Dua pekan sudah Kejora dan juga Nand menghabiskan waktu mereka di rumah sakit. Keadaan Mentari pun sudah mulai membaik. Dokter pun sudah mengizinkannya untuk pulang dan menjalani rawat jalan di rumah. Ayahnya Tn. Jemel menghilang setelah operasi transplantasi itu berlangsung. Menurut Ratih ada rapat penting yang harus dihadirinya di London. Sebuah konferensi dengan para petinggi Eropa yang membahas tentang perluasan pasar jasa keamanan yang ia miliki.
Untungnya ia pergi setelah Mentari selesai menjalani operasinya. Setidaknya, ia takkan mengorbankan gadis kecil itu demi kepentingan bisnisnya. Sekarang Mentari sudah tidak lagi merasa kesakitan. Apalagi jika melihat raut wajahnya yang begitu bahagia, ia terlihat lebih cantik dari biasanya.
Bagaimana tidak bahagia? Ia selalu ditemani Kejora dan juga para sekawan selama operasi dan juga masa pemulihannya. Ia tahu, ia tidak sendiri. Ada banyak orang yang mendukungnya, termasuk Ratih. 'Istri dari ayahnya' yang mengunjunginya sesekali.
Ratih bermaksud untuk melakukan pendekatan serta membujuknya untuk tinggal bersama di mansion utama keluarga. Para sekawan juga datang secara bergantian seperti biasanya, tak terkecuali Haikala. Ia masih menjadi kakak terbaik untuk Mentari. Ia bahkan bisa bersenda gurau dengan Nand sesekali meski itu hanya ketika mereka berada di dekat Mentari.
"Ra, nanti setelah Tari pulang ke rumah Mama kita pindah ya?" Kejora menyerahkan atensi nya penuh pada Nand.
"Sewanya sudah mau habis ya By? Aku minta tolong Cakra buat cari kontrakan ya. Kamu kan gak sempat, harus jaga Tari juga." Nand tersenyum hangat.
Ia memang tak pernah salah dalam memperjuangkan Rara sebagai istrinya. Karena dalam setiap hari di dalam pernikahannya, kekaguman nya kepada Rara justru malah bertambah. Cintanya kepada gadis itu terus berkembang ,tanpa bisa lagi ia bendung.
"Gue bantu mau gak?" tawar Haikala yang tengah sibuk menyuapi Mentari sambil terus memperhatikan mereka yang tengah duduk berdampingan di sisi lain tempat tidur Tari.
"Kak, sini." Mentari membisikkan sesuatu yang membuat Haikala tergelak. Ia tersenyum ke arah Nand dan mengisyaratkan nya dengan satu jempol terangkat ke atas.
"Kakakku sama Kak Kejora itu cocok banget ya?" bisik Mentari yang juga disetujui oleh Haikala.
"Tanpa kusadari, kalian memang terlihat ditakdirkan untuk bersama Ra." batin Haikala tanpa mampu ia ucap.
*******
"Pertama kali itu waktu Haikala tiba-tiba nelpon abang kalau lo kecelakaan." Cakra mewawancarai kakak iparnya, Nand. Tidak lama setelah kedatangan Kejora dengan dandanan super aneh di hari operasi Mentari.
"Gue kecelakaan?" Cakra menggaruk tengkuknya seolah ada sesuatu yang mengganggunya di sana.
"Kapan? Perasaan gak pernah?" sambungnya heran.
"Memang nggak Kra. Karena ternyata, dia itu cuma mau gue keluar dari balapan saat itu juga. Dia gak bisa fikirin cara lain, cuma lo yang bisa dia jadikan alasan, biar gue cepat cabut dari sana." Cakra ber-oh ria.
"Tapi kenapa? Gue tahu ya, kalau Bang Haikal memang gak suka kalau lo balapan. Tapi dia kan gak pernah larng lo secara langsung."
"Jadi, malam itu ternyata ada razia yang dilakukan oleh pihak kepolisian secara diam-diam. Padahal kan lo tau kalau gue selalu update soal razia balapan liar entah dari manapun itu. Tapi malam itu gue gak dapat kabar apa-apa. Haikala yakin kalau dia bicar langsung, pasti gue gak percaya. Makanya dia pakai alasan itu." Cakra hanya mengangguk.
"Gue gak tahu rumah lo dimana, Haikala juga bilang kalau dia lagi kejebak macet di Puncak. Gue bingung, anak-anak juga gak ada yang bisa di hubungi malam itu, termasuk lo dan Jishan. Untung gue ingat, kalau gue pernah lihat kartu pelajar lo dan ada alamat lo disana. 'Villa Gemintang."
"Gue susul lo ke rumah sambil terus nelponin lo dan ternyata besoknya gue tahu kalau lo sibuk main di Warnet sama Jishan sampai gak angkat telfon gue. Dan anak-anak yang lain udah di kode sama Haikala untuk gak kasih tahu apa-apa ke gue. Dan akhirnya gue kebingungan sendiri di jalanan."
"Gue sampai villa, tapi gak bisa nemuin lo. Akhirnya gue memutuskan untuk keluar dan disana gue nemuin sebuah dompet. Dompet yang manis banget, warnanya merah muda dan ada foto seorang gadis cantik di sana. Gue penasaran, ternyata pemiliknya gak jauh dari tempat gue berdiri. Dia lagi di gangguin preman." Cerita Nand terus mengalir entah sampai mana akhirnya.
"Gue kejar dia, tapi dia kesibukan ngacir dari preman yang mau kurang ajar sama dia. Gue lihat dia ketakutan sampai akhirnya gue tolongin. Gue anter dia pulang, tapi malamnya gue ngerasa gak tenang."
"Karena gak berhasil nemuin gue Bang?" Nand menggeleng.
"Anehnya gue gak kepikiran lagi soal lo setelah ketemu tuh cewek. Gue bisa-bisanya berpikiran positif kalau Haikala pasti udah duluan nemuin lo, dan cewek ini lebih butuhin gue sekarang."
"Tega lo Bang." Cakra berakting seakan ia benar-benar tengah kecewa. Namun atensinya masih terlalu fokus pada Nand untuk bisa melewatkan akhir ceritanya.
"Ada perasaan yang belum pernah gue rasain Kra." Cakra kembali fokus pada cerita kakak iparnya.
"Dia menarik perhatian gue begitu banyak. Gue rasa itu pertama kalinya gue benar-benar ingin memperjuangkan sesuatu selain Mentari."
Nand kembali mengulang semua moment yang pernah ia lalui di awal pertemuannya dengan Kejora. Mulai dari saat dimana Kejora membayar janjinya untuk mentraktir selama satu minggu penuh. Yang mana di hari pertama ada Haikala yang penasaran dan bergabung bersama mereka.
"Dia hutang apa sih sama lo, sampai traktiran segala?" sewot Haikala risih.
"Dia benerin mobil tempat gue. Gue gak minta bayaran, eh doi malah gak enak terus janjiin mau traktir selama seminggu." Nand ingat betul bagaimana ia berbohong pada Haikala saat itu hingga membuat sahabatnya itu merasa sedikit lega.
"Kenapa gak dibayar?"
"Orang cuma gue otak-atik dikit. Konsumen lain juga gak gue mintain bayaran kali."
Nand hafal persis bagaimana posesifnya Haikala. Bahkan jika itu adalah anak-anak Dreamies dan bukan Kejora pasti rasa ingin tahunya juga akan sama.
"Kok bohong?" ia baru menanyakannya setelah Haikala melenggang pergi lebih dulu, karena di panggil oleh guru.
"Haikala kalau tahu kamu di gangguin preman-preman pasti ributnya sampai bulan depan. Mau?" Kejora menggeleng sambil terkekeh.
Hari kedua traktirannya pun juga sama. Kali ini ada Jishan yang merajuk ingin makan bakso dua porsi dengan saus sambal yang melimpah. Ia akan terus seperti ini jika salah satu nilai ujiannya anjlok. Namun berhubung ia sudah menganggap Rara sebagai kakaknya sendiri, ia menjadi sangat manja bahkan sampai minta di suapi Rara kala itu.
Hari ketiga, ada Cakra. Anaknya memang tak banyak neko-neko. Tapi ia menghabiskan seluruh hari waktu istirahatnya untuk memandangi kebersamaan Kejora dan juga Nand tanpa berkedip.
"Jangan dilihatin terus." ujar Kejora kesal.
"Gak percaya aja kakak disini. Kalau merem takut hilang." godanya yang langsung diledek Nand.
Hari keempat, kelima, dan keenam ada anggota Dreamies lainnya yang mengganggu. Entah kenapa mereka malah menjadikan Kantin Bi Asih sebagai markas selama jam istirahat, padahal biasanya mereka hanya nongkrong disana pada jam pelajaran Bapak Aksara, sang guru Sastra yang terkenal bikin ngantuk kalau sedang menjelaskan pelajaran.
Mereka saling bercengkrama dan juga berbagi tawa disana. Hingga tanpa Nand sadari, perlahan ia mulai melupakan tujuannya untuk bisa meraih hati Kejora untuknya. Mungkin sejak itu juga Kejora mulai menjadi bagian dari para Sekawan.
Nand yang awalnya hanya modus, perlahan berubah seperti seorang yang asing. Ia seakan bisa merasakan nada ancaman dari sorot tajam mata Haikala untuknya. Awalnya ia berubah dengan memanggil Rara dengan sebutan 'kakaknya Cakra'. Hingga ia mulai terbiasa, dan ternyata Kejora dipindahkan ke kelas yang sama dengannya. Bahkan menjadi teman sebangkunya.
"Hasil seleksi pembagian kelas per tiga bulan sudah keluar. Dan ibu akan mengumumkan penambahan murid baru untuk kelas unggulan SMA Galaxy. Ini kejadian langka lho. Belum pernah ada lho yang berhasil pindah di pertengahan smester. Teman kalian ini memang special sekali. Ayo Kejora, silakan masuk."
Tidak gampang untuk bisa masuk ke kelas unggulan di SMA Galaxy. Apalagi karena itu adalah kelas khusus bagi anak-anak yang dipersiapkan untuk kompetisi-kompetisi besar. Hanya anak-anak terpilihlah yang berhasil dan dianggap mampu untuk berada di kelas tersebut.
Bahkan diantara para sekawan, hanya Nand dan Rendi yang berhasil masuk ke kelas tersebut. Si Ketua OSIS hits 'Mahesa' saja menyerah, sekalipun ia merupakan seorang juara di kelasnya.
Namun hebatnya, Kejora berhasil menyusul. Di pertengahan smester pula. Disaat itulah atensi Nand seakan ditarik kembali ke arahnya dengan begitu kuat.
Mulai dari persaingan mereka dalam merebut juara pertama. Kompetisi olimpiade yang tak pernah ada ujungnya. Hingga persaingan untuk masuk ke perguruan tinggi favorit, serta persaingan untuk masuk ke perusahaan yang sama Nand terlalu terbiasa ada Kejora di sisinya. Ia bahkan telah mengambil nyaris delapan puluh persen waktu Kejora untuknya, ketimbang Haikala.
"Wajar kan kalau gue suka sama kakak lo?" Cakra mengangguk paham.
"Tapi kan Haikal dari awal udah cemburu banget sama lo Bang. Dan lo juga membatasi diri lo dengan manggil dia Kakak Cakra? Gue masih inget gimana anak-anak selalu ngetawain sapaan lo yang aneh."
"Gue gak mau dia merasa gak nyaman sama gue Kra. Karena posisinya saat itu adalah gue yang salah. Kejora itu ceweknya. Cukup dengan gue bisa melihat Rara setiap jam aja, gue rasanya udah cukup."
"Tapi lo berhasil miliki dia hari ini." Nand tercekat dengan kalimat terakhir Cakra.
Ia memandangi adik iparnya itu lebih dalam dari biasanya. Ia sudah mengenal Cakra cukup lama. Cukup untuk mengerti kemana arah pembicaraan ini akan mengarah.
"Gue akui kalau gue begitu egois, gue begitu serakah Kra. Tapi dia istri gue sekarang. Bukannya itu sudah cukup untuk menjadi alasan." Cakra mengiyakan.
"Gue janji akan bahagiakan dia. Gue janji gak akan pernah mengecewakan Kejora Kra." Cakra menepuk pundak Nand bangga.
"Gue percaya kok Bang." Ia benar-benar bisa merasakan ketulusan Nand untuk kakaknya. Dan mungkin ini adalah pertanyaan terakhir selama hidupnya yang akan ia sampaikan kepada Nand tentang ketulusannya.
Jika Nand begitu yakin akan pilihannya, maka ia pun akan berfikiran sama. Ia akan menyerahkan kakaknya sepenuhnya kepada Nand. Karena tak ada yang lebih baik dari pada Nand untuk menjaga Kejora.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments