Drt
Rosetta kembali mengangkat ponselnya. "Iya Mom."
"Bawa putra mu, aku ingin bertemu dengan putra mu."
Rosetta melirik Javer, ia tidak bisa meninggalkan Javer pada tante Cloudie. "Baiklah Mom, aku akan membawanya."
Rosetta mematikan ponselnya. "Javer sayang sepertinya kita tidak bisa jalan-jalan. Kita harus menemui nenek. Nenek ingin bertemu dengan mu."
Maxiliam merasa kesal, baru saja ia senang. Rasanya ia tidak rela meluangkan waktunya untuk bekerja. "Aku akan mengantar kalian."
"Tidak! Aku tidak ingin mereka tau dan curiga." Rosetta menggenggam lengan Javer dan meninggalkan Maxiliam begitu saja. "Javer anak baik, Javer harus merahasiakan kedatangan paman."
"Kenapa Mommy?" tanya Javer.
"Tidak boleh cerita sayang, nanti tante Lili bakalan marah kalau Javer bercerita kedatangan paman. Javer pasti mengerti."
"Iya Mommy, Javel bakalan merahasiakannya."
.....
Sambil memegang boneka kesayangannya, Javer menatap bangunan megah di depannya. Tidak seperti rumahnya yang hanya lantai dua itu pun sempit, tapi bangunan di depannya sangat besar. "Mommy apa ini lumah kakek dan nenek?"
Rosetta berjongkok, ia mengusap pucuk kepala Javer. "Iya sayang, ini rumah nenek dan kakek. Javer tidak boleh nakal ya sayang. Jangan jauh dari Mommy. Javer bisa menolak jika tidak ingin bersama nenek dan kakek."
"Iya Mommy."
Rosetta menarik dalam nafasnya, ia mulai melangkah masuk dan membuka pintu utama. Di ruang utama ia melihat Agam, Diane dan Lili yang sedang duduk. Agam mondar-mandir seperti menunggu seseorang.
"Dimana dia? Kenapa belum datang?"
Diane tanpa sadar melihat ke arahnya. "Rosetta!" Ia berdiri dan melangkah lebar kemudian memeluk Rosetta. "Sayang kamu sudah datang." Kedua netranya beralih pada anak laki-laki di samping Rosetta. "Pasti ini cucu Nenek ya? Wah tampannya."
Diane mencubit pelan pipi gembul Javer dan membuatnya meringis.
"Jangan di pegang-pegang Nek, sakit tau."
Diane terkekeh kecil. Agam perlahan melangkah ke arahnya.
"Lebih baik kita duduk."
"Iya, ayo sayang sama Nenek."
"Tidak mau!" Javer berbicara ketus. Ia masih merasa asing dengan wanita di depannya.
"Javer ini Tante Lili, adik Mommy. Ini Kakek dan Nenek."
Javer memindai wajah mereka dan terakhir pada Lili. Ia merasa takut pada wanita di depannya. Wajahnya ia sembunyikan di lengan Rosetta.
"Jangan takut Sayang, Nenek, Kakek dan Tante tidak akan menjahati Javer." Diane berusaha membujuknya. Jika cucunya mau tinggal di rumah ini, tentu saja Rosetta akan mau tinggal di rumah ini.
Javer tak lagi bersembunyi, ia memberanikan diri.
"Halo sayang, aku tante Lili." Lili tersenyum menyapa Javer dan mengelus pucuk kepalanya.
"Sayang duduklah."
Javer pun duduk sesuai dengan perintah Rosetta. Diane menyuruh menghidangkan beberapa macam kue untuk Javer.
Dengan kedua mata berbinar, Javer pun memakan kue di depannya. Rasanya menggugah selera.
Agam terkekeh, ingin sekali ia menggendong Javer namun cucunya masih menjaga jarak dengannya. "Javer mau main sama Kakek, nanti Kakek belikan mainan yang banyak."
Tidak mendapatkan jawaban, Agam berpindah duduk. Ia duduk di samping Javer. "Makanlah yang banyak nanti kakek akan menyuruh membuatkan kue yang banyak untuk Javer.'
Javer tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Agam tak tahan, ia mencubit kedua pipi Javer.
"Agam hentikan, pipinya nanti sakit." Diane tak terima. Ia mengusap pipi gembul Javer, bukannya di usap lebih lama justru dia juga ikutan mencubit pipinya.
Lili memutar bola matanya, entahlah ia tidak suka. "Aku kasihan sama Javer. Seharusnya dia tau siapa ayahnya."
Rosetta meremas dressnya, ucapan itu kembali di lontarkan. Seandainya Lili tau siapa ayah putranya, mungkin dia akan menangis. "Aku tidak tega pada istrinya. Dia pasti menangis kalau tau suaminya memiliki anak lain sebelum dia menikah."
Diane menoleh, ia merasa tertarik dengan ucapan Rosetta. Jadi Javer ada sebelum pria itu menikah. "Rosetta jadi pria itu memiliki anak sebelum menikah."
"Mommy aku tidak ingin mengatakan putra ku sebuah kesalahan. Dia hadir bukan karena kesalahan. Tapi aku menginginkannya hadir."
"Jadi pria itu belum tau jika sudah punya anak?" Tanya Agam. Dia ingin tau siapa pria brengsek yang sudah melakukan seperti itu pada putrinya. Seandainya saja ia tau, ia pasti meninjunya habis-habisan. Tapi ia tidak masalah yang penting ia sudah memiliki cucu yang lucu. "Daddy ingin tau siapa pria itu Rosetta."
"Tidak Dad, cukup aku yang tau. Aku menolak pria itu, tapi sepertinya dia berharap pada Javer. Dia belum di karuniai anak dalam pernikahannya."
Lili merasa aneh, ia seolah merasakannya sendiri sampai saat ini ia belum di berikan anak. Ia takut Maxiliam akan berpindah hati karena ia tidak bisa memiliki keturunan.
"Daddy aku ke kamar dulu."
Lili mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi Maxiliam. Pria itu pun mengangkatnya.
"Sayang kau dimana?" tanya Lili.
"Aku berada di halaman rumah Daddy. Memangnya kenapa Li?"
"Aku menunggu mu, aku sangat merindukan mu."
"Iya aku sudah sampai."
Maxiliam bergegas masuk, ia menghampiri ruang utama dan melihat kedua mertuanya sedang bercanda dengan Javer bahkan menyuapinya makan kue.
"Sayang." Lili melangkah dengan buru-buru dan memeluk Maxiliam.
Maxiliam mengusap punggung Lili dan kemudian melerai pelukannya. Dia menoleh ke arah Javer. "Hay sayang, mau main dengan Paman. Nanti Paman akan membawa mu jalan-jalan."
Deg
Lili terkesiap, Maxiliam mengabaikannya hanya karena anak kecil. Ia merasa ketakutan dan takut ucapan Rosetta terjadi padanya. Ia harus memiliki anak dengan Maxiliam bagaimana pun caranya.
"Paman." Javer tersenyum.
"Javer sayang nanti Kakek belikan Javer mainan yang banyak. Sama Kakek saja mainnya. Javer mau jalan-jalan kan? Nanti Kakek bawa jalan-jalan."
"Sama Nenek."
"Mau-mau," ucap Javer dengan semangat kemudian memeluk Agam dan membuat pria itu senang. Ia merasa dunianya memiliki banyaka warna, ternyata seperti inilah memiliki seorang cucu.
Lili langsung tak menyukai Javer, bocah kecil itu merebut semua perhatian di rumah ini yang seharusnya menjadi miliknya.
Ehem
"Javer, Tante juga mau sama Javer."
"Tidak mau!" tolak Javer dengan tegas. "Javer merasa Tante orang jahat." Tambahnya. Ia merasa wanita di depannya tak menyukai dirinya.
"Sayang tidak boleh seperti itu."
"Sudah-sudah, Rosetta Mommy ingin berbicara dengan mu. Ikut Mommy," ucap Diane.
Rosetta menurut, ia mengikuti Diane sampai ke halaman. Keduanya duduk berdampingan.
"Rosetta Mommy senang kamu datang." Diane tersenyum dan memeluk Rosetta.
"Emm Rosetta juga senang bertemu dengan Mommy." Rosetta membalas pelukan ibunya.
"Rosetta kau tidak perlu khawatir, kau tidak perlu khawatir masalah Javer. Tanpa seorang ayah Javer tidak akan kekurangan apa pun."
Rosetta merasa terharu, ternyata anaknya di terima. Akan tetapi ia takut, jika suatu saat mereka tau yang sebenarnya dan malah menjauhi Javer. "Mommy tidak perlu melakukannya, Rosetta akan memberikan segalanya untuk Javer."
Rosetta mengurai pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi Diane.
Diane menggenggam erat kedua tangan Rosetta. "Mommy akan berusaha membahagiakan Javer."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Fatma Kodja
firasat anak kecil memang benar jika Lili memang orang jahat yang tega melakukan apa saja demi tercapai tujuannya walaupun dengan Kakaknya sendiri
2024-02-11
0
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2024-02-09
0
Indah Zhie
lanjuttt thorrr
2024-02-09
0