, kau mau ikut sarapan?" tanya Rosetta.
"Tentu saja aku mau duduk, aku belum sarapan. Tadi pagi langsung membuat kue untuk mu dan Javer." Mario memberikan paper bagh di tangannya pada Rosetta.
"Iya terima kasih."
Rosetta manaruh sandwich di piring Mario. Dia pun ikut duduk untuk sarapan.
"Rosetta bagaimana kalau hari ini kita mengajak Javer ke Wahana permainan, Javer pasti senang."
"Aku mau Om." Javer menyela. Ia sangat senang, akhirnya ia bisa bermain dengan sepuasnya.
Setelah lelah bermain di wahana air, Rosetta dan Javer duduk di sebuah kursi putih dekat pohon. Kedua orang itu pun menunggu Mario yang sedang membeli es krim.
“Apa Javer suka?” Tanya Rosetta. Selama ini ia dan Emely yang hanya membawa Javer keluar dan mungkin dengan adanya Mario pasti akan terkesan berbeda.
Javer mengangguk dengan wajah antusias. “Suka Mommy, Paman Mario baik. Jadi Javel suka.”
“Mommy tapi Javel ingin ayah sungguhan.”
Rosetta yang tersenyum lebar, bibirnya perlahan mengecil. “Sayang maafkan Mommy, tapi Daddy mu sudah bahagia bersama dengan keluarga lainnya. Sekalipun kita tidak memiliki Daddy, tapi kita bisa bahagia.”
“Apa Daddy tidak sayang kita dan melupakan kita?”
“Mommy tidak tau, suatu saat nanti jika Javer sudah dewasa, Javer pasti mengerti.”
Javer mengangguk, mungkin ia harus benar-benar melupakan sosok ayah yang sebenarnya.
“Maaf menunggu lama,” ucap Mario. Dia membawa tiga es krim dan memberikannya pada Javer dan Rosetta.
Dia duduk di samping Javer dan mengusap pucuk kepalanya. “Apa Javer suka bermain dengan Paman?”
“Iya paman.” Javer menatap lekat ke wajah Mario. “Apa Paman akan menjadi Daddy Javel?”
Rosetta tercengang, ia tak mengerti kenapa putranya bisa mengatakan hala sensitif. “Sayang apa maksud mu? Javer jangan memikirkan yang macam-macam.”
Mario merasakan hatinya teriris, bagaimana mungkin Javer bisa mengatakan seperti ini, seakan dia sedang mengemis kasih sayang seorang ayah. “Javer ingin paman menjadi ayah Javer sungguhan?”
“Iya, teman-teman Javer punya Daddy.”
“Paman mau menjadi ayah sungguhan untuk Javer.”
Rosetta justru semakin terkejut. Ia tidak mengerti pemikiran Mario yang menyuruh Javer untuk memanggilnya ayah. “Mario kau mengatakan apa. Javer tidak boleh memanggil seseorang sembarangan.”
“Rosetta sepertinya aku harus berbicara serius dengan mu.”
Rosetta menunggu pria di depannya menjelaskan sesuatu. Kini Javer berada di tengah-tengah mereka.
"Aku benar-benar ingin menjadi ayah untuk Javer. Masalah jawaban, aku akan menunggu mu. Jadi kau tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya."
Rosetta masih diam, ia memang bingung harus menjawab apa.
Menghilangkan rasa canggung, Mario mengajak Javer berbicara. "Javer bagaimana kalau kita beli beberapa mainan untuk Javer."
"Javel mau."
Mario pun mengangkat tubuh Javer ke dalam gendongannya. "Ayo kita berburu mainan."
"Ayo Rosetta."
Sedangkan di tempat lain.
Diane melihat Lili yang ke rumahnya. Dia datang tanpa bersama dengan Maxiliam. Kebetulan Agam pun pulang lebih awal jadi keduanya berpapasan di ruang tamu.
"Lili kau datang sayang? Dimana Maxilian?" tanya Agam.
"Dia kerja Dad." Lili duduk di sofa dengan kasar dan menghela nafas.
"Kenapa?" tanya Agam melihat anaknya yang tampak sedih.
"Kak Rosetta menampar ku Dad, padahal aku hanya menasehatinya untuk menikah."
"Lili kau tidak berbohong kan?" tanya Diane. Dia mendengarkan jika Lili mengatakan sesuatu pada Javer.
"Mommy mencurigai ku?" tanya Lili dengan nada heran.
"Kau mengatakan Javer tidak memiliki ayah? Kenapa kau mengatakan itu pada anak kecil Lili dan sekarang kau mengadu di tampar oleh kakak mu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
mecca
aq setuju thor klw Rosetta sama mario thor biar kapok tu maxilliam gemes aq tuh ya sama dia apa lagi sama si luknut lili untuk author semoga sehat selalu semangattt 💪💪💪💪
2024-02-22
2
Desi Forever
mau nabung tapi gak bisa ahhkkk
2024-02-21
1
Indah Zhie
lanjuttt thorrr
2024-02-21
0