Kedua bibir Lili terasa berat untuk mengatakan sesuatu, ia merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh suaminya, entah apa yang terjadi? Ia tidak pernah melihat suaminya seperti saat ini.
"Katakan Lili! Apa yang kau katakan pada Javer?!"
Air mata Lili keluar dari pelupuknya. Ia menggelengkan kepalanya, ia sangat takut melihat wajah Maxiliam. Pria lembut itu seakan ingin menusuknya. "A-aku aku tidak mengatakan apa pun."
"Aku ...."
"Kau berbohong!"
Lili semakin tersudut, ia merasa tidak bersalah karena memang kenyataannya seperti itu. "Apa? Apa yang aku bicarakan memang benar."
"Kau mengatakan Javer bukan anak yang di inginkan oleh ayahnya? Apa kau pantas mengatakan itu pada anak kecil?"
Jangankan Javer, ia pun sakit hati. Sekalipum Javer ada hanya karena kesalahan satu malam, tapi ia tidak pernah berpikir kehadiran Javer adalah kesalahan.
Lili mengepalkan kedua tangannya, ia tidak terima ibunya, suaminya menyalahkannya. "Apa aku salah mengatakannya? Memang benar dia anak yang tidak di inginkan oleh ayahnya. Kalau memang benar, tentu dia sudah memiliki ayah."
Maxiliam melayangkan tangannya ke arah pipi Lili namun tertahan di udara. "Aku kecewa pada mu Lili."
Diane melirik Agam yang masih mematung. Sejak tadi suaminya membela Lili. "Kau lihat, ini putri yang kamu bela. Jangan memanjakannya lagi Agam."
"Dan kamu Lili, sekalipun Javer tidak memiliki ayah. Kamu tidak berhak mengatakannya. Sama saja kamu menjelekkan anak kecil."
"Aku cemburu pada kalian yang memperhatikannya dari pada aku." Lili menangis sesegukan. Ia tidak bersalah. "Kenapa Mommy dan Daddy lebih menyayangi anak itu dari pada aku."
Diane memalingkan wajahnya, kecemburuan yang tak mendasar itu membuatnya kecewa. Bagaimana bisa Lili cemburu pada anak kecil. "Kasih sayang kami pada mu tidak bisa di gantikan, tapi Mommy juga menyayanginya. Javer cucu Mommy Lili."
Agam menatap Diane yang sudah pergi. Jujur saja ia kecewa pada putrinya tersebut. "Lili Daddy kecewa pada mu. Javer tidak bersalah, kami hanya ingin memberikan kasih sayang kami padanya."
"Dia bukan cucu Daddy, dia anak haram Dad."
"Lili!" bentak Agam dengan wajah memerah.
Lili terkejut, ia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia membuang semua barang-barangnya dan menggila di dalam kemarnya. "Aku tidak mau kalian di rampas oleh Rosetta."
"Kalian tidak boleh meliriknya." Kedua matanya seakan mengobarkan api kebencian.
.....
Pada malam harinya.
Rosetta dan Javer makan kedatangan tamu yang tak lain Emely. Sudah dua hari Emely tidak mendatanginya dan sekarang wanita itu ingin menginap di apartemen Rosetta.
"Javer besok pagi kita ke Mall yuk," ucap Emely. Dia ingin membelikan beberapa pakaian untuk Javer.
"Iya Tante,"
Emely tersenyum, beberapa hari tak bertemu dengan Javer membuatnya sangat merindukannya.
Suara bel berbunyi membuat Emely menoleh ke arah pintu. "Biar aku membukannya." Emely beranjak, ia sudah mendengarkan perkataan Rosetta bagaimana perkataan Javer, ia berjaga-jaga jika keluarga Rosetta datang ia bisa membela Rosetta
Ceklek
"Kau!" Emely menatap dingin. "Untuk apa kau kesini?!" tanya Emely. Rosetta juga pasti tidak ingin melihat wajahnya.
"Aku ingin bertemu dengan Rosetta." Ia ingin meminta maaf karena sudah membuatnya sakit hati.
Emely menarik sebelah sudut bibirnya. "Tidak usah, urus saja istri manja mu itu. Kami di sini tidak membutuhkan mu."
Maxiliam ingin menerobos masuk, namun Emely menahannya di ambang pintu. "Aku tidak memiliki urusan dengan mu."
Emely menunjuk ke arah kepalanya. "Mikir, kau memiliki urusan dengan ku. Apa kau tau siapa yang menghubungi mu tepat pada saat pernikahan mu? Aku, aku yang menghubungi mu. Aku kira kau akan membatalkannya dan mencari Rosetta serta anak mu. Tetapi aku bodoh, kau melanjutkannya. Jadi buat apa kau berusaha menjadi seperti pria yang baik dan ayah yang baik?"
"Jadi kau yang menghubungi ku dan vidio itu."
"Ya, itu aku tuan Maxiliam."
Rosetta menoleh kemudian menghampirinya. Ia ingin tau siapa gerangan yang mendatanginya pagi-pagi sekali.
"Paman!"
Entah semenjak kapan Javer berada di samping Emely. "Paman datang lagi?"
Maxiliam berjongkok, ia mengusap lembut putranya tersebut. "Iya Paman datang, nanti siang Paman ajak Javer makan di luar."
Emely membujuk, ia hanya ingin bersama dengan Javer tanpa ada orang di depannya. "Javer bareng sama Tante saja, tidak perlu sama paman ini."
Kedua mata Javer berkaca-kaca dengan wajah memohon. Senagai seorang ibu asuhnya, Emely Mana mungkin tega melihat wajahnya.
"Ba-baiklah."
"Ayo Paman masuk, main dengan Javer."
....
Rosetta tak memalingkan penglihatannya sedikit pun pada Javer dan Maxiliam. Sekalipun Emely datang dan membawa sebuah jus, dia sama sekali tak menoleh. "Rose apa kau tidak khawatir dia memiliki niat jahat?" tanya Emely.
"Aku tidak tau," jawab Rosetta dengan nada lirih. Sejujurnya ia ketakutan namun ia tak bisa memisahkan hubungan ayah dan anak. Javer ingin bersama ayahnya.
"Rose dia tidak akan mengakui Javer. Aku tidak ingin membohonginya."
Rosetta menyandarkan dagunya ke lutut yang di tekuk. "Aku lebih takut Emely. Aku akan membawa Javer pergi dari sini."
"Iya."
Maxiliam mengangkat tubuh Javer, waktu telah menunujukkan siang hari. Kini waktunya ia makan siang dengan Javer di luar.
"Rosetta kau sudah bersiap-siap?" tanya Maxiliam. Ia sekaligus ingin mengajak Rosetta. "Kau harus ikut, Javer pasti sedih kalau kau tidak ikut." Maxiliam menatap tak suka pada Emely. Mau bagaimana lagi? Suka tak suka Javer meminta wanita galak itu untuk ikut.
"Aku hanya mengambil tas saja." Rosetta membawa tas selempangnya.
"Ya sudah ayo."
....
"Aku di samakan saja dengan mu Rosetta," ucap Maxiliam.
Rosetta kembali memesan pada pelayan restoran di sampingnya dengan dua menu yang sama.
"Tuan Maxiliam." Seorang pria setengah baya dan berjas hitam dengan senyuman lebar menyapa Maxiliam. "Kau disini?"
Maxiliam menyambutnya dengan pelukan. "Iya tuan Dannil. Saya sedang makan siang bersama mereka."
Pria setengah baya itu melihat sekelilingnya. "Dimana istri mu?"
"Dia sedang keluar, ini kakak iapar saya dan ini temannya." Maxiliam memperkenalkan Rosetta dan Emely.
"Oh, dia putra mu." Tuan Dannil melihat wajah Javer yang bulat dan menggemaskan. Ia merasa yakin bahwa anak di depannya adalah anak dari Maxiliam.
"Bukan, dia bukan putra ku."
Deg
Rosetta membeku, rasanya ada yang menusuk sampai ke relung hatinya. Meskipun ia tau akan jawabannya seperti itu, tapi ia masih saja merasakan sakit.
Emely tak terima, ingin sekali ia membawa Javer saat ini juga.
Sedangkan Javer hanya tersenyum, ia merasa sedih. Seharusnya paman seperti Maxiliamlah yang menjadi ayahnya.
"Bukan? Tapi dia wajahnya mirip dengan tuan Maxiliam. Ah mungkin karena saudara."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Neni Suhandi
hah gw tampol jg nih si max nya
2025-03-29
0
IndraAsya
lanjut
2024-02-13
0
Putri Chaniago
kenapa Rosetta malah makin bego utk apa dulu lari ketika hamil, lebih baik mati aja g usah ada waktu kembali ke awal . utk apa hindari kematiannya bila tetap bodoh
2024-02-13
2