"Ehemmm.... Jadi, gue bakalan cepat dapat keponakan nih." Cakra berpindah posisi ke samping Nand hanya untuk sekedar menggodanya.
"Apaan sih?" Nand nampak sedikit salah tingkah. Apalagi saat Jishan ikut mendatanginya dan duduk mengapitnya di sisi yang lain.
"Gue belajar mengikhlaskan sesuatu dari Cakra. Asal gue masih bisa jadi bagian keluarga kalian, kayaknya gak masalah." Jishan merebahkan kepalanya di sisi bahu Nand, diikuti oleh Cakra di sisi yang lain.
Ini adalah kebiasaan si kembar petasan ketika mereka berusaha mendukung salah satu anak-anak sekawan. Itu adalah bukti bahwa keduanya begitu tulus dalam memberikan dukungan.
"Dasar bocah berdua bahas apa sih?" Nand mengulurkan lengannya untuk merangkul keduanya. Ia mengelus kepala keduanya dan nampak gemas sendiri.
"Mereka udah dewasa Nand untuk bisa mengerti situasi seperti ini." sambung Angelika yang dibalas ledekan oleh Rendi melalui tatapan matanya.
Rendi pagi ini nampak baik-baik saja untuk seorang yang baru saja sekarat. Bahkan meskipun masih nampak lemas dan juga pucat, namun dirinya masih menyempatkan hadir dengan bantuan Angelika yang setia menjadi tempat ia menyandarkan kepalanya.
Ia hanya bersandar pada Angelika sepanjang waktu. Menggenggam sebelah tangannya tanpa berpindah. Ia nampak jauh lebih baik, nafasnya juga jauh lebih tenang dibanding kemarin. Siapa sangka jika kehadiran Kejora untuk menjelaskan bisa berefek sejauh itu bagi hubungannya dengan Angelika.
"Langgeng ya Nand." lirih Rendi sambil tersenyum. Ia masih terlalu lelah untuk bisa terkekeh seperti biasanya.
"Lo juga, kelihatannya hubungan kalian udah ada lampu hijau nih." Rendi hanya mengangguk sambil mengeratkan genggamannya pada Angel.
"Pintunya baru kebuka dikit Nand. Cuma, aku udah berhasil masuk." bangga Angelika yang dibalas langsung senyuman tulus Nand.
Operasi sudah berlangsung sejak sepuluh menit yang lalu. Sementara Kejora baru saja kembali bersama dua abang bermulut lemesnya dengan beberapa tentengan makanan.
"Jangan pelukan mulu, kalian juga harus makan." Ia memberikan tentengan di tangannya kepada si kembar petasan, lalu menarik Nand ke sisi kursi lainnya.
Jishan yang paling peka dengan bau makanan pun langsung dibuat sumringah. Ia meletakkan makanan itu di kursi bekas Nand, lalu langsung menyerbunya bersama Cakra, si belahan jiwa.
Sementara Mahesa sibuk membagi makanannya dengan pasangan Rendi dan Angelika. Arjuna justru nampak sedang Pedekate dengan menyuapi Haikala yang masih manyun dengan posisi berdiri, di kursi paling ujung dekat pintu masuk ruang operasi.
"Duduk sini." ia menghempas paksa bokong Haikala ke kursi di sampingnya, lalu memulai aksi. "Aaaaa...."
Satu per satu suapan masuk ke mulut Haikala tanpa ada penolakan. Membuat para sekawan lainnya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka.
Sementara di sudut lain, di ujung koridor Kejora juga nampak sibuk menyuapi Nand yang nampak tak berselera.
"Aku gak nafsu Ra." tatapnya dalam pada gadis itu.
"Aku tahu susah, apalagi Mentari lagi berjuang di dalam. Tapi kalau kamu gak makan, siapa yang jagain Mentari nantinya."
Kejora terus memaksanya dengan melayangkan suapan itu hingga berhasil masuk ke dalam mulut Nand, sang suami.
Ia sudah menghabiskan porsinya sendiri bersama dengan Mahesa dan juga Arjuna. Jadi mereka bertiga sekarang hanya perlu fokus pada perut-perut lain yang kelaparan.
"Mama Ratih mana?" Kejora mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencoba mencari sosok mertuanya. Namun Nand malah memutar kepala itu ke arahnya dan menahannya untuk mencari.
"Aku suruh mama untuk datang setelah operasi. Kondisi kesehatan mama juga gak terlalu baik untuk lama-lama di rumah sakit. Apalagi papa yang jadi donornya. Mama pasti khawatir. Nanti aku minta Arjuna buat jemput mama satu jam sebelum operasi selesai." Kejora mengangguk paham.
Kini atensinya mulai teralih pada Nand yang menggulung naik lengan bajunya sebelah kiri. Menampakkan bekas perbuatannya semalam yang masih begitu membiru.
"Pasti sakit banget ya? Aku minta Bang Mahe buat ambilin salep di ruangan Sandra ya?"
Mahesa datang tepat saat namanya disebut. Sepertinya ia menangkap luka yang sama dengan Nand. Ia saling lempar pandang dengan Rendi yang berada di seberang kursi mereka lalu bergegas menghampiri Nand bermaksud menyembunyikan hal itu dengan menutupinya dari mata Haikala, Jishan dan juga Cakra.
"Hati-hati kelihatan dua curut nanti." lirih Rendi lalu mengambil alih lengan Kejora dari Nand. Ia menurunkan lengan baju Kejora, lalu kembali berpindah ke samping Angelika.
"Ada apa?" tanya angelika. Rendi hanya menggeleng, lalu kembali merangkulnya.
Mahesa memukul bahu Nand pelan, memerasnya cukup kuat, lalu melempar tatapan yang sangat tajam padanya.
"Lo lupa waktu abang bilang lo harus sabar. Ini baru dua hari dan lo udah sekalap ini?" ujarnya lirih hanya cukup di dengar mereka berdua.
"Luka ini yang buat hatiku terbuka untuk suamiku Bang. Aku gak masalah." jelas Kejora, Nand menatapnya sendu.
Kejora terlalu baik untuk bisa ia kasari. Namun nafsu serta rasa ingin memiliki Kejora telah membuatnya buta semalam. Ia pun mati-matian merutuki dirinya semalaman. Ia bahkan tidur sambil terus memegang lengan Kejora yang terluka.
"Abang ambil salep di ruangan Sandra, kamu tunggu ya?" Ia pergi setengah berlari menuju ruangan Sandra, tanpa di hiraukan oleh anak Dreamies lainnya.
"Arjuna cerita ke Bang Mahe semalam. Hampir aja abang datang ke apartemen buat bikin perhitungan sama kita. Untung Kak Sandra berhasil cegah dia. Sepertinya Rendi juga cukup sadar untuk mendengar pembicaraan mereka semalam." jelas Kejora tanpa diminta.
"Mereka pasti takut aku melukaimu Ra." tangan Nand terulur untuk mengusap lembut wajah Kejora.
"Mereka sudah menganggap kita keluarga." Nand mengangguk.
Kejora melanjutkan langkahnya untuk menyuapi Nand hingga semua makanan di hadapannya tandas tak bersisa. Sementara Mahesa yang kembali hanya dalam hitungan menit, hanya melemparkan salep itu ke arah Nand tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Lo yang obati." seolah kalimat itu terpancar dari balik sorot matanya untuk Nand. Nand cukup paham akan itu, lalu menarik Kejora ke arah lain agar tak menarik perhatian yang lain.
Haikala hanya bisa pasrah dan berulang kali menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar di depan Arjuna. Mungkin perlakuan Arjuna yang begitu manis kali ini adalah akibat pukulannya pada Haikala semalam. Ia sedikit merasa bersalah karenanya.
Ia bahkan dimarahi habis-habisan oleh Sandra ketika satu-satunya dokter diantara mereka mulai sibuk mengobati memar di wajah Haikala.
Untungnya Jishan dan Cakra sudah lelap terlebih dahulu di kamar tamu. Mereka terlalu tuli untuk bisa mendengar sesuatu ketika tengah larut ke dalam mimpi. Andai saja si kembar petasan itu sadar akan keadaan semalam, maka akibatnya takkan bisa setenang ini. Mereka pasti akan membuat keributan tanpa peduli ini rumah sakit.
"Sekarang lo paham kan, tindakan gegabah lo hanya akan menyakiti Rara." bisik Juna di telinga Haikala.
Haikala melihatnya, ia melihatnya dengan jelas. Namun ia serta Arjuna memilih berpura-pura untuk tidak tahu karena ada dua orang adik bungsu mereka yang tak boleh diberi tahu tentang masalah ini.
"Dia gak boleh nyakitin Kejora, Jun." sanggahnya menolak kenyataan.
"Gue jamin seratus persen lo akan ngelakuin hal yang sama kalau ada di posisi dia Kal. Lagian gue sama Bang Mahe udah kasih dia ultimatum. Nand sekarang merasa sangat bersalah, tapi bagusnya ini berefek sama hubungan mereka berdua." Haikala menatap Juna tajam.
"Lo harus ikhlasin dia sama seperti Rendi dan Jishan. Gue yakin kalau mereka juga gak baik-baik aja."
Haikala hanya bisa bungkam. Rendi masih terlihat begitu kosong meskipun atensinya masih penuh untuk Angelika. Jishan juga terlihat berusaha bahagia dengan Cakra yang bersamanya.
Mungkin Arjuna ingin menunjukkan kepadanya bahwa ia tak sendiri. Dunia masih terbentang luas untuknya. Ia ingin memberi tahu Haikala, bahwa seorang Arjuna juga para sekawan akan selalu siap mendampinginya. Namun hatinya yang egois masih begitu menginginkan Kejora. Ia tak lagi memedulikan hal lain.
Hanya Kejora, bahkan jika dunia akan membencinya pun ia takkan lagi peduli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments