Rosetta menatap ibunya, sepertinya ia tidak bisa berbohong lagi. "Maxiliam yang menawarkan memanggilnya dengan sebutan Daddy. Padahal aku sudah melarangnya dan juga melarang Javer Mom."
Diane paham jika sosok ayah sangat di inginkan oleh Javer. Cucunya pasti ingin seperti yang lainnya yang memiliki sosok ayah. "Biarkan saja Javer memanggilnya."
"Tapi aku tidak enak sama Lili Mommy, dia pasti kecewa."
"Rosetta ada baiknya kau memang harus menikah demi Javer, maaf Mommy mengatakan seperti ini Mommy tidak ingin Javer berharap pada orang lain. Mommy ingin kau dan Javer bahagia."
"Iya Mom, aku sudah membuka hati ku."
Pada malam harinya.
Rosetta menggunakan sebuah drees selutut dengan warna putih tulang, berenda di bagian lengannya. Rambutnya di ikat dengan membiarkan poni melengkung di bagian depan telinganya. Kedua netranya menatap kalung berwarna hijau pemberian sang nenek. Malam ini entah mengapa ia sangat merindukan neneknya.
"Rosetta kau sudah siap?" tanya Emely. Dia juga ikut dengan melihatnya jarak jauh bersama Javer.
"Mommy!" Panggil Javer.
Terdengar suara hels di dalam ruangan, pintu pun di buka. Emely menatap Rosetta dari bawah ke atas. Ia tertegun melihat Rosetta yang begitu cantik tampak bersinar. "Rosetta kau cantik sekali, sumpah seandainya aku pria aku pasti mendekati mu."
"Waw Mommy seperti dewi bulan." Javer begitu senang melihat ibunya yang akan mencari ayah sungguhan untuknya. "Ayo Mommy."
Rosetta pun menggenggam Javer, Emely mengusap air mata di sudut matanya dan tersenyum senang. Ia mulai menyusul langkah mereka menuruni anak tangga.
Sesampainya di Restoran Xxx.
Emely menghubunginya seseorang dia mengatakan sudah sampai bersama Rosetta. Dia pun masuk bersama Rosetta yang menggenggam Javer dan Rosetta belum menyadari jika ada pria yang perlahan menghampirinya sambil berbicara dengan Emely.
Emely menghentikan langkahnya dan menahan lengan Rosetta. Wanita itu pun menoleh.
"Ada apa Emely?"
"Cobalah kau lihat di depan?"
Rosetta menoleh dan melihat seorang pria bernetra cokelat, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya berwarna pink, tingginya kira-kira 177 Cm. Sejenak Rosetta tertegun menatap pria yang tak tampak asing padanya. Entah kenapa ia teringat dengan sosok temannya sewaktu kecil saat menginap di rumah neneknya.
"Rosetta Luwig bagaimana kabar mu?"
"Mario."
Pria di depannya tersenyum dan mengangguk. Rosetta berhambur memeluknya. Bagi Rosetta Mario teman dekatnya, karena kuliah pria itu hilang tanpa jejak. Dulu Mariolah yang menjadi teman dekatnya.
"Kau kemana saja Mario? Aku sangat merindukan mu."
Mario mengusap punggung Rosetta dan tersenyum. Tak lupa dia melambaikan tangannya pada Javer hingga membuat pipi gembul Javer memerah.
"Maaf aku menghilang, aku juga merindukan mu."
"Rosetta aku dan Javer menunggu di sana." Emely menunjuk pada sebuah meja dan Rosetta pun mengangguk.
"Aku sudah menyiapkan ruangan khusus untuk kita. Ikut aku."
Tanpa merasa malu atau canggung, Mario menggenggam tangan Rosetta menuju ruangan VIP.
Rosetta melihat beberapa hidangan makanan, ternyata Mario sudah merencanakan semuanya.
Mario dengan cepat memotong steak di piringnya dan menaruh di depan Rosetta, sedangkan milik Rosetta untuknya.
"Mario kau ..."
"Makanlah."
Mario memotong steaknya dan memakannya. "Rosetta bagaimana kabar mu selama ini?" Ia penasaran dengan kehidupan Rosetta.
"Aku sudah memiliki anak."
"Apa anak itu anaknya Maxiliam?"
Rosetta mengangguk dengan wajah murung. "Maxiliam tau, hanya keluarga ku dan Javer yang tidak tau. Aku berharap semua orang tidak tau siapa Javer."
Mario mengangguk dan tersenyum. "Kau sama seperti dulu, sama cantiknya."
Rosetta dan Mario pum berbincang hangat, mereka mengulang kisah mereka sambil tertawa dan tak terasa kini waktunya mereka pulang.
Rosetta keluar di dampingi Mario menuju ke arah meja Javer dan Emely, namun siapa sangka ia bertemu dengan Lili dan Maxiliam.
"Kakak?" tanya Lili. Dia melihat pria di sampingnya seperti pernah mengenalnya.
Rosetta tersenyum sambil melirik Mario. "Kau pasti mengenalnya, dia Mario."
"Apa?!" Lili terkejut, siapa sangka ia melihat pria yang dulu ia taksir. "Mario? Benarkah dia Mario?" Ia tak percaya pria di depannya seorang Mario.
"Bagaimana kabar mu Lili?" Tanya Mario meyakinkan Lili bahwa dia memang benar-benar Mario.
"Aku baik-baik saja, memangnya kalian melakukan apa?"
"Kami sedang ..." Mario manahan ucapannya sambil mengangguk seakan mencari jawaban yang pas. "Kami melakukan pertemuan pertama."
"Ya sudah Lili, kami pergi dulu."
"Aku akan mengantar mu."
Rosetta mengangguk, bergegas Javer dan Emely mengkori mereka.
Maxiliam menatap Rosetta dan pria yang baru ia dengar namanya. Pria itu terlihat seperti menyukai Rosetta.
"Kau pasti penasaran," ucap Lili. Ia sangat yakin Maxiliam penasaran. Kedua matanya melihat Rosetta dan Mario sampai kedua keluar dari pintu. "Dia Mario, Kak Rosetta sangat dekat dengannya."
"Lili sebaiknya kita pulang, aku harus menemui seseorang."
"Menemui seseorang? Ini sudah malam, siapa yang ingin kamu temui?" tanya Lili. Dia sangat yakin suaminya tidak memiliki pekerjaan.
"Ayo pulang, aku akan mengantar mu." Tanpa menunggu ucapan Lili, Maxiliam bergegas pergi. Mau tidak mau Lili pun menyusulnya.
Lili melirik tajam ke arah Maxiliam yang sangat fokus menyetir. Ia sangat yakin, Maxiliam tidak memiliki pekerjaan. "Maxiliam katanya malam ini kau memiliki waktu luang, tapi apa? Kau menggagalkan acara malam ini."
"Lili aku memang memiliki pertemuan." Maxiliam berusaha meyakinkan Lili, padahal ia ingin menemui Rosetta.
"Kau kenapa sih Max?" Lili heran dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini tidak biasa.
Maxiliam menolah, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa hatinya gelisah karena Rosetta dan mungkin saja karena Javer yang sebentar lagi memiliki seorang ayah.
Lili semakin kesal di buat oleh suaminya. Maxiliam tak menjawab ucapannya.
Brak
Maxiliam tak memperdulikan wajah kesal Lili, ia kembali memutar mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Ia menarik pegal gas mobilnya hingga melaju kencang. Selang beberapa saat, ia pun sampai di apartemen milik Rosetta.
Ting
"Dimana dia?" tanya Maxiliam. Ia menunggu pintu di depannya di buka. "Apa Rosetta masih sibuk bersama dengan pria itu?"
Beberapa kali ia memencet bel pintu hingga ia melihat pintu di hadapannya terbuka dan melihat Rosetta yang menggunakan pakaian tidur.
"Max?" Rosetta mengerutkan keningnya keheranan.
Maxiliam menerobos masuk, Rosetta sejenak melihat keadaan di sekitarnya dan menutup pintu.
"Kenapa kau kesini Max?"
"Rosetta siapa pria tadi?" tanya Maxiliam. "Kau dekat dengannya?"
"Dia Mario teman ku? Memangnya kenapa?"
"Apa kau ingin Javer memiliki ayah baru? Bagaimana kalau dia benar-benar tak menganggap Javer putranya dan malah membuat harapan palsu."
"Max kau kenapa? Aku dan Mario tidak memiliki hubungan apa pun," ucap Rosetta. Dia memang dekat dengan Mario tapi sebatas teman saja dan kencan buta tadi ternyata memang rencana Mario dan pria itu sama sekali tak membahas masalah hubungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Nana Niez
rose nya terlalu lemah
2025-03-28
0
Liswati Angelina
udah rosetta sama mario aja
2024-02-19
3
Desi Forever
sol sok an si max
2024-02-19
0