Sisi Lain Kejora

Hari itu, Sabtu, 08 Juli 2017. Waktu dimana Haikal memutuskan pergi dari kediaman kakeknya di Jogjakarta untuk mengadu nasib di ibukota.

"Kamu yakin mau bawa Cakra, Kal?" Haikal nampak lebih serius dari biasanya. Anggukannya begitu mantap, ada sorot yang lebih tajam dari sekedar dendam. Ia takkan pernah lagi kalah dari ayahnya, tekadnya begitu kuat.

"Namanya AJ Company, sebuah perusahaan keamanan yang memiliki latar belakang yang jauh lebih kelam dari sebuah perusahaan keamanan biasa yang hanya menyewakan para pengawal pribadi bagi para pengusaha kaya raya."

"Maksud kamu?" Tubuh Cakra sudah gemetar begitu hebat ketika nama AJ disebut. Sedangkan tangan Kejora masih begitu sibuk mengobati luka bakar yang menyebar hampir di seluruh bahu Haikal.

"Aku tahu kalau papa kamu suka mukul, tapi ini bukan pukulan ban pinggang biasa Kal. Ini luka bakar." ujarnya khawatir.

"Itu adalah besi penjepit arang yang biasa beliau gunakan untuk mengambil arang dari perapian Ra." gadis itu bergidik ngeri.

Cakra yang awalnya hanya gemetar, mulai berkeringat dingin. Ada air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya meski ia masih tak mengeluarkan suara apapun.

Ia menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya, entah berharap Kejora tak mengetahui isak nya atau justru karena takut jika keberadaannya akan kembali diketahui oleh sang ayah.

"AJ memang menyewakan para pengawal, tapi bukan pengawal biasa Ra."

"Apa hubungannya dengan lukamu ini Kal?"

"Papa mau aku sama Cakra jadi penerus mereka. Mereka mau melatih kita semakin kuat, dengan deraan demi deraan ini Ra. Ini organisasi mafia dengan jaringan yang tersebar se Asia. Dan kamu tahu, PT. Kejora Semesta adalah dalang di balik ini semua."

Kejora tak bisa mencerna semuanya begitu saja. Sosok ayah yang ia kenal tak pernah nampak aneh di matanya. Tapi melihat kondisi adiknya saat ini, sesaat ia pun dipenuhi dengan keraguan.

"Luka ini gak akan ada tanpa sebab Ra. Papamu mau mukul Cakra kalau aku terlambat sedetik saja."

Kejora menatap tajam ke arah adiknya Cakra yang telah berubah pucat pasi nyaris membiru karena kewalahan untuk bernafas. Kejora tak menyadarinya, ia terlalu fokus pada luka yang begitu nyata di tubuh Haikala.

"Kra, Nafas! Kamu kenapa?" ujarnya panik.

Kejora menarik paksa hoodie yang dikenakan oleh Cakra. Seingatnya pemuda itu selalu memakai pakaian tebal seperti Jaket dan Hoodie setiap harinya. Ia bahkan tak pernah melihat Cakra mengenakan celana pendek sekalipun mereka berada di rumah.

Jika awalnya ia berfikiran positif bahwa sang adik berusaha menghargainya sebagai seorang perempuan. Kali ini tidak lagi. Ia melepas paksa baju Cakra hingga membuat tubuh sang adik semakin bergetar hebat. Menggigil di tengah musim panas seperti ini tidak akan pernah terjadi kecuali jika ia mengalami syndrom panik yang tak terkendali.

"Cakra, kamu tahu aku terbiasa menghadapi luka tembakan bukan? Apa karena itu kamu menyembunyikannya?" Cakra mengangguk pasrah.

Ada beberapa luka tembak, dan bekas sayatan di tubuh Cakra. Bekasnya terlalu nyata untuk bisa ia sembunyikan. Namun Kejora begitu buta untuk menyadarinya selama ini.

Semenjak kecil ibunda Cakra yang tak lain adalah ibu tiri Kejora selalu mengajarkannya perihal kedokteran. Termasuk pengobatan pertama pasca perang. Jika awalnya Kejora mengira bahwa itu menarik, maka mulai detik itu tidak lagi.

"Ayah dan Ibu mau aku melindungi kakak dan tangguh sebagai laki-laki. Kemungkinan orang-orang akan menyakiti kita adalah lima kali lipat lebih besar dibanding orang pada umumnya." jelas Cakra yang masih gemetaran.

Keluarga mereka tak pernah mengizinkan mereka mempertanyakan apapun selama ini. Mereka diajarkan untuk selalu menyelidiki segala sesuatu sendirian. Tak boleh mempercayai orang, dan berpeganglah pada keyakinan sendiri.

Kejora takkan mempertanyakannya. Sama seperti mereka takkan pernah mempertanyakan alasan Kejora yang begitu kekeuh mengirim Cakra sendirian hidup di ibu kota.

Perlahan ia menyelidiki perihal dunia kelam yang dihuni oleh ayahnya. Sedikit demi sedikit kenyataan pun terungkap di depan mata.

Bekas luka tembak di tubuh Cakra itu bukanlah karena pelatihannya. Ia mendapatkannya dari musuh ayahnya ketika ia lengah dan terus menyangkal keberadaan musuh.

Ayah mereka takkan pernah melukai anak-anaknya sama seperti orang tua Haikala. Ia yakin itu, tapi tidak dengan musuh mereka.

"Yang pertama adalah Mahesa Evandaru Bagaskara , ia adalah Putra bungsu sekaligus putra satu-satunya dari MM airlines. Ayahnya adalah ahli sabotase penerbangan. Modus mereka perjalan pribadi dan berakhir dengan menghabisi nyawa seseorang dengan begitu kejam. Tak pernah ada jejak, karena peraturan maskapai yang begitu ketat dan sangat sulit dideteksi."

"Yang kedua adalah Henry Rafiif Arjuna, ia adalah Putra dari pimpinan pusat bela diri Kelana. Pusat bela diri yang jarang diketahui, tapi merupakan asal muasal dari para petarung hebat."

"Yang ketiga, adalah Daniel Rendi Novendra. Ia adalah Putra dari Prof. Agusra Novendra. Ia satu-satunya peneliti diantara mereka. Aku tak tahu persis itu tentang apa, tapi hasil penelitiannya pasti akan mengubah dunia."

"Lalu ada Nand Jemel Algifahri Putra tunggal AJ Company. Ibunya telah meninggal akibat gagal ginjal, ia diusir oleh sang ayah beserta adiknya yang juga sakit-sakitan. Tapi jangan salah, karena ia terus ditempa oleh Tuan Jemel ayahnya selama ia hidup jauh dari mansion utama. Dari yang aku dengar, ia sedang dipersiapkan menjadi pewaris dengan cara yang tak biasa."

"Yang terakhir adalah Jishan Praditya Adinendra. Putra bungsu AK Food. Perusahaan distributor senjata berkedok makanan ringan. Ia memiliki lima saudara yang sudah ikut berkecimpung dalam dunia ini. Namun Jishan menolak mentah-mentah untuk dijadikan penerus."

Kejora muncul dengan laptopnya lengkap dengan catatan rinci dari para pendiri organisasi yang didirikan oleh ayahnya. Ia mengadakan pertemuan darurat sebelum kepergian Haikal dan juga Cakra sesuai rencana.

"Kamu dapat informasi ini dari mana Ra? Kamu bisa dalam bahaya lho."

"Nggak penting Kal. Yang penting adalah kalian harus masuk Galaxy. Karena mereka semua sekolah disana. Hanya dengan berada di dekat mereka, maka kalian bisa aman." Cakra hanya bisa mengangguk sepenuhnya. Ia tak pernah bisa menjawab apapun perintah dari Kejora selama hidupnya.

"Ini analgesik. Kamu butuh untuk mengatasi rasa sakit mu Kra. Kal, aku titip adikku." Haikal hanya mengangguk tanpa lagi mempertanyakan apapun.

Sejauh ia mengenal Kejora gadis ini memang tak pernah bisa diduga. Ia bahkan memiliki keahlian pedang yang sangat baik untuk seorang gadis.

Ia bahkan juga mengikuti kompetisi panahan, serta handal menggunakan pistol sejak ia masih kecil. Ia ahli dalam pengobatan darurat, ia bahkan tak terkejut dengan luka di tubuh Haikal dan juga Cakra.

Berbeda dengan para perawat di rumah sakit yang biasa mereka kunjungi. Tak jarang pihak rumah sakit memanggil polisi ketika mengetahui luka mereka berasal dari tembakan atau penganiayaan. Mereka juga telah dikenal sebagai korban pembullyan di sekolah meskipun tak pernah ada tersangka yang nyata.

"Kamu benar-benar diluar dugaanku Ra." lirih Haikala kagum memandangi Kejora.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!