Kejora itu seperti beringin, semua orang bisa bernaung di bawahnya tanpa terkecuali. Ia begitu melindungi, dan ia juga sangat penyayang.
Jika bukan karena Kekeras kepalaannya, Cakra mungkin akan terikat dengan belenggu keluarga yang selama ini mengikatnya. Keberadaannya sebagai satu-satunya putra penerus keluarga telah membawa pemuda itu hidup dalam dilema hampir di seluruh hidupnya. Namun Kejora sebagai kakak memilih untuk mengalah.
Ia memilih tempat untuk menggantikan penjara Cakra. Ia bersedia dikurung dan dibatasi hanya demi kebebasan Cakra meraih mimpinya. Ia ingin Cakra tetap bermain basket seperti keinginannya. Ia ingin Cakra bisa berkendara di setiap malam minggunya dan bukannya mengurung diri di dalam perpustakaan ruang keluarganya.
Kemudian Arjuna, jika bukan karena sikap nekatnya Arjuna takkan mau tangannya di gips. Ia nyaris saja kehilangan sepuluh tahun hidupnya dalam penyesalan, jika patah tangannya tak segera diobati. Namun Kejora dengan segenap kelembutannya telah berhasil membujuk Juna untuk melewatkan satu kompetisi demi puluhan kompetisi lainnya.
Ada juga kisah tentang Jishan yang ingin bunuh diri karena saking tak kuatnya mendengar pertengkaran orang tuanya. Telinga yang ia miliki terlalu rapuh untuk selalu mendengar makian. Apalagi itu terlontar dari kedua orang tuanya yang tengah berseteru.
Ia yang hanya dianggap anak pembawa sial serta benalu diantara hubungan keduanya. Hingga akhirnya Kejora menariknya untuk semakin mendekat, dan berakhir dengan kelengketannya bersama Cakra dimana keduanya mulai saling bergantung.
Villa Gemintang itu cukup besar untuk sekedar menampung para sekawan. Kejora bahkan pernah tinggal di dalam mansion itu dengan puluhan pengawal ketika awal pertemuannya dengan Nand.
Tak masalah bukan jika harus ditambah Jishan untuk ikut serta tinggal disana. Asalkan ia mau berhenti mencoba untuk mengiris pergelangan tangannya sendiri dimalam hari. Maka selama itu pula Kejora bersedia untuk menengoknya di setiap penghujung gelap sebelum ia tertidur.
Karena disaat naluri menyakiti diri itu mulai muncul, hanya pelukan hangat dari Kejora lah yang sanggup untuk menghentikannya. Ia akan menghabiskan sepanjang malam dengan menangis di dalam pelukan Kejora, lalu membaik di keesokan harinya seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Sesuatu yang lebih parah juga pernah terjadi pada Rendi. Ia harus mengorbankan mimpinya menjadi seorang fisikawan lantaran ditolak mentah-mentah dari kampus impiannya. Kampus itu tak menerima mahasiswa yang mengulang. Hanya ada satu kesempatan dan Rendi telah mengacaukan segalanya di hari H ketika penerimaan.
Kerja kerasnya yang tanpa henti telah membuatnya terkena tifus dan harus dirawat selama hampir dua pekan lamanya di rumah sakit. Ia tak sadarkan diri dan telah melewatkan tanggal yang seharusnya.
Ia pun terpaksa melewatkan ujian masuk, dan alhasil malah berakhir duduk di kampus Bhineka Cita bersama anak -anak dreamies lainnya. Ia hampir gila jika saja Kejora tak menunjukkan padanya dunia yang lebih luas.
"Aku tak bisa menunggu tahun depan Ra. Tak pernah ada kesempatan kedua." isaknya nyaris tak bersuara.
"Selalu ada kesempatan untukmu bersinar Ren. Mungkin kamu memang bukan Eisntein jika tak berhasil menemukan sesuatu. Tapi kamu tetaplah seorang yang berharga untuk orang di sekitarmu."
"Karena bukan cuma ada satu skenario di masa depan Ren. Masih ada begitu banyak jalan yang bisa kamu tempuh. Aku, Cakra, Haikala, dan anggota Dreamies lain pasti bantu kok."
Ia memapah Rendi menemukan mimpi barunya. Ia menjadi support sistem terdepan, hingga sejenak ia lupa bahwa tindakannya mungkin juga akan membawa begitu banyak rasa.
"Aku diterima di jurusan Management Bisnis di kampus kalian. Kamu tahu suatu saat aku akan menjabat sebagai seorang CEO sukses Ra." Kejora mengangguk bahagia ketika perlahan Rendi mulai menariknya masuk ke dalam pelukannya yang hangat.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali kamu masuk ke hidupku ra, apa aku salah?" Kejora sontak melepaskan pelukan itu dan menatap Rendi penuh dengan penyesalan.
"Haikala terlalu berarti untuk bisa ku kecewakan Ren, maaf."
"Nggak apa-apa. Aku paham kok." Anehnya mereka malah kian lekat sebagai seorang sahabat setelah moment itu terjadi. Rendi mulai bisa berdamai dengan perasaannya sendiri dan turut bahagia melihat raut kebahagiaan Rara saat bersama Haikala.
Untuk Mahesa, ia punya cerita yang berbeda. Ia yang sudah seperti kakak tertua pun malah keok jika harus berhadapan dengan kedewasaan Rara.
Rara pernah memergokinya menangis meraung-raung lantaran melihat perempuan yang ia sukai menikah. Dan berkat gadis itu jugalah Mahesa kini menjadi satu-satunya diantara mereka yang telah berkeluarga.
"Aku bingung sama abangmu itu Ra. Seleranya semakin membingungkan, kadang mau ini kadang minta dimasakin itu. Aku bukan koki, aku Dokter. Aku gak bisa obatin ayam pakai bumbu cuma buat dia makan lho Ra."
Ia bukan adik kandung Mahesa. Tapi jika pria itu membuat masalah, maka Rara adalah sasaran empuk sang istri untuk mengeluh.
Entah sesibuk apa diri Kejora sampai-sampai ia juga menjadi kakak favorite untuk Mentari. Dan ini justru yang selalu menjadi boomerang untuknya. Karena Mentari pun menginginkannya menjadi satu dari bagian berharga dalam hidupnya.
"Tari mau kakak yang temani Kak Nand kalau nanti Tari ketemu Mama. Kakak mau kan?"
"Jangan pergi terlalu cepat sayang, ada aku sama Kak Nand yang ingin melihat kamu tumbuh. Kamu pasti akan tumbuh jadi gadis dewasa yang super cantik dan juga baik, kakak yakin."
Tapi hidupnya tengah diambang batas sekarang. Kondisinya begitu kritis hingga cuci darah pun tak lagi bisa membantu. Hanya satu keputusan penting dari Haikala yang bisa merubah hidupnya saat ini.
"Aku ikut keputusan kamu Kal. Mentari memang butuh aku, tapi kamu terlalu berharga untukku sia-siakan." Rara memeluk tubuh Haikala begitu erat, seolah itu memang malam terakhir kebersamaan mereka.
Cakra sendiri tak bisa diam. Seharian ia hanya mondar mandir di depan kamar Rara demi menunggu keputusan nya. Kondisi Mentari bukan lagi untuk menunggu. Ia butuh kebijakan Rara. Tapi rapuhnya Haikala membuatnya tak bisa bertindak.
"Mau seegois apa lagi lo bang, sampai harus mengorbankan nyawa anak kecil." Cakra lelah, Mentari hanyalah seorang anak kecil yang tak pantas untuk dikorbankan. Apalagi karena ego orang dewasa.
"Bukan cuma lo, gue sama Bang Rendi juga patah hati. Bahkan jauh sebelum ini."
"Lo yakin mau ngecewain kita dengan kepergian Mentari." Bahkan Jishan yang belum dewasa pun ikut menamparnya dengan kenyataan.
Seorang adik kecil yang baru jadi karyawan magang di perusahaannya itu adalah adik kecil yang begitu ia lindungi. Ia takkan marah jika itu Jishan, Haikala akan melakukan segalanya untuk Jishan.
Bahkan jika pernikahan itu menyangkut Jishan dan bukan Nand mungkin saja ia akan rela, pikirnya. Tapi ini adalah Nand Jemel, seorang yang selalu ia cemburui selama hidupnya.
"Lo iri apa lagi sama Bang Nana? Dia dibuang keluarganya. Adiknya sakit. Dia kerja keras banting tulang dari sejak dia SMP. Sementara lo?"
"Bokap lo aja gak peduli lo mau jadi apa. Asalkan lo siap buat urus perusahaan. Ada banyak cewek yang bakalan antri buat dampingi lo yang berduit."
"Dan satu yang terpenting, cinta Kak Kejora selamanya akan untuk lo. Gak bisa apa berkorban untuk gadis sekecil Tari? Jangan egois lo bang!"
Mulut Cakra memang terkenal begitu pedas jika ia berkomentar. Bahkan ia tak peduli jika itu akan melukai seseorang termasuk jika itu Rara.
"Cakra cukup! Aku janji kasih Haikala waktu dua puluh empat jam. Apapun yang terjadi pernikahan akan tetap berlangsung besok. Kamu sama Jishan cuma perlu diam di rumah sakit, dan temani Mentari!"
Cakra terdiam. Batasnya hanya sekedar mulut besarnya saja. Ia tak pernah bisa melawan apapun yang keluar dari bibir Rara.
Ia tahu Rara bisa lebih dari sekedar diandalkan. Rara tahu dimana batasannya dan apa posisinya. Kini ia hanya perlu menunggu. Menunggui ketiga sahabatnya yang mungkin tengah dirundung pilu karena berita pernikahan ini.
"Ayo shan." Ia menarik Jishan pergi, berusaha memberi ruang kepada Haikala untuk sekedar menyandarkan ikhlas diatas bahunya sendiri.
"Aku kuat kan Ra?" Air matanya mulai menggenang.
"Pasti bisa."
Andai ia adalah pria brengs*k, ia pasti akan menarik Kejora kabur dari semua situasi ini. Atau mungkin ia akan meminta tidur dengannya untuk terakhir kali.
Tapi gadis seperti Kejora terlalu berharga untuk disakiti, apalagi dihancurkan.
Haikal hanya minta satu hari dari waktunya. Satu hari penuh untuk bisa terus mendekap Rara. Bersandar di bahunya. Menangis sepuasnya. Juga memeluknya tanpa pernah ingin dilepas.
"Satu hari aja Ra. Karena mungkin setelah ini aku benar-benar harus merelakan mu."
Nand menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kayu yang merupakan pembatasnya dengan kamar Rara. Lebih dari Cakra, anak-anak Dreamies tahu kepribadian Rara yang setia.
Ia takkan pernah mengkhianati sebuah hubungan. Ia tahu batasannya sendiri. Dan itu juga berarti jika ia menikahi seseorang, maka orang itulah yang nantinya akan menjadi pelabuhan terakhir dalam hidupnya kelak.
"Aku kasih kamu satu hari Ra. Serta satu hati untuk kamu cintai terakhir kali. Setelah ini temani aku ya? Sampai aku lelah melihat dunia, dan pergi menemui Mama di pembaringannya." Lirih Nand sebelum pergi dan meninggalkan moment keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments