"Masih bisa dibilang teman lo! Dasar bangs*t!!" Haikala mencengkeram erat kerah Nand yang juga tak bisa melawan.
"Bisa-bisanya lo makan teman lo sendiri, Hah!"
Tidak ada lagi yang bisa memendung emosinya. Haikala tak pernah semarah ini. Apalagi karena ialah yang telah membawa Nand masuk sebagai anggota Dreamies, padahal Nand sudah mati-matian menolaknya.
Keenam anggota lainnya termasuk Kejora hanya bisa menonton tanpa bisa menengahi. Semuanya kehilangan kata-kata. Seolah bisu mendadak menjadi kawan, disaat luka itu mencuat muncul ke permukaan.
Haikala yang selama ini mencemburui kedekatan Nand dan Rara kini sampai pada batas terakhirnya.
Bukan hanya Haikala, namun juga para anggota sekawan. Mereka secara kompak berkumpul di Dreamies Cafe tanpa aba-aba.
Itu adalah cafe yang mereka buat dengan tabungan mereka sendiri, merek kelola bersama sekaligus menjadi basecamp ketika ada permasalahan yang muncul menyangkut para anggota.
Rendi adalah yang terakhir bergabung. Kedatangannya tertunda karena macetnya jalan raya tak semata berpihak pada emosinya.
Ia masuk dengan tangan mengepal tak seperti biasanya, Rendi yang mereka kenal adalah seorang selalu terlihat riang dan juga penuh senyum.
Kaca mata berlensa tebal yang selalu ia gunakan semasa sekolah pun tak lagi menonggok di atas batang hidungnya yang mancung. Serta kemeja yang biasanya rapih mulai terlihat acak-acakan.
Para sekawan paham betul, Rendi akan nampak begitu kacau jika ia tengah dikendalikan oleh emosi. Emosi seolah membuatnya bertindak tanpa berfikir.
"Ren, kacamata lo mana? Penglihatan lo nggak sebagus itu sampai lo bisa ngebuang kacamata itu sembarangan." omelan Juna terdengar seolah merubah arah perbincangan. Namun yang diomeli sedang tidak baik-baik saja, sampai bisa menggunakan indranya dengan benar.
"Jadi itu semua benar Ra?" atensinya mengarah seratus persen kepada Kejora.
Mungkin selama ini ia terlalu cuek, hingga ia sempat lupa untuk memperhatikan hal-hal di sekelilingnya.
Bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang media dan juga teknologi itu telah menyita hampir seratus persen atensinya hingga ia lupa bagaimana dunia ini berjalan tanpa mendapat perhatiannya.
Ia bahkan sempat lupa, bahwa di bawah atap kantor yang sama itu selalu ada pertikaian tak terlihat diantara kedua temannya yang saling memperebutkan cinta. Atau bukan hanya mereka, tapi juga dirinya yang selalu memendam rasa itu dalam diam.
"Apa lo pernah tahu kalau gue juga suka sama lo Ra." Rendi melempar tas yang sempat ia tenteng ke sembarang arah. Ia meraih sebelah pergelangan tangan Kejora lalu menatapnya begitu dalam.
"Sejak pertama kali gue lihat lo dilaboratorium Galaxy. Disaat gue gak punya waktu untuk sekedar menyapa lo, dan begonya lo malah masuk dan mengalihkan semua perhatian gue ke lo. Gue belum pernah lihat ada perempuan yang begitu teliti soal peraturan laboratorium kayak lo Ra." Rara terdiam, begitu juga Haikala yang mulai teralihkan perlahan.
"Lo satu-satunya perempuan yang berhasil masuk ke dunia gue tanpa permisi. Cewek yang selalu mengerti emosi gue cuma lo. Tapi gue tahan semua Ra. Gue diam, gue bungkam. Karena apa? Karena Dreamies terlalu berharga untuk gue hancurin cuma karena perasaan sepihak gue, tapi lo!" nada bicara Rendi mulai meninggi ketika ia mengalihkan tatap nya ke arah Nand yang masih tersudut di salah satu dinding cafe.
"Lo hancurin teman lo sendiri, dan begonya gue malah biasa aja waktu lo gak pernah peduli sama kita."
Semua orang terdiam. Bisu mendadak menjadi kawan. Rendi selama ini memang terlalu diam, dan nampak tak peduli. Namun lebih dari siapapun ialah yang paling peka terhadap kondisi teman-temannya dan selalu membantu mereka diam-diam.
Tak ada yang bisa melawan Rendi ketika berbicara. Semua perkataannya akan terlalu logis untuk bisa dibantah. Bahkan Nand yang merupakan ahli solusi pun tak pernah bisa mengalahkan pandangan Rendi tentang sebuah masalah.
"Sekarang gue tanya sama kalian semua. Apa salah kalau gue punya perasaan itu sama satu-satunya cewek diantara kita?" ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.
"Apa salah gue suka sama orang yang selalu merhatiin kita lebih dari siapapun." mereka kompak menggeleng, termasuk Haikal. Entah kemana Rendi hendak menggiring opini mereka saat ini, namun yang ada di benak Haikal hanyalah wanitanya terlalu istimewa untuk tidak disukai banyak orang.
"Semua wajar, gak ada yang salah soal cinta. Gak pernah!" bentaknya.
"Tapi kita begitu menghargai lo Kal, sebagai satu-satunya yang berhasil menarik Atensi Rara begitu banyak. Kita gak pernah berusaha egois kayak lo Nand." Lagi-lagi Nand tertampar dengan penuturan teman-temannya sendiri. Ia hanya menekurkan kepalanya lebih dalam dan dalam seolah menatap hanya akan semakin menambah pertikaian diantara mereka.
"Gue juga suka sama lo Kak," potong Jishan ditengah keheningan mereka.
"Sejak pertama kali Cakra ajak gue ke Jogja. Sejak pertama kali lo obatin kaki gue waktu jatuh dari sepeda. Tapi gue sadar lo udah punya Bang Haikal, gue cuma bisa pasrah yang penting kita masih bisa bernafas di satu udara yang sama."
"Seikhlas itu gue bertindak hanya agar lo bisa bahagia Kak."
Juna dan Mahesa yang bersikap paling waras diantara mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak ada yang bisa memungkiri seberapa berharganya Kejora bagi mereka, tapi untuk menyukai satu gadis yang sama diantara mereka. Apalagi disaat mereka semua tahu bahwa Haikala yang paling berhak diantara mereka, bukankah itu suatu kebodohan?
"Gue gak mau jadi penghancur persahabatan kalian." Netra Kejora perlahan basah, ada genangan air mata yang dengan kurang ajarnya menerobos keluar disaat yang sama sekali tidak tepat.
Dan jahatnya, diantara mereka bertujuh hanya Cakralah yang bersedia datang dan menghapus air mata itu.
Untuk menghentikannya terus jatuh, hanya Cakralah yang memiliki kekuatan untuk menghentikannya. Air mata itu masih jadi yang paling berharga untuknya. Apalagi karena ini semua bukanlah kesalahan dari kakaknya. Rara sama sekali tak tahu apa-apa perihal perjodohan itu.
"Kakak gak dikasih pilihan apa-apa Kra." lirihnya lalu tenggelam dalam pelukan Cakra yang tak kalah hangat. Sebuah pelukan yang tak pernah menolaknya untuk berlabuh selama hidupnya.
"Papa ancam gue soal Mentari." Nand akhirnya buka suara.
"Kurang apa kita soal bantuin Mentari Nand?" Juna akhirnya buka suara ketika nama Mentari disebut.
"Kita korbankan semuanya untuk Mentari, waktu, kasih sayang, perhatian, bahkan biaya pengobatannya. Lo beneran serius mau jadiin adek lo korban dari permasalahan lo sendiri?"
Tak pernah ada yang lebih berani untuk menghadapi kekeras kepalaan Nand selain Juna. Hanya Juna yang mampu mempertanyakan setiap hal yang selalu disembunyikan Nand dari dunia. Tapi kali ini, orang sewaras Juna pun kewalahan. Terlebih saat ia melihat Nand justru bertindak seolah tak berdaya.
"Lo yang gak pernah peduli apa kata bokap lo. Lo yang gak pernah sadar kalau lo punya keluarga, terus sekarang apa? Kenapa tiba-tiba sok jadi anak berbakti?"
"Mentari gak butuh kita Juna!" Emosi Nand terpancing.
"Mentari gak butuh uang lho. Mentari gak butuh perhatian kita! Yang dia butuh itu cuma ginjal, cuma ginjal yang bisa bikin dia bertahan hidup di dunia yang keras ini."
"Dan cuma Om Hendra yang bisa kasih Mentari itu. Imbalannya adalah perjodohan gue dan kakaknya Cakra." Ia bahkan masih memanggil ayahnya dengan sebutan om.
Kakaknya Cakra? Nand memang tak pernah memanggil Kejora dengan namanya selama persahabatan mereka. Sejauh itulah ia berusaha keras menjaga jaraknya dengan kekasih Haikala.
Dan ini juga adalah pertama kalinya bagi Jishan dan anak Dreamies lainnya melihat Nand bisa menangis seolah tak berdaya.
Selama yang mereka tahu, baik Nand maupun Cakra adalah orang terkeras dan terkuat dalam hal melawan dunia. Apalagi perihal dunia yang diciptakan orang tua mereka untuk mereka.
Tapi kini, melihat keduanya menangis berurai air mata, begitu juga dengan Kejora. Bukankah seharusnya mereka paham serumit apa situasi itu tengah memuncak.
"Kamu gak cerita ke kita Ra?" tanya Mahesa dengan nada yang lebih lembut.
Ia tak tega melihat gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu menangis. Apalagi melihatnya serapuh ini, disaat mereka bertujuh selalu mengupayakan kebahagiaan untuknya.
"Aku gak mau Bang Mahe, aku gak bisa. Tapi aku egois kalau harus mengorbankan Mentari." Mahesa hanya bisa menepuk lembut bahu Kejora yang bergetar.
Hanya karena posisinya yang terdekat dengan Kejora bukan berarti ia bisa memeluk gadis itu, apalagi karena sudah ada bahu Cakra yang menampung tangisnya saat ini.
Tangan Haikal pada kerah Nand juga masih belum terlepas. Separuh jiwanya sangat ingin menghabisi pemuda di hadapannya itu, namun separuh lainnya begitu rapuh terlebih karena melihat air mata Kejora yang tumpah ruah di hadapannya.
"Apa kita gak bisa terima aja pernikahan ini dulu. Setidaknya sampai Mentari selesai operasi terus kita bisa pikirin lagi jalan keluarnya gimana." Rendi menyuarakan pendapatnya di tengah pertikaian mereka. Terdengar egois memang, namun apa salahnya jika dicoba.
Namun drama tak selamanya menjadi jalan keluar. Karena hidup Kejoralah yang menjadi bahan taruhannya. Menikah dengan orang yang tak dicinta, apalagi hanya dalam kurun waktu tertentu. Apakah ia akan sanggup menanggung segala konsekuensinya.
Mau bagaimanapun separuh dari hidupnya lah yang akan dipertaruhkan.
"Kita gak bisa hancurkan hidup Kejora juga Ren." Juna mengacak-acak rambutnya frustasi.
Ia bukanlah ahli solusi, ini adalah keahlian Nand sang ahli pemecah masalah. Namun pria secerdas itupun bisa menjadi begitu bodoh jika menyangkut soal Mentari adiknya.
"Gue tahu lo kesal Kal, tapi lebih dari siapapun lo tahu gue gak punya pilihan jika itu menyangkut Mentari."
Nand melepas paksa cengkeraman Haikal pada dirinya. Ia merentak keluar dengan tatapan penuh kebencian seolah ia adalah korban bullyan diantara para sekawan.
Lagi-lagi semua orang hanya bisa terdiam. Melihat Nand keluar dengan amarah, tak membuat salah satu dari mereka punya kekuatan untuk mengejar. Apalagi menghibur. Selama belum ada jalan keluar yang bisa diutarakan, mereka berdelapan hanya bisa pasrah dan larut dalam kediaman.
"Gue terlalu mencintai dia Kal, maaf kalau gue egois dan menjadikan Mentari sebagai alasan." batin Nand mengalahkan akal sehatnya sendiri.
Bahkan Haikal sudah sempat mendiskusikannya sebelum pertemuan ini. Ia akan berusaha keras mencari donor untuk Mentari. Ia bahkan rela memberikan ginjalnya jika bisa, ia akan menjelajah dunia demi Mentari, sekaligus ia memohon agar Nand tidak mengambil dunia yang ia miliki darinya.
Namun Nand memang terlalu egois untuk bisa memilih satu. Ia begitu ingin menyelamatkan Mentari dan memberikan dunia untuk gadis itu. Sementara nalurinya yang lain juga tak ingin merelakan dunia yang sudah diberikan Tuhan secara sukarela untuknya.
Kejora lebih dari sekedar dunia untuknya. Ia adalah salah satu alasan Mentari bisa tersenyum cerah di tengah gelapnya dunia. Ia juga yang selalu mengerti setiap kekacauan di dalam hidup Nand.
Nand tak andil dalam hidupnya lantaran mengantarnya pulang malam itu. Namun Kejora yang masuk ke dalam kehidupannya melalu harapan Mentari. Kejora adalah relawan sukarela di pusat rehabilitasi anak yang diikuti Mentari.
Sebuah lembaga sosial yang selama ini sudah menjaga Mentari ketika Nand terlalu sibuk untuk mencarikan dunia untuknya. Tempat dimana namanya terdaftar sebagai salah satu penerima donor selama dua belas tahun hidupnya.
"Maaf, karena Mentari belum mendapatkan gilirannya." alasan itu bahkan sudah muak di dengarnya. Donor untuk Mentari selalu beralih kepada seorang yang memiliki uang serta kekuasaan, dan itu sungguh diluar kendalinya.
Kini sebuah kesempatan besar datang kepadanya, Mentarinya akan kembali bersinar. Ia bahkan membawa serta Kejora untuk menemani gelap malamnya. Apakah ia akan menolaknya mentah-mentah?
Bahkan jika itu harus mengorbankan sahabatnya sendiri, ia akan memilih untuk mengorbankan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments