"Apa rencanamu Ra? Kamu yakin minta aku untuk ngomong sama Om Harry soal perjodohan kamu dengan Nand. Terus Haikala gimana?"
Malam itu terlalu dingin hingga membuat semua orang terlelap begitu nyenyak nya. Saking nyenyak nya hingga tak ada yang menyadari kehadiran seorang yang begitu asing diantara mereka.
Itu adalah hari dimana pesta ulang tahun Cakra diadakan di Villa Gemintang. Semua anggota dreamies menginap disana, termasuk Sandra dan juga Angelika.
Mahesa mengizinkan bir hanya untuk malam itu. Setidaknya karena ini adalah malam sabtu, dimana mereka akan memulai libur weekend mereka keesokan harinya.
"Pokoknya semua nginep disini malam ini. Abang gak mau dengar kalian meracau di jalanan karena mabuk, ingat itu." tegas Mahesa yang langsung ditarik duduk oleh sang istri.
"Ini karena Cakra ulang tahun aja ya." sambungnya.
"Udah Sa, santai aja kali. Mereka udah dewasa juga." dan begitulah mereka semua berakhir terkapar di tengah ruang utama tanpa ada yang berhasil pindah ke kamar.
Tak hanya bir, soju, bahkan makgeolli kesukaan Haikala sudah tersedia disana akibat kehebatan Arjuna dalam menyelundupkannya masuk ke dalam Villa.
"Penjagaannya ketat banget, gimana bisa Arjuna masukin alkohol ke dalam Villa." ujar si tamu asing itu keheranan.
"Lagian bukannya toleransi Rendi dan Nand itu tinggi ya? Kok bisa-bisanya ikutan tepar. Mana mereka gak sempat mindahin Mentari ke kamar lagi. Mereka kan mabuk, masa depan anak kecil sih dek?" tanyanya heran.
Apalagi karena ialah yang ditugasi Kejora untuk memindahkan Mentari begitu ia masuk ke dalam villa.
"Aku masukin obat tidur di minuman mereka." jawab Kejora acuh.
"Termasuk Mentari? Kamu gila?" Kejora hanya mengangguk sekilas.
"Aku tahu dosisnya Kak. Selama dosisnya tepat, semua aman."
"Sekarang jelaskan rencanamu!".
Kejora kini tengah berada di beranda balkonnya bersama sang kakak sepupu yang tak pernah dikenal oleh anggota sekawan kecuali Cakra. Ia adalah Evan, sepupu sekaligus orang kepercayaan ayahnya yang selama ini melatihnya.
"Kamu sudah menyeret Haikal sejauh ini dalam rencanamu, aku bahkan bisa melihat cinta itu begitu membara di matamu untuk Haikala. Lantas kenapa?"
Kejora berjalan mengitari Evan, lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas sofa luar ruangan yang berada disana.
"Haikal gak punya kuasa sebesar Nand. Nand itu pewaris tunggal AJ Company, dan AJ jauh lebih berkuasa dibanding GR Media. Satu lagi, aku adalah kelemahan terbesar Haikala, aku gak bisa memanfaatkan seseorang yang lemah."
"Nand punya Mentari." sanggah Evan. Sangat sulit untuk bisa memahami jalan pikiran Kejora. Apalagi karena semua jalannya yang selama ini terlalu mulus, nyaris tanpa celah.
"Tapi ia bertahan untuk Mentari, Mentari menjadikannya kuat. Sedangkan Haikala? ia hanya akan menghambat kita Kak."
Yang Evan tahu perihal Kejora selama ia mengenalnya adalah bahwa Kejora adalah seorang yang begitu ambisius. Ia tak pernah berada di belakang orang lain, sekalipun hanya selangkah.
"Jadi karena itu selama ini kamu selalu melibatkan Nand?"
"Nand memicu ku untuk menjadi lebih baik. Sedangkan Haikala, hatinya terlalu lemah. Aku sudah berjuang sejauh ini untuk menyingkirkan Cakra dari hak warisnya. Aku sudah cukup dengan Haikala. Sekarang adalah saatnya mendaki lebih tinggi lagi Kak." Kejora menyeruput gelas wine yang sedari tadi berada di tangannya.
(Evan Akalanka Sidik)
......................
"Aku tidur dengan Nand." Kejora mengirim sebuah pesan singkat kepada Evan dari ponsel sekali pakai yang ia simpan di balik kabinet di dalam kamar mandinya.
Sebuah cara komunikasi yang cukup privat untuk bisa ia sembunyikan dari Nand dan kepekaannya.
Secara teknis, Kejora memang sengaja memancing emosi Haikal dan juga Rendi terhadap dirinya. Itu akan sangat berguna untuk memancing Nand bertindak lebih jauh.
Sejak awal pertemuan mereka, Kejora sudah cukup peka untuk melihat perasaan Nand kepadanya. Ia sudah menyelidikinya, Nand sama sekali berbeda dari Haikala. Ia tak pernah terpengaruh dengan persahabatan mereka. Sangat mungkin jika ia akan mengkhianati Haikala demi perasaan cintanya.
Alasan yang sama hingga Kejora selalu berakhir bersamanya dan memancing Haikala lebih jauh. Bahkan termasuk perjodohan.
Ia sudah menduganya. Rendi yang drop, Haikala yang melemah. Semua itu akan memancing naluri Nand untuk bisa memilikinya seutuhnya. Dan itu adalah peluang yang sangat besar.
"Kamu yakin bertindak sejauh ini?" Kali ini Kejora hanya membacanya.
Ia bergegas keluar setelah mengirim pesan itu, lalu langsung menemui Nand yang tengah menunggu di ruang tamu apartemennya.
"Ayo by?"
Hari ini adalah jadwal operasi Mentari. Kejora sudah mengemas beberapa pakaian untuk mereka bawa ke rumah sakit. Mereka berencana menginap sampai operasi Mentari dinyatakan selesai.
Kejora dengan sengaja memakai blouse turtleneck serta celana panjang yang menutupinya hingga bawah mata kaki. Tak lupa ia mengurai rambutnya, dan membuat segalanya benar-benar tertutup untuk bisa dilihat oleh orang lain.
Butuh waktu sekitar lima belas menit perjalan ke rumah sakit jika tidak ada kemacetan. Untungnya jalanan pagi ini cukup mulus karena merupakan hari libur kerja.
Nand dan Kejora langsung bergegas menuju ruang observasi Mentari tempat dimana para anggota sekawan sudah menunggu mereka beberapa jam lebih awal.
"Ra, temani abang sarapan yuk? Kakakmu sibuk seharian sampai lupa abang belum makan." Nand mengangguk mengizinkan.
Baru saja ia sampai di depan ruang observasi Mentari, namun Mahesa langsung mencegatnya untuk mengajak istrinya itu pergi. Ia bahkan belum sempat menyapa anggota sekawan yang lainnya.
"Aku temani Bang Mahe dulu ya By." Nand tersenyum, mengisyaratkan bahwa ia sama sekali tak keberatan.
Nand tak perlu alasan untuk cemburu terhadap Mahesa. Selain karena lelaki itu sudah menikah, juga karena ia telah dianggap sebagai abang sendiri oleh Kejora. Lagi pula Mahesa adalah seorang yang paling bisa diandalkan perihal menjaga Kejora tanpa embel-embel. Nand yakin itu.
"Aku dengar sup iganya disini enak, ayuk?" Mahesa mendahului jalan Kejora dan menuntun gadis itu untuk mengikutinya ke kantin rumah sakit yang berada di sekitar area lobby.
"Gue ikut." Arjuna nampak begitu antusias lalu mengekor mereka dari belakang. Sementara Nand bersama yang lain lebih memilih untuk duduk dan menunggu di kursi ruang tunggu pengunjung.
"Kita semua sadar lho Ra." goda Arjuna setelah meletakkan nampan berisi makanan. Mereka diatas meja.
"Sadar apa sih Jun?" Kejora nampak seperti seorang yang polos dan tidak mengerti.
"Baju kamu terlalu tertutup untuk seorang yang hidup di Jakarta Ra. Ayo mau nutupin apa?" ujar Mahesa yang membuatnya bersemu merah.
"Apaan sih Bang?"
"Semalam dia nyeret lo pulang, doi gak main kasar kan Ra?" Arjuna terlihat khawatir menunggu jawaban Kejora.
Ia cukup khawatir untuk seorang yang menjadi saksi mata dari kehebohan yang dibuat Haikala bersama Kejora.
"Semalam ada apa? Kalian gak cerita apa sama abang?" tanya Mahesa penasaran.
"Kamu sih Jun, mancing-mancing." seru Kejora emosi.
"Dia datang diam-diam ke rooftop apartemen gue buat nemuin Haikala. Mereka pelukan sampai nangis-nangis. Gue sadar, gue ikutin. Ternyata Nand ada disana dan cuma pelanga pelongo merhatiin mereka. Gue emosi, gue tonjok Haikala, gue seret turun." jelas Arjuna panjang kali lebar hingga membuat Mahesa sedikit khawatir.
"Makanya tuh anak pagi-pagi udah bonyok?" Arjuna mengangguk.
"Gue lihat Nand semalam juga narik Kejora kenceng banget, gue khawatir. Kamu gak dikasari kan?" Kejora menggeleng.
"Pasti hot banget ya? Sampai ditutupi gitu?" Kejora melempar Arjuna dengan potongan kentang goreng yang ada di hadapannya, sementara Mahesa hanya bisa tergelak.
Arjuna memang terkenal paling iseng dan paling ember diantara Dreamies. Tapi dia juga penengah yang baik, meskipun lebih suka emosian.
Jujur, Mahesa merasa sedikit lega karena Arjuna Lah yang berada disana. Bayangkan jika itu anak sekawan lainnya, pasti akhirnya akan lebih parah.
"Dia memang sempat marah sih. Tapi aku berhasil buktiin keseriusan aku sama dia." jawab kejora ragu.
"Namanya laki, apalagi lo istrinya. Pelampiasannya pasti kesana lah. Apalagi itu cara paling sakral buat buktiin kepemilikannya. Dia bisa jelasin posisinya ke Haikala tanpa perlu koar-koar panjang lebar." jelas Arjuna yang terdengar sedikit nyeleneh.
"Wajar Nand marah, karena dia suamimu Ra. Memang posisinya Haikala yang salah. Tapi kamu juga salah, karena gak menjaga perasaan suamimu." kali ini Mahesa yang bicara dan Kejora hanya bisa mengangguk pasrah, tanpa ada bantahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments