Urus Kehidupan Mu

Ceklek

Rosetta melihat Daddy Agam yang menyuapi Diane. Ia perlahan mendekat dan kedua netranya bertemu dengan kedua netra Diane.

"Rose."

Daddy Agam menghela nafas, ia sangat ingin membawa Rosetta ke hadapan istrinya tapi sayangnya ia tidak tau keberadaan Rosetta. Kini ia di bantu oleh Maxiliam untuk menemukan Rosetta.

"Sayang aku akan membawa Rosetta kesini."

"Tidak Agam, dia berada di sini."

Agam menoleh ke belakang dan ia terkejut melihat keberadaan Rosetta. "Rosetta."

"Mommy." Rosetta memeluk Diane.

Wanita bertubuh lemah itu memeluk Rosetta dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan Rosetta.

Agam tersenyum melihat Rosetta yang kembali. Ia juga merindukan Rosetta. Ia bersyukur Rosetta mau kembali padanya.

"Daddy, Mommy." Lili baru saja datang membawa buah. Ia terkejut dengan orang yang di peluk ibunya. Ia seperti mengenali siapa wanita tersebut. "Rosetta."

"Lili kakak mu kembali." Diane menangis sambil tersenyum dan menatap wajah putrinya. Ia kembali memeluk Rosetta dengan erat.

"Ah iya." Lili menaruh buah di tangannya dan menghampiri Rosetta.

Emely melirik Lili sambil mengerutkan dahinya. Ia merasa Lili terkejut dan tidak suka.

Pelukannya pada Rosetta berlangsung tidak lama. Lili tersenyum canggung. "Apa Kakak baik-baik saja?"

Emely memutar bola matanya dengan jengah. Ia duduk di sofa di dekat jendela sambil memperhatikan Rosetta dan yang lainnya.

"Aku baik-baik saja." Rosetta tersenyum. Dia beralih pada Diane. "Mommy."

"Duduklah, Mommy ingin berbicara pada mu." Diane menyuruh Rosetta untuk duduk di kursi sampingnya. Sedangkan Agam memilih berdiri di samping istrinya.

"Rosetta kau kemana saja? Kenapa pergi?"

Rosetta tersenyum ia tak berniat mengungkit masa lalu dan mengungkit putranya. “Aku hanya ingin berada di luar Mom.”

“Lalu Kakak memiliki anak tanpa mengatakan pada kami?” Tanya Lili.

Rosetta terkejut namun ia merubah ekspresi wajahnya. “Jadi kalian sudah tau kalau aku memiliki anak.”

“Kakak dia anak siapa?” Tanya Lili. Ia penasaran siapa ayah dari anak kakanya.

Rosetta terdiam, entah apa yang harus ia jawab. Ia kira keluarganya tidak tau tentang kehamilannya.

Diane menggenggam tangan Rosetta. Ia tidak ingin membebani Rosetta. “Kalau kamu tidak mau bercerita. Kami tidak akan membebani mu.”

Bagi Diane, terlepas kesalahan Rosetta di masa lalu, Rosetta tetaplah putrinya. Ia sudah memaafkannya.

Agam terdiam, ia tak berniat untuk menyela. Tenggorokannya terasa kering untuk berbicara.

Sedangkan seorang pria tiba-tiba saja masuk dan terdiam di belakang Lili. Maxiliam seakan ingin menunggu jawaban dari Rosetta.

“Aku tidak ingin membahas ayah putra ku.”

Rosetta menahan amarahnya. “Cukup Lili! Masalah anak ku bukan urusan mu. Anak ku tidak butuh ayahnya, satu hal lagi. Sebaiknya kau urus kehidupan mu tanpa mengurus kehidupan ku. Kedatangan ku kesini bukan untuk mengusik hidup mu.”

Lili terkejut, ia mengepalkan kedua tangannya. “Padahal aku hanya kasihan pada kakak.”

Emely menyela, ia tak tahan lagi dengan pikiran bodoh Lili. “Lili aku tau kau adiknya, tapi ada batasannya juga. Kalian keluarga tapi jangan ikut campur masalah kehidupan kakak mu. Selama ini dia tidak bergantung pada mu dan merugikan dirimu kan?”

“Maaf Kak.” Lili memasang raut sedihnya.

Lagi-lagi Emely merasa semua orang di bodohi oleh wajah Lili.

Drt

“Iya.” Emely menatap ke arah Rosetta. “Kita akan pulang.”

“Rosetta Javer menangis katanya mencari mu.” Tutur Emely.

Rosetta beranjak, sangat di sayangkan pertemuannya dengan keduanya berlangsung dengan cepat. “Maaf Mom, aku harus pulang. Putra ku sedang mencari ku.”

Diane tak menjawab. “Rosetta apa kau bisa kesini lagi?” Ia berharap Rosetta mau bertemu dan menemaninya lagi.

“Iya Mom.” Rosetta berbalik kedua tatapannya tertuju pada Maxiliam. Dengan cepat ia memutuskan kontak matanya dan melewati Maxiliam. “Ayo Emely.”

Maxiliam mematung, antara sedih dan senang. Ia sudah memiliki anak. Ia ingin melihat anaknya.

“Dad, Mom, aku keluar sebentar. Lili nanti aku kembali lagi.”

Lili tak menjawab saking kesalnya dengan ucapan Rosetta. Setelah kepergian Maxiliam ia pun duduk di sofa.

“Lili aku tidak suka kamu terus memojokkan kakak mu.”

“Sayang maksud Lili bukan begitu, dia hanya ..”

“Apa karena dia sakit kau terus membela Lili? Apa kau senang Rosetta membenci mu karena ada Lili? Apa kau senang Rosetta benar-benar tak menganggap keluarganya?”

Agam terdiam dia hanya menatap Diane dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Bukan maksudnya ia menyetujui perkataan Lili tapi ia ingin menemukan siapa pria yang sudah melecehkan putrinya.

Lili pun keluar dengan wajah kesal. Berlama-lama di dalam hanya akan menambah emsoinya saja.

....

Sedangkan Maxiliam, ia mengekori mobil yang di tumpangi Rosetta hingga sampai di rumah Emely. Ia menurunkan kaca mobilnya separuh dan melihat seorang anak kecil memegang tangan Cloudie.

Maxiliam tersenyum air matanya menetes keluar. Jantungnya berdetak begitu cepat, ingin sekali ia melihat dan menatap anak itu dengan lekat. Tanpa terasa air matanya menetes keluar. "Dia putra ku."

Terlihat Rosetta yang memeluk menenangkannya dan mengusap air mata di pipi gembulnya.

Pada malam harinya.

Maxiliam langsung mendatangi sebuah Club setelah salah satu sahabatnya memposting sebuah foto anak laki-laki dan menjadi ramai di grup sahabatnya.

Ketiga pria berjas mahal itu melongo, ia tak percaya Maxiliam datang sebuah club setelah menikah.

"Kenan kau dapat dari mana foto itu?" tanya Maxiliam dengan suara tegas.

"Aku mendapatkannya di sebuah pantai di kota Cefalu, Sisilia."

"Dimana ponsel mu?" tanya Maxiliam.

Kenan memberikan ponselnya, Maxiliam mencari vidio tersebut dan memutarnya beberapa detik hingga ia melihat seorang wanita di detik terakhir ponsel tersebut.

"Dia bukan anak mu kan? Semenjak kapan kau menghianati Lili?" tanya Kenan.

Maxiliam memilih duduk, sepertinya ia butuh beberapa anggur untuk menenangkan perasaannya. "Dia memang benar putra ku, tapi aku harus test DNA."

"Apa?!" teriak tiga orang pria yang tak percaya.

"Apa benar dia anak mu?" tanya Aron.

Maxiliam tak menjawab. "Aku yakin tapi aku butuh bukti yang kuat."

"Dia anak mu dengan siapa?" tanya Aron lagi di sertai wajah penasaran.

"Dengan Rosetta, kejadian malam itu membuat Rosetta mengandung. Tetapi dia tidak pernah mengatakannya jika aku tidak menemukan sesuatu."

"Lalu apa yang sekarang ingin kau lakukan? Kau ingin mengambil anak dari Rosetta?" tanya Kenan.

"Aku tidak tau, Rosetta tidak mengatakan apa pun. Dia masih menyembunyikannya." Maxiliam menuangkan sebuah anggur ke dalam gelas di depannya dan meneguknya hingga tandas.

....

Lili meneguk anggur di gelasnya. Ia sudah menghabiskan satu botol. Hatinya terasa panas dan takut. "Kenapa kakak harus kembali? Aku sudah senang dia tidak kembali."

"Aku takut semuanya akan kembali padanya."

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

adik rasa musuh ya gini

2024-02-05

1

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2024-02-05

0

Indah Zhie

Indah Zhie

lanjuttt thorrr

2024-02-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!