"Apa se-nggak aman itu ya?"
Entah sudah botol bir ke berapa yang Rendi habiskan setelah acara resepsi pernikahan Rara dan juga Nand. Ia kini masih terduduk lesu diatas rooftop apartment nya sendiri sejak tiga jam yang lalu.
Diam tanpa kata, namun juga tak bisu tanpa suara. Mungkin telinganya hanya ingin mendengar suara angin yang saling bercengkrama, saling bertegur sapa seolah semua yang pernah terjadi bukanlah tindakan tanpa makna.
"Kamu disini?" ia akhirnya memutuskan untuk menyapa gadis yang sedari tadi menatap punggungnya penuh sesal.
"Sampai kapan mau lihatin punggung aku terus. Kamu itu terlalu cantik untuk tidak disukai lelaki lain Ngel."
Bahkan tidak berbeda darinya, gadis itu hanya bisa menatap ke satu arah sejak mereka SMA. Angelika, seorang yang selalu mengekornya disaat ia lebih suka mengekori Rara.
"Dari awal kamu udah tahu kalau dia bukan takdirmu, lantas kenapa Ren?" tanyanya dengan penuh rasa bersalah.
"Sama seperti kamu yang masih bertahan sampai sekarang. Atau mungkin tidak." ia tergelak seolah tengah menertawai takdirnya sendiri.
"Dari awal aku tahu kalau dia milik Haikal. Tapi ketika tahu Nand yang akhirnya menang, aku menyesal karena tidak bisa menantang diriku sendiri Ngel."
"Kamu terlalu berharga untuk disia-siakan Ren."
"Aku harap kamu tidak terluka sama seperti apa yang aku rasakan ya?" tangan rendi terulur untuk menepuk pelan puncak kepala Angelika.
Ia tersenyum begitu tulusnya. Seakan merasa dirinya begitu bodoh karena telah menyia-nyiakan gadis ini nyaris delapan tahun lamanya.
"Kamu mabuk." Senyumnya merekah.
Toleransi alkoholnya begitu tinggi. Hanya lima kaleng bir dengan kadar alkohol rendah takkan membuatnya mabuk dan berkhayal.
Ia bahkan bisa menghitung dengan jelas ada berapa kerutan di wajah Angelika hanya dengan menatapnya penuh rasa bersalah. Ia juga sangat ingat jika gadis itu juga mengekorinya dengan tinggal di apartment yang bersebelahan dengan miliknya.
Green Villa IV gedung nomor dua di lantai ketujuh. Hanya ada dua unit kamar tinggal yang berada di satu lantai. Ia rasa itu sudah cukup untuk membuatnya melihat wajah gadis itu setiap harinya. Ia bahkan juga bekerja di kantor dan divisi yang sama dengannya.
"Apa cintamu untukku sebesar itu?" ujarnya penasaran. Apa ia memang sebodoh itu hingga tak pernah menyadarinya.
Namun air matanya yang baru saja mengering, ditambah perasaan kacau yang menyakiti hatinya telah membuatnya kehilangan kesadaran. Bukan bir yang mempengaruhinya kini, namun perasaan sakit karena dikalahkan oleh takdirlah yang membuatnya tumbang.
Untung saja pemuda itu tak tinggal sendiri. Ia tinggal di apartment yang sama dengan Juna. Sebuah alasan yang tepat agar kakaknya mengizinkannya untuk pindah dari rumah.
"Halo Arjuna, kamu bisa bantu aku nggak? Rendi pingsan di rooftop."
Arjuna baru saja sampai di ambang pintu ketika telfon dari Angelika masuk. Ia pun langsung bergegas menyusul ke arah rooftop yang hanya berjarak tiga lantai di atas unit miliknya.
Naik tangga tiga lantai bukanlah hal yang melelahkan. Namun menangani Rendi yang tengah berantakan itulah masalahnya.
"Ia juga seperti ini saat gagal masuk kampus impiannya. Ini masuk fase depresi, bukan alkohol yang menjadi penyebabnya. Namun perasaan dikhianati diri sendiri. Kalau dulu ada Kejora yang membantu, kali ini aku tak tahu harus minta tolong siapa."
Angelika masih menyimak. Bahkan setelah Juna membopong Rendi masuk ke dalam kamar dan membaringkannya ia masih belum beranjak. Ia masih sibuk menyelimuti tubuh Rendi sambil sesekali menggosok tangannya yang terasa dingin.
"Kita harus bahas ini dengan Nand dan Kejora. Hanya mereka yang bisa membantu. Aku masih yakin kalau Rara lebih dewasa dari kelihatannya, Juna. Kita harus minta bantuan."
"Tapi keadaan mereka pun tak begitu baik."
"Rendi perlu berdamai dengan keadaan. Termasuk Haikal. Hanya dengan meyakini bahwa ia tak terluka sendiri, mungkin itu bisa membantu."
Lamunan Juna kian panjang seolah ia tengah berusaha menerawang diantara masa depan. Ia tak yakin dengan saran Angel yang baru di dengarnya. Namun ia juga bukan seorang yang tak terbuka dengan jalan pikiran orang lain.
"Aku akan coba, tapi setelah mendiskusikannya dengan Bang Mahesa dan Sandra. Di saat seperti ini, hanya mereka yang bisa berfikir secara terbuka."
******
"Apartment ini disewa Mama untuk satu bulan aja kok Ra." Nand membuka suara ditengah heningnya makan malam mereka.
"Gak apa-apa kok by, aku kan juga kerja. Nanti setelah bulan ini kita bisa pindah ke kontrakan biar bisa lebih murah, gimana?"
Seulas senyum manis terukir di bibir Nand. Maksudnya untuk mengatakan itu awalnya adalah untuk memberi tahu Kejora bahwa ibunya tengah menyiapkan apartment yang lebih besar.
Unitnya ada dua lantai di bagian atas gedung yang sama. Namun lantaran harus ada sedikit renovasi, maka ibu tirinya menyewakan sebuah unit sewa untuk mereka tinggali sementara.
Nand hanya ingin memberitahu Rara bahwa ia juga sudah berdamai dengan masa lalunya. Ibu tirinya sudah menjelaskan semua hal yang perlu Nand tahu. Ia bahkan menawarkan Nand dan Mentari untuk tinggal di kediamannya dan menjadi bagian keluarga yang sesungguhnya. Namun Nand menolaknya dengan sopan.
Ia ingin memulai keluarganya sendiri. Tapi ia juga tak menolak ajakan mereka untuk membawa Mentari. Ia tahu bagaimana Mentari sangat membutuhkan kehadiran orang tua saat ini, ia menyambut ide itu dengan baik.
Namun yang ia sama sekali tak sangka adalah sikap Kejora yang bisa begitu dewasa.
Awalnya ia kira Kejora hanyalah seorang gadis manja yang sudah dikuasai oleh harta, namun nyatanya tidak. Bahkan Kejora tak pernah membahas apapun perihal perpisahan mereka. Entah memang belum, atau ia memang tak pernah merencanakannya.
"Lagian apartment ini terlalu kecil. Cuma ada satu kamar, dan kamar mandinya pun ada di dalam kamar utama. Belum ada perabotan juga, kamu gak akan bisa ajak Cakra untuk nginep di rumah."
"Tapi lebih dari cukup kok By. Cakra juga bisa tidur di ruang tamu, gak perlu manjain dia jugalah. Dan kamu gak perlu merasa bersalah sama keadaan kita. Aku harap, semoga ini adalah jalan untuk kita bisa jadi lebih dewasa ya."
Kejora mengelus lembut tangan Nand. Entah kenapa rasanya begitu berbeda. Ia merasakan bahwa perasaan itu begitu tulus. Apa benar Kejora menerima pernikahannya begitu mudah.
"Kamu udah siap kan? Aku beresin piring kotornya dulu."
"Aku bantu ya?" Kejora hanya mengangguk.
Tak banyak kata yang mereka ucapkan selama pergerakan menuju dapur. Tapi juga tak membutuhkan waktu yang lama. Mereka hanya perlu mencuci dua piring dan dua gelas saja. Hanya ada suara air mengalir turun menuju wastafel yang mulai terdengar bak musik yang mengalun.
"Ra," Kejora membalik tubuhnya ketika Nand mulai menghadangnya dan menatapnya penuh damba.
Tatapan yang tak sulit untuk diartikan, namun Kejora masih asing dengan hal-hal seperti ini.
"Aku menginginkanmu, apa aku salah?" tanyanya lirih dan begitu dalam.
"Aku gak bisa mengecewakanmu karena keegoisanku By. Jangan sampai aku mengharapkan bahwa orang yang bersamaku itu adalah Haikal."
DEG!! Nand tercekat.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintaimu. Jangan sekarang, aku janji akan berusaha. Tapi aku gak mau kalau kamu menyentuhku disaat kepalaku masih dipenuhi nama Haikal. Aku takut melukaimu By."
Mendengarnya sambil menatap kedua nayanika Kejora membuatnya sadar. Gadis itu tulus dengan pernikahan mereka. Cakra benar, kakaknya takkan pernah mempermainkan sebuah pernikahan.
Ia hanya perlu bersabar, dan menunggu sebentar lagi. Sampai hati Kejora terketuk, dan ia akan memiliki keluarga paling bahagia yang pernah dibayangkannya.
"Aku peluk kamu boleh?" Kejora mengangguk.
Dan begitulah cara Nand akhirnya untuk menuntaskan hasratnya sendiri. Dengan berusaha menghargai istrinya, ia berusaha keras untuk menjemput cinta itu sendiri untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments