Hubby

Nand membawa Kejora pulang ke apartment barunya tepat setelah resepsi pernikahan. Operasi Mentari akan dilangsungkan lusa, mau tak mau mereka harus menghemat tenaga dengan beristirahat yang cukup sebelum menemani Mentari menjalani masa sulitnya.

Apartment itu Nand terima dari ibu tirinya yang ternyata cukup baik untuk bisa ia benci.

Namanya adalah Ratih, ia jugalah yang telah menawarkan diri untuk menjaga Mentari setelah Nand memiliki keluarganya sendiri.

Ia tak bisa membawa Mentari untuk memulai keluarga barunya. Ada beberapa hal yang harus ia tata sebelum itu, dan ia tak ingin membebani Mentari dengan sekelumit permasalahan pribadinya.

Kejora juga tak ingin jika permasalahan keluarganya nanti akan diketahui oleh Cakra dan Jishan, sepasang anak kembarnya yang suka membuat onar. Karena beberapa pertimbangan itulah mereka berdua berakhir di dalam sebuah unit apartment satu kamar yang diberikan sang ibu tiri kepadanya.

"Cukup kok buat tinggal berdua." gumam Kejora seolah tak keberatan untuk tinggal di tempat yang lebih kecil dari kediaman pribadinya sebelumnya.

"Kamu mandi duluan gih, biar aku yang bongkar barangnya." Nand langsung mengambil alih koper dari tangan Kejora dan membongkarnya tanpa lagi menunggu persetujuan.

Hanya sebuah koper kecil berisi alat riasnya yang ia gunakan saat acara. Sedangkan Nand sendiri, ia menepikan sebuah koper besar yang berisi barang-barangnya ke sudut ruangan. Seolah tak ingin Kejora mengintip apa yang ada di dalamnya.

"Oh ya, di dalam lemari udah ada beberapa baju yang disiapkan oleh Kak Sandra dan juga Cakra kemarin. Kamu bisa pakai yang ada dulu kan, sampai kita selesai bongkar barangnya." Nand menunjuk tumpukan barang yang berada di koridor masuk, Kejora hanya membalasnya dengan anggukan lalu berlalu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar utama.

Ia menghabiskan waktu setidaknya setengah jam untuk berendam air panas dan melepas penat setelah lelah seharian beramah tamah di acara pernikahannya.

Mempertahankan sebuah senyuman palsu untuk waktu yang cukup lama memang melelahkan. Belum lagi dengan beban yang tengah ditanggung oleh hatinya.

Bukankah ia juga harus melakukan sandiwara itu di hadapan Haikala?

Lantas jika perasaannya bisa sekacau itu, bagaimanakah perasaan Haikal yang menyaksikannya tadi.

"Aku udah siapin air panas sama baju ganti, kamu mandi juga ya By. Biar aku yang lanjut." Kejora keluar dari kamar utama dengan keadaan yang lebih segar.

Ia beralih ke samping Nand dan meraih beberapa baju yang tengah dilipatnya tanpa permisi.

Seolah tindakan adalah hal yang bisa mengisyaratkan tindakan keduanya ketimbang bicara.

"Kamu panggil aku apa barusan?" Nand mematung. Ia menatap wajah Kejora tanpa berkedip.

Ada yang salah dengan telinganya, ia yakin itu. Ada sebuah kata yang tak biasa ia dengar, ia hanya ingin memastikan.

"By, singkatan dari Hubby. Kita pasangan menikah, aku gak bisa langsung panggil nama kamu gitu aja. Itu hanya akan membuat semua orang mengira pernikahan ini bermasalah. Aku gak mau itu." Kejora masih sibuk dengan baju ditangannya ketika Nand masih tak berkedip seolah gugup menunggu jawabannya.

"Atau kamu mau dipanggil yang lain? Seperti Kak, atau Mas?" Bisa-bisanya Kejora mengatakan itu tanpa sedikit pun perasaan bersalah. Apalagi di hadapan seorang yang begitu menyukainya.

Padahal entah sudah sekeras apa bunyi detak jantung Nand saat ini. Ia seolah tak mempedulikannya.

"Kok bengong? Mandi gih." tegurnya di waktu yang salah.

Nand tersentak, ia berlalu menuju ke kamar mandi dengan perasaan yang lumayan kacau.

Apa ini? Kejora bahkan tak terlihat membencinya. Apa memang menikah dengan seorang yang tak diharapkan bisa semudah itu. Telinganya bahkan tak bermasalah, ia sudah mengkonfirmasinya sekali lagi. Apakah ia juga harus bersikap biasa saja.

Tidak selama Rara, Nand hanya menghabiskan waktu selama kurang lebih lima belas menit untuk mandi. Namun begitu ia keluar, sudah ada sepasang baju lengkap bahkan dengan pakaian dalamnya sudah tertata di atas tempat tidur.

Ia juga menemukan peralatan mandi serta handuk baru tersedia di kamar mandi sebelumnya. Disaat Kajora mengatakan bahwa ia telah menyiapkannya, Nand benar-benar tak menyangka jika ia menyiapkan segalanya selengkap itu. Apakah ini perasaan setelah menikah yang sering dibicarakan orang-orang?

Nand keluar berniat menghampiri Rara untuk bisa kembali membantunya. Namun semua pekerjaan yang ia tinggalkan sudah selesai hanya dalam waktu kejapan mata saja. Rara begitu tangkas, ia menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu waktu.

"Udah selesai? Bantu aku masukin lemari ya?" Kejora nampak tengah bersantai dengan sebuah telfon genggam di tangannya.

Ding Dong..

Suara bel interkom berbunyi, tepat ketika ia meletakkan ponselnya dilantai.

"Udah sampai?" ujarnya antusias.

"Kamu undang siapa?" Nand nampak kebingungan sendiri. Apa mungkin Kejora mengundang haikal untuk datang ke apartment nya, atau si kembar petasan, atau mungkin Sandra?

Apa gadis itu sudah merasa sesak, padahal belum genap satu jam mereka berada di ruangan yang sama.

"By, kok bengong? Gak mau bantu? Aku yang buka ya?" Nand yang masih mematung diambang pintu kamar pun menggeleng. Ia bergegas ke arah pintu keluar yang berada di sampingnya.

"Siapa?" ia lagi-lagi mematung.

Itu hanya layanan pesan antar. Kejora tak mengundang siapapun ke apartment baru mereka. Ia hanya memesan makanan untuk pelipur perut yang telah lelah seharian tanpa pengganjal.

"Terimakasih." Kejora menyerahkan kartu ATM kepada kurir itu dari balik punggung Nand.

Suaminya masih mematung, entah apa yang tengah dipikirkannya. Ia kira takkan baik jika harus membiarkan kurir itu menunggu. Namun juga tidak baik jika ia harus muncul di hadapan pria lain dengan menggunakan gaun tanpa lengan serta panjangnya yang hanya sebatas lutut.

Karena itulah ia tetap bersembunyi di balik punggung Nand, lalu mengulurkan kartu itu di bawah ketiak Nand sambil memeluknya dari belakang.

Kurir itu pergi tepat setelah menyelesaikan pembayarannya. Pintu apartment otomatis tertutup tepat ketika Nand melepaskan pegangannya pada handle pintu.

"Aku lihat di kulkas gak ada bahan makanan, kamu pasti lapar habis acara seharian. Aku gak tahu apa yang kamu suka, jadi aku cuma pesan apa yang biasa kita makan di basecamp. Gak apa-apa kan?"

Nand berbalik. Ia meletakkan makanan yang baru saja ia terima begitu saja di lantai. Ia lalu menatap Kejora dari jarak yang sangat dekat. Ia menangkap nayanika Kejora begitu lama, lalu semakin mendekat hingga beralih untuk mendekapnya dengan sangat erat.

"Kenapa? Aku salah ya?" Kejora tampak ragu, namun tetap membalas pelukan suaminya.

"Maaf, karena aku berfikiran buruk tentang kamu Ra." Kejora mulai bingung.

"Aku kira kamu gak nyaman tinggal berdua sama aku dan undang Haikal kesini. Aku terlalu takut kalau benar Haikal yang muncul dari balik pintu itu."

Kejora mengerti akan kekhawatiran suaminya itu. Ia menepuk-nepuk pundak Nand ketimbang membalas perkataannya. Memberikan waktu yang cukup lama untuk pelukan itu, tanpa menolaknya meski dengan tindakan.

Ia sudah mengetahuinya. Nand telah mengatakan segalanya. Tentang perasaan yang ia miliki untuk Kejora, serta perasaan cemburu yang mungkin timbul bersamaan kemunculan Haikala. Kejora begitu paham itu semua. Meskipun mungkin hatinya tak benar-benar bisa menjawab kekhawatiran itu untuknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!