Diary

Cefalù, Sisilia

Seorang anak kecil tengah berlarian di tepi pantai. Bocah menggemaskan itu menyuruh ibunya untuk menangkapnya. "Mommy tangkap Javel!!"

"Sayang hati-hati." Rosetta berlarian mendekati putranya yang semakin menjauhinya.

Rosetta berhasil menangkap tubuh Javer, ia berputar hingga kedua gigi Javer terlihat dan matanya menyipit ketika pipi gembulnya terlihat tertarik ke atas.

"Mommy lagi." Javer merasa senang, sekalipun ia bersama dengan ibunya ia merasa bahagia. Namun sayangnya ia tak bisa menikmati sosok seorang ayah.

Rosetta menghentikan putarannya dan menurunkan tubuh Javer.

Seorang pria yang tengah asik memvidio pantai mengarahkan kameranya ke arah ibu dan anak. Ia tersenyum namun dahinya mengernyit ketika melihat wajah Javer. "Max? Maxiliam."

Pada malam harinya.

Emely menoleh ke arah ibunya yang mengangguk. Ia merasa enggan walaupun sebenarnya ia merasa kasihan. Setelah mendengarkan penjelasannya, tiba-tiba tubuh Diane drop. Katanya dia selalu memanggil nama Rosetta.

Pria di depannya seakan memohon padanya yang membuatnya tak tega. “Baiklah aku akan menghubungi Rosetta.”

Drt

“Rosetta.”

“Halo, Tante Emely.” Suara khas Javer membuat Emely tersenyum manis. “Mommy sedang pelgi.” Tambahnya.

“Sayang ku, Mommy merindukan mu.” Emely terkekeh sendiri seakan di ruangan itu tidak ada siapa pun.

Seorang wanita setengah baya di menarik lengannya hingga tersadar. Emely kembali mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali. 

“Ehem sayang, Mommy pergi kemana?”

“Kelual lah Tante, ya kemana lagi? Masak kelual hutan.” Asalnya. 

Emely tak tahan, ia pun tertawa. “Begini sayang nanti kalau Mommy pulang. Javer bilang sama Mommy kalau Tante Emely ingin berbicara.”

“Haih, iya lah Tante nanti Javel bilang.” 

Javer mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali di atas meja. Ia kembali fokus pada televisi di depannya sambil memakan snack.

Sedangkan Emely kembali menatap ke arah Agam. “Rosetta sedang pergi, nanti saya akan menghubunginya.”

“Apa tadi itu anak  Rosetta?” tanya Agam. Mendengar suaranya, ia ingin melihatnya lebih dekat.

“Emely nanti kalau Rosetta kesini bawa Javer kesini ya. Biar Javer tinggal di sini,” ucap Cloudia.

“Baiklah Mom.” Emely mengerutkan keningnya melihat pria di depannya dan seakan belum berniat pulang. “Apa Om masih mau di sini?” Tambahnya dengan nada tak suka. 

“Maaf saya akan pulang.” Agam bangkit dari tempatnya dan menunduk.

…..

Agam membuka pintu kamarnya. Di sana ia melihat istrinya di temani oleh Lili dan Maxiliam.

“Daddy bagaimana?” Tanya Diane. Ia sangat ingin mendapatkan kabar dari Rosetta.

“Emely masih menghubunginya, nanti dia akan menghubungi kita. Sewaktu Emely menghubunginya Rosetta berada di luar.”

Lili menggenggam tangan Lili dan tersenyum. “Mommy jangan khawatir, Kakak pasti datang.”

“Iya sayang.”

Agam berbalik, ia pun keluar. Ia teringat dengan perkataan Javer yang cadel. Entah bagaimana wajah anak itu hingga ia ingin melihat tatapannya.

Sedangkan Maxiliam, tanpa sadar kedua kakinya berhenti di salah satu kamar. Terlihat celah sepertinya ada orang yang baru mendatanginya. Ia pun masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat kemudian menguncinya. 

Ia mengedarkan pandangannya melihat ruangan tersebut, tercium aroma bunga lavender. Kedua tatapan tertuju sebuah figura. Ia tersenyum tipis melihat wajah cantik Rosetta yang tersenyum dan memakai dress berwarna pink. Anak rambutnya terbawa angin seolah angin menyapanya.

"Cantik." Ia akui Rosetta cantik. Tanpa sadar kedua matanya melihat sebuah diary.

Ia mengambil diary warna pink tersebut dan membacanya. Karena ingin lebih nyaman pada saat membacanya ia memilih duduk di tepi ranjang. Ia perlahan membaca biodata Rosetta, ia terus membuka lembar berikutnya. Dahinya mengernyit membaca curhatan Rosetta. Mulai dari pertama kali Lili sakit hingga ia membaca pada saat umurnya 24 tahun tentang perasaan cintanya padanya.

Kedua mataku berkaca-kaca saat Mommy dan Daddy merayakan ulang tahun adik ku, Lili. Aku senang namun aku juga merasakan sakit. Aku ingin mengatakan, kenapa ulang tahun ku tak dirayakan lagi?

Maxiliam melanjutkan membaca Diary tersebut. Kedua matanya menajam saat tulisan tangan itu membuatnya menyadari sesuatu.

Tepat pada hari itu aku menjebak Max, saat itu aku hanya fokus pada keinginan untuk memiliki Maxi tapi setelahnya, aku menyadari bahwa aku tak harus memilikinya. Tapi untunglah Max tidak tau, aku lebih tenang. Tanpa di sadari setelah malam itu aku mengandung. Aku senang, tapi aku sedih ternyata orang yang aku cintai sekaligus ayah dari anak ku menikahi adik ku.

Aku tidak ingin merebutnya, jadi aku memilih pergi dengan diam karena aku yakin aku bisa bahagia bersama putra ku. Di tengah kesedihan aku, Tuhan memberiku kekuatan, Emely dia sahabat ku. Dia mau menemani ku sampai aku membesarkan putra ku. Rasanya sangat senang dan kini aku bergantung padanya.

Diary di tangan Maxiliam terjatuh. Ia menarik dalam nafasnya, ia tak percaya ternyata malam itu adalah Rosetta dan sekarang.

Maxiliam mengambil buku diary tersebut dan menaruhnya di saku dalam jasnya. Ia keluar tanpa di sadari Lili melihatnya.

"Max? Kau kenapa keluar dari kamar Kakak?" tanya Lili dengan tatapan menyelidik.

Maxiliam menoleh dan terlihat gugup. "Aku hanya melihatnya saja, kebetulan tadi aku melihat pintu ini terbuka jadi aku masuk. Ingin melihat-lihat."

"Oh kau ingin melihat-lihat? Kenapa tidak meminta ku menemani mu."

"Hem, kau sedang sibuk menemani Mommy. Jadi aku tidak mungkin meminta mu untuk menemani ku. Aku tidak enak sama Daddy."

Lili mengangguk, ia bernafas lega. Ternyata Maxiliam hanya melihat-lihat saja. "Ya sudah ayo ke kamar ku. Aku sudah mengantuk."

Maxiliam tersenyum paksa. Ia mengusap dada kirinya dan merasakan buku kecil itu masih di sakunya. Ia menaruh jasnya di sofa.

Ia melirik Lili yang membuka kopernya dan mengambil baju tidurnya.

"Sayang kau mandi dulu, aku akan menyiapkan baju mu."

"Iya." Maxiliam menurut. Ia membersihkan tubuhnya dengan cepat dan memakai baju tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi Lili dan berpura-pura menutup matanya.

"Sayang kau sudah tidur? Hem ..." Lili tersenyum, ia membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.

Maxiliam membuka kedua matanya. Cukup lama ia terdiam tanpa berkutik sedikit pun. Ia memutar tubuhnya dan melihat Lili yang sudah tidur. Dengan hati-hati ia menuruni ranjangnya dan mengambil jasnya. Ia membawa jas itu ke dalam mobilnya untuk mengamankannya.

Ia teringat dengan perlakuan Rosetta padanya dan tiba-tiba wanita itu berubah. Ia tak menyadari jika perubahannya ternyata ingin meninggalkannya dan Lili. "Padahal dulu kita dekat Rosetta."

Untuk sementara waktu ia harus merahasiakannya. Ia ingin tau keberadaan Rosetta dan mencari kebenarannya. Ia teringat dengan Emely, besok pagi ia harus menemui wanita itu dan menanyakan kabarnya Rosetta, tentunya ia harus menyelidiki keberadaan Rosetta.

Terpopuler

Comments

!m_mah

!m_mah

ini gimana konsepnya Thor,si Rosetta tak pernah pulang,tp ada buku diary d kamarny

2024-09-16

5

Arum Sekar

Arum Sekar

lanjut kak

2024-02-04

1

Dlaaa FM

Dlaaa FM

Lanjutannnnnnn

2024-02-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!