"Kamu tahu cara menyembuhkan Rendi?" Haikal menghadang Kejora dari depan pintu apartment Rendi.
Rendi baru saja tertidur sepuluh menit yang lalu. Anak-anak Dreamies yang lain juga masih berkumpul disana bersama Angelika dan Sandra.
Awalnya Kejora hanya merasa sesak. Ia butuh udara segar. Satu kebiasaannya yang selalu membuatnya terhubung dengan Rendi adalah rooftop. Mereka adalah orang yang berfikiran sama. Bahwa menyendiri di atas Rooftop adalah kondisi yang tepat untuk mengatasi sesak.
Disaat kamu bisa melihat dunia yang lebih luas dari apa yang pernah kamu lihat. Dan merasakan udara pada tekanan yang berbeda, ada sebuah kejernihan yang tiba-tiba hadir bak ilham yang akan membuatmu bisa jauh lebih tenang.
"Aku baru berfikir untuk menemaninya therapy, belum sampai hal lain. Aku butuh dia berdamai sebelum kita semua menyesal." jawab Kejora langsung pada intinya.
"Lalu bagaimana denganku?" Kejora menatapnya aneh.
"Apa aku tak butuh kesempatan juga. Apa aku tak butuh obat juga?"
Deg! Kejora tak memiliki jawabannya jika itu menyangkut perasaan Haikala. Bukankah mereka memiliki kekecewaan yang sama. Lalu kenapa seolah hanya ia yang bisa disalahkan.
"Aku habiskan seumur hidupku untukmu Ra. Apa aku juga tak membutuhkan obat?"
Nand menyela keduanya dan berdiri diantara mereka. Seolah berusaha memblokir keberadaan Rara dari Haikala. Ia sama sekali tak peduli apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya.
"Berdamai memang gak mudah. Tapi apa pernah lo mikirin perasaan dia yang harus hidup bersama orang lain seumur hidupnya." serang Nand tepat pada ego Haikala.
"Dibanding kalian bertiga, Kejoralah yang paling terluka. Apa pernah lo mikir kesana?"
"Gue janji ya Kal, gue janji akan bahagiakan dia. Tapi gue gak bisa janji kalau dia bakal bahagia hidup sama gue. Jadi please berhenti merasa jadi korban dan fikirkan juga korban yang sebenarnya." Nand menarik tangan Kejora keluar ketika Haikal mencegal tangannya untuk bergerak lebih jauh.
"Kalau lo sadar keegoisan lo cuma bikin dia menderita. Kenapa bukan lo yang menyerah dari awal." Plak
Kejora melayangkan tamparannya kepada Haikala tanpa terduga. Ada air mata yang menerobos keluar dari tatapannya yang selalu teduh. Bibirnya bergetar hebat, namun genggamannya pada tangan Nand beberapa menit lalu justru malah semakin mengerat.
Membuat mata Haikal semakin membulat, dan emosi dalam jiwanya tak lagi bisa ia bendung. Ia bermaksud pergi dan hendak meninggalkan mereka. Namun Nand sudah lebih dulu menarik Kejora pergi.
Meninggalkan ruang hampa yang tersisa. Bahkan tanpa sempat berpamitan apalagi bertegur sapa. Ia tak peduli jika kini mereka menganggapnya egois. Yang ia tahu hanya Kejora Nya tak lagi boleh menangis.
******
Jogjakarta, dalam kenangan Haikala, Tepat satu tahun sebelum kedatangan Kejora ke Jakarta...
"Ra, temenan terus nih kita?" Haikal merajuk seperti anak kecil yang ingin naik biang lala.
Maksudnya kembali ke Jogja sebenarnya adalah karena merindukan Kejora. Sudah satu bulan lebih ia tak bisa menghubungi gadis itu, begitupun Cakra.
Alasan menengok sang kakek hanya bualan semata. Kakeknya hanya terkena magh karena seharian penuh berada di ladang. Ia lupa memakan makan siangnya, hanya butuh sebutir pil untuk kembali menetralkan perutnya agar kembali seperti semula.
"Aku ikut seleksi olimpiade matematika Kal. Kemarin di karantina gak ada akses telfon, mau kirim surat pun aku gak bisa keluar." jelasnya tanpa menoleh.
"Kakek baik-baik aja. Gak perlu jauh-jauh sampai ke Jogja. Capek aku baru pulang udah diomeli kakek karena kamu." kali ini Rara yang cemberut.
Bagaimana tidak. Kakeknya Haikal bukan hanya sekedar tetangga untuk Rara. Ia malah lebih sering bermain di sana ketimbang di rumahnya sendiri. Namun lantaran sikap kekanakan Haikal saat ini, ia harus rela mendengarkan celotehan kakek seharian bersama Haikala.
"Jangan kayak anak kecil Kal."
"Masih gak mau nerima cinta aku ya?" Rara beralih menatap Haikala dengan kesal.
"Yaudah, iya." jawabnya singkat, namun sanggup membuat Haikal melompat kegirangan lantaran jawabannya.
"Serius? Beneran? Gak bohong kan? Aku gak salah dengar kan?" serunya dengan mata membulat sepenuhnya.
"Kenapa? Gak mau, yaudah. Lagian Cakra juga mau jodohin aku sama temannya, Jishan."
"Ya maulah, awas aja Cakra sampai jodoh-jodohin kamu sama temannya."
Yess!! Selama hidupnya dimana ia hanya bisa menerima apapun keputusan orang tuanya. Haikala tak pernah merasa benar-benar bahagia seperti saat ini, ia merasa telah diberikan seisi dunia untuknya.
"Aku janji akan bahagiakan kamu Ra."
Jika mengingat moment tak terduga dimana Rara akhirnya menjadi kekasihnya, Haikal tertawa miris. Andai saja ia terlambat barang sehari saja, mungkin Jishan yang akan meminang Rara hari ini bukan?
Secara Jishan sudah begitu mengenal keluarga Rara berbeda dengan dirinya yang tak pernah mengenal siapapun di keluarga Rara selain Cakra.
"Gue kira lo yang bakalan kasih dunia buat Kak Rara."
Cakra menghampiri Haikal yang tengah merenung di rooftop yang sama, tempat dimana Rendi jatuh tak sadarkan diri sebelumnya.
"Gue dengar percakapan lo sama Bang Nand tadi. Gue gak bisa bela lo lagi, karena sekarang Bang Nand yang paling berhak atas Rara. Bahkan dibanding gue."
Haikala hanya bisa mengangguk memahami. Bahkan Cakra sampai jauh-jauh datang ke Jakarta hanya demi menghindari kediktatoran orang tuanya.
"Gue gak berdaya, bahkan jika besok gue yang dijodohkan pun gue mungkin cuma bisa diam. Lo tahu sendiri kan gimana Rara selama ini kasih gue tempat untuk bernafas. Padahal dia sendiri juga merasa sesak."
"Anehnya lo selalu percaya cuma gue yang bisa diandalkan Rara." Haikal mendecih.
"Bego banget gue Kra. Gue bisa berjuang sejauh ini untuk mendapatkan Rara, tapi gue gak bisa mempertahankan dia tetap di sisi gue."
Cakra menepuk pundak Haikal yang ia sendiri tak tahu apa artinya. Entah ia berusaha memberi pemuda itu kekuatan. Atau dirinya malah menambah luka pada diri Haikala.
"Gue masih percaya itu sampai sekarang. Tapi gue gak salah kan kalau gue berharap sama Bang Nand sekarang."
Haikal hanya bisa mengangguk mengerti. Ia tahu ketidakberdayaannya. Ia paham batasannya. Ia terlalu menyayangi Rara untuk bisa ia sakiti.
"Gue harus ikhlas ya Kra. Tapi berat lho."
Pertama kali dalam pertemanan mereka Cakra melihat anak-anak Dreamies benar-benar berbagi tangis. Selama ini mereka hanya menyuarakan kepedihan mereka, tak ada air mata yang benar-benar jatuh.
Tapi melihat satu tindakan itu bisa merubah segalanya. Sekarang ia sadar, kenapa kakaknya bisa begitu berharga selama ini.
"Lo tahu ini bukan salah Rara kan?"
"Ini salah dunia yang bersikap tidak adil kepada kita Kra. Entah sampai kapan gue akan terus menyalahkan diri gue dan ketidakberdayaan gue. Tapi gue gak terluka sendiri. Kita semua terluka, dan kita juga gak boleh menghakimi Rara."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments